Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

SEBUTIR KESOMBONGAN

Oleh :

Tutiyani Tasman

Cerpenis Muda Kitasama Tuban

Pagi yang begitu hangat telah tiba. Berpaut dengan sejuknya angin yang meniup daun, menjatuhkan embun. Tetesan yang tidak banyak itu, semakin hilang, terbawa angin yang bertiup lembut.

Sinar kuning itu, nengenai lautan daun. Terpancar kemilau lembut. Menyemburat diantara hijaunya pujuk pepohonan.

Pagi yang menyenangkan bukan. Ditambah alunan nyanyian burung yang terdengar acak, namun menenangkan.

Pagi yang sempurna. Lalu, hei ada apa dengan sungut cemberut itu. Bukankah ini pagi yang cerah, tapi kenapa sinar matamu begitu redup. Seolah ada mendung hitam yang menghantui pikiranmu.

Oh aku ingat. Hari kemaren hari yang buruk bukan? Katamu demikian. Kau gagal, untuk kesekian kalinya. Kepercayaan diri yang sudah kau pupuk berkali-kali. Keyakinan yang terus kau sirami. Sayang, tanamanmu tak sehijau harapanmu. Panenmu terancam gagal.

Kau, mengapa bisa gagal? Padahal sudah kau usahakan sekuat tenaga. Waktu, materi semuanya kau korbankan.

Belum semuanya kau korbankan. Barangkali kau lupa, masih ada satu yang tersisa yang belum kau berikan.

Keihklasan. Keikhlasan itu masih belum bersemi di hatimu. Perjuanganmu terlihat begitu menajubkan. Sampai-sampai semua orang yakin kau akan berhasil memetik hasil yang baik.  Perjuangan itu, belum dibersamai dengan keihklasan.

Iya bukan? Jika kau menyangkalnya, biar kutanyakan satu hal. Untuk apa kau berjuang?

Kau melakukan semuanya hanya agar mereka bisa melihat bahwa kau telah berhasil meraihnya. Hatimu itu, di sana ada sombong yang kau pelihara.

Kau berjuang hanya agar dilihat oleh mereka. Hanya agar mereka mengatakan tentang kehebatanmu meraih sesuatu.

Sayangnya, Tuhan begitu amat menyayangimu. Kau tahu, Tuhan tidak ingin kau berhasil dengan segumpal kesombongan itu. Tuhan ingin hatimu ikhlas. Hingga suatu saat jika Dia mengijinkanmu berhasil, kau akan tersenyum dengan ikhlas pula. Kau tidak akan begitu peduli dengan pujian-pujian mereka. Yang muncul pada perkataanmu hanyalah rasa syukur yang membara. Bahagia atas karunia dari-Nya.

Hari ini, dan sampai kapanpun, jika masih ada sebiji kesombongan yang tumbuh dari gumpalan hatimu. Sia-sia sudah perjuangan yang sedang kau lakukan. Cepat-cepat menyerah saja. Karena susah payahmu hanya akan sia-sia.

Kau, merdekakanlah hatimu itu. Jangan kau belenggu dengan kesombongan yang merugikanmu.

Lihatlah. Betapa hebatnya mentari yang bersinal dipagi ini. Betapa hebatnya dia. Dan lihatlah berapa banyak pujian padanya. Tapi adakah rasa sombong menyelinap padanya?

Mentari selalu ikhlas. Muncul di awal pagi dan tenggelam di akhir senja.

Ah, kau terlalu lama bukan memasang sungut cemberut itu. Hingga kau lupa kini mentari telah bersinar sebegitu terangnya. Pagi, sebentar lagi akan pergi, tergantikan dengan siang.

Bergegas segera. Tidak telat jika kau mulai saat ini juga menyingkirkan sisa-sisa kesombonganmu. Belum terlambat jika kau menanam benih keihklasan pada hatimu.

Jangan lupa, teguk dulu secangkir kafein dalam kopi. Semoga bisa mengembalikan keyakinan dan kepercayaan dirimu. Selamat berjuang kembali. Kamu.