Sarjana Surga; Jerih Payah Mencapai Kebahagiaan di Tengah Keterbatasan

Hanya ketekunan dan kerja keras-lah yang mampu mengubah nasib seseorang menuju lebih baik. Membaca buku adalah sebuah kerja keras dan ketekunan untuk memperoleh kenikmatan surga keilmuan dan surga keabadian kecerdasan Tuhan. Alam yang indah, kolam air yang jernih, tempat ibadah yang menyatu dengan keilmuan tentu lebih indah dibandingkan sekumpulan harta benda dunia.

kitasama.or.id – Aku tidak ingat kapan aku terakhir kali membuka mata memandang dunia, aku tidak begitu ingat kapan terakhir kali aku menutup mata untuk terlelap. Tidak ada seberkas ingatan yang tersisa dalam memoriku, tidak ada satupun ingatan yang membicarakan tentang siapa yang kukenal.

Tidak ada, tidak ada yang kukenal, tidak ada yang kuingat kapankah aku berada di atas gedung sekolah yang menjulang tinggi nan lebar dengan jendela-jendela yang bertengger itu. Kapan terakhir aku berada di sini? Aku kurang mengerti.

Bacaan Lainnya

Seperti tidak ada kata bahwa aku tidak sendirian di sini. Aku bersama anak-anak lainnya, mereka mengenakan baju serba putih dengan bawahan hitam. Jika perempuan memakai rok hitam, maka yang anak laki-laki memakai celana panjang berwarna hitam.

Hampir mirip dengan …

“Mahasiswa Baru?!!” Suara itu lebih menyiratkan sebuah jawaban yang menyeruak tanpa ditanya. Mengungkapkan kepadaku bahwasanya anak-anak yang ada bersamaku kini adalah anak sekolah menengah atas. Anak-anak usia belasan tahun yang seumuran denganku.

Anehnya aku hanya mengingat umurku, seperti sudah ditetapkan dalam ingatanku tentang hal itu. Lalu apa lagi?

Satu hal yang mengejutkanku kali ini. Banyak anak di sini berpenampilan dengan keadaan yang mengenaskan. Hampir kupikir mereka masih bisa tetap hidup meski dengan kondisi leher tergores hampir putus—masih ada darah yang tertetes dan segar menyeruak dari sana—ada yang kepalanya hampir botak tanpa rambut, aku tidak bisa mengira mereka mati karena kecelakaan atau apa.

Dan ada juga yang sekujur tubuhnya basah kuyup dengan warna kulit membiru dan terlihat sudah membusuk, namun tidak ada ekspresi yang tersirat dari wajahnya bahwa dia sedang kedinginan.

Sama seperti anak-anak lainnya, mereka saling berkenalan seakan tidak terjadi apa-apa. Bahkan pertanyaan mereka pun bisa dibilang aneh-aneh.

“Kamu kecelakaan karena apa?!”

“Aku dilecehkan kemudian dibunuh!”

“Umur kamu berapa?”

“Umurku delapan belas tahun.”

Seolah pertanyaan itu sudah hal yang lumrah untuk dilontarkan. Aneh, atau diriku yang belum terbiasa. Masih bingung dalam ingatanku sendiri di mana sebenarnya diriku ini, seseorang sedang menepuk pundakku dari belakang.

 “Haii!” Serunya. Sontak aku menoleh, bukannya aku berteriak. Kedua mataku hanya melotot, terkejut dengan apa yang baru saja aku lihat.

Dia seorang anak perempuan, baju putihnya penuh noda merah yang merembes, entah dari mana, ternyata itu dari belakang kepalanya. Tampak hanya rambutnya yang dikepang dua yang basah karena noda darah, ditambah dengan kacamatanya yang cukup bulat yang hampir retak.

“Kenapa?” Dalam keramaian anak-anak usia SMA kelas akhir menenggelamkan kata-katanya, aku harap ekspresiku tidak membuatnya tersinggung.

“Tidak ada apa-apa.” Aku hanya menggeleng.

“Boleh aku berkenalan denganmu?”

“Boleh.”

“Perkenalkan, namaku Tsania Qoshirotuttorfi. Kamu bisa memanggilku Tsania.” Ujarnya. Sembari menyerahkan tangan kanannya padaku. Berjabat tangan. Aku menerimanya dengan suka cita, namun aku tidak bermaksud apa-apa, toh, dia juga bermaksud baik. Tapi gadis bernama Tsania itu terlihat sangat senang atas reaksiku padanya.

Kulanjutkan diriku yang memperkenalkan diri. Satu hal aneh yang mengusik ingatanku lagi. Aku juga mengingat namaku dengan baik, seolah hanya ada namaku dan angka umurku yang ada dalam memoriku yang usang kini.

Seperti sudah disetting seperti itu. Disetting oleh pihak yang ‘bersangkutan’?

“Di mana kita sekarang?” Gadis itu tertawa sesaat karena pertanyaanku yang… terdengar gila mungkin.

“Kamu bicara apa?! Kita sedang berada di kampus sekarang!!” Kali ini Tsania begitu antusias saat menjawabnya.

“Kampus?” Aku memandang sekitar, aku hanya melihat gedung sekolah berwarna putih yang ada di depanku kini. Di antara kerumunan anak-anak SMA seumuran diriku, aku seolah sedang memandang ke arah sebuah panggung yang berisi dengan berbagai impian anak muda yang ada bersamaku kini.

Rasanya seperti itu. Aku tidak tahu, atau aku tidak mengerti apa itu. Aku merasakan demikian. Rasanya di dalam gedung sekolah itulah alasan anak-anak SMA ini berada di sini sekarang.  

“Ini tidak seperti kampus.” Entah seperti apa bentuk kampus itu sebenarnya. Aku kurang ingat, bahkan mungkin kurang tahu.  

“Kamu tidak tahu?! Sekarang kita akan menjadi mahasiswa!!!” Serunya, “kita akan menjadi mahasiswa yang belum pernah kita lakukan sebelumnya!”

Sebelumnya? Hal itu telah memberikan petunjuk kepadaku tentang semua ini. Semua yang telah kalian baca dari atas sampai  berada di sini. Mungkinkah aku sudah mati?

“Kita akan menjadi mahasiswa!” Ulangnya, seakan  hal itu merupakan hal yang sangat berharga dalam hidupnya.

Tak lama kami berkenalan suara lonceng dari dalam gedung sekolah itu berdentang. Amat sangat keras seolah lonceng itu merupakan satu bagian dari titisan sangkakala.

Serentak aku melihat anak-anak SMA mulai berbaris, dan aku pun mengikutinya. Aku seakan larut bersama laut yang beriak, aku mengikuti instruksi yang kasat mata sembari Tsania menarik tanganku.

 Ada seseorang yang tubuhnya jauh lebih besar dari kami, namun aku tidak tahu apakah dia perempuan atau laki-laki. Auranya seperti menciptakan dua kepribadian itu secara bersamaan.

“Baiklah, terima kasih sudah datang di Kampus Kebangkitan Manusia ini. Bagaimana hari kalian?? Menyenangkan?? Karena kupikir kalian begitu semangat sekali setelah mendapatkan pemberitahuan tentang masuknya kalian di sini, selamat datang untuk kalian!!” Suara riuh anak-anak berpakaian hitam putih menyeruak membuntuti akhir ucapan sosok itu.

“Sebelum masuk ke ruang perkuliahan, kalian harus dibersihkan dulu, ya. Ada beberapa bekas yang kalian bawa dari alam manusia.” Sosok itu mengatakannya dengan wajah tersenyum.

Aku mengerti apa yang sosok itu ucapkan, yang ia maksud adalah, bagaimana penampilan anak-anak SMA itu memperlihatkan cara mereka meninggal.

Tak lama kemudian ada robot berbentuk nakas yang menghampiri setiap anak SMA itu. Membersihkan mereka seperti sedang memandikan anak kucing. Ekspresi setiap anak SMA yang ada tidak menyiratkan suasana sedih. Seluruhnya berwajah bahagia. Satu persatu mereka dibersihkan seperti boneka Barbie yang dipasang dengan berbagai aksesoris. Sebelum memasuki pintu utama gedung sekolah itu.

Dari yang rambutnya habis sampai baju putih mereka yang penuh dengan warna merah, mereka dimandikan seperti sebuah mobil yang sedang dicuci.

Baru kusadari Tsania yang ada di sampingku telah diraib nomor antrian. Ia sudah lebih dulu berada bersama barisan- barisan anak-anak mahasiswa baru yang akan memasuki gedung.

Hingga tiba saatku untuk memasuki pintu utama gedung sekolah, setelah diriku dibersihkan seperti boneka yang dicuci, aku pun siap memasuki pintu, seakan memang itulah tujuanku bisa berada di sini.

Ups!! Maaf, Dik. Siapa namamu?” Seseorang itu menghentikanku, dia yang auranya suaranya lembut, hingga aku tidak merasa sedang dimarjinalkan.

“Menjadi mahasiswa baru?” mengutip apa yang telah aku dapat dari Tsania, sosok itu tertawa, “Tidak, Dik. Kau bukan mahasiswa baru.”

“…”

“Kau bukan lagi mahasiswa baru di sini. Kau ingat?”

“Bukankah aku adalah bagian dari mereka? Aku juga berpakaian hitam putih tadi, seperti halnya mahasiswa baru.”

Sosok itu menggeleng bijak, “Tidak, Dik. Kau bukan lagi mahasiswa baru.”

“Lantas? Apa yang kau maksud dari ucapanmu?!”

“Setelah ini aku akan membawamu ke tempat khusus. Di mana di sanalah dirimu seharusnya berada.”

“Aku sebenarnya tidak mengerti.”  

“Kenapa?”

“Apa aku sudah mati?”

“Data anak baru mengatakan kau meninggal di dalam kamarmu sehabis pulang kuliah.” Aku tertegun setelah mendengarnya. Menerima atau tidak, tetap saja aku sudah mati.

Kurasa sosok itu tahu apa yang sedang kurasakan, ia pun mengajakku ke tempat seperti yang telah dia janjikan sebelumnya. Jika anak-anak lain berada di bangku kuliah untuk pertama kalinya, maka aku berada di bangku kuliah yang sudah lama.

“Namamu Haliza Auliawati. Semester tujuh. Memiliki gangguan kesehatan berat setelah memikirkan skripsi yang belum juga usai.” Jelas sosok itu, setelah membaca salah satu berkas yang ada di tangannya.

“Itulah yang kau bawa kesini.” Siapapun yang berada di tempat baru pasti memiliki tujuan tersendiri, begitu juga diriku. Baru aku sadari, anak-anak yang ada bersamaku tadi adalah mereka yang meninggal sebelum tamat SMA. Mereka yang berhak mendapatkan gelar mahasiswa agar bisa terus bersama yang maha kuasa.

Ternyata Tuhan tetap menyayangi ruh-ruh tak berdosa itu hingga mengizinkan mereka untuk tetap mencicipi suasana bangku kuliah.

Sementara aku adalah mahasiswa tua, yang sedang dilanda dilema, menyelesaikan skripsi di tengah tubuhku yang sedang ingin dikasihani. Dan tak sadarkan diri untuk selamanya di dalam kamarnya sendiri.

Miris memang, aku tak bisa membawa salinan skripsiku ke alam baka ini. Namun sosok itu mengantarkanku ke ruangan di mana di sana terdapat seperti seorang dosen penguji, beserta beberapa buku dan berkas yang ternyata itu merupakan milikku. “Kau akan menyelesaikan seminar proposal sekaligus yudisium di sini.” Sosok itu berbicara dengan aura penuh kebahagiaan, “Kau akan lulus di surganya Tuhan.”

Pos terkait