Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

QALBU; KUNCI SEGALA ILMU DAN JALAN MEMBUKA RAHASIA ALAM SEMESTA    

Oleh :

Syech Ibnu Shiddiq Al-Falajistani

 

خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَعَلَىٰ سَمۡعِهِمۡۖ وَعَلَىٰٓ أَبۡصَٰرِهِمۡ غِشَٰوَةٞۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٧

  1. Allah telah mengunci-mati qalbu (hati sanubari) dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Q.S. Al-Baqarah: 7)

 

Dalam sebuah hadits Qudsi diriwayatkan bahwa Allah bersabda, “Jika Ku letakkan Dzat Ku di bumi (alam semesta ini) tentu akan hancur lebur seluruhnya, kecuali di dalam qalbu orang yang beriman”.

Allah Dzat Yang Maha Tinggi telah mengaruniai manusia sebuah entitas yang sama sekali berbeda dengan makhluk (hewan) lainnya. Jika hewan bisa makan, maka manusia juga bisa makan. Jika hewan bisa kawin maka maka manusia juga bisa kawin. Dan jika hewan bisa berkelahi maka manusia juga bisa berkelahi. Namun dengan diciptakannya qalbu untuk manusia maka manusia sangat berbeda sekali dengan hewan. Melalui qalbu inilah manusia baru bisa dibedakan dengan hewan, walaupun secara jasadi memiliki kesamaan.

FUNGSI QALBU

Qalbu adalah sebuah dimensi ruang-waktu yang mampu menampung Dzat-Nya Allah yang Maha Besar dan Maha Tinggi. Dari qalbu inilah seluruh rahasia keilmuan dan rahasia alam semesta bisa diketahui dan tersimpan. Qalbu merupakan jalan atau kunci untuk membuka rahasia yang tidak pernah diketahui manusia sebelumnya dan yang tidak pernah dipelajarinya. Dari qalbu inilah manusia mampu mengetahui segala hal yang telah diinginkannya.

Melalui qalbu ini manusia memungkinkan untuk mengetahui Tuhannya dan bisa memasuki dimensi-dimensi yang tidak terjangkau oleh panca indera biasa. Karena Allah hanya mungkin berada dan bersemayam di dalam qalbu, tidak di sembarang ruang atau waktu.

Jika manusia mampu membuka qalbunya ini—tentunya atas kehendak Allah sendiri (ditakdirkan), maka sudah bisa dipastikan bahwa manusia ini akan menjadi manusia yang terbimbing dan mendapatkan petunjuk. Bimbingan dan petunjuk ini langsung dari Allah dan tersambung dengan kebesaran Dzat-Nya Allah.

Pada kondisi itulah (kondisi masuknya Allah ke dalam qalbu) baru bisa dikatakan sosok manusia itu menjadi manusia yang beriman dan beragama. Karena beragama itu sendiri adalah memperoleh Dzat-Nya Allah ke dalam qalbu.

Sehingga orang yang qalbunya belum mendapatkan semayamnya Dzat-Nya Allah ini maka itulah qalbu yang tertutup, yang menyebabkan pendengarannya tidak bisa mendengar adanya informasi kebenaran Islam, keabadian Tuhan, kebesaran kekuasaan Tuhan, dan segala hal yang berhubungan dengan Allah. Pendengarannya tidak tuli, namun ditulikan dengan adanya kebenaran dan ditulikan dari segala bentuk informasi ke-Tuhanan.

MATA YANG BUTA DAN TELINGA YANG TULI

Hal itu juga menyebabkan mata menjadi buta akan fakta nyata dari eksistensi Allah. Kebesaran Allah dan bukti-bukti keberadaannya ditolak—kendati matanya tidak buta secara dzahir, namun matanya tidak mampu mengetahui segala apa yang disampaikan secara jelas oleh Allah melalui alam semesta ini.

Pendengaran yang tuli dan penglihatan yang buta merupakan representasi dari tidak adanya qalbu akan besarnya Dzat-Nya Allah. Telingan dan matanya seolah tidak berfungsi, hanya sebagai pelengkap saja dan cukup sebagai aksesoris yang tidak memberikan manfaat apapun terhadap masa depan kehidupannya (baik dunianya maupun akhiratnya).

Kondisi penglihatan dan pendengaran yang demikian itulah yang sudah merupakan bentuk siksaan yang pedih. Kepedihan siksaan itu telah dirasakannya dengan rasa kebodohan dan ketidaktahuan. Dia menjadi manusia yang dungu dan manusia yang tidak bisa mengetahui hakekat dirinya sebagai manusia.

Pendapat ini jelas menolak pendapat yang mengagung-agungkan akal (rasionalisme) dan pengamatan mata (empirisme) yang mengatakan bahwa alam semesta ini bisa dijangkau oleh akal, penelitian ilmiah, dan pengamatan dzahir. Padahal sejatinya tidak.

Akal dan mata-telinga merupakan indera yang sangat terbatas dan tidak mampu menjangkau rahasia alam semesta. Kemampuannya hanya sebatas pengamatan dan pendengaran. Apalagi akal, kemampuannya hanya sebatas kesadaran, yang tidak akan berfungsi pada saat tertidur atau pingsan.

MENGAKTIFKAN QALBU

Hanya qalbulah yang mampu digunakan untuk membuka rahasia-rahasia yang tersembunyi itu. Karena qalbu tetap akan berfungsi kapanpun dan dimanapun, baik saat tidur maupun saat terjaga, baik saat segar bugar atau saat pingsan. Baik saat masih hidup maupun disaat sudah mati, qalbu akan tetap aktif dan akan tetap hidup.

Hanya saja tergantung sejauh mana kondisi qalbu itu berfungsi secara maksimal. Artinya jika qalbu itu terisi “dengan”, atau sering “digunakan” untuk menyebut “Allah”—atau berdzikir tentu qalbu itu berfungsi secara maksimal. Namun jika tidak maka jelas qalbu itu tidak akan berfungsi dengan baik. Dan jika jasad manusia sudah terpisah dengan ruhnya maka qalbu ini juga tidak akan berfungsi, dengan kata lain akan mati juga—karena tidak pernah difungsikan.

Dengan demikian menjadi jelas, untuk menarik energi Maha Besar Allah dan Dzat-Nya Yang Maha Sempurna itu harus mengfungsinkan qalbu itu dengan memperbanyak berdzikir, menyebut nama-nya, siang-malam, pagi-petang, kapanpun dan dimanapun. Tanpa itu maka itu tidak mungkin dan tentunya mustahil qalbu itu bisa dibuka, untuk mendapatkan segala keilmuan di dunia ini (maupun akhirat) dan rahasia alam semesta.

Tanpa dzikir dan tanpa menyebut nama Allah maka qalbu akan tertutup rapat yang menyebabkan pendengaran menjadi tuli dan penglihatan menjadi buta.

Dzikir ini tidak sembarang dzikir, ada metode dan caranya untuk melakukannya. Metode itu berasal dari seorang pilihan yang dipilih oleh Allah secara turun temurun, sejak Nabi Adam hingga Ulama (Warasatul ‘Anbiya’ = pewaris para nabi). Ulama pewaris inilah Guru yang harus dicari sebagai pembimbing dalam membuka qalbu dan menggali segala rahasia yang tersimpan di alam semesta ini.

Manusia yang qalbunya tidak berfungsi ini, karena penglihatannya buta (akan rahasia Tuhan) dan pendengarannya tuli (akan hidayah Tuhan) maka inilah orang kafir. Kafir karena qalbu yang tidak ada eksistensi Allah di dalamnya. Sehingga dia mengalami siksaan yang pedih sepanjang hidupnya, karena tidak bia menemukan Tuhannya dan bimbang selalu dalam menjalani kehidupan.

Apalagi jika menghadapi kematian, maka itu akan menjadi bencana dan malapetaka yang sangat besar baginya.