Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

RATU JAY SHIMA, PEREMPUAN NUSANTARA PEJUANG HUKUM DAN KEADILAN

oleh :

Siti Fatkhiyatul Jannah

Pegiat Muslimat Milennial, alumnus Pascasarjana UI

Pengantar

Perempuan bukan makhluk yang lemah, Banyak perempuan Tangguh dilahirkan bumi. Bukan sekedar berperan mengatur rumah tangga tetapi juga mengatur negara sebagai Ratu. Dan ini merupakan kekuatan tersendiri yang patut dibanggakan bagi bangsa Indonesia yang memiliki beberapa tokoh perempuan yang cukup tangguh dan cukup cakap dalam memposisikan dirinya sebagai pemimpin.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, wilayah yang terbentang dari sabang hingga Merauke dikenal dengan Nusantara, karena wilayah tersebut terdiri dari ribuan pulau, baik besar maupun kecil. Beberapa pulau besar diantara Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan papua.

Dari pulau-pulau besar tersebut, semula dikuasai oleh kerajaan besar yaitu Sriwijaya dan kemudian Majapahit. Oleh sebab itu, Sriwijaya dikenal dengan Nusantara I dan Majapahit dikenal dengan Nusantara II. Dan Jauh sebelum Majapahit menguasai daerah-daerah di Nusantara, Sriwijaya telah mendahuluinya.

Muncul suatu pendapat, bahwa sriwijaya mulai menguasai Jawa sesudah Depunta Sailendra menjadi raja bawahan di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa dengan pusat pemerintahannya di Batang pada tahun 674.

Dari Depunta Sailendra, kelak melahirkan raja-raja Medang periode Jawa Tengah sejak Dyah Pancapana, Dyah Daranendra, Samaragriwa, Samaragrawira (Samaratungga) dan Pramodhawardhani.

Selain Depunta Sailendra, sebagian wilayah pantura dikuasai oleh Raja Santanu yang memerintah pada tahun 650. Salah satu penguasa yang menjadi raja sebelum Depunta Sailendra menapakkan kakinya di tanah Jawa. Selain Santanu dan Depunta Sailendra, tercatat ada seorang raja yaitu ayah dari pangeran Kartikeyasingha dengan pusat pemerintahannya di wilayah Adi Hyang suatu wilayah yang terletak di atas pegunungan Dieng.

Pasca pemerintahan ayah Kartikeyasingha (632-648), pangeran Kartikeyasingha menjadi pewaris tahta kerajaan dengan pusat pemerintahan di wilayah Adi Hyang tersebut dari tahun 648 sampai 674. Tidak diketahui secara pasti, apakah pusat pemerintahan Kartikeyasingha tetap berada di Adi Hyang atau di Holing, Keling atau Kalingga. Suatu wilayah yang berdasarkan Prasasti Sojomerto sebelumnya menjadi pusat pemerintahan Depunta Sailendra. Namun yang jelas, pusat pemerintahan pasca kemangkatan kartikeyasingha atau semasa pemerintahan Ratu Jay Shima (674-695) berada di Kalingga. Mengingat Ratu Jay Shima tidak dikenal sebagai ratu Adi Hyang melainkan ratu Kalingga.

Kepemimpinan Ratu Jay Shima

Masa kepemimpinan Ratu Shima menjadi zaman keemasan bagi Kalingga. Sang Maharani, Ratu Shima dikenal sebagai wanita yang ayu, anggun, adil, pemberani dan tegas. Raja-raja lainnya dibuatnya segan, hormat, kagum sekaligus penasaran. Pada gilirannya itu membuat namanya dan juga nama Kalingga menjadi harum.

Masa-masa itu adalah masa yang sangat kondusif bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama Budha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di sekitar kerajaan Ratu Shima juga sering disebut Di Hyang (tempat bersatunya dua kepercayaan Hindu Budha).

Dari segi perekonomian, Kerajaan Kalingga di zaman Ratu Shima, sangat maju. Pasar, pelayaran, pelabuhan sangat ramai. Pada abad ke tujuh kerajaan Kalingga mengalami perkembangan yang sangat pesat dan memiliki peradaban yang cukup maju, serta dikenal sampai di Semenanjung Malaya, Thailand dan negara-negara  Asia lainnya.

Dalam hal pertanian Ratu Shima mengaudopsi sistem bercocok tanam dari kerajaan kakak mertuanya. Ia merancang sistem pengairan yang diberi nama Subak. Kebudayaan baru ini yang kemudian melahirkan istilah Tanibhala, atau masyarakat yang mengolah mata pencahariannya dengan cara bertani atau bercocok tanam

Ratu Jay Shima dan Masukknya Islam Di Tanah Jawa

Berdasarkan dokumentasi surat menyurat milik Kekhalifahan Bani Umayyah yang disimpan di Museum Granada, Spanyol. Diketahui jika Khalifah Utsman bin Affan ketika itu sempat mengutus armada lautnya yang dipimpin Muawiyah bin Abu Sufyan untuk melakukan ekspedisi mengenalkan Islam ke daratan China termasuk ke Nusantara (Kepulauan Indonesia tempo dulu). Lalu armada laut yang dipimpin Muawiyah bin Abu Sufyan ini sempat singgah di Pantai Utara Jawa yang ketika itu berada dalam wilayah Kerajaan Kalingga.

Muawiyah bin Abu Sufyan yang dikemudian hari menjadi Khalifah Muslim (pendiri Daulah Bani Umayyah) ini sebelumnya mendengar kabar ada Kerajaan Hindu di seberang lautan yang diperintah oleh seorang raja wanita yang bijaksana. Namun walau bercorak Hindu, Agama Budha juga berkembang secara harmonis di tanah Kalingga pada saat dipimpin ratu Shima.

Penutup

Pamor Ratu Shima dalam memimpin kerajaannya sangat luar biasa, amat dicintai rakyat jelata hingga lingkaran para elit kekuasaan. Bahkan konon tak ada satu warga anggota kerajaan pun yang berani berhadapan muka dengannya, apalagi menantang. Hal itu disebabkan oleh kharisma dari sang ratu sendiri yang luarbiasa, sehingga siapapun amat segan kepadanya.

Sang Ratu juga telah menerapkan hukum yang keras dan tegas untuk memberantas pencurian dan kejahatan, serta untuk mendorong agar rakyatnya senantiasa jujur. Kabar mengenai kebijakan dan kejujuran Ratu Shima ini diperoleh dari para pedagang Arab yang telah sampai ke Kerajaan Kalingga. Konon dari para pedagang Arab inilah Ratu Shima juga mendengar ajaran tauhid yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Hal ini dimungkinkan karena Kerajaan Kalingga memiliki hubungan perdagangan dengan Bangsa Arab dan Gujarat lewat pesisir Pantai Utara Jawa. Bahkan konon hasil kunjungan damai dan persahabatan dari rombongan armada laut yang dipimpin Muawiyah bin Abu Sufyan ini adalah, Pangeran Jay Sima, putra Ratu Shima, masuk memeluk agama Islam.