RAHASIA BINTANG; Rajutan Cinta Kirana (Part 3)

Kita tidak akan bisa merasakan cinta tanpa mengalami rasanya kehilangan. kehilangan adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga untuk menghadirkan kekuatan cinta yang telah dianugerahkan oelh Allah.

kitasama.or.id – “Kamu dari mana saja Kiran?” Tanya nenek ketika melihat Kiran memasuki ruang keluarga hendak menuju kamar. Kiran pun terkejut melihat neneknya.

“Kiran habis jalan jalan nek.”

Bacaan Lainnya

“Ya sudah, dari tadi Kamu belum makan, sekarang makan dulu nanti mag Kamu kambuh.”

Kiran hanya terdiam, dia tak mengatakan kalau dia tadi hanya memakan roti yang diberikan Bintang saat beristirahat di atas gunung tadi.

“Iya nek, Kiran ke kamar mandi dulu.”

“Nanti jangan lupa makan lho..”

“Iya nek.”

Nenek pun berlalu Kiran menghembus nafas lega

Hampir saja!

Kiran memandangi semua jenis masakan neneknya yang tersaji di meja makan, neneknya memang masih jika berurusan  dengan dapur sementara untuk sawah dan ladang nenek menyuruh orang bayaran untuk mengerjakannya.

“Kiran, makanannya kok dilihatin saja, di makan dong.”

“Ee iya, paman juga mau makan?”

“Tidak, paman sudah makan, paman mau berangkat kuliah.”

“Hati hati paman.”

Pamannya mengangguk dan berlalu dari Kiran, Kembali Kiran menatap hidangan di hadapannya kalau biasanya dia hanya memakan seadanya apa yang di masak oleh Ibunya tapi di sini aneka ragam lauk pauk terhidang di hadapannya.

 Usai makan Kiran menghabiskan waktunya mengurung di dalam kamar, memutar lagu favoritnya sambil melihat ke arah luar jendela orang orang  berlalu lalang di sana. Ada yang pulang dari sawah untuk istirahat di rumah ada juga ibu ibu yang tengah membawakan bekal makan siang untuk suaminya yang masih kerja di sawah dan ladang.

 Pandangan Kiran pun juga tertuju pada anak anak yang bermain di tanah lapang, ada yang bersepeda, bermain tali, kelereng ada juga yang hanya sekedar kejar kejaran. Kiran pun tersenyum melihatnya.

Mereka bahagia sekali.

 Sore hari tiba tiba hujan turun mengguyur kawasan pedesaan, Kiran yang hendak keluar rumah pun tidak jadi, Ia akhirnya memilih duduk di teras sambil memansang hujan yang turun dengan derasnya. Anak anak yang tadi main  di lapangan kini berganti main hujan hujanan dengan berlari kesana kemari, dari kerumunan anak anak tiba tiba pandangan Kiran tertuju pada seseorang yang tidak asing lagi baginya, Bintang ada di sana di antara anak anak yang tengah hujan hujanan, Kiran terkejut melihatnya dan senyum senyum sendiri.

Kok ada ya orang seperti dia!

 Merasa ada yang memperhatikan, Bintang pun memandang Kiran yang sedang duduk di teras rumah neneknya, tangannya melambai sekan mengajak Kiran untuk gabung, tapi Kiran hanya menggeleng, sudah pasti dia tak akan mau, Bintang mengangkat kedua bahunya dan kembali dengan anak anak.

***

Hari ini hari ke tiga Kiran liburan di rumah neneknya, seperti biasa Ia duduk di gubuk sambil memandangi orang orang yang tengah bekerja di sawah.

“Apa tidak ada pekerjaan lain ya yang di lakukan anak pesisir selain melamun, bengong dan menyendiri.”

Kiran melirik ke arah sumber suara, lagi lagi Bintang mengusik kesendiriannya, kembali Kiran menatap orang yang mengerjakan sawahnya.

“Dari pada bengong mending ikut Aku.”

“Kemana? Naik ke puncak gunung lagi?” Tanya Kiran, kini pandangannya beralih ke arah orang dengan sapinya yang tengah membajak sawah.

“Tidak!”

“Melihat koleksi lukisan lukisan Kamu?”

“Itu nanti!”

“Lalu Kamu mau mengajak Aku kemana?” Tanya Kiran menatap Bintang yang dari tadi berada di atas sepeda gunungnya dengan satu kaki berada di atas pedal dan kaki satunya lagi sudah menyentuh tanah.

“Aku akan mengajakmu mengelilingi desa ini.”

“Bersepeda?”

“Iya.”

“Tapi Aku gak bawa sepeda.”

“Siapa juga yang menyuruhmu bawa sepeda, sini Aku boncengin.”

“Bonceng di mana? Sepedamu kan tidak ada boncengannya.”

“Ya di depan dong anak pesisir.”

“Tidak, mending Aku ambil sepeda dulu di rumah.”

“Tak perlu, nanti malah lama. Sudah gak usah cerewet ayo naik.”

Kiran mematung menggigit bibirnya ragu untuk membonceng Bintang apalagi di depan.

“Sudah ayo!”

Bintang menarik tangan Kiran dan membuatnya duduk tepat di depannya. Hati Kiran berdebar merasa canggung untuk pertama kalinya Ia di bonceng laki laki yang baru beberapa di kenalnya.

“Pegangan!” Pinta Bintang sebelum Ia melajukan sepedanya, Kiran pun memegang stang sepeda hingga membuat tangannya sedikit bersentuhan dengan tangan Bintang.

 Bintang melajukan sepedanya melewati beberapa tikungan jalan yang masih beralaskan tanah dan kerikil kirikil di sepanjang jalan, tak banyak kendaraan yang lewat jadi Bintang bisa leluasa melajukan sepedanya.

 Setiap kali lelah mereka beristirat di bawah pohon atau gubuk di pinggir jalan. Bintang menunjukan hal hal menarik di sekitar desanya yang membuat Kiran taljub akan keindahan alam pedesaan.

 Bintang kembali melajukan sepedanya setelah isturahat yang cukup di gubuk pinggir jalan, Kiran membonceng di depan tak lagi Ia merasa canggung seperti sudah terbiasa walau baru beberapa saat lalu Ia melakukannya.

 Bintang memarkir sepeda gunungnya di depan galeri, setelah memasuk Bintang mengambil air putih kemasan botol di dalam kulkas dan memberikannya pada Kiran.

“Minumlah!”

Kiran tersenyum dan menerima botol itu seraya mengucapkan terimakasih, Ia begitu kagum dengan bakat Bintang sebagai seorang pelukis meski kadang Ia juga menjengkelkan.

“Apa Kamu tidak berniat menjual lukisan Kamu Bintang?”

“Tidak!”

“Kenapa? Lukisan Kamu bagus bagus mirip dengan aslinya.”

“Aku lebih suka mengoleksinya dari pada menjualnya. Atau memberikannya pada orang yang menginginkannya.”

Kiran mengangguk, semakin kagum saja Dia pada Bintang meski menjengkelkan tapi Dia punya hati yang baik.

 Kiran melihat lukisan Yuan kembali tertutup kain putih, Ia membukanya, senyum terpancar dari bibirnya dia tidak hanya kagum pada kecantikan Yuan tapi kelihatannya gadis dalam lukisan itu baik.

“Mengapa Kamu suka menutup lukisan ini?”

Tanya Kiran tentang lukisan Yuan yang sering di tutupi sama Bintang.

“Karena Aku belum bisa memberikannya pada orangnya, selain ini ada banyak lagi lukisan Yuan yang lain.”

“Oh ya?”

Bintang melangkah menuju ke sebuah ruangan, Kiran mengikutinya, ternyata di dalam tidak hanya ada dua atau tiga tapi hampir seisi ruangan terpajang lukisan Yuan, dengan beragam pose, ada yang hanya setengah badan seperti di luar tadi ada juga yang hampir seluruh badan.

“Jika Kamu bertemu dengannya, maukah Kau menunjukan semua ini padanya.”

“Aku, kenapa mesti Aku? Mengapa tidak Kamu sendiri saja.” Kata Kiran heran, namun Bintang hanya menanggapinya dengan senyuman.

“Karena Aku yakin suatu saat Kamu akan bertemu dengannya di sini.”

Pos terkait