Oktober 29, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

SEIKAT MAWAR

Oleh :

Nida Maulidha

Mahasiswa Pascasarjana UNISDA, peminat sastra lokal Tuban

 

Seperti hari-hari kemarin. Aku berkeliling menjajakan daganganku diantara dinding dan pagar rumahmu. Dengan wajah sayu dan pilu, kukayuh ontel cantik yang selalu menemani setiap kemanapun pergiku. Membawa keranjang yang senantiasa menjadi temanku. Serta membawa rasa atas peninggalan masa lampauku. Kau selalu duduk di teras mataku. Beralaskan canda, tawa dan rasa. Menyapa setiap hariku yang durjana. Membawa kenangan-kenangan yang membara.

Untuk kali pertama pagar rumahmu terbuka. Aku mencoba masuk disela semak-semak yang menghalangi pandangan. Berjalan pelan mengikuti setapakmu yang kelam. Kau memandangku lalu aku jatuh dalam matamu. Bergegas kutawarkan barang daganganku. Apa kau mau membeli Bunga ini? dengan wajah manis dan berkumis tipis kau hanya menjawabku dengan senyum mistis dan minimalis. Kemudian kutawarkan sekali lagi padamu. Apa kau mau membeli seikat  mawar ini? dengan lugas dia menjawab. An, berilah aku waktu mengumpulkan uang untuk membeli seikat mawar yang kau tawarkan padaku setiap pagi itu. Kemudian aku bergegas pergi meninggalkan semak dan pelataran mata itu.

Lalu keesokan harinya kucoba kembali masuk dalam pagar rumahmu yang rimbun berkeliling semak itu. Kau ada di sana, di pelataran mataku membawa rasa. Kemudian aku bertanya. Sudah sehari semalam kuberi waktu untukmu mengumpulkan uang. Kemudian ia menjawab dengan suara rendah,“An, kau menjualnya terlalu mahal. Maka aku harus kerja keras mengumpulkan uang. Sedangkan kau tahu bahwa aku tak punya kekuatan untuk berperang. Kemudian aku bergegas pergi meninggalkan semak dan pelataran mata itu.

Hari ketiga. Kucoba masuk lagi dalam pelataran mata itu. Masih dengan rimbun semak-semak seperti hari-hari kemarin. Kenapa kau tak memangkasnya. Aku merasa terganggu saat berjalan masuk dipagar rumahmu. Lalu dia menjawab dengan nada sangat pelan. Biarkan semak-semak itu tumbuh di antara senyummu setiap pagi. Sebab kelak kau akan tahu ada apa dibalik kerumunan semak ini. Kemudian dengan lantang kukatakan. Lalu, apakah kau jadi membeli seikat mawar ini? dengan pelan ia menjawab. An, uangku baru terkumpul sebagian jangan kau membuatku semakin bingung dengan tawaranmu ini. Kemudian aku bergegas pergi meninggalkan semak dan pelataran mata itu.

Hari keempat. Rumahmu sedang ramai sesak bebal.  Pada kerumunan semak-semak itu kulihat tubuh-tubuh dengan balutan busana indah sedang berkumpul. Ada apa gerangan. Jarang-jarang bahkan hampir tidak pernah pelataran rumahmu seramai ini. Rimbun semak-semak itu jadi tontonan banyak orang, banyak sekali. Aku tak sempat masuk dalam pagar rumahmu, sebab terlalu banyak mata-mata yang hidup disana. Kemudian aku bergegas pergi meninggalkan semak dan pelataran mata itu.

Hari kelima. Semak-semak yang rimbun itu berubah menjadi semak-semak tertata rapi dan indah dalam pandanganku. Firasatku, mungkin kemarin adalah hari para tetangga membantu membersihkan semak pelataran rumahmu. Kemudian belum sempat ku masuk gerbang rumah itu, dia sudah menutup pintu rumahnya. Entah dia sengaja atau memang sedang tidak melihatku di  persimpangan jalan rumah itu. Kemudian aku bergegas pergi meninggalkan semak dan pelataran mata itu.

Hari keenam. Aku mencoba memberanikan diri masuk dalam pagar besi rumahnya. Meski tertutup, tetap aku memaksa membuka. Ternyata selama ini, pagar besi ini tak pernah dikunci. Bahkan bodohnya aku, ketika masuk selalu menunggu dia yang membukakkan. Ahinya aku masuk dengan pemandangan mata-mata ranum yang teduh itu bergantungan di pintu gerbang depan. Sesampainya aku pada pelataran rumahnya. Mata itu terlihat melirik dengan penuh daya tarik. Ingin kupetik tapi tidak tega sebab keindahan pandangnya. Dia  sedang di dalam tepat pada dada sebelah kiriku. Dengan rindu dan candu, dia telah lolos. Kemudian dia berkata padaku. An, maaf besok sudah hari terahir kau jajakan seikat bunga itu padaku. namun separo uang itu hanya bertambah sedikit saja. Jika besok aku tak mampu mengumpulkan uang utuh untuk membeli seikat mawar ini. Maka akan ku beli seikat mawar ini dengan berapapun uangku. Semoga kau ihlas. Kemudian aku bergegas pergi meninggalkan semak dan pelataran mata itu.

Tepat hari ketujuh. Dimana dia berjanji akan membeli seikat mawar ini dengan harga berapapun. Tanpa permisi aku masuk pagar besi itu. Dengan kondisi pelataran yang berneda. Ada pelaran mata yang tidak biasanya. Ia murun, tak menatapku sama sekali, bahkan melirikpun enggan. Ada apa dengan rumah ini. Ku coba telusuri. Berjalan pelan dan kutemukan temaram dalam satu tatapan. Dia diam tanpa suara sedikitpun, hinggaku tetap berjalan menuju rak-rak kenangan  itu, kutemukan barisan mawar yang telah pudar dan menghitam dan usang. Sembari kuberjalan dia melirikku sedikit dengan pelataran mata yang berkaca-kaca. Kemudian aku menmanggilnya. Wan, kau dimana. Aku sudah datang lebih pagi untuk menagih janji. Namu dia tak jua temuiku. Ku lanjutkan langkah pelan dengan suara yang semakin kurendahkan. Ternyata dia sedang dipekarangan belakang rumahnya. Dan aku baru tahu jika belakang rumahnya ada pekarangan yang indah dan asri. Dalam satu pandangan aku tertuju pada seikat mawar. Mawar segar, harum dan mekar. Ku coba seka mahkotanya. Dialah seikat mawar merah yang sedang kau rawat selama ini kau jaga dan kau sirami setiap sore dan pagi. Pagi itu bersama wangi seikat mawar, disaksikan sejuta semerbak bunga-bunga jalanan. Kau peluk aku dan berkata. An maafkan aku. Aku tak bisa menepati janjiku untuk membeli seikat mawar ini. Sebenarnya bukan tentang uangku yang tidak cukup. Tapi tentang seikat mawar itu sudah kurawat terlalu lama dalam hatiku. Kusiram dengan sejuta rasa dan kupupuk dengan cinta. Maka pagi ini kubayar seikat mawarmu sesaui janjiku. Tapi maaf aku tak mampu lagi merawat seikat mawar yang kau tawarkan padaku setiap hari ini. Kemudian aku bergegas pergi meninggalkan semak dan pelataran mata itu.