Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

SAMURAI-SANTRI; HIMURA BATTOSAI DAN KEPAHLAWANAN NAHDLATUL ULAMA DI ERA (PEMERINTAHAN) INDUSTRI 4.0

oleh :

Moh. Syihabuddin

Pemikir Muda Islam Indonesia

Kenshin Himura “Battosai” adalah karakter utama dalam komik Samurai X karya Nobuhiko Watsuki. Ia merupakan seorang samurai yang hidup di masa peralihan pemerintahan Jepang, dari keshogunan (Bakufu) menuju kekaisaran restorasi (Meiji).

Battosai berada di pihak kekaisaran Meiji, bersama pendekar-pendekar samurai lainnya ia berperang menghadapi para samurai yang tetap setiap pada Bakufu dan menolak perubahan zaman baru di Jepang. Peperangan dimenangkan oleh pasukan Meiji yang mengantarkan Jepang menuju zaman baru yang lebih baik dan mengikuti kemajuan yang telah diperoleh oleh bangsa Barat.

Cerita sosok Kenshin Himura Battosai di awal era Restorasi Meiji ini sangat dekat sekali dengan peranan Nahdlatul Ulama sebagai intentitas “pendekar” yang berperang di masa pemerintahan industri 4.0 saat ini. Jika Battosai berjuang membelah eksistensi zaman baru menuju Jepang yang lebih baik (lepas dari rezim Bakufu) maka Nahdlatul Ulama berjuang menjaga bentuk Indonesia sebagai NKRI adalah harga mati. Baik Battosai maupun Nahdlatul Ulama sama-sama menghadapi musuh yang tidak setuju dengan keberadaan eksistensi negara yang sedang dibangunnya ini.

Si Battosai; Samurai Ksatria Meiji

Sebagai seorang ronin yang tidak memiliki tuan yang jelas, Kenshin Himura mengabdi pada pemerintahan Meiji tanpa mengharapkan imbalan apa-apa. Dia berjuangan demi kekaisaran Meiji hanya menginginkan perubahan Jepang yang feodalistik menuju Jepang yang lebih modern dan lebih beradab. Tugasnya jelas, sebagai Battosai (si pembantai) yang harus membunuh para tokoh-tokoh Bakufu sesuai dengan permintaan pemerintah Meiji (kaisar).

Selama berjuang sebagai ksatria Meiji Kenshin telah membunuh (menghadang-menghadapi-melawan) para samurai dari Bakufu yang tidak menginginkan perubahan di Jepang. Bersama ksatrian Meiji lainnya Kenshin berhasil mengalahkan samurai-samurai dari pihak Bakufu dan berhasil pula membentuk pemerintahan baru.

Ketika restorasi Meiji sukses menuai kemenangan dan zaman baru yang lebih baik sudah berada di depan mata Kenshin tidak ikut serta terlibat dalam pemerintahan dan menikmati nikmatnya kekuasaan. Alih-alih menjabat sebagai pegawai pemerintah Jepang, polisi, tentara, atau pejabat sipil lainnya, Kenshin tetap menjalani hidupnya sebagai pengembara dan konsisten sebagai seorang samurai dengan amalan dan jiwa ke-samurai-annya.

Kenshin tidak tergoda dengan kekuasaan, tidak menuntut imbalan, tidak meminta jatah jabatan, apalagi meminta jadi orang dekat kaisar. Ia kembali pada dunianya yang dulu, hidup bersama samurai lainnya yang mendukung eksistensi zaman restorasi Meiji. Ia mendirikan sebuah sekolah samurai yang dikepalai oleh “pacarnya” dan tidak menerima banyak siswa, hanya satu. Karena orientasinya bukan ekonomi atau kebanggan, namun melestarikan budaya dan kekayaan tradisi samurai (jurus-jurus pedang, spritualitas samurai, dan nilai-nilai tinggi kebudayaan samuari).

Penghalang Kemajuan Jepang

Belum genap pemerintahan Meiji berjalan baik dan menciptakan kemakmuran di Jepang, sosok ksatrian Meiji yang juga seorang Battosai (si pembantai) lainnya telah menghimpun para mantan samuari yang menjadi gelandangan (tidak mendapatkan pekerjaan, karena semua pekerjaan kemiliteran Meiji diisi oleh orang-orang baru yang mampu mengoperasikan senapan dan keahlian pedang baru). Dengan biaya dari seorang kolongmerat dan saudagar kaya yang tersisih oleh keberadaan era Meiji dia mampu membentuk pasukan dan membuat sebuah negera yang hampir kuat—setara dengan kekuatan kaisar. Dia adalah Shishio Makoto.

Shishio adalah sosok samuari yang kecewa dengan pihak Meiji yang telah menyisihkannya dari posisi pemerintahan. Dia marah, benci, dan darah membunuhnya muncul setiap saat. Bersama para pengikutnya yang setia Shishio melakukan kekacauan di beberapa kota penting di Jepang, Kyoto (ibukota Bakufu) dan Tokyo (ibukota Meiji). Tujuannya adalah mengubah pemerintahan Meiji menjadi pemerintahan ala dirinya (tidak ke arah Meiji sekaligus tidak kembali pada era Bakufu).

Tingkah laku Shishio benar-benar merepotkan pemerintahan Meiji, sehingga pemerintahan tidak bisa dijalankan dengan aman dan lancar. Beberapa pejabat dibunuh oleh anak buahnya, termasuk para menteri dan orang-orang yang berpihak pada pemerintahan secara jelas, pegawai pemerintahan. Dan Ia sendiri telah mendirikan ibukota pemerintahannya di Kyoto dengan tangan besi.

Menghadapi seorang samurai harus dengan seorang samurai, maka pemerintah Meiji pun kembali memanggil Kenshin Himura untuk membantu kekaisaran Meiji mengahadapi Shishio Makoto dan anak buahnya. Bersama kawan-kawannya yang setia Kenshin pun berhasil mengalahkan Shishio dan mengembalikan Jepang sebagai negara yang aman dari pemberontakan.

Setelah suskes membantu pemerintahan Meiji Kenshin kembali pada kehidupan semulanya, sebagai seorang mantan samurai yang mengajarkan ilmu pedang. Kenshin tidak meminta jabatan, imbalan, tanah, atau harta kekayaan bagi dirinya. Ia tetap menjalani kehidupannya yang normal-normal saja, jauh dari kemakmuran dan kekayaan.

Dari kemenangan era pemerintahan Meiji Kenshin hanya berharap bahwa zaman ini merupakan zaman yang cocok untuk membawa Jepang lebih baik, lebih maju dan lebih makmur. Kenshin tahu bahwa jiwa-jiwa samurai dan spiritualitasnya akan tetap ada di jepang, namun dikemas dengan cara menerima perubahan dari bangsa lain yang lebih modern. Hasilnya pun, Jepang menjadi negara yang besar, lebih kuat, maju dan kaya.

Nahdlatul Ulama; Santri Ksatria Industri 4.0

Yang dialami oleh Kenshin inilah yang sama persis dengan yang dijalani oleh santri-santri Nahdlatul Ulama yang berperan sebagai Ksatria era Industri 4.0 di Indonesia pasca Pilpers 2019 ini.

Sepanjang pertempuran di ajang perhelatan pilpers 2019 Nahdlatul Ulama telah mati-matian membela pemerintah Jokowi yang dianggap telah mampu menjaga Indonesia sebagai negara kesatuan dan menjaga Islam di Indonesia tetap sebagai Islam yang toleran, tidak terpengaruh ide-ide radikalisme, dan tetap menjaga tradisi-tradisi lokalitas budaya yang berkembang di Indonesia.

Bagi Nahdlatul Ulama membela pemerintahan untuk tetap memegang kekuasaan adalah upaya yang berani, jihad yang Islami di era Industri 4.0 ini dan perjuangan yang cukup keras demi sebuah negara yang berdaulat. Hal ini merupakan penghalang bagi para musuh-musuh pemerintah yang menginginkan Indonesia terpecah belah menjadi beberapa bagian negara kecil (mirip federasi), mengubah menjadi khilafah ala fasisme, dan mengubah Islam yang toleran menjadi Islam yang anarkhis dan radikalis.

Tentunya dengan musuh-musuhnya yang cukup mengancap Indonesia itu Nahdlatul Ulama telah pasang dada dan mencabut “pedangnya” untuk membantu pemerintah era Industri 4.0.

Di dunia nyata dan maya Nahdlatul Ulama terus menerus dihajar, dibantai dan disiksa, namun perlawanan juga terus dilakukan dan pertahanan juga terus diperkuat agar Indonesia tetap nyaman sebagai negara yang damai dan tentram bagi seluruh pemeluk agama.

Hasilnya, Nahdlatul Ulama bersama pemerintah era Industri 4.0 menang. Ada Hari santri 22 Oktober, Liga Sepakbola Santri Nasional, Beasiswa Madrasah Diniyah, dan kelembagaan pesantren yang mulai dipedulikan. Ide-ide Islam toleran tetap menjadi jargon Nahdlatul Ulama untuk menjaga Indonesia agar tetap damai dan tidak mengarah pada kerusakan sebagaimana di negara-negara Arab.

Nahdlatul Ulama kembali

Kemenangan pilpres 2019 adalah kemenangan Nahdlatul Ulama di era Industri 4.0, sama dengan kemenangan Kenshin di era Meiji. Kenshin tidak mengharapkan apa-apa dari kemenangan itu, begitu pula Nahdlatul Ulama, tidak mengharapkan imbalan dan jabatan. Ketika presiden sudah menentukan para pejabatnya untuk mengisi kabinetnya Nahdlatul Ulama sudah saatnya kembali ke baraknya, kembali pada masyarakat dan pesantren; membina umat, menguatkan Islam Nusantara, mengembangkan kader-kader Muslimnya, dan menyiapkan software Indonesia di masa depan.

Tidak masuk pada jajaran kabinet, tidak menjadi Menteri Agama atau Menteri Pendidikan, yang menjadi langganannya pada periode-perode sebelumnya bukan masalah bagi Nahdlatul Ulama, karena perjuangannya Nahdlatul Ulama bukan untuk jabatan, namun demi Islam dan Indonesia agar nilai-nilai Islam Nusantara tetap bisa membina umat dan keanekaragaman di Indonesia.

Itulah jiwa santri yang dimiliki Nahdlatul Ulama, sama dengan jiwa samurai yang dimiliki oleh Kenshin Himura Battosai. Dia berjuangan untuk negara, bukan untuk jabatan. Dia berjuang untuk agamanya dan spiritualnya bukan untuk kekayaannya. Dan yang paling penting, samurai dan santri berjuang juga tidak untuk dirinya sendiri, tapi untuk masa depan yang lebih baik dan tatanan masyarakat yang lebih beradab.

Selamat menjalankan tugas, pak Presiden dan wakil Presiden Indonesia periode 2019-2024.