Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

POST-NAZISME; IDEOLOGI POLITIK (KONTEMPORER) UNTUK DISRUPSI GLOBAL DI ERA INSDUTRI 4.0

oleh:

MOH. SYIHABUDDIN

Partai Nazi dan Fuhrer Adlof Hitler pernah menjadi horor bagi bangsa Eropa selama masa kegelapan kekuasaannya di benua tersebut. Menyebut namanya dan mengikuti tradisi-tradisi pemikirannya merupakan kejahatan terbesar bagi dunia (Eropa-Amerika). Kekejaman yang dilakukan oleh Nazi mengalahkan kekejaman yang dilakukan oleh komunis dan juga oleh penjajah-penjajah imperialis sebelumnya, Inggris dan Perancis, dan termasuk juga Amerika Serikat. Sehingga sangat sensitif membicarkan ide-ide Nazi dibandingkan dengan ide-ide Liberalisme dan Komunisme.

Seandainya saja perang dunia II tidak menempatkan Nazi sebagai pihak yang kalah dalam perang tentu Nazi dan Hitler akan menjadi negarawan terbesar abad 20 M. Keberhasilannya dalam negosiasi perdamaian di kawasan Eropa, sebelum serangannya ke Polandia—sudah bukan merupakan hal yang rahasia bagi para ahli sejarah. Strategi penyatuan Austria, penyatuan wilayah Memel, penyatuan wilayah Sudetenland, dan upaya-upaya perdamaian lainnya merupakan langkah-langkah yang konstruktif yang pernah dilakukan oleh Nazi untuk menciptakan masyarakat yang lebih stabil.

Berkaca pada Kemakmuran Third Reich

Selama kekuasaan Nazi 1933 Reich Jerman yang mengalami penyiksaan ekonomi mulai berlahan-lahan bangkit yang pada gilirannya menjadikan kebesaran Jerman semakin memberikan manfaat bagi negara-negara di sekelilingnya. Rakyat Jerman menikmati kemakmuran ekonomi dan kemajuan kota-kota yang dipercantik. Bangunan kota-kota di seluruh Reich masa depan sudah dirancang menjadi kota yang cerdas, ramah perdamaian, dan bisa memberikan kontribusi bagi kesejahteraan di kawasannya.

Banyak capaian Reich III Jerman selama dalam kepemimpinan Nazi, yang juga memberikan dampak positif bagi keberadaan negara-negara di sekitarnya. Konsep-konsep kemakmuran yang dibentuk oleh Nazi, yang tercantum dalam pemikiran Adlof Hitler dalam Mein Kampf memberikan gambaran tentang bagaimana ide-ide Nasional Sosialisme diimplementasikan dan diaplikasikan selama kekuasaan Reich Jerman. Ide-ide Nasional Sosialisme ini pula yang memberikan inspirasi bagi negara-negara koloni Inggris-Perancis untuk bangkit dan memerdekakan diri menjadi negara yang mandiri.

Selama kekuasaan Nazi, Jerman juga menjadi pesaing bagi Amerika dan Inggris-Perancis dalam perlombaan tehnologi, ilmu pengetahuan, eksplorasi langit, eksplorasi Antartika, peningkatan keamanan dan tehnologi dalam segala bidang. Banyak capaian yang ditemukan oleh Nazi dan para ilmuwannya dalam mengembangkan masyarakat yang lebih baik. Berbagai penelitian dikembangkan, pemikiran diselaraskan dengan kemajuan, dan peta masa depan direncanakan dengan seksama untuk mempersiapkan kemakmuran bagi generasi masa depan.

Kemajuan yang dicapai oleh Jerman menjadi kekuatan yang memberikan kemajuan baru bagi kehancuran masa lalu di perang dunia pertama. Eropa kembali stabil, perekonomian meningkat dan masyarakat mulai menikmati kehidupan yang lebih layak. Pada konteks ini Hitler telah menjadi harapan baru bagi kehancuran di masa lalu di Eropa.

Mendaur-ulang Pemikiran Nazi

Jika dulu (yang dianggap negatif pada) Nazi sebagai teror, mulai dari aksi militernya, invansinya pada negara-negara tetangga atau tehnologi senjata perangnya yang menakutkan maka akan tetap ada beberapa hal-hal yang positif yang bisa dipetik dari intisari pemikiran Nazi. Intisari inilah yang perlu didaur-ulang menjadi sebuah metode untuk menciptakan ideologi baru guna menghadapi tantangan masyarakat post-modern, yakni globalisasi universal di seluruh bidang dan disrupsi revolusi industri 4.0.

Mendaur-ulang pemikiran Nasional Sosialisme ini menjadi penting tatkalah dibenturkan dengan tantangan geopolitik dan perekonomian global yang semakin tidak menentu dewasa ini, mulai dari (1) Brexit (upaya Inggris untuk keluar dari komunitas Eropa), (2) Perang Dagang China vis a vis Amerika, (3) sengketa di teluk Arabia-Persia, (4) konflik di negara-negara Arab, (5) konflik berkepanjangan di Afghanistan dan Iraq, (6) Laut Cina selatan yang terus membara dan (7) ketidakstabilan di kawasan Amerika Latin serta (8) terorisme global, khilafah palsu atas nama Islam, gelombang ekstremisme atas nama agama, dan pengungsi dari negara konflik yang masih menghantui masyarakat global.

Ide-ide terbaik yang pernah dilakukan oleh Nazi di masa kejayaannya (yang tidak berumur panjang karena dikalahkan dalam konspirasi perang) perlulah diserap dan dipelajari secara arif dan bijaksana agar bisa memberikan kemanfaatan bagi keberlangsungan kehidupan di era baru ini, yakni era Industri 4.0 yang kondisinya memberikan banyak perubahan bagi kehidupan masyarakat global di segala bidang.

Upaya mendaur-ulang pemikiran Nazisme ini, agar lebih relevan dengan kebutuhan dan tantangan masyarakat post-modern dewasa ini sekaligus meraciknya, mengkombinasikannya, dan  mengawinkannya dengan pemikiran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat industri 4.0 disebut dengan post-nazisme, atau Post-Nasional Sosilisme.

Post-Nazisme, dari Uni Eropa hingga NU-NKRI

Gagasan Post-Nazisme lahir dari sebuah kegelisahan dewasa ini yang semakin memberikan ancaman bagi masyarakat. Ia merupakan gabungan, kombinasi atau campuran dari pemikiran tradisional Nazi di era Third Reich yang dicetuskan oleh Adlof Hitler dengan pemikiran Islam yang berakar dari tradisi Islam Nusantara yang dicetuskan oleh Kiai Hasyim Asy’ari dan para ulama pengasuh pondok pesantren di Indonesia.

Pada konteks politik hubungan internasional Post-Nazisme merupakan hasil dari refleksi terbentuknya Uni Eropa yang memberikan kenyamanan, keamanan dan kemakmuran bagi bangsa Eropa di daratan Eropa pasca Perang Dunia II. Keberadaan Uni Eropa yang menyatukan keragaman dan keanekaragaman yang dimiliki oleh masyarakat Eropa merupakan cita-cita lama yang ingin diwujudkan oleh Third Reich dulu yang mampu diwujudkan hari ini oleh para negarawan di (1) Jerman, (2) Belanda, (3) Italia, (4) Belgia dan (5) Perancis.

Penyatuan bangsa-bangsa Eropa inilah yang juga dilakukan oleh Ir. Soekarno dan Kiai Hasyim Asy’ari dulu ketika membentuk negara baru di kawasan kepulauan Hindia dengan nama yang asing bagi penduduknya, yakni Indonesia. Gagasan pembentukan Indonesia yang menyatukan keanekaragaman, perbedaan, dan kekayaan budaya yang tak terhingga jumlahnya dalam sebuah ikatan negara yang baru adalah berbeda dengan definisi nasionalisme negara-bangsa itu sendiri, tapi bisa terwujud dan mampu menjaga stabilitas serta menghadapi tantangan sepanjang sejarah perjalanannya.

Pemikiran yang dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama dengan gagasannya ingin tetap (1) menjaga sistem Islam bermadzab mampu memelihara kekayaan tradisi, (2) memperkenalkan Islam secara ramah, (3) mewarisi tradisi tasawuf walisongo, (4) menjaga keberagamaan komunitas pesantren dan (5) merawat masyarakat awam (rakyat) tanpa dorongan finansial dan kekuasaan (apapun) mampu menjaga dan menciptakan sebuah masyarakat yang lebih damai juga lebih tentram dalam menjalani kehidupan. Pada konteks inilah Islam yang ditawarkan oleh Nahdlatul Ulama menjadi sebuah metode yang dikenal dengan Islam Nusantara.

Pelajaran dari terbentuknya komunitas Uni Eropa dengan NU-NKRI inilah yang menjadi titik pijak (keberhasilan) dari munculnya sebuah gagasan tentang Post-Nazisme. Sebagaimana tujuan pembentukan komunitas bangsa Eropa dan bangsa Indonesia yang menyatukan maka Post-Nazisme juga bertujuan menyatukan, mencegah perpecahan dan menahan munculnya konflik yang hanya berujung pada kekuasaan dan kekayaan.

Konflik dan ketegangan dewasa ini (USA vs Cina, Brexit, dan lain-lain) tidak lain merupakan wujud dari kerakusan ingin menguasai sumber kekayaan, menjadi yang terkuat, menjadi paling berkuasa, dan menjadi paling depan dalam kekuatan militer. Konflik ini semakin menyebar dan memberikan dampak yang sangat negatif tatkala didukung oleh masifnya disrupsi akibat revolusi Industri 4.0. Sudah menjadi fakta sejarah bahwa Arab Spring yang mengubah ketentraman di tanah Arab disebabkan oleh peran internet yang semakin masif dan melekat bersama kehidupan masyarakat global-Arab. Belum lagi pengaruh oknum Muslim Ekslusif yang lebih kasar dan kaku dalam menawarkan ajarannya, termasuk menghalalkan cara-cara kekerasan semakin menyebar menggerogoti perdamaian global, semakin kuat pengaruhnya di era revolusi Industri 4.0 ini.

Penutup

Melihat fakta pemikiran yang melandasi pemikiran Post-Nazisme dan fenomena tantangan global dewasa ini yang terus menjadi ancaman langsung dan tidak langsung, maka menjadi penting mengusung pemikiran ideologi Post-Nazisme sebagai bentuk ideologi politik baru bagi masyarakat global yang hidup dalam ikatan bernegara. Khususnya dalam konteks negara-bangsa dan tantangan keruntuhannya akibat globalisasi.

Post-Nazisme (kini) lebih konstruktif dalam membentuk komunitas, lebih menekankan perdamaian dari pada invansi militer, lebih inklusif berfikir dari pada eksklusif dalam pemikiran, dan lebih relevan-fleksibel-progresif dalam merespon kemajuan dan perubahan ditengah masyarakat post-modern.

Hal ini berbeda dengan Nazisme di era Perang Dunia II yang menghadapi perang di dua sisi (Eropa dan Rusia) dengan opsi militer. Post-Nazisme menghadapi perang di seluruh sisi (dari Eropa, Arab, Amerika hingga India, Jepang dan Cina) dengan opsi pencegahan konflik, menahan diri, dan mengurangi kerusakan secara brutal dengan wujud berupaya merangkul, mengajak, dan mengubah yang jelek menjadi baik.

Dengan kata lain ideologi politik Post-Nazisme merupakan wujud dari adagium pesantren yang telah diselaraskan dengan konteks dewasa ini, yakni “Mempertahankan pemikiran (politik Adlof Hitler atau Nazi) lama yang baik dan menerima pemikiran baru (politik NKRI-NU) yang lebih baik”.

Wallahu’alam bisshowaf