Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

SANG SYEKH, SANTRI LUCU YANG DIGIGIT ULAR

oleh :

AHKMAD SIFYANI

Pakaiannya selalu pakai juba putih dan panjangnya sampai di atas mata kaki, sedangkan penutup kepalanya memakai peci putih dan dibalut sorban berwarnah putih. Dia selalu naik sepeda ontel warna biru tua yang membawanya kemana dia pergi. Kadang setiap hari pasti mampir ke pondok ku sore hari bisa juga pagi hari.

Tak banyak yang tau nama aslinya, tapi teman-temanku memanggilnya Syekh, karena cara berpakaian dan berpeci mirip seorang Syekh yang ada di Arab.

Dia tinggal sendirian dirumah bekas kamp santri yang ada di sebelah timur makam desa. Makan setiap hari kadang dia dapat dari pemberian warga sekitar yang sering meminta bantuan Syekh untuk doa tahlil setiap malam jumat. Keseharian syekh sangat sederhana, dia beda sekali dengan santri-santri pada umumnya, jarang sekali Ngopi bahkan makan di warung dekat pondok.

Suatu saat dia pernah bilang kepada ku, “urip nang pondok iku kudu wani prihatin, aja poyah-poyah ben ngelmune cepet mlebu”.

Aku mendengarkan saja apa yang dikatakan Syekh. Memang Syekh begitu sabar dan tabah menjalani apa yang sudah menjadi prinsip hidupnya. Waktu itu aku melihat dengan mataku sendiri Syekh sangat marah sekali karena sepedanya dipakai teman untuk membeli rokok di toko depan Masjid Jami, “aku rasudi sepedaku gae tuku rokok, rokok iku harom” kata syekh sambil memasang wajah garang. Tapi temanku tertawa melihat ekspresi wajah Syekh yang marah-marah karena tahu kalau syekh tak akan marah sampai kebawa perasaan nanti juga baikan lagi.

Waktu musim hujan tiba, area di samping tempat tinggal Syekh sering banjir dan saat surut pasti tanah disitu menjadi becek bahkan tak bisa di lewati. Bahkan binatang melata seperti ular, kelabang, kakiseribu mulai sering muncul disitu, tapi buat Syekh itu sudah menjadi hal yang lumrah bahkan Syekh pernah digodain Si Kunti saja malah di cuekin.

Tapi ada suatu kejadian yang tak pernah bisa dilupakan oleh Syekh. Aku juga mendengar kejadian itu dari teman kampung yang rumahnya dekat dengan tempat tingalnya Syekh.

Kejadiannya seperti ini, saat itu memang hujan sedang turun sedang, namun mulai magrib sampai jam delapan setelah isyak hujan belum juga reda, sedangkan Syekh ada kondangan tahlilan di rumah warga kampung dan mau tidak mau Syekh harus berangkat karena sudah berjanji dengan yang punya hajat.

Dengan memakai payung warna putih miliknya Syekh berangkat ke rumah warga sambil menerobos hujan yang masih agak sedikit deras. Kira-kira dua jam setelah acara Syekh berpamitan pulang karena hujan sedikit reda.

Ditengah perjalanan saat memasuki area jalan makam kaki syekh menginjak seekor ular, sontak saja ular itu langsung mengigit kaki Syekh. Gigitan ular itu di anggap oleh Syekh biasa saja seperti gigitan semut. Syekh pun biasa saja tak menghiraukan kalau kakinya sudah berubah hijau efek dari racun yang sudah mulai menyebar.

Saat duduk di kursi rumahnya Syekh baru melihat kalau kakinya berubah warna, kemudian bergegas keluar rumah untuk mencari bantuan ke warga-warga sekitar. Beruntung ada warga yang masih ronda di pos kampling dan langsung membawa Syekh ke dokter untuk mendapatkan pertolongan.

Keesokan harinya Syekh main ke pondokku dan menceritakan kejadian itu, teman-teman ku ada yang tertawa juga ada yang prihatin “Syekh.., Syekh.., nekmu tawakkal iku lo pie…? Kapan dicokot ulo iku yo nang di gowo nek dokter…, ojo mala di mbarno… gusti Allah ga bakalan marasno sikilmu nek gak mok obati sek…. Hem…, hem…,”.