Oktober 29, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PERTARUNGAN YANG MENENTUKAN (Janissary Jawah ke-1)

oleh : Moh. Syihabuddin

 

Di bukit itu, di tengah hutan di dekat kawasan Tuban Jawa bagian Timur, di sebuah bangunan benteng berukuran seratus meter persegi terdapat dua puluh satu pemuda. Mereka tidak lain adalah sisa-sisa korps tempur pasukan Pangeran Diponegoro yang menolak menyerah kepada pemerintah kolonial Belanda.

Mereka lari dari Magelang menuju ke Tuban dengan jalan kaki dan menghindari inteljen kolonial lokal yang terus mencari sisa-sisa pasukan Diponegoro yang masih meneruskan berperang. Bagi para pengikut fanatik pangeran Tegalsari itu kekalahan mereka dan penangkapan pemimpinnya bukanlah akhir dari perjuangan.

Dalam peperangan yang berjalan selama lima tahun menghadapi pasukan kolonial Belanda, yang merupakan gabungan asing dan lokal telah memberikan korban yang sangat banyak dari teman-temannya. Rata-rata dikalahkan oleh kelicikan Belanda dan strategi benteng stellse yang membuat gerak pasukannya semakin sempit untuk bermanuver dan melakukan koordinasi pasukan.

Kini tinggal mereka berdua puluh satu orang yang masih menyatakan siap untuk menghadapi pasukan Belanda dan meneruskan pertempuran yang tujuannya semakin tidak jelas.

“Apa yang ingin kita capai kakang?” tanya Walang Sukmo kepada temannya yang sudah dianggap sebagai pemimpin rombongan yang tak bertuan itu, yang selama pertempuran menghadapi pasukan Belanda telah dijuluki sebagai sang Kapten karena keberhasilannya membunuh salah satu Kapten terbaik yang dimiliki oleh tentara Belanda dari korps Dragoner.

Dikalangan korpsnya dia hanya prajurit biasa, namun karena keberaniannya dan kekompakannya bersama pasukannya dalam menyergap dan menyelinap untuk melakukan perang gerilya membuat Belanda merasa ketakutan dan memberikan target balas dendam.

Apalagi ketika dia berhasil membunuh salah satu kapten kavaleri Dragoner dan mengambil pakaiannya sang kapten itu semakin membuat kalangan tentara Belanda naik pitam. Sebagai bentuk penghinaan, dia memakai pangkat-pangkat kapten yang dibunuhnya itu, sehingga dalam sehari-hari oleh teman-temannya dia dijuluki sebagai kapten. Sebuah jabatan yang diperoleh secara serampangan di medan perang.

“Aku tidak tahu” Jawabnya si Kapten.

“Lalu mengapa kita melanjutkan pertempuran, sedangkan pangeran sendiri sudah tertangkap dan kabarnya dibuang ke Sulawesi?” lanjut Walang Sukmo.

“Hatiku mengharuskan kita terus berperang, hanya itu. Selanjutnya aku tidak tahu harus membangun apa dengan pengorbanan ini.”

“Jika demikian mengapa kita tidak menyerah saja dan hidup normal sebagai rakyat biasa.”

“Rakyat yang akan tertindas dan tersiksa!”

“Maksud jenengan apa Kang?”

“Perang ini telah menguras keuangan pemerintah kolonial Belanda. Banyak anggaran yang harus dikeluarkan dan banyak pula serdadu reguler dan bayaran yang dikerahkan untuk mengalahkan kita. Orang Ambon, Madura, Sumatra, Maluku, Afrika dan bangsa Eropa sendiri telah berdatangan menjadi serdadu Belanda untuk menghancurkan perjuangan pangeran.

“Penangkapan yang mulia Pangeran Diponegoro bukanlah titik akhir bagi mereka untuk berperang. Justru dengan penangkapan beliau pemerintah Belanda akan melakukan pemerasan habis-habisan terhadap penduduk Jawa agar kerugian yang diderita selama perang bisa tergantikan.”

Sang Kapten menghelah nafas panjang. “Perjuangan kita tidak akan berakhir.”

“Dan jika kita tewas, maka …”

“Maka, ini adalah sebuah upaya kita untuk membela agama dan tanah kita.” Sahut sang Kapten.

Mereka berdua terus mengamati jalan setapak yang mengarah ke benteng itu sambil terus waspada dan memegang senapannya. Sedangkan temannya yang lain sedang istirahat dan menyiapkan makanan di dalam benteng.

***

Tidak jauh dari benteng itu, seratus lima puluh tentara dari Legiun Mangkunegara telah bersiap-siap dengan segala perlengkapan tempurnya. Mereka dipimpin oleh seorang ningrat Jawa yang sudah lama mengabdi kepada pemerintah kolonial Belanda, Raden Mas Suroto.

Dia merupakan perwira baru yang lahir dari sekolah militer Belanda di Batavia selama berlangsungnya perang Diponegoro. Sepanjang karirnya dalam perang dia belum terlibat secara serius dalam pertempuran yang menentukan. Karir terbaiknya hanya mengawal pengiriman Pangeran Diponegoro ke Magelang dan Semarang.

Oleh karena itu, demi menjaga gengsi diantara teman-temannya dan untuk meningkatkan harga diri keluarga ningratnya dia ingin memperoleh prestasi dengan cara menghabisi sisa-sisa pemberontak yang masih melangsungkan pertempuran.

Ini adalah kesempatanku untuk membuktikan kepada Ratu Kerajaan Belanda dan agar kedua orang tuaku bangga akan capaianku. Gumannya.

“Siapa-siap para penegak keadilan, kita akan berpesta dengan peperangan yang jelas kita menangkan.” Tegasnya memberikan semangat pada pasukannya.

“Mereka hanya dua puluh satu orang, sangat tidak seimbang dengan kekuatan kita. Dengan sekali serang dan serangan meriam sebagai serangan pembuka mereka akan musnah dan tinggal kepalanya saja yang akan kita bawa ke Jogjakarta.” Tambahnya menyombongkan diri.

Lima meriam yang dibawa oleh Legiun Mangkunegoro untuk menumpas korps Diponegoro yang compang-camping itu. Mereka sudah tidak berseragam lengkap, hanya mengandalkan seragam apa adanya yang diambil dari korps-korps lainnya yang sudah menyerah dan membubarkan diri.

Tidak ada pasukan bayaran yang dilibatkan dalam operasi penumpasan tersebut. Tidak ada pendekar Jawa, orang Madura, atau tentara Afrika-Belanda. Semuanya adalah pasukan elit Mangkunegara yang sudah dinyatakan lulus dalam pendidikan militer standar kerajaan Belanda. Mereka adalah anak-anak terbaik dari keturunan adipati, demang atau bupati yang setia kepada Belanda.

***

Tepat matahari berada diatas ubun-ubun kepala menyinari bumi serangan meriam sebagai pembukaan telah dimulai. Lima meriam langsung secara bergiliran memuntahkan pelurunya. Ledakan demi ledakan telah meruntuhkan kayu-kayu menompang benteng, mematahkan pepohonan jati disekitarnya, meruntuhkan bebatuan bukit yang memperkuat benteng, dan membuat kebakaran apa saja yang ada di benteng.

Kurang lebih sepuluh menit dentuman meriam itu terus menghantam benteng kecil itu dan kebakaran serta kerusakan sudah nampak pada benteng itu.

“Saudara-saudara, saatnya penertiban dimulai.” Suroto memberikan komando kepada pasukannya. “Pasukan pertama, maju.”

Lima puluh orang pasukan Legiun Mangkunegara dengan senapan dan bayonet terhunus, pedang di selempang kanan, serta pisau di selempang pinggang kiri  telah berderap maju menuju ke benteng yang sudah babak belur itu.

***

Di dalam benteng, suasana menjadi mencengkam dan pemandangan bagaikan sebuah neraka. Hampir semua perlindungan dari kayu, gubuk penyimpanan makanan, dan tempat tidur telah hancur terbakar.

Dalam pandangan si penyerang, kondisi tersebut merupakan keadaan yang sangat menguntung untuk dihabisi dan tinggal melakukan serangan terakhir dengan infanteri.

Namun pemimpin pasukan pertahanan, si Kapten dan Walang Sukmo sudah memperhitungkan serangan tersebut satu jam sebelum terjadinya serangan. Semua pasukannya diminta untuk perlindungan di bawah tanah, memanfaatkan pepohonan jati besar sebagai perlindungan. Dan sebagian lainnya berlindung dibalik bebatuan bukit yang cukup ideal untuk menghindari hantaman meriam.

Dan ketika pasukan Mangkunegara sudah mendekat pada jarak yang ideal untuk melakukan balasan mereka semua muncul dalam kondisi utuh, senapan, panah, dan tombak siap untuk dihantamkan pada sasaran yang akan dituju.

“Serang……………..” teriak si Kapten.

Lima orang dari bukit menembakkan senapan, lima orang lainnya menembakkan senapan dari balik reruntuhan kayu, dan lima orang menembakkan panah secara bersamaan. Sisanya melempar tombak tepat di dada para serdadu kolonial pribumi itu.

Dua puluh lima serangan menghasilkan target yang sempurna, melukai dua puluh satu tentara Mangkunegara dan mengakibatkan luka yang menyakitkan. Sepuluh diantaranya langsung tewas.

Melihat teman-temannya terluka dan tewas membuat infanteri pasukan Mangkunegara langsung tak terkendali. Kepalanya panas, dadanya merandang dan tangannya langsung gatal, gairah balas dendamnya langsung berkobar.

Mereka secara serentak memasuki benteng yang terbakar itu, mengejar pasukan pertahanan yang diremehkannya. Tetapi mereka sungguh mematikan.

Lima orang pertama yang masuk benteng langsung menerima tombak yang menusuk lehernya, matanya, perutnya dan jantungnya. Sambil berterik kesakitan mereka roboh tak bisa melanjutkan pertempuran.

Sepuluh orang berikutnya masuk menyusul kawan-kawannya untuk menghadapi pasukan pertahanan yang sudah berpengalaman dalam pertempuran-pertempuran bersama Pangeran Diponegoro.

Pertempuran jarak dekat pun tak terhindarkan lagi. Keahlian dalam menggunakan pedang, golok, keris dan tombak menjadi penentu dalam perkelahian.

Seorang prajurit bertahan berhasil menggorok leher pasukan Mangkunegoro.

Prajurit Mangkunegoro menusuk bayonetnya pada kaki prajurit pertahanan.

Kedua belah pihak saling membunuh, melukai dan mengiris daging yang membalut tubuh. Disisi lain ada yang roboh namun masih meneruskan pertarungan dan disisi lain ada yang langsung roboh tak bernyawa.

Darah muncrat dimana-mana. Pemandangan layaknya sebuah pesta makan-makan yang hidangannya sangat lezat, memakan daging sapi yang utuh dibakar. Namun dalam pesta ini hidangannya adalah menyerang musuh masing-masing untuk membunuh.

Pertempuran dua puluhan orang menghadapi tiga puluhan orang untuk saling melukai mengakibatkan suasana menjadi ramai. Teriakan menyertai jurus dan keahlian dalam mengayunkan pedang dan keris. Pada posisi ini penggunaan bedil sangat tidak efesien dan justru mempersulit langkah untuk menyerang.

Hasilnya menjadi jelas satu jam kemudian.

Semua infanteri Mangkunegara tewas. Mayatnya bergelimpangan memenuhi sekitar kawasan benteng. Pada perang jarak dekat ini, keahlian silat dan penggunaan keris adalah hal yang paling menguntungkan. Dan hal itu sangat merugikan pasukan Mangkunegoro yang kurang ahli dalam perang jarak dekat.

Prajurit terakhir Mangkunegoro yang terluka dan ingin melarikan diri menjadi target keganasan pasukan compang-camping terakhir Diponegoro.

Si Kapten, dengan mengambil senapan bekas pasukan Mangkunegara dia dengan cekatan mengisikannya peluru. Dan pada jarak yang cukup ideal dari balik pepohonan dia mengarahkannya pada prajurit yang terluka itu. Dan peluru timah itu seketika menembus kepala belakangnya hingga keluar ke dadi depan.

Upaya pelarian yang menyakitkan. Sekaligus bukti kebodohan sang komanda yang menganggap remah “para pemberontak”.

***

Dari kejauhan, Suroso marah menyaksikan kegagalan dan musnahnya lima puluh pasukannya. Secara otomatis sepertiga dari rombongan ekspedisinya pun telah tewas.

Sambil marah-marah Suroso berteriak pada salah satu prajuritnya. “Siapa mereka sebenarnya, tidak mungkin pasukan elit pribumi kalah hanya oleh separoh dari jumlahnya?” bentaknya.

“Kang Mas, ternyata anda tidak memahami musuh yang kang mas hadapi. Tidak heran jika kang mas meremehkannya.” Kata Adi Wicaksono, kopral dalam rombongan itu.

Suroso menjentitkan alisnya dan menarik nafas panjang.

“Perlu kang mas ketahui, mereka adalah korps Turkiyo terakhir. Pasukan paling berani dalam tentara Diponegoro.”

“Turkiyo?”

“Benar, korps Turkiyo, dimana pemimpinnya dikenal dikalangan perwira kita sebagai Kapten Turkiyo,” jelas Adi Wicaksono.