Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PROBLEMATIKA ALUMNI PESANTREN DAN SEGALA DAMPAKNYA (DI PEDESAAN-NU)

 

Oleh : Moh. Syihabuddin, Direktur Kitasama Stiftung

Nahdlatul Ulama adalah pesantren, dan pesantren adalah Nahdlatul Ulama. Keduanya adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Adanya Nahdlatul Ulama karena adanya pesantren, dan adanya pesantren pada gilirannya melahirkan Nahdlatul Ulama. Bicara Nahdlatul Ulama maka tidak jauh sekali membicarakan kaum pelajar di pondok pesantren.

Nahdlatul Ulama didirikan oleh komunitas (pengasuh pondok) pesantren, yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, terutama dan membentuk santri-santrinya. Dari santri-santri pesantren inilah pada gilirannya akan melahirkan kader-kader NU di masa depan. Sehingga dari pesantren inilah Nahdlatul Ulama memiliki kader-kader dan calon pengurus untuk mengelolah lembaga-lembaganya.

 

Keunggulan dan Sisi Gelap Pesantren

Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua, ia unik, menarik dan sangat esotik, sehingga membuat minat para peneliti asing hadir ke Indonesia untuk meneliti pesantren. Bentuknya beragam dan khazanah keilmuan sangat beranekaragam. Keragaman Pesantren merupakan khazanah kekayaan intelektual Indonesia yang tak ternilai.

Namun dibalik semua keunggulan tersebut, (dewasa ini) pesantren mengalami berbagai problematika sehingga menimbulkan sisi gelap yang (sangat pekat) dan sulit diurai dengan berbagai metode yang sudah pernah diterapkan. Akibat tuntutan perubahan zaman (modernitas di segala bidang) mengharuskan pesantren mengalami banyak tantangan dan hambatan yang menyebabkan prosesnya menjadi lambat. Terutama bagi para alumni-alumninya, atau para santri pesantren.

Kondisi hari ini ada tuntutan bagi pesantren untuk dikuasai oleh para santrinya pasca keluar dari pesantren. Minimal dalam kehidupan masyarakat dewasa ini seorang santri (alumni pesantren) harus menguasai kompetensi (1) manajemen sumberdaya manusia-organisasi dan (2) penguasaan tehnologi. Alih-alih memiliki dua kompetensi itu, para alumni pesantren menjadi gagap dan cenderung pasif menghadapi kenyataannya (di lapangan).

Di pesantren kiai (pengasuh pondok) sebagai pusat keputusan dan pemikiran di seluruh manajeman pesantren. Di satu sisi hal ini baik karena akan membentuk sosok figur yang sangat dominan dan sangat membangun identitas secara khas. Namun di sisi lain hal itu menjadikan pesantren sulit berkembang dan menyebabkan beberapa sumberdayanya (selain keturunan kiai, para orang lur yang berkontribusi) malas mengembangkan dan cenderung berpindah ke lembaga yang lebih (dikelolah) secara profesional. Banyak pesantren yang ditinggalkan oleh para sumberdaya manusianya karena arogansi (individualistik) pengasuh pesantren.

Fakta tersebut juga (akan) menjadikan Pesantren (lebih) kesulitan menghadapi budaya pop dan arus budaya postmodern (yang semakin masif bergerak menelusuri relung-relung kehidupan manusia). Alih-alih menguasai “kenyataan” para santri justru terlelap dan mabuk dengan berbagai perangkat postmodern. Santri lebih terlelap dengan game, android, dan hiburan online lainnya.

Solusi membentuk lembaga formal (lebih bonafit) belum mampu menjadi penyeimbang bagi arus pemikiran postmodern yang menjadikan santri pesantren bisa menghadapinya. Dari 1.000 santri kemungkinan hanya 50 orang yang mampu menghadapi kenyataan kondisi postmodern. Hanya 5% alumni santri saja yang mampu beradaptasi secara cepat dengan perkembangan zaman.

Kenyataan tersebut juga melahirkan calon-calon kader NU yang (kesulitan) menghadapi berbagai kenyataan postmodern yang dihadapinya. Akibatnya para alumni pesantren sering kali mengalami kalah (bersaing) di dunia kerja dengan alumni lembaga selain pesantren.

Nahdlatul Ulama, Bagaimana?

Nahdlatul Ulama,  belum mampu menfasilitasi ruang-ruang bagi para alumni pesantren dan kader-kadernya untuk menghadapi budaya postmodern. NU belum bisa secara maksimal menyerap kader-kadernya yang masih banyak “terlantar” di pesantren. Padahal seharusnya Nahdlatul Ulama menjadi sebuah rumah besar bersama dan menjadi payung gerakan dakwah bersama yang menjadikan semua santri pesantren bergabung dan menyatukan visi bersama sekaligus mengembangkan keilmuannya menjadi sebuah analisis yang tajam guna membangun masyarakat.

Ironis sekali, (walaupun bukan sebuah hal yang tercela atau jelek) sebagaian besar santri putri pesantren pasca belajar maksimal hanya mampu menjadi (1) Ustadzah TPQ dan (2) Bakul Online.

Pasa santri putri, lebih banyak melaksanakan jual-beli online dan menekuni bisnisnya dari pada harus menekuni keilmuannya. Jika alasan ekonomi menjadi penyebab semua itu maka jelas bahwa seharusnya setelah menikah “kegiatan mengembangkan keilmuan” tetap dilaksanakan, tidak berhenti dan stagnan dalam kehidupan ekonominya.

Artinya, hal ini menunjukkan bahwa kader-kader pesantren hanya mampu bereksistensi di tingkatan desa dan hanya mampu “mengajar” di sebuah TPQ atau Madrasah saja. selainnya sudah “terlalu tinggi”.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan?

Berangkat dari semua itulah maka ada beberapa langkah yang perlu dilakukan, yaitu :

Pertama, Sudah seharusnya antara Nahdlatul Ulama, pihak pesantren dan para tokoh Nahdlatul Ulama harus mulai melakukan pembaharuan dalam kurikulum pembelajaran di pesantren. Biar para kader-kadernya tidak “terlantar” dalam persaingan di era postmodern ini.[2]

Kedua, Harus ada wadah untuk menampung sumberdaya santri putri pasca pesantren, tidak sekedar lembaga pendidikan atau TPQ saja. perlu sebuah wadah yang lebih bisa menjawab tantangan global dan mengembangkan pesantren lebih progresif lagi. Misalnya sebuah LSM, pendamping dakwah NU luar pulau Indonesia, pesantren rintisan Nahdlatul Ulama, dan sebagaianya.[3]

Ketiga, BLKI masuk Pesantren, memberikan skill bagi santri untuk menciptakan peluang di masa depan. Ini sudah ada dan sudah mulai masuk. Perlu dimaksimalkan dan digerakkan sebagai “mesin” yang mencetak kader-kader pesantren yang siap menjawab tantangan zaman.[4]

Keempat, Pesantren perlu melakukan kerjasama dengan kampus-kampus besar (jika perlu dengan kampus luar negeri sekelas Hardvard dan Oxford) untuk menyambung pendidikan bagi santri pasca di pesantren. Sehingga pasca dari pesantren santri sudah mampu mengetahui metodelogi pembelajar dari kampus-kampus besar dan mampu bersaing secara ilmiah. Tidak hanya terfokus di Mesir, Maroko, Sudan, Yaman atau Suriah. Negara-negara Arab itu sudah tidak nyaman digunakan untuk belajar dan pengembangan keilmuan.[5]

Kelima, Intropeksi diri (bagi alumni pesantren) bersama melalui NU harus melakukan pembaharuan melalui kekuasaan yang ada (memegang kekuasan/jabatan) jika kebetulan sedang berkuasa. Harus ada keterikatan yang intensif antara pejabat Nahdlatul Ulama dengan para kader Nahdlatul Ulama, sehingga kebutuhan akan pembangunan daerah bisa dijawab oleh para kader-kader pesantren.[6]

Wallahu’alam bisshowaf