Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PLANET, TEMPAT ALTERNATIF MANUSIA ‘MENYEMBAH’ DEWA-DEWA YUNANI.

oleh: Moh. Syihabuddin

Planet merupakan gagasan yang dimunculkan oleh teroi bumi bulat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dunia bahwa “ada kehidupan lain, ada tempat lain selain bumi, yang kemungkinan bisa ditempati oleh manusia”. Alhasil, manusia jangan hanya “berpatok” melestarikan bumi, menjaganya atau membangunnya saja, lalu berada di bumi saja (untuk dimakamkan).

Manusia didorong untuk menyakini bahwa mati tidak harus di bumi (di makamkan untuk kembali kepada Tuhan), tapi harus mencari planet lainnya selain bumi dengan metode sains (yang menyesatkan).

Hebatnya lagi, nama-nama planet yang mereka bentuk merupakan nama-nama sosok berhala (dewa) yang mereka yakini telah menjadi bagian dari kehidupannya. Bagi mereka (pendukung teori bumi bulat), para dewa-dewa inilah yang telah membantu mereka dalam menjalani kehidupannya dan memberikan petunjuk dalam pikirannya.

Diantaranya adalah Merkurius, Venus, Mars, Jupiter (dewa), Uranus, Neptunus (dewa laut), Pluto. Ini adalah deretan dewa-dewa Yunani yang disembah dan dipuja-puja kaum pencetus bumi bola.

Sejak zaman dahulu, di zaman kekuasaan Raja Namruj hingga zaman ashabul kahfi dewa-dewa (nama planet) merupakan sesembahan dan panutan para penguasa, penganut bumi bulat dan para penentang ajaran nabi. para penguasa pendukungnya selalu mengejar para nabi dan banyak melakukan pembunuhan terhadap para nabi.

Dewasa ini, dengan memunculkan gagasan adanya planet-planet tersebut, yang diberi nama dengan mengadopsi nama-nama dewa-dewa Yunani maka akan mengajarkan manusia di bumi untuk percaya akan adanya tempat lain (planet) yang bisa ditempati (dengan kuasa para dewa-dewa itu).

Bagi mereka, manusia tidak perlu mempertahankan bumi, tidak perlu beribadah dan membangun tempat-tempat untuk Tuhan di muka bumi. Bumi hanyalah bagian kecil dari sebuah semesta jagad raya. Masih banyak planet yang harus ditempati dan dijadikan koloni kehidupan manusia selanjutnya.

Manusia harus melakukan eksplorasi ke luar angkasa, dengan cara risetnya dan anggaran yang sangat banyak sekali. Eksplorasi luar angkasa ini terus dikampanyekan dan dijadikan kunci “keberhasilan manusia masa depan” dalam menaklukkan alam dan kerusakan bumi yang tidak mungkin bisa diselamatkan lagi.

Dengan pemikiran demikian, mereka dengan “mudahnya melakukan eksploitasi alam” secara radikal. Mulai menghabiskan sumber daya alamnya, mengeruknya hingga menimbulkan kerusakan, menjadikannya penuh dengan bencana alam dan hingga menghisapnya hingga kering dan rusak.

Adanya planet, sudah memperjelas akan menggiring pemikiran bahwa sadar masyarakat dunia untuk menengok ke planet lain, yang tidak lain merupakan “para dewa-dewa Yunani”.

Dengan menengok pada para dewa-dewa ini maka masyarakat dengan sendirinya akan menyakini bahwa seolah-olah dewa-dewa inilah yang menjadi “jalan lain” setelah kehancuran bumi dan kerusakannya.

Pemikiran selanjutnya adalah, bumi akan rusak dan digantikan dengan planet lain yang lebih kondunsif untuk melanjutkan kehidupan manusia. Manusia dengan cara-cara sainsnya yang dibiayai dengan milyaran dolar—bisa melakukan perjalanan ke luar angkasa dan membangun koloni baru beserta metode-metode untuk menaklukkannya agar bisa ditempati.

Dan kita sudah tahu, nama-nama planet yang mengadopsi nama-nama dewa Yunani ini merupakan ajaran dasar anak-anak sekolah. Anak-anak sejak dini sudah diajari tentang kebohongan dan sebuah pemikiran sesat yang tidak mungkin bisa dibuktikan. Sampai kapanpun anak-anak di seluruh dunia tidak akan pernah menemukan planet-planet tersebut. Mereka akan tersesat dalam imajinasi yang memperbudah otaknya, hingga akan menemukan kebenarannya sendiri bahwa mereka kelak akan mati dan kembali ke bumi.