Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PRIORITAS KEINGINAN MENIKAH, ANTARA BERSEDEKAH DAN NAFKAH KELUARGA

Oleh :

Ustadz Abu Afnay al-Falanjistani

 

Dari Abu Masud dari Nabi Saw., Beliau bersabda: Apabila seseorang memberi nafkah untuk keluarganya dengan niat mengharap pahala maka baginya Sedekah.

***

Bekerja mencari nafkah (harta benda) untuk menghidupi keluarganya disertai dengan niat untuk mendapatkan pahala disisi Allah adalah sunah hukumnya, yakni setara dengan bersedekah kepada orang yang berhak menerimanya. Artinya, untuk mendapatkan pahala bagi seorang suami cukuplah bekerja dan mencari nafkah demi menghidupi istri-istrinya dan putra-putrinya.

Konteks bekerja disini tentu saja secara umum dan hanya memandang pekerjaan yang halal serta bisa menghasilkan gaji yang bisa diberikan kepada keluarganya. Baik bekerja sebagai seorang pegawai negeri, pegawai swasta, atau pekerja serabutan yang tidak terikat dengan instansi apapun dan bahkan bekerja sebagai seorang freeman (wiraswasta) yang menciptakan pekerjaan sendiri sesuai hobinya merupakan pekerjaan yang sunnah dan hasilnya yang diberikan kepada istri-istrinya merupakan pekerjaan yang setara dengan memberikan pahala.

***

Menjadi kepala keluarga sudah menjadi pekerjaan wajib bagi seorang laki-laki untuk bisa melindungi istri-istrinya dan putra-putrinya.  Melindungi tidak hanya dalam memberikan penghidupan (makan) saja, namun juga seluruh kebutuhannya, termasuk rumah dan pakaian secara lengkap beserta kebutuhan pokok lainnya, yakni memberikan pemahaman dan pengajaran tentang ber-Tuhan. Kewajiban memberikan pemahaman tentang Tuhan dan agamanya pada keluarga lebih wajib dan lebih diprioritaskan (afdhal) dari pada memenuhi sandang, pangan dan papan bagi seorang lelaki.

Kewajiban memberikan kebenaran dan arahan dalam beragama yang benar, agar keluarganya tidak tersesat dalam ber-Tuhan merupakan syarat utama menjadi seorang suami. Tanpa mempunyai bekal ini (ilmu tentang ber-Tuhan dan agama) dan tidak mempunyai pemahaman tentang bekal akhirat bagi calon istrinya maka haram hukumnya bagi seorang laki-laki untuk menikah.

Kendati ada seorang pemuda yang sudah mapan secara pekerjaan, menjadi seorang pegawai dengan gaji tetap—kira-kira cukup untuk menghidupi calon istrinya, bahkan sudah mempunyai rumah dan mempunyai cukup harta yang bisa digunakan untuk membangun rumah tangga akan tetapi tidak mempunyai pemahaman tentang ber-Tuhan dan sama sekali tidak mengetahui ilmu-ilmu syariat dan tarekat maka secara hakekat dilarang untuk menikah dan menikahi seorang perempuan, kendati secara dhahir dia sangat mampu.

Rasulullah menikahkan putrinya, Fatimah dengan sayyidina Ali bin abu Tholib  dalam kondisi yang serba kekurangan. Rasulullah tidak melihat kondisi Ali secara dhahir yang miskin dan tidak mempunyai lahan untuk digarap (pertanian) apalagi barang untuk berniaga, namun secara ruhani Ali merupakan pemuda yang paling memahami agama diantara pemuda di zamannya. Dialah sosok pemuda pertama yang langsung menerima Islam secara total dalam kondisi sebelum baligh. Sehingga tidak salah jika kemudian Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada Ali untuk dinikahkan dengan Fatimah.

***

Di sebuah pesantren di Rembang, Jawa Tengah ada seorang pengasuh pesantren yang cukup terkenal dan mempunyai Ning, atau putri yang sangat cantik. Putrinya merupakan sosok yang diidolakan oleh para santri putra dan banyak diincar untuk dijadikan sebagai istrinya. Kencantikkannya seolah mampu membius semua pemuda yang telah menatap wajahnya. Matanya bak rembulan dan pipinya bak lengkungan cahaya di langit saat memancarkan pelangi.

Hingga pada suatu waktu datanglah seorang pemuda santri, yang tidak lain merupakan santri di pesantren tersebut yang memberanikan diri untuk “mencintai” putrinya kiai tersebut. Diajaklah putri kiai itu jalan-jalan di terminal kota hanya sekedar untuk membeli es krim. Mereka tidak bicara apa-apa selama bertemu hanya membeli es krim dan si pemuda menyerahkan beberapa lembar surat “cintanya” pada Ning-nya itu. Ning-nya pun menerimanya dengan tersenyum, tanpa membalas dengan kata-kata yang cukup berarti.

Hanya berselang satu hari saja kabar pertemuan mereka pun diketahui oleh pengurus dan keamanan pondok, hingga menyebabkan pemuda-santri itu harus menghadapi sidang dan ta’zir. Dia harus menyumbang 10 sak semen merek Semen Gresik dan membersihkan septic-thank pondok. Pemuda itu pun dengan tersenyum dan merasa puas membayar denda tersebut sekaligus menjalani hukumannya secara ikhlas. Karena dia yakin bahwa yang telah dilakukannya merupakan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.

Mengetahui hal tersebut, pengasuh pondok juga memanggil si pemuda itu dan mengintograsinya secara halus, berharap bahwa si pemuda mengakui perbuatannya sebagai hal yang salah. Namun si pengasuh menggunakan tangan adiknya yang juga kiai di pondok tersebut.

“Kamu pacaran sama keponakan ku ya, seandainya kamu saya nikahkan dengan dia, apakah kamu sudah siap? Tentu saja kamu tidak akan siap, makanya jangan pacaran dulu”. Gertak adik kiainya itu. Dan kiainya mengharapkan bahwa santrinya itu tidak akan siap untuk menghadapi gertakan tersebut.

Tapi diluar dugaannya si pemuda telah memberikan jawaban yang tegas tanpa ada keraguan. Bagi si pemuda, menjadi santri pesantren selama lima tahun sudah cukup untuk mengajar santri dan menjadi seorang suaminya yang bisa membina istrinya. “Saya siap aba, saya siap untuk jenengan nikahkan pada ning, dan saya siap menjadi suaminya.”

Mendengar jawaban yang tidak terduga itu kontan saja kiainya kaget dan tercengang, tidak bisa menjawab dan hanya kebingungan.

Namun hasilnya cukup mengecewakan bagi si pemuda, ketegasannya tidak mendapatkan respon yang baik. Padahal secara mental dan keilmuan agama dia sudah sangat siap menjadi seorang kepala keluarga. Ironisnya, ketegasannya dijawab oleh kiainya dengan pernikahan Ning-nya itu dengan putra seorang pengusaha meabel kaya di kota tersebut. Harapannya, dengan menikahkan pada putra orang kaya maka kelak pondoknya akan menjadi besar dengan penambahan fasilitas gedung yang semakin megah.

Si pemuda pun kecewa dan pulang kampung. Singkat cerita si pemuda mengambil langkah dengan menikahi gadis lain dan menyimpan kebencian terhadap masa lalunya.

Beberapa tahun kemudian, pernikahan putri kiai tersebut dengan putra pengusaha kaya itu berbuah kegagalan bagi eksistensi pesantren. Kendati anak orang kaya, pemuda yang dinikahi ning itu bukan seorang yang ahli agama dan pandai dalam beribadah. Hasilnya, pesantrenya terbengkelai dan berubah fungsi menjadi pesantren plus loundry. Maklum, anak pengusaha cara berfikirnya pun mencari uang, bukan mengembangkan pesantren. Tentu saja santrinya berlahan tapi pasti, habis tak lagi ada yang bermukim.

***

Di sebuah desa di kecamatan Soko, Tuban, Jawa Timur ada sebuah desa yang cukup ekstrem dalam hal menyatukan pernikahan dan warisan harta benda. Seorang kakek yang mempunyai banyak tanah, sawah, atau tegalan akan mempersiapkan pernikahan cucu-cucunya dengan cucu-cucunya pula, yakni sepupu antar sepupu. Putra anak pertama akan dinikahkan dengan putri anak keduanya, atau putri anak pertamanya akan dinikahkan dengan putra dari anak ketiga, begitu seterusnya sehingga antar cucu akan menikah dengan cucu lainnnya.

Tujuan dari pada pernikahan antara cucu tersebut adalah agar jatah warisan tanah, rumah, dan harta benda lainnya tidak lari ke orang lain atau dimiliki oleh marga lainnya, selain keturunan kakeknya sendiri. Tidak ada niatan apa-apa, selain hanya untuk mengamankan harta benda yang telah dimilikinya.

Keadaaanya tersebut berlaku pada seluruh masyarakat desa tersebut, tidak pandang bulu, baik kalangan santri maupun kalangan awam, semuanya sama, hanya mengincar keamanan finansial. Tentu saja pernikahan model ini bagi penulis, haram secara hakiki karena tujuannya tidak mengarah kepada beribadah kepada Allah, namun lebih pada membangun keamanan finansial dan warisan.

***

Dewasa ini kita sudah mengetahui banyak kondisi masyarakat yang lebih mencari sosok menantu yang kaya, keren dengan pekerjaan yang mapan, dan memiliki banyak warisan dari pada memilih sosok menantu yang berilmu dan ahli ibadah. “Ibadah itu bisa dilakukan kapan saja, tapi harta itu sulit mencarinya, “ begitu kira-kira argumennya.

Sehingga tidak salah jika kemudian sering kita ketahui banyak orang tua yang mempunyai anak putri dan dilamar oleh sosok pemuda maka pertanyaan yang pertama diajukan adalah, “pekerjaannya apa?”. Bukan “bagaimana ilmu agamanya dan ibadahnya?”.

Pernikahan yang didasarkan pada keinginan untuk mencari harta, mencari menantu yang kaya dan banyak uang atau banyak warisan akan menggugurkan nilai-nilai ibadah dalam pernikahan. Pernikahannya menjadi sesuatu yang subhat (remeh-temeh) dan nafkah yang dihasilkan dan diterima oleh istri akan berubah menjadi kekufuran, bukan lagi sedekah.

Apa yang dikatakan oleh Rasulullah bahwa “mencari nafkah keluarga dengan niat untuk mendapatkan pahala adalah sebuah sedekah” tidak berlaku bagi pernikahan yang niatnya karena uang, karena harta, karena kemapanan pekerjaan si suami. Perkataan Rasulullah hanya berlaku pada pernikahan yang dilakukan atas dasar keilmuan agama dan mencari jalan ber-Tuhan yang benar hingga kelak kematiannya akan kembali kepada Allah.

Berangkat darisinilah hendaknya setiap perempuan muda harus berhati-hati dalam menerima lamaran dari seorang pemuda, jangan melihat karena harta kekayaan yang dimilikinya dan pekerjaan yang disandangnya, karena semua itu tidak menjamin masa depan yang sesungguhnya bagi si perempuan. Pandanglah sosok pemuda yang akan melamar mu melalui ruhaninya, dan bekal yang akan diberikan pada mu kelak nanti menjemput kematian.

Wallahu’alam bisshowaf.