Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PLANET, SEBUAH REKAYASA UNTUK MENIADAKAN EKSISTENSI TUHAN DI LANGIT

oleh: Moh. Syihabuddin

Planet adalah sebuah benda langit yang mengelilingi bintang. Jumlah planet di seluruh alam semesta ini sangat banyak sekali, tergantung galaksinya. Planet-planet yang berada di orbit ‘bintang’ matahari diantaranya adalah Merkurius, Venus, Mars, Bumi, Jupiter, Uranus, dan Neptunus.

Begitulah pemikiran tentang teori bumi berbentuk bola. Bumi merupakan salah satu planet yang mengelilingi matahari, yang ditemani oleh planet-planet lainnya.

Pemikiran ini tentu saja salah dan tidak memiliki dasar yang bisa diterima akal. Dalam teks-teks kitab suci sendiri (agama manapun) tidak pernah disebutkan adanya istilah planet.

Di dalam al-Qur’an yang sering disebutkan adalah justru istilah qomar (bulan), syam (matahari), kawakib (bintang), ardl’ (bumi) dan syama’ (langit). Dan lima benda-benda yang disebutkan di dalam al-Qur’an itulah yang nyata dan bisa disaksikan secara kasat mata. Sekaligus bisa diterima dengan akal sehat. Tidak ada istilah planet di dalam al-Qur’an.

  Lalu mengapa istilah planet ini dimunculkan di dalam pemikiran bumi bulat? Tentu saja hubungannya dengan keberadaan manusia itu sendiri dan eksistensi Tuhan.

Pemikiran dasar tentang manusia yang diajarkan oleh agama-agama adalah sebagai berikut. Manusia di ciptakan oleh Tuhan di muka bumi. Manusia berada di bumi, sedangkan para malaikat dan Tuhan berada di langit. Tuhan akan memberikan karunia pada manusia melalui para malaikatnya, termasuk wahyu dan turun ke bumi untuk menemui manusia (melalui beberapa metode khusus).

Tugas manusia di muka bumi adalah untuk beribadah (mengabdi) kepada Tuhan yang ada di langit dan menempati tempat yang tidak terjangkau oleh kemampuan manusia. Manusia hanya ditugaskan untuk mengabdi dan merawat bumi sesuai dengan intruksi Tuhan melalui wahyunya.

Lha,.. pemikiran inilah yang mau dibongkar oleh kehadiran planet. Dengan hadirnya planet, yang dibuktikan oleh para ilmuwan dengan riset ilmiah (yang tidak bisa dibuktikan secara nyata) maka eksistensi Tuhan dan malaikat-malaikatnya yang berada di langit seketika langsung gugur.

Adanya planet, yang konon dibuktikan dengan penelitian melalui teleskop, perjalanan pesawat luar angkasa, (lalu) rekayasa film, dan buku-buku pelajaran yang dimodifikasi sesuka hatinya (mereka) akan menghancurkan tempatnya Tuhan (arsy) yang ada di langit. Dengan adanya planet, ternyata menunjukkan bahwa langit itu sangat luas, luasnya tidak terjangkau, dan segera membuktikan bahwa kisah-kisah dalam kitab suci tentang adanya Tuhan yang berada di langit berserta malaikatnya itu “tidak ada”.

Bagi mereka yang memunculkan ide planet dalam kehidupan di dunia menegaskan bahwa Apa yang disebut oleh para nabi sebagai Tuhan dan para malaikat merupakan sejenis makhluk asing (alien) yang sedang berkunjung ke bumi. Para alien ini datang dari planet lain yang belum diketahui oleh makhluk bumi (manusia).

Karena hal itulah, sehingga manusia-manusia yang melihatnya merasa kagum, tercengang, was-was, dan terinspirasi untuk mengabdi kepada makhluk (alien) yang lebih hebat ini. manusia yang kaget ini kemudian menciptakan “agama” dan mengajak manusia lainnya untuk mempercayainya.

Pemikiran (sesat) inilah yang digunakan untuk menyakinkan manusia bahwa di langit memang tidak ada Tuhan dan para malaikatnya juga tidak ada, yang ada adalah penghuni planet-planet asing (alien) yang belum diketahui oleh manusia.

Melalui gagasan planet yang (kemungkinan ada penghuninya) ini maka posisi manusia untuk mengabdi kepada Tuhan sudah “digugurkan” dan diganti dengan “upaya dan usaha manusia” untuk menciptkan kehidupan selain di bumi.

Mereka seolah menekankan bahwa manusia harus melakukan “eksplorasi, riset, eksploitasi alam angkasa, dan perjalanan” ke alam semesta untuk menciptakan kehidupan baru, selain di bumi. Tidak mengherankan jika mereka terus mengkampanyekan adanya “kemungkinan konyol” hidup di planet lainnya.

Kampanye mereka dipublikasikan melalui jurnal, web, dan yang paling sering melalui film-film fiksi-sains yang membodohkan masyarakat dan anak-anak kecil.

Dengan demikian menjadi jelas, jika keberadaan planet (mereka) merupakan upaya mengada-ngada untuk “menghilangkan” eksistensi Tuhan bersama para malaikatnya yang berada di langit berlapis tujuh. Pada gilirannya wahyu-wahyu agama menjadi salah dan orang beragama adalah sebuah penganut mitos. Sampai kapanpun, planet atau kehidupan selain di bumi tidak akan pernah ditemukan oleh manusia. Kehidupan manusia ya hanya di bumi, lalu mati dan dikembalikan ke dalam bumi (dikubur).