Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

SARANG GERSANG : Belajar Pemikiran Islam tanpa ada proses Berfikir

Oleh : Moh. Syihabuddin, Direktur Kitasama Stiftung 

Rabo malam, 13 Februari 2019, untuk pertama kalinya saya menghadiri suatu “pengajian” yang disetting gaya anak muda dengan bentuk ngopi dan cangkruk. Tempatnya juga disebuah cafe dipinggiran kota yang sangat elegan, tepat di rooftop di lantai tiga, sehingga kesan santainya lebih terasa dan lebih nyaman. Di forum itu, saya diajak oleh seorang teman yang bekerja di sebuah instansi tertentu yang memang kelihatannya merupakan salah satu jama’ah aktif di forum tersebut.

Ya, kelihatannya moderatornya seorang alumni salah satu Partai (namun tidak ikut pemilu) yang sedang dibekukan oleh pemerintah karena ideologinya yang berlawanan dengan ideologi Pancasila, apalagi kalau bukan ide-ide khilafah. Dan kelihatannya dia lumayan populer di beberapa kawan-kawannya, bahkan konon dia dipanggil dengan sebutan ustadz.

Saya tutup mata dengan panggilan tersebut, apakah dia benar-benar ustadz yang berproses di sebuah pesantren dan atau surau, atau hanya seorang ustadz yang dikagumi oleh penggemarnya saja karena mampu menghafal beberapa ayat al-Qur’an, lalu diterjemahkan. Atau mungkin juga dia hanya mendapatkan wawasan keislaman dari sebuah buku bacaan, tanpa mengetahui sumber aslinya dari pesantren. Yang jelas, saya percaya saja kalau dia seorang ustadz. Tapi saya yakin, bahwa dia pasti belum pernah mendapatkan apa yang pernah diperoleh oleh para kiai di pesantren.

Singkat cerita, forum itu dimulai pada pukul 21.30 saat dua narasumbernya sudah hadir. Bayangan saya forum itu merupakan forum diskusi, moderator si ustadz sebagai pengelolah forum dengan narasumber yang bergiliran memberikan materi. Lalu dilanjutkan dengan sesi pertanyaan dari peserta, sehingga akan menghasilkan sebuah keilmuan yang saling melengkapi dan komunikasi dua arah antara narasumber dan mustami’im. Dan bayangan saya tersebut salah total. Pertanyaan hanya hadir dari moderatornya saja dan peserta hanya dibiarkan mendengarkan semua ceramah narasumber.

Selesai forum pukul 23.30-an saya langsung pulang, disamping karena agak sakit saya merasa bahwa dari forum itu saya memperoleh beberapa poin penting tentang harus saya ikat dengan catatan. Dan saya pun segera mencatat apa yang saya amati malam itu juga dengan buku khusus saya.

Forum saat masih Pelajar-Mahasiswa

Pertama, forum itu merupakan forum yang sangat baik bagi anak-anak muda yang baru beranjak kuliah atau SMA/MA, beberapa santri naturalisasi (baru menjadi santri ketika sudah menikah), atau para pegawai BUMN dan PNS yang hari-harinya dihabiskan dengan rutinitas bekerja, cari uang, dan bimbang mencari identitas hakiki dirinya. Yaitu beberapa orang yang memang proses hidupnya dimulai dengan mendapatkan nilai akademik tinggi di sekolah agar bisa bekerja dengan gaji rutin di sebuah instansi, atau juga orang-orang yang tidak pernah belajar Islam di pesantren selama bertahun-tahun. Sehingga forum itu terasa sangat penting bagi mereka untuk “mendapatkan pengetahuan”, dan mungkin juga “memperoleh pencerahan jiwa” untuk membangun jiwanya.

Hal itu terlihat pada saat narasumber memberikan materi dan membuat sedikit kelucuan, dimana para peserta yang rata-rata wajahnya kelihatan belum pernah belajar di pesantren tertawa terbahak-bahak. Apa yang disampaikan oleh narasumber terkesan sangat “mendalam”, “menyentuh”, dan sangat “memberikan wawasan”. Padahal, bagi saya itu merupakan wawasan yang saya dapatkan dengan mudah saat mondok dulu (sejak masih belajar tingkat Ibtida’iyah), atau saat sedang belajar di organisasi pelajar/mahasiswa atau pergerakan. Artinya, tidak ada yang istimewa sama sekali dengan yang disampaikan oleh narasumber, semua hal-hal ringan dan sangat mendasar sekali. Saya dan teman-teman saya sudah kaya dengan wawasan itu.

Benih-benih Khilafah

Kedua, dari hal itu sehingga saya pun langsung bisa menyimpulkan kalau forum itu rata-rata memang benar dugaan saya sebelumnya, hanya bagi orang-orang yang tidak pernah belajar Islam secara “benar”. Rata-rata belajar Islam dari Youtube, google, atau buku terjemahan mungkin (jika sempat jadi rajin membaca buku). Ada sedikit “kelucuan” dalam diskusi para peserta langsung tertawa. Padahal saya sedikit pun merasa tidak ada yang lucu dari apa yang disampaikan. Tapi terkadang saya ya berupaya tertawa (bohongan), untuk menghargai teman saya yang mengajak saya. Menunjukkan saya seolah-olah faham konten materinya.

Maka tidak salah juga jika akhir-akhir ini (sejak reformasi dikumandangkan) banyak PNS atau pegawai BUMN, yang memang notabene-nya kurang memperoleh wawasan Islam yang luas dari ahlinya ikut-ikutan ingin mengubah NKRI menjadi Khilafah. Atau mengklaim dirinya mampu berbicara tentang Islam secara kaffah. Padahal sejatinya mereka sangat dangkal dan sangat gersang sekali wawasan keilmuan Islamnya. Dan itu bisa-bisanya mereka ada yang mengaku pula sebagai ahli dalam keilmuan islam. Dan itu sepertinya berangkat dari forum-forum yang dangkal wawasannya seperti yang saya hadiri itu.

Tidak ada “Pemikiran Islam”

Ketiga, forum itu disetting sebagai sebuah forum untuk belajar Pemikiran Islam yang akan membahas isu-isu lokal, nasional hingga regional dan internasional. Tapi saya sama sekali tidak menemukan sedikit pun “pemikiran” dalam forum itu. Hanya ngobrol biasa, pengajian dangkal layaknya untuk orang nDeso awam (padahal itu di kota lho). Padahal jelas, sejatinya Pemikiran Islam adalah sebuah teori-teori yang dilahirkan untuk mengkonstruksi masyarakat Muslim agar mampu menghadapi konteks kehidupannya. Paling tidak harus melibatkan banyak aliran epistemologi berfikir dari para filsuf atau tokoh-tokoh Muslim, mungkin juga para ilmuwan Barat yang ahli dalam Islam. Teori-teori tersebut kemudian diterapkan agar menghasilkan sebuah rekomendasi yang riil untuk perubahan atau pemecahan masalah. Dan itu tidak ada dalam forum itu, (mungkin) terlalu jauh dan sangat tidak terjangkau bagi penyelenggaranya, apalagi pesertanya.

Maka jelas, kajian itu tidak layak secara hakiki disebut dengan forum pemikiran Islam, karena sama sekali tidak melahirkan sebuah pemikiran yang kaya makna dan tidak ada analisis yang mendalam secara akademik. Karena Pemikiran Islam di UIN saja itu telah menjadi sebuah konsentrasi (prodi) pascasarja yang disebut dirasah Islamiyah. Tapi forum malam itu telah (kayaknya) merusaknya atau menggesernya menjadi forum ngobrol yang dangkal, sambil ngopi.

Menghina, iri lalu memakainya

Keempat, forum itu disetting santai, guyonan, ngopi, sambil leha-leha. Layaknya pengajian-pengajian yang sering dilakukan oleh para kiai nahdliyin di kampung-kampung, di masjid-masjid, di musholla, bahkan di acara akhirus sannah sebuah Pesantren-Madrasah.  Cuma tempatnya saja digeser ke cafe agar kelihatan kekinian, lebih metropolis, dan lebih modern. Lalu ditambahi dengan ada moderator dengan banyak narasumber. Dan yang hadir hampir tidak ada warga Nahdliyin yang berproses jelas dan “berdarah” hijau, kecuali saya dan pak Miyadi ketua DPRD Tuban selaku salah satu dari tiga narasumber yang hadir. Juga satu teman saya dari Jawa tengah.

Kita tahu bahwa mereka, warga non-nahdliyin sering kali mengolok-ngolok warga Nahdliyin karena sering mengadakan pengajian yang katanya guyonan. Mereka menghina istilah pengajian, karena dianggap guyon dan tidak serius. Seperti istilah jodoh (serius) dan jodohan (hanya guyonan), pokoknya akhiran an dianggap tidak serius. Mereka menggantinya dengan istilah Ngaji, karena benar-benar mengaji dan belajar. Tapi anehnya, isinya tetap sama, guyonan, tidak ada hal serius mengaji. Bahkan settingnya juga sama, dengan santai sambil guyon layaknya pengajian para jama’ah nahdliyin. Dan itu sudah lama dilakukan oleh para kiai pesatren untuk berdakwah dan menarik masyarakat awam agar mau belajar Islam

Kalau mereka mau serius mengaji ya ambil kitab dong. Baca kitab-kitab mu’tabaroh, lalu telaah isinya dan kaji bersama layaknya para mahasiswa atau santri di pesatren. Bila perlu dengan metode munahdaroh (debat materi). Tapi itu sangat tidak mungkin, karena yang hadir juga orang awam keilmuan, apalagi dengan kitab pesantren pasti sangat-sangat-sangat awam.

Cara mereka sama dengan cara dakwah kiai pesatren dengan pengajian ke kampung-kampung, yang santai, sambil cangkruk dan lesehan di tanah, dengan halaman yang luas di tengah-tengah lapangan, sambil menyeruput wedang. Dan cara itu mereka kritik (terutama kaum Islamis-pembaharu), namun mereka menggunakannya. Ini jelas, mengkritik karena iri dan ingin meniru tidak bisa. Karena sudah didahului oleh para kiai, mungkin.

Mengambil hikmahnya

Dan Kelima, jika dipandang dari sudut gerakan dakwah ini cukup baik, sangat bagus bagi anak-anak muda, PNS, pegawai BUMN, atau BUMD, atau mungkin mereka yang secara linier belajar di sekolah-sekolah Sekuler dengan materi keagamaan yang minim, yang telat belajar Islam, tidak pernah mondok di pesantren Salaf, tidak bisa membaca kitab kuning, dan tidak mempunyai Guru yang langsung menyambung (mutawatir) hingga ke Rasulullah. Forum ini cocok bagi mereka. Paling tidak cukuplah bagi mereka (warga perkotaan) hanya sekedar untuk mencari sensasi agar dianggap Post-Islamis oleh media.

Namun kekurangannya sangat jelas, belajar dalam forum seperti itu sangat tidak memungkinkan untuk bisa memahami Islam secara benar dan apalagi sesuai dengan ajaran Rasulullah. Masih perlu belajar lagi lebih mendalam, terutama bisa dilakukan dengan sowan, silaturrahim, tabarukan ke para kiai pesantren, kiai nDeso yang mondok lama, dan ikut pengajiannya para ahli mentelaah kitab salaf. Itu pun belum cukup juga. Masih harus ikut Thoriqoh agar dalam ber-Tuhan dan ber-Agama tidak tersesat. Karena hanya melalui thoriqoh-lah belajar Islam itu baru bisa menjalaninya secara kaffah, yakni Iman, Islam dan Ihsan.