Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

SEBUAH BENCANA, DUA ORANG ISLAM YANG SALING MEMBUNUH

Oleh :

Ustadz Abu Afnay al-Falanjistani

 

Dari Abu Bakar r.a., beliau berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. Bersabda:Jika dua orang muslim bertemu (untuk berkelahi) dengan menghunus pedang masing-masing, maka yang terbunuh dan yang membunuh masuk neraka. Aku pun bertanya:Wahai Rasulullah, ini bagi yang membunuh, tapi bagaimana yang terbunuh? Maka Nabi Saw. menjawab:Dia juga sebelumnya sangat ingin untuk membunuh temannya.”

***

Perang di Suriah (sejak 2011-sekarang) melibatkan dua kekuatan Islam yang saling berseteru dan menginginkan wilayah tersebut menjadi kawasan kekuasaannya. Dimana berbagai kepentingan negara-negara kuat dikawasan tersebut mempunyai tujuan untuk bisa mengambil keuntungan dari keruntuhan rezim Basyar Assad. Turki-Arab Saudi-UEA disatu pihak dengan para pemberontak (Jaish al-Islam, Faiq ar-Rahman, dan lain-lain) dan Iran pihak lain dengan Pemerintah Suriah pimpinan Basyar Assad.

Federasi Rusia dan Amerika Serikat turut terlibat dalam perseteruan itu dan tidak tinggal diam untuk memberikan dukungan pada pihak-pihak yang berperang. Amerika Serikat memberikan dukungan kepada kelompok YPG (Unit Pelindung Rakyat) sayap militer pasukan Kursdistan, yang dimusuhi pemerintah Turki. Sedangkan Rusia memberikan dukungan kepada Pemerintah Basyar Assad dan memberikan bantuan penuh terhadap misil-misil dan seluruh operatornya. Israel, sebagai tetangga yang juga tidak kalah mengambil keuntungan juga memanfaatkan kondisi tersebut dengan memberikan dukungan senjata kepada kelompok pemberontak SDF (Suriah Defence Force).

Gejolak Arab Spring yang dimulai di Tunisia pada 2011 hingga kini tidak memberikan perubahan yang sangat signifikan terhadap kondisi pemerintahan di kawasan Arab Muslim. Mereka saling berperang satu sama lainnya, dimana sesama umat islam saling membunuh dan saling melakukan serangan yang sangat mematikan. Dari beberapa negara yang dilanda gejolak Arab Spring, hanya Tunisia yang relatif stabil dan mampu menata kembali sistem pemerintahannya dengan metode demokrasi yang telah diajarkan oleh bangsa-bangsa Barat. Tapi tidak demikian dengan dengan Mesir, Bahrain, Sudan, Libya, dan Yaman, hingga kini masih belum dianggap mampu membentuk pemerintahan yang stabil.

Mesir dan Bahrain masih dikuasai oleh pemerintahan militer yang cenderung menggunakan senjata dalam mengendalikan rakyatnya. Sedangkan Yaman, Libya dan Sudan masih bergejolak tak terkendali. Banyak kelompok yang berkepentingan masuk dan memberikan dukungan pada masing-masing pendukungnya. Yaman, hingga kini masih terjadi adu kekuatan dua kepentingan yang mendukung beberapa kekuatan disana, antara syi’ah Houthi yang didukung Iran, UEA dan Qatar dan pemerintah Yaman yang didukung oleh pasukan Koalisi Arab pimpinan Arab Saudi.

Di Libya, pemerintah yang dibentuk oleh PBB masih harus menghadapi kekuatan tentara Haftar yang didukung oleh Arab Saudi, UEA, Iran dan juga Italia serta Rusia. Sedangkan pemerintah sendiri mendapatkan dukungan dari Turki yang cukup kuat secara militer. Beberapa pasukan bayaran dari Sudan juga bergerak ke Libya diantara dua kekuatan yang bertempur, tergantung siapa yang memberikan bayaran yang sesuai.

***

Yang berseteru di negeri-negeri Arab itu adalah umat Islam, kaum muslimin yang sama-sama memiliki kenyakinan akan kebenaran Islam dan al-Qur’an. Saling saling membunuh dan saling melemparkan senjatanya ke arah musuh. Ketika mengarahkan misilnya dan mengarahkan roketnya mereka pasti akan berteriak “Allahu Akbar, Allahu Akbar,”. Sebutan takbir dalam sholat menjadi kata kunci untuk digunakan saling membunuh antara umat Islam.

Entah siapa yang salah dan yang benar, tidak jelas dan tidak bisa diarahkan pada posisi yang tepat karena kedua pihak yang berhadap-hadapan juga mempunyai dasar ijtihad (metode pengambilan hukum, dalam konteks ini khususnya dalam perang di Arab) sendiri yang berbeda-beda tentunya. Pemerintah yang tiran dan otoritas merasa benar, begitu juga pemberontak juga merasa benar dengan langkah yang ditempuhnya.

Akibat daripada peperangan tersebut sudah jelas, arus pengungsi dan membludaknya para korban warga sipil. Anak-anak dan kaum perempuan adalah korban yang paling rentan dan paling dirugikan. Secara bergerombol dengan nekat yang luar biasa mereka rela menembus ke eropa untuk mendapatkan suaka ke Jerman atau Perancis.

Penderitaan tidak hanya berhenti sampai disitu, karena akan semakin berlanjut tatkalah munculnya kelompok mirip Khawarij di zaman khalifah Ali bin Abu Thalib, yakni ISIS (Islamic State in Iraq and Suriah) yang diplokamirkan oleh Abu Bakar Al-Bahgdadi yang tidak lain adalah agen Mossad Israel-Yahudi. Kelompok ini menyebut dirinya sebagai penerus dari pada kekhalifahan Islam, namun perilakunya tidak lain merupakan representasi dari sosok dajjal atau Ya’juj Ma’jud. Kekejaman mereka tiada batas dan kerusakan yang mereka ciptakan menimbulkan banyak pengorbanan bagi umat islam sendiri.

Generasi milenial Islam diseluruh dunia terbuah dengan janji-janji palsu ISIS tentang kemakmuran negara kekhalifahan yang dibentuknya. Banyak anak-anak muda, baik laki-laki maupun perempuan yang bergerak menuju ke Iraq dan Suriah hanya untuk menjadi warga negara ISIS, dan bermimpi akan mendapatkan kehidupan yang makmur dengan hukum ciptaan ISIS. Namun hasilnya berbanding terbalik tatkalah ISIS gagal menghadapi perlawanan dari berbagai pihak, terutama dari YPG, SDF dan pemerintah Iraq sendiri. Dan akibatnya, ketika ISIS dikalahkan pada akhir tahun 2018 mereka terlantar dan kehilangan identitas sebagai warga negara asalnya dulu.

***

Beberapa pihak yang berseteru, “keduanya telah masuk neraka” begitu kata Rasulullah, baik yang mati maupun yang hidup, tidak ada yang syahid diantara mereka. Di masa kehidupannya di akhirat keduanya telah menduduki tempat yang hina.

Perang tidak hanya melibatkan “pembunuhan” saja, tapi juga pertengkaran dan perdebatan.

***

Terlepas dari konspirasi dan dua kekuatan yang berperang dan memporak-porandakan kawasan Arab-Muslim, yang jelas kawasan tersebut merupakan kawasan paling tidak stabil. Kehidupan menjadi rancu dan tidak menciptakan kedamaian serta kesejahteraan.

Perseteruan itu bisa dihentikan dan bisa diselesaikan hanya jika bangsa Arab sadar bahwa negara-negara Arab merupakan satu bangsa, bangsa yang satu dengan bahasa yang sama dan budaya yang sama pula. Mereka harus mengembalikan kesatuan Arab yang sudah diikat dengan kesatuan Islam yang dibangun oleh Rasulullah dulu. Tanpa mengendepankan persatuan nasionalisme-Arab dan mengendepankan kepentingan Islam tentu negeri Arab selamanya akan berseteru dan bergejolak menjadi kawasan yang tidak stabil dengan modernitas. Karena di negeri tersebut tersimpan banyak harta kekayaan bumi, minyak yang memiliki nilai yang cukup tinggi dalam kebutuhan masyarakat dunia. Tentunya dengan simpanan minyak dalam tanah Arab tersebut akan menimbulkan banyak konflik jika dasar daripada pengelolaan minyak tersebut hanyalah kepentingan kelompok tertentu, bukan kepentingan Agama Islam.

Wallahu’alam bishowaf.