Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

RAGAM PEKERJAAN MASYARAKAT NELAYAN DI DESA KARANGAGUNG (Bagian 1)

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Masyarakat desa Karangagung yang terletak di kecamatan Palang termasuk dari wilayah administrasi Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Timur merupakan masyarakat yang mayoritas pekerjaannya mengandalkan sumberdaya laut sebagai penghasilan dan matapencaharian sehari-hari. Laut menjadi lahan satu-satunya yang dikelolah dan diberdayakan untuk diambil sumberdayanya sebagai bagian dari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Bagi masyarakat desa Karangagung, laut menjadi semacam kiblat ekonomi dan pengembangan keuangan keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan dan tantangan masa depannya. Tidak mengherankan jika pekerjaan yang mengandalkan hasil laut menjadi kegemaran dan primadona bagi masyarakat di desa Karangagung. Karena ketergantungannya terhadap sumberdaya laut inilah kemudian mendorong masyarakat nelayan Karangagung mengembangkan berbagai inovasi dan tehnologinya dalam menangkap ikan dan mengelolah hasil tangkapannya.

Dalam hal pengembangan alat tangkap dan tehnologinya masyarakat desa Karangagung lebih kreatif dan lebih atraktif, dibandingkan dalam pengembangan pengelolaan hasil tangkapnya. Hal itu dikarenakan pengetahuan dan wawasan masyarakat nelayan di desa Karangagung yang lebih banyak didominasi oleh nelayan tangkap dari pada nelayan pengelolah. Lebih dari 75% (hasil survei peneliti) masyarakat nelayan Karangagung merupakan masyarakat yang menekuni pekerjaan nelayan tangkap dengan beragam alat tangkapnya serta tehnologinya. Sedangkan 25%-nya merupakan masyarakat desa Karangagung yang berprofesi sebagai pengelolah adan atau pedagang hasil tangkap ikan, kebanyakan dari masyarakat ini adalah masyarakat kaya yang memiliki modal besar untuk mengembangkan usahanya.

Kreativitas masyarakat nelayan desa Karangagung dalam mengembangkan alat tangkap nelayan ini berkembang melalui beberapa hal, antara lain (1) informasi alat tangkap baru, (2) kemajuan tehnologi transportasi, (3) luas jangkauan area tangkapan, (4) waktu keberangkatan ke laut dan (5) jenis ikan yang akan ditangkap. Lima hal inilah yang kemudian menjadikan beragamnya alat tangkap masyarakat desa Karangagung berkembang dan membentuk karakteristiknya sendiri-sendiri sesuai dengan empat hal tersebut.

Paling tidak ada sembilan jenis pekerjaan nelayan yang dikembangkan oleh masyarakat desa Karangagung dalam menangkap ikan di laut berdasarkan pada empat ini, diantaranya sebagai berikut :

Pertama, Dogol

Dogol merupakan pekerjaan nelayan yang dimulai (berangkat) pada waktu fajar dan pulang kembali ke daratan pada siang hari. Sasaran dari pada pekerjaan nelayan ini adalah ikan teri, baik teri nasi’ maupun teri besar yang berada di perairan laut dangkal atau di pinggiran.

Nelayan jenis Dogol menjadi pekerjaan paling digemari oleh masyarakat nelayan desa Karangagung, baik nelayan tua (berusia diatas 40 tahun) ataupun nelayan yang masih muda (berusia 20-30 tahun). Karena selain mudah dalam mengoperasikan alat tangkapnya juga hasil tangkapannya mempunyai harga yang lumayan bersaing dibandingkan dengan ikan-ikan lainnya. Kegemaran terhadap pekerjaan nelayan dogol juga didukung dengan keberadaannya para pedagang yang banyak mencari ikan teri untuk disuplai dipabrik-pabrik lokal maupun internasional. Sebagaimana diketahui bahwa eksport Indonesia ke luar negeri terhadap ikan teri merupakan salah satu terbesar diantara sumberdaya laut Indonesia.

Kapal (perahu, jaten) dogol biasanya memuat 3 (tiga) sampai 6 (enam) orang. Satu orang berperan sebagai juragan, juru mudi, dan juga menyalakan mesin. Lainnya menjadi buruh kasar (belah). Ukuran kapal dogol biasanya tujuh meter dan lebar tiga meter. Di dalamnya sudah termasuk mesin, alat tangkap, dan beberapa kebutuhan lainnya selama melakukan pelayaran.

Dua, Mayang

Nelayan Mayang merupakan pekerjaan nelayan yang dilakukan mulai pada waktu tengah malam (pukul 00.00) dan kembali pulang pada waktu sore hari (pukul 14.00). Awak  kapal yang melaut hanya satu sampai dua orang. Sasaran dari pada nelayan mayang ini adalah jenis ikan-ikan yang ada di dasar laut. Seperti rajungan dan semua jenisnya, udang, yoyodang, ikan sandal, kerang, kerang-kerangan, dan sejenisnya.

Masyarakat desa Karangagung yang memilih jenis pekerjaan mayang ini kurang lebih 35% dan menjadi salah satu pekerjaan yang sangat digemari dan disukai, karena bisa dijalankan sendirian atau bersama dengan keluarganya, anaknya atau saudaranya. Biasanya masyarakat yang memilih pekerjaan mayang ini hanya ditemani oleh putranya sendiri, orang tuanya atau saudaranya. Tenaga orang lain jarang sekali menjadi kekuatan inti di pekerjaan ini, sehingga tidak banyak para nelayan mayang yang mencari karyawan atau belah.

Alat tangkap nelayan mayang inilah yang sering dikenal sebagai pukat harimau, karena pengoperasiannya yang bisa merusak dasar laut, terumbu karang atau tanah lautan. Tidak mengherankan jika jenis nelayan ini pernah dilarang oleh negara, namun masyarakat desa tetap melaksanakannya dikarenakan terbelit kebutuhan dan peran modal dari bank (bangk resmi maupun linta darat) yang mengikat.

Kapal atau jaten yang digunakan untuk nelayan mayang ini sama dengan jenisnya nelayan dogol. Yang membedakannya hanya jenis alat tangkapnya saja, jumlah orang yang terlibat di dalamnya dan keterlibatan alat gardan yang digunakan untuk menarik pukatnya.

Tiga, Ngorsen

Ngorsen merupakan pekerjaan nelayan yang melibatkan tenaga yang cukup besar, paling sedikit lima belas orang dan paling banyak tiga puluh orang. Nelayan Ngorsen menggunakan kapal besar berukuran (paling tidak) 48 meter persegi, yang didalamnya terdapat alat tangkap yang sangat besar, dua-tiga mesin pendorong, satu mesin gardan, dan kemudi serta kebutuhan lainnya.

Nelayan ngorsen mencari ikan yang berada di permukaan laut, yang muncul ketika ada sinar. Untuk mencari ikan dengan metode ngorsen biasanya dilakukan pada hari-hari di bulan ketika tidak menampakkan diri di langit, atau yang sering disebut dengan petengan. Pada saat langit dipenuhi kegelapan inilah nelayan ngorsen memanfaatkan lampu (petromax, lampu sorot LED, sokle) untuk memancing atau menjebak ikan di laut agar berkumpul dan bergerombol. Pada saat ikan-ikan itu berkumpul atau terjebak dalam sinar buatan para nelayan ini maka alat tangkapnya langsung diturunkan dengan cara mengelilingi keberadaan ikan dibawah sinar lampu itu.

Satu kali keberangkatan ke laut biasanya nelayan ngorsen melakukan tiga kali sampai lima kali tarikan (menarik pukat/jaring dari laut ke kapal) atau menjatuhkan alat tangkap ke laut.

Jenis nelayan ngorsen ini hanya bisa dilakukan oleh para nelayan kaya yang memiliki modal besar dan pinjaman besar dari bank. Karena kebutuhan finansial dari pada nelayan jenis ini cukup besar. Secara keseluruhan alat tangkap nelayan ngorsen berharga lima ratus juta rupiah. Selain itu, alasan yang paling umum bagi nelayan ngorsen adalah karena mahalnya kebutuhan dalam satu kali keberangkatan ke laut, yang membutuhkan paling tidak modal lima sampai tujuh juta rupiah, tergantung kebutuhan bahan bakarnya.

Banyak jabatan yang ada di jenis pekerjaan nelayan ngorsen ini, diantaranya juragan, jurumudi, juruarus, operator mesin, buret, pelantho, campoan, dan belah (buruh). Masing-masing daripada jabatan ini memiliki gaji sendiri-sendiri yang berbeda-beda.

Dalam penggajian atau pemberian upah kerja terhadap tenaga kerja nelayan ngorsen lebih detail dan lebih beragam. Namun secara umum pembagiannya sepertitiga-an dari hasil penjualan ikan tangkapannya, yaitu 1/3 untuk peralatan nelayan (kapal dan seluruh peralatannya), 1/3 uang perbaikan (baca:duwek tengah), dan 1/3 untuk gaji seluruh awak kapal yang bekerja yang berbeda-beda sesuai dengan jabatannya.