Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

Ramadlan, Bulan Ibadah atau Belanja?

Oleh :

Moh. Syihabuddin 

 

Sebagai Agama yang sempurna Islam sudah jelas menyampaikan, bahwa bulan suci Ramadlan merupakan bulan yang istimewa dan paling mulia dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Keistimewaannya melampaui hitungan hari dalam satu tahun itu sendiri dan juga menembus aktivitas ibadah yang lain. Pada bulan itulah seluruh pintu rahmat, pintu taubat dan pintu pahala di buka oleh Allah swt.

Akan tetapi hal itu sangat bertolak belakang sekali dengan apa yang kita lihat dengan kondisi umat Islam saat ini yang sudah hanyut dan masuk dalam pusaran modernitas. Anjuran selama bulan Ramadlan untuk ibadah dan meningkatkan keimanannya tergadaikan dengan kebutuhan dan peluang bisnis yang menggiurkan.

Menjelang dan pada saat bulan Ramadlan mulai berjalan pemandangan toko-toko di kota dan mall-mall sekitarnya menjadi berpenampilan cantik dengan diskon “gedhe-gedhean”, diskon special, dan diskon-diskon lainnya. Bahkan salah seorang pengusaha busana Muslim di Surabaya terang-terangan mengatakan “Ramadlan meningkatkan omset kami, bahkan untuk membeli satu mobil pun kami tidak kesulitan.”

Pedagang pakaian Muslim yang lain mengatakan dengan penuh kegirangan, “Bulan Ramadlan jelas merupakan berkah bagi kami. Kami langsung bisa kaya mendadak karena dagangan kami laku luar biasa.” Dan mungkin masih banyak lagi komentar yang lebih optimisme dan bergairah.

Selama bulan Ramadlan para konsumen dibuat gila dan tergiur dengan bermacam-macam tawaran yang indah dan mempesona. Masyarakat diajak untuk terus datang ke Mall, toko-toko, dan tentunya pasar tradisional. Dengan bangga dan senyum yang penuh gaya masyarakat yang berduit maupun yang duit pas-pasan datang ke pasar atau mall untuk menikmati indahnya belanja, belanja, dan belanja.

Rayuan terhadap masyarakat itu juga didukung pula oleh televisi, Koran, baliho, spanduk, dan panflet-panflet. Tanpa memandang efek samping dan bahaya akibat konsumsi berlebihan serta pemborosan para “pelacur” ekonomi (pengusaha dan pemilik modal) terus menerus menciptakan pesona diskon dan penawaran yang menggiurkan.

Dalam hal ini jelas kalau masyarakat (Islam) selama bulan Ramadlan yang dipupuk bukanlah duduk di rumah, di masjid, atau di surau untuk berdzikir atau meningkatkan ibadahnya, namun lebih asyik bepergian ke pasar atau mall untuk ritual belanja.

Perintah Agama, baik melalui al-Qur’an mapun Hadits tidak ada yang memerintahkan berlomba-lomba belanja maupun mencari uang selama bulan Ramadlan, tapi berlomba dalam berdzikir dan beribadah semaksimal mungkin. Perintah ibadah dan dzikir ini sejatinya adalah harapan Tuhan terhadap manusia yang keuntungannya untuk manusia itu sendiri, bukan Tuhan (sedikit pun).

Pemandangan umat Islam yang rajin beribadah dan rajin berdzikir sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan umat Islam yang di mall, belanja dan menikmati belanjanya sebagai hiburan. Bahkan diselingi dengan buka bersama tanpa sholat jama’ah tarawih. Karena sholat tarawih sudah tergadaikan dengan jalan-jalan dan belanja barang.

Siapakah yang diuntungkan dalam bulan Ramadlan sebagai bulan penuh rahmat? Pedagang yang banyak keuntungannya atau umat Islam secara umum?

Sekilas pandangan mata yang terlihat beruntung selama bulan Ramadlan sebagai bulan penuh berkah adalah para pedagang secara umum. Yaitu mereka yang bisa memanfaatkan moment bulan suci untuk berdagang (khas Muslim; baju muslim, music muslim, konser muslim, fashion muslim, film muslim, dll), sehingga laba yang diperoleh dianggap sebagai berkahnya. Mereka bahkan merasa yakin bahwa kekayaannya merupakan rizki yang didatangkan oleh Allah untuk dirinya yang sudah banyak berbuat kebaikan.  Kebaikan itu berupa menjual pakaian-pakaian Muslim (atau sejenisnya) dan puasa yang dijalaninya sambil bekerja.

Tapi sejatinya keuntungan ini adalah keuntungan semu, keuntungan palsu, dan keuntungan yang hanya tipuan dari Tuhan karena kesombongannya merasa bangga dengan banyaknya harta dan uang yang dimilikinya. Keuntungan ini justru merupakan kerugian bagi dirinya, kehinaan bagi keluarganya, dan kemerosotan bagi amal dan imannya. Karena yang mereka cari bukan ridlo Tuhan, melainkan kekayaan harta duniawinya.

Orang yang paling beruntung di bulan Ramadlan adalah mereka yang melakukan I’tikaf. Duduk berdiam diri di dalam masjid atau surau dan hanya melakukan dzikir serta ibadah wajib lainnya. Orang inilah yang sangat beruntung sekali bisa meraup melimpahnya rahmat bulan suci, ampunan di dalamnya, dan keberkahan dalam tiap harinya. Hatinya hanya disandarkan dengan Tuhan jua, tanpa ada keinginan duniawi yang menyelimutinya. Orang-orang seperti ini sekilas terlihat rugi karena tidak mampu memanfaatkan Ramadlan untuk mendapatkan banyak uang dan laba perdagangannya, namun sejatinya orang inilah yang beruntung dan mulia. Derajadnya ditinggikan, kemuliaannya ditambahkan, dan keimanannya dikuatkan oleh Allah swt.

Para ahli dzikir inilah dalam kesehariannya selama bulan suci hidupnya diselimuti keindahan, ketentraman, dan keriangan. Hal ini bukan dikarenakan banyaknya uang yang mereka dapatkan, namun karena kedekatan mereka dengan sumber mata air keimanan berupa dzikir dan ibadah lainnya yang mereka lakukan. Mereka tidak punya uang, tapi mereka punya kebahagiaan.

Mungkin kita sebagai Muslim sudah selayaknya berfikir ulang dalam menghadapi bulan suci Ramadlan, terutama setiap menghadapi kedatangannya. Sibuk dengan diskon dan mencari dagangan atau sibuk beribadah bersama Tuhan?  Jika kita sibuk dengan belanja dan berdagang maka kita tidak ada bedanya dengan mereka (kaum non Muslim) yang bahkan dengan kekayaannya. Namun jika kita bisa menyibukkan beribadah dan berdzikir, maka itulah yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. Sebelum menerima wahyu pertama di gua hiro.

Keputusan ada di tangan kita, Ramadlan untuk meningkatkan belanja atau untuk meningkatkan badah.