September 28, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

SEBUAH ILUSI

oleh: Imam Sarozi

 

Aku melihat senja di bawah jembatan. Mengalir di bawahnya sebuah rindu. Kilap kuning memerah seperti pipimu dulu. Bulat seperti donat kesukaanku. Iya, sebuah donat. Yang pernah terlahir dari asinnya airmatamu.

Aku lihat ada sampan kecil, memanggil. Menanyakan alamatmu. Aku terdiam. Aku sudah lupa. Dimana kau jatuhkan sebuah kertas bertuliskan kode rumahmu. Iya, sebuah kode rahasia yang kau simpan hanya untukku. Tapi itu dulu. Sebelum kau pindah arah pintu kamarmu, lalu kau kabarkan padaku ingin rumah baru.

Aku lihat juga kawanan burung ‘Angsa Kerdil Kapas’. lentik cakarnya menangkap iringan ikan menari menikmati senja. Aku ingin sekali mencegahnya.  Aku tahu rasanya itu. Dijerat di saat menikmati kebahagiaan. Itu sakit.

Oh iya, angsa itu memiliki tubuh tinggi putih. Mirip denganmu. Juga sama, dia terbang sepertimu. Entah kemana. Mungkin juga ingin bebas. Melihat pintalan awan biru atau menikmati rintik gerimis di bawah hujan malam yang sendu.

Hemmm, kau dulu begitu memikat.

Sepeda tua pemberian ayah, kukayuh meninggalkan bayanganmu dan senja. Menyusuri jalan yang pernah kau tertawakan. Melihat tingkah tukang becak memainkan layang-layang. Katamu, mereka seperti anak kecil saja masih suka bermain. Saat itu, aku hanya tersenyum. Kutahu kau bahagia saat itu bersamaku. Namun kini aku melewati jalan ini dengan malu. Takut mereka menertawakan. Kau tahu kenapa? Layang-layang yang pernah kita naikan bersama telah kehilangan benangnya. Putus. Ia terbang.

Ah sudahlah, kau dulu begitu renyah.

Di depan rumah tak begitu luas. Iya, ini rumahku. Dulu pernah kau tempati meski sesaat. Sepuluh menit hanya menghabiskan satu gelas jus jeruk buatan ibu, sebelum berangkat menikmati malam di bawah lampu jalanan. Dirimu juga sempat menengok dapur. Katamu, ini dapur cinta. Darinya akan terhidang makanan hotel bintang lima. Sambil mencubit pipiku, kau bisikan “Setiap hari aku akan masak buatmu, kusuapi, lalu kuhapus noda dari bibirmu”

Benar yang dirimu katakan, kau pintar memainkan tepung, telur, wortel, kacang, lalu menjatuhkannya. Pada air mataku yang mendidih. Sungguh! kau pandai memasak. Iya, sangat lihai. Aku pun ikut serta memakannya. Dengan sedikit darah penambah warna. Sedikit celupan penyelesan yang kau tuang sebagai hidangan penutupan.

Ah, dirimu sungguh bisa membuatku terpesona.

Didepan Tv jadul peninggalan ayah. Kepala terasa ingin merebah. Menyusuri empuknya sofa. Bisik suaramu datang. Belum sempat kuterpejam. “TV-mu classic, aku suka. Jangan di jual” katamu. Iya, kau orang pertama yang memuji Tv itu. Meski hanya nampak hitam putih gambarnya. Dari matamu aku tahu, kau menikmati melihatnya.

Tapi sayang, Tv ini sudah mati. Putihnya kau ambil. Katanya buat kenangan. Kau tinggalkan hitam untuk kunikmati sendiri. Iya, aku sangat menikmatinya. Di tambah seduhan secangkir kopi hitam tak terlalu manis. Sering aku melihatnya seorang diri. Hanya sekedar menambah pahitnya kopi ini.

Aku lelah, ingin beristirahat

Kubuka pintu bilik perlahan. Kulepas satu persatu kenangan. Kulempar diatas tumpukan baju berdebu yang belum kucuci. “Biarlah dia di sana saja,” ucapku.

Aku tahu, kau tak akan membiarkan berisitirahat sejenak. Namun untuk kali ini aku akan menang. Pergi ke alam mimpi tanpa membawamu. Aku bisa sendiri. Bisa kubangun lagi istana pasir di negeri awan seperti dulu. Bisa kujahit lagi sendiri, sayap-sayap para bidadari yang kau curi di telaga pelangi. Iya, aku bisa sendiri. Kemimpiku tanpa kau antar.

Sudah cukup, sepuluh tahun kau luangkan waktu memandu bantal, menutup kelopak mata, lalu menyanyikan nina bobok di telingaku. Tak butuh itu sekarang. Aku bisa sendiri.

Aku lelah, ingin bermimpi

***

Pagi kesekian kali selepas malam abu-abu. Peperangan dengan kenangan. Keheningan hampa. Suara jangkrik. Dengkur kodok. Atau siulan rindu dari hati yang pernah kau singgahi.

Kurasakan lentik jarimu menyusuri kedua pundakku. Menuruni lengganku. Melingkarkan tanganmu. Memelukku.

“Bangun sayang.” bisikmu pada genda teliga kiriku.

Kubuka kedua bola mata.

“Bagaimana mimpimu? Apa kabar istana kita dilangit?” tanyamu lagi.

“Semua tetap utuh meski tanpamu.” Jawabku.

Kubuka jendela. Menghirup lekat udara. Aroma secangkir kopi menyapa. Dari remang-remang jendela dapur, nampak seorang perempuan yang tengah sibuk memainkan cangkir dan sendok. Ibukku.

Nampak juga dua burung merpati hingap di ranting pohon. Aku tersenyum melihat tingkah mereka. Duduk berdua. Saling menatap. Mungkin saja sedang membicarakan malam-malam indah yang mereka lalui bersama.

Andai saja kita seperti mereka. Iya, hanya andai. Kata usai telah memisahkan kau dan mimpiku.

Iya, andai saja kita seperti sepasang merpati. Kita akan terbang bersama. Menuju puncak Himalaya menikmati guguran salju dan sepotong ‘jagung bakar keju’. Mungkin kita akan terbang jauh ke ‘Valley of Roses’ di Bulgaria. Menikmati hamparan bunga mawar. Lalu kupetikkan satu, menyelipkannya di teligamu. Atau kita akan ke Jogja, menikmati senja di Parang Tritis sambil bermain istana pasir. Bisa juga ke Malioboro sambil menikmati es tebu dan gudeg manis. Iya, aku tahu semua hanya andai. Andai kau tak pernah pergi.

Tepat pukul delapan. Segala persiapan telah usai kulakukan. Hari ini aku ingin melukismu di depan alun-alun kota. Aku ingin semua yang di sana turut serta menghadiri kerinduanku. Tukang becak yang pernah kita tertawakan, pedagang asongan, abang penjual pentol jumbo, atau ibu-ibu penjual nasi uduk yang pernah kita ajak foto.

Hari ini aku memakai sendal yang sama. Seperti saat pertama kali bertemu denganmu. Tapi sepasang sendal pernah kita pakai dulu tak lagi membutuhkan jalan yang sama. Tapi aku masih bersyukur bisa memakainya, kerena di jalan itu masih ketemui denyut jantungmu.  Meski kini ujung berbeda kau singgah.

Aku tahu, samudera biru bersama buihnya menjadikanmu permata.  Mungkin itu yang tak pernah kau dapati dariku.  Tapi aku tetap syukur, di ombak itu masih kudengar suara nafasmu. Meski riunya menakutkan. Tapi aku menikmatinya. Setelah itu aku akan tenggelam pada kerinduan dan penyesalan.

Oh iya, aku lupa memberitahumu. Janji yang pernah kutulis di telapak tanganmu.  Kini mungkin sudah kering.  Terhapus air mataku.  Sungguh!  Percayalah, aku ingin sekali menetap di ujung matamu, di lengkung pipimu, atau labuhan bibirmu.  Namun, aku tak mampu.

***

Di bawah pohon beringin di tengah alun-alun. Pensil, cat warna, kanvas, dan kertas. Kupersiapkan segera. Tapi aku tak membawa penghapus. Hari ini aku akan melukismu apa adanya. Tak perlu ada yang hilang. Jika nantinya ada kesalahan coretan. Sudah cukup air mataku yang akan menangungnya.

Goresan pertama. Warna merah. Kubentuk menyeruapi bibirmu. Kutambahkan sedikit madu dari kumbang jantan. Kucampur. Kuaduk. Kupanaskan. Hingga menguap lalu kering. Iya, kering mirip janjimu.

Goresan kedua. Warna hitam. Kutata sedikit panjang. Seperti rambutmu. Untung saja tadi malam aku sudah memetik bintang. Aku menambahkannya di setiap helai rambutmu agar nampak indah. Kuoleskan sedikit mendung. Kutambahkan angin dan petir. Kubiarkan sejenak. Hingga ada gerimis turun dari ujung mataku.

Aku diam. Tanganku tiba-tiba mengigil. Sepertinya kau panggil musim dingin untuk menemaniku.

Rombongan tukang becak yang pernah kita tertawakan, pedagang asongan, abang penjual pentol jumbo, atau ibu-ibu penjual nasi uduk datang. Menatapku lekat. Aku melangkah menjauh. Meninggalkan pensil, cat warna, kanvas, dan kertas. Goresan selanjutnya kubiarkan kanvas menari sesukanya. Cukup aku melihatnya dari jauh. Aku membiarkan mereka melukis dirimu sesukanya. Iya, sesukanya. Aku tak perduli.

Kuakhiri sepuluh tahun ini bersamamu seorang diri. Dan kini kubiarkan mereka ikut serta memilikimu.