Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

REFLEKSI UNTUK KAUM TERPINGGIRKAN

Oleh:

Zubaidi Khan*

 

Salam sejahtera untuk kita semua!

Tuban. Kota Tua yang saat ini tengah berjalan menuju masyarakat sejahtera. Jika dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain di Jawa Timur, Tuban menduduki peringkat yang cukup bagus dalam hal pemberian upah bagi pekerja/karyawan. Dilihat dari datanya, Tuban berada pada urutan kesepuluh dari keseluruhan jumlah Kabupaten/Kota di Jawa Timur, dengan Upah Minimum Kabupaten/Kota sebesar sekitar 2,3 juta.

Dalam menentukan upah minimum, acuannya adalah Undang-undang. Penetapan Upah Minimum didasarkan pada Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Singkatnya, nominal upah yang cukup besar itu,menandakan bahwa pertumbuhan ekonomi di daerah tertentu cukup bagus. Dalam hal ini di Tuban. Benarkah demikian? Bagaimana cara menelitinya? Mari kita belajar bersama-sama! Saya sendiri juga masih rabun rabun dengan pengetahuan itu, namun setidaknya ada upaya untuk belajar, meskipun upaya belajarnya masih kisaran nol koma sekian persen. Itu tidak apa-apa.

Lalu, bagaimana caranya belajar?

Hari ini, kita semua bisa dengan sangat mudah mengakses informasi apapun melalui internet. Kampanye besar-besaran mengenai lahirnya era internet sudah menjadi menu sarapan pagi. Bahkan, tidak sedikit anggaran yang keluar agar internet bisa masuk ke seluruh pelosok desa. Pemerintah juga memanfaatkan era internet ini sebagai sarana keterbukaan informasi publik. Namun, tidak berhenti disitu. Tidak semuanya bisa diakses melalui internet. Tidak semuanya bisa diselesaikan melalui internet.

Kok bisa begitu? Apakah ada yang salah? Ataukah masyarakat kurang tanggap dengan era internet? Atau Bagaimana? Tidak perlu dijawab, daripada hanya menghasilkan jawaban saling menghujat dan menyalahkan. Cukup kita renungi bersama-sama mengapa demikian. Setelah menemukan jawabannya, silakan disampaikan kepada Pak Bupati.

Penggunaan dan pemanfaatan internet sudah ada undang-undangnya. Semua tau itu. Semua juga sudah tau kalau pasal-pasalnya itu seperti ‘karet’. Bisa ditarik dan diulur sesuai kebutuhan. Sebagai masyarakat yang baik, kita tidak perlu menghakiminya. Kita do’akan saja supaya para pakar hukum segera memperbaiki ‘karet-karet’ itu. Bupati kita kan juga suka berdo’a untuk masalah apapun di Tuban.

Sebagai masyarakat yang baik pula, kita perlu memberi tanggung jawab kepada diri sendiri dalam penggunaan dan pemanfaatan internet. Hal inilah yang akan mengendalikan atau mengontrol diri kita dalam berselancar di internet. Barangkali, Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tuban lebih rinci dalam menjelaskan tentang cara penggunaan dan pemanfaatan internet. Sesekali bolehlah kita ngopi bareng disana sambil belajar.

Keberadaan internet dapat memudahkan banyak hal. Utamanya, dapat membantu pemerintah dalam menyelenggarakan pelayanan publik. Kita bisa mengakses informasi tentang pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan, pelayanan administrasi, melalui internet. Kita bisa mengurus e-KTP dengan mudah, tanpa harus bolak balik ke kantor gara-gara persyaratan yang kurang lengkap. Kita bisa mengambil nomor antrian tanpa harus menunggu berjam-jam tanpa kepastian untuk mendapatkan pelayanan. Jika kemudahan itu belum bisa kita rasakan, mungkin pemerintah belum membuka pelayanan publik via online.

Tidak perlu panik. Semua butuh proses. Termasuk dalam menyambut era internet ini. Tidak perlu saling menghujat dan saling menyalahkan. Tidak akan ada jalan keluar jika semua saling menghantam. Media komunikasi di internet bukan ‘ring tinju’. Semua ingin memukul. Kita hanya perlu menyiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi era ini. Segala sesuatu yang paling penting yang perlu dipersiapkan adalah pengetahuan. Jadi, mulai saat ini, marilah kita isi kepala kita pengetahuan sebanyak-banyaknya. Mari kita belajar bersama-sama. Tidak boleh ada yang menggurui. Semua adalah murid dan semua adalah guru untuk dirinya masing-masing.

Begitulah kira-kira. Jika kurang bisa ditambah. Jika salah, silakan dibenarkan. Kalau boleh tau, apa sih artinya “the spirit of harmony” yang terpampang jelas di perempatan Patung Tuban itu? Mungkin tulisan itu juga terdapat dibanyak tempat.

Sebaliknya, jika kita tidak lagi menghendaki keharmonisan, maka mari kita bersiap-siap untuk berperang. Kita bekali anak-anak kecil, anak-anak kita dengan sejata perang. Mari angkat senjata kita semua. Mari kita saling menghujat di media sosial lebih kejam lagi. Dengan begitu, hanya tinggal menunggu waktu untuk mendengar jeritan dan tangisan bumi.

Kawan atau lawan? Persepsi kita yang akan menjawab..

*Pegiat Literasi Tuban