Sang Penangkap Mimpi Buruk

Cinta ahanya bisa dibangun dengan kenyakinan dan saling kepercayaan satu sama yang lain. Cinta harus merasakan keindahan dan keheningan, bahkan rasa sakit agar kenikmatan cinta itu bisa dirasakan oleh pemiliknya yang turun dari sisinya

kitasama.or.id – Minji meraih tubuhku, tiba-tiba berlari mendekat ke arahku kemudian membuat diriku tersungkur ke bawah, hingga aku berada di atasnya. Ia dorong pundakku ke belakang, untung saja kami sama-sama memakai rompi—rompi dengan berbagai saku yang terdiri dari penyimpanan peluru, obat-obatan, amunisi senapan, dan juga alat merekam—entah apa yang sedang dipikirkan Jiu Penangkap Mimpi kali ini.

“Jiu~ssi, apa yang sedang kau lakukan?” pertanyaanku rasanya kurang diterima oleh dirinya, spontan ia menamparku. Apa-apaan ini?! Apa yang sedang dipikirkan penyihir tua ini tentangku?!

Bacaan Lainnya

“Kau gila?!” Seruku, sembari memegang bagian yang baru saja ia tampar, tentu saja pipiku!. Tak terima dengan sifatnya yang sok akrab dengan gue.

“Gara-gara dirimu, reputasiku hancur!! Karena kejadian itu banyak penggemarmu yang menghujatku!!! Kau pura-pura menciumku, kan?!” Aku pikir dia juga tahu akan hal itu. Karena aku  melakukannya untuk urusanku sendiri. Ya, aku masih ingat kejadian itu. Tapi tidak untuk saat ini.

Panggilan misterius itu mengancamku, dia berusaha membuat diriku menemui dirinya dengan menyulik kakakku. Ah, ayolah, Jiu. Nanti saja dramanya, aku ingin membawa balik kakakku.

“Kau harus dibunuh Hong Joong~ssi!!!” Kini dia seolah hendak menyekikku. Hari kurasa semakin malam, dan tanpa kusadari aku telah seharian berada di dalam arena yang tidak berguna ini. Gedung yang hampir roboh.

Kemungkinan besar yang tersisa adalah diriku dengan anggota kelompok bermainku—tentu saja si Jiu~sekkiya ini—apa ini sudah waktunya teman makan teman? Atau mungkin karena para peserta sudah tidak ada lagi yang tersisa jadi Jiu memutuskan untuk menyerangku sendiri.

Sudah banyak peserta Escape in Holiday yang telah keluar dari arena bermain, karena mereka sudah berada di babak selanjutnya. Maksudku…mereka sudah berada di bawah. Tinggal gue doang yang berada di sini!!!

Tapi dugaanku salah, baru saja aku membujuknya untuk membiarkanku tetap hidup dalam Escape in Holiday ini, dengan membiarkan dia membawa amunisiku dan beberapa makanan yang kubawa—asal aku bisa lari dari tempat ini dan menyusul keberadaan Bum Joong—Jiu tidak menerimanya. Bukan itu yang sedang ia bicarakan.

“Kau…gara-gara dirimu, aku harus mendapatkan komentar jahat! Banyak yang membicarakanku, mengatakan kepadaku bahwa aku telah  berkencan dengan dirimu! Padahal kau itu pendek!! Aku tidak mau berkencan denganmu!!”

Komentar kejam netizen lokal kukira cukup membuat dirinya shock, tentang semua sandiwara yang aku buat. Kenapa, Jiu? Kau ingin aku melakukannya lagi untukmu? Kau ingin aku mengajakmu makan malam?

Tidak, Bum Joong sudah tahu tentang ini. Aku mengatakan kepada dirinya bahwa aku menggunakan Jiu untuk menutupi  hubungan kami—yang tentu saja hampir terbukti melalui siaran langsungku di HyungLive—dan secara cepat pula aku harus mengalihkan perhatian para penggemar dengan berpura-pura bersandiwara di hadapan mereka.

Bum Joong mengetahuinya, tapi tidak bagi Jiu. Gadis itu belum mengerti maksudku. bahkan aku masih belum paham dengan maksud dirinya menemuiku di acara sepenting itu (penting bagi para penggemar ygy).

Fakta Hong Joong Bajak Laut berkencan dengan Jiu Penangkap Mimpi  telah populer di kedua kubu penggemar. Begadang dan Laut akan bersatu menjodohkan diriku dengan Minji? Kemungkinan besar iya.                         

“Kau mau aku menjadi suamimu?! Ha! Maaf, Bum Joong sudah menjadi milikku!!” Sekali lagi ia menamparku, genggamannya masih mencengkeram erat kerah bajuku.

“Bum Joong akan selamanya menjadi milikmu tapi dendamku padamu harus terbalaskan!!” Sahutnya dengan tempo cepat.

Satu tangan Jiu tergenggam sebilah knife. Tidak usah aku jelaskan kalau sudah tahu apa yang aku maksud. Hampir ia tancapkan kea rah mataku, namun aku berusaha melepasnya dari tangannya, meski harus berguling beberapa kali. Dari aku berada di atas sampai aku kembali berada di atas Jiu. Haah…menyebalkan! Bukan ini yang aku inginkan terjadi.

“Apa maksudmu dengan dendam?! Kau dendam padaku!??”

“Menurutmu?! Sudah jelas itu akan terjadi!! Sepertinya kau memang ingin aku mengusik hidupmu!!” Spontan aku melepas cengkeraman tangannya, hingga jari-jari tangan yang kecil itu kini ada di genggamanku.

“Aku memang tidak benar-benar menciummu, kan?!”

“Tepat sekali!! Tapi rumor yang tersebar telah memutuskan bahwa kau telah menciumiku di acara murahan-mu itu! Kenapa kau melakukannya padaku, kenapa!!” Suara Jiu seakan hendak menangis.

Tapi yang aku pikirkan bukan hal itu. Aku hanya harus pergi menemui kakakku. Seseorang sedang menganiaya dirinya di luar sana. Menyebalkan! Aku tidak suka sesuatu yang sedang terjadi padaku saat ini, Jiu telah menguras waktuku.

“Nona Minji, jika media mengatakan hal yang salah, setidaknya kau tahu apa yang sebenarnya terjadi! Kan?! Benar, kan, kataku?! Aku tidak pernah sama sekali menyentuh bibirmu! Ingat itu!!”

“Ya, dan kau tahu apa?!” Aku menatapnya, ada jeda di antara suara kami yang tak bersahutan sesaat. Suara batu bergeser terdengar dari kejauhan. Atau mungkin…dari atas kami.

“Karena kejadian itulah managerku ingin mempertemukanku dengan dirimu, dan mengapa kau dan aku berada di sini!!”

Aku mengerti maksud wanita ini, dia juga sama kesalnya denganku atas apa yang terjadi hari ini. Kontrak ikut berpartisipasi dalam acara Escape in Holiday ini bukan keinginan Jiu. Namun kurasa aku jauh lebih menyedihkan dibandingkan dirinya. Toh, siapa yang tidak akan marah jika tiba-tiba ada seseorang menyuruhmu melakukan sesuatu yang melelahkan sementara dirimu telah melakukan hal yang membuatmu ingin mengakhiri hidup.

Jangan, jangan…jangan mengakhiri hidup dulu. Jangan dulu. Jangan berpikir seperti itu.

“A…aku tahu. Kita selesaikan ini…”

“Kau harus tanggung jawab!!” Penyihir itu hampir menangis. Satu tangannya mengucek mata yang mulai berlinang.

“Kenapa aku…?”

“Kau harus mengembalikan reputasiku!! Kau harus menghapus rumor itu!!” Suara Jiu terdengar sedang menangis, namun bukan itu yang telah menarik perhatianku. Sesuatu tepat dari atas kami sedang bergemericik. Bukan air kran…sebuah bongkahan batu yang akan lepas dari atas sana. Kurasa akan menimpa kami. Tapi itu tidak akan mungkin terjadi!

“Jiu…sudahlah, akhiri saja drama ini.” Kataku kemudian, namun kupikir dia tidak mendengar suaraku. Yang benar saja, ia terlalu hanyut ke dalam suara tangisnya sendiri. Namun kupikir sudah tidak ada lagi waktu untuk hal ini.

Tanpa berpikir panjang aku dekap tubuh Jiu seolah aku sedang memeluknya, tentu saja sedikit membuat dirinya terkejut akan aksiku yang tiba-tiba. Kemudian sambil memeluk Jiu aku pun jatuhkan diri ke dinding…

Bukan dinding.  Aku tahu itu adalah jendela yang kacanya sudah usang dan berdebu. Dari sanalah kami bisa keluar dari sini. Baru kusadari aku ternyata sedang berada di lantai tiga dari gedung yang hampir roboh.

Yah…aku tahu tempat ini hanya tempat untuk bermain—demi memenuhi konsumsi para penonton—mereka rela mengorbankan nyawa orang hidup-hidup dengan cara seperti ini. Kenapa warga lokal tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan idolanya.

Aku menghindar tepat bersamaan dengan bongkahan atap yang retak itu terjatuh. Menghantam lantai di tempat posisiku berada. Belum sempat menoleh apa yang telah terjatuh dari balik punggungnya, aku pun menjatuhkan diri dari jendela itu, alhasil kaca berdebu itu pecah, berhamburan bersama  dengan posisiku di bawah Jiu. Gadis itu mendekap bersamaku. Ia terima dekapanku hingga terlihat seperti aku sedang memeluk dirinya. Memang benar.

Dan terjun dari sana, kecepatan dan ketinggian yang tidak bisa aku prediksi membuat diriku rasanya sedang tenggelam bersama angin. Dan kau tahu apa?! Tubuhku menghantam atap mobil. Tubuh Jiu baik-baik saja, sementara diriku terlihat berantakan.

Suara keributan dan sirene terdengar, disambut dengan air hujan yang menderas tiba-tiba. Orang-orang berkedip-kedip dengan cahaya kamera potret menghampiri. Apa ini?! Jadi ini juga bagian dari naskah mereka?! Alibiku berkata seperti itu. Judgement ku mengatakan mereka sengaja melakukannya karena ingin membuat momen antara aku dan Jiu.

Kenapa aku mudah berpikir negatif, sih?! Ada apa dengan diriku?! Tidak, kali ini aku meminta kepada kalian untuk mengkhawatirkan keberadaan Bum Joong. Okey? Dia lebih membutuhkan do’a dari kalian dibandingkan diriku.

Aku baik-baik saja.

Setelah membawa kabur Jiu~sekkiya     dari gedung yang ternyata menghancurkan diri sendiri itu—setelah aku menjatuhkan diri dari atas, seketika gedung itu melebur menjadi bebaqtuan dan pasir. Seperti dihancurkan dengan beberapa dinamit yang telah dipasang di beberapa sisi.

Intinya gini, lho. Dalam sebuah bangunan yang telah tak terpakai ada sebuah gagasan yang mengatakan lebih baik dihancurkan dan dibangun dengan bangunan yang lebih kokoh lagi dari biasanya. Untuk menghasilkan lahan yang baru seperti semula, maka pengeboman bangunan secara halus adalah ide yang bagus. Caranya? Dengan perkembangan teknologi yang telah maju tentunya.

Ya, pake’ dinamit lah, anjiir. Masa’ gitu doang harus aku jelasin, sih. Kurasa aku tidak diberitahukan soal ini. Belum lagi atap yang roboh itu, aku harus loncat dari jendela dengan posisi memeluk Jiu. Aku bangkit dari tempatku, mengangkat tanganku dari bawah kepala Jiu. Gadis itu tak sadarkan diri. Pingsan.

Banyak orang dari berbagai tim—tata rias, busana, juru kamera bahkan sutradara yang aku kenal tadi pagi—menghampiriku, dengan menghujaniku berbagai pertanyaan yang bervariasi. Dari ekspresi mereka aku bisa mengetahui apa yang ingin mereka katakan. Tapi aku tidak peduli. Tanpa kusadari ada sedikit warna merah yang mengalir dari pelipisku.

Dante menghampiriku, setelah aku mengatakan kepada mereka untuk segera mengamankan Jiu, “Pastikan dia tidak kenapa-napa, periksa kalau ada luka serius.” Kataku. Tidak usah mempedulikan aku, pikirkan saja kondisi putri K-Pop Rock mu itu. Kidding.

“Kau mau kemana?!”

“Mana kunci mobilku!” Saat aku lirik tangan Dante tergenggam benda yang aku maksud, spontan kurampas dari tangannya, mungkin gerakanku agak cepat, jadi Dante agak terkejut ketika apa yang ia bawa hilang begitu saja.

“Kau mau kemana?!”

“Dan kau akan membiarkanku berada di sini? Begitu?” Suaraku hanyut bersama suara hujan yang menderu. Mengejar keheninganku. Aku harus bertemu dengan kakakku!

“Aku tahu kau akan memarahiku malam ini.”

“Aku lazy untuk melakukannya.”

“Apa yang akan kau lakukan kali ini?! Hei, hujannya deras sekali!”

Hyung, katakan kepada Seojun~hyung aku tidak akan pulang untuk sementara.” Kataku sembari menekan tuts di kunci mobil. Membuat sebuah mobil berwarna blacksilver tiba-tiba muncul kemudian berjalan menghampiriku.

Pos terkait