Oktober 29, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PERTARUNGAN BERDARAH DI SUNGAI TENGKORAK ( Janissary Jawah Episode ke-5)

oleh: Moh. Syihabuddin

 

“Kang Mas, bangun. Ada yang datang.” Walangsukmo membangunkan Ngapudin yang terlelap tidur dibawah sebuah pohon.

Dengan mengusap matanya dan melihat kondisi tubuhnya yang mulai sehat kembali, Ngapudin mengetahui sosok yang tidak baik di sekitarnya. Sejenak dia berfikir dan berusaha memahami kondisinya. “Kita tidur berapa hari?”

“Kemungkinan hanya dua jam, tanah beletok di sekitar kita terbukti tidak berubah sama sekali.” Jawab Kodok-Ijo.

“Mustahil!”

“Maksud Kang Mas, apa? Ada yang salah?” tanya Ngalimin.

“Entahlah, kemungkinan hanya perasaanku saja”. Ngapudin menyembunyikan perasaannya dan kejadian yang dialaminya. “Mungkin aku hanya mimpi.”

Sebuah mimpi yang sangat panjang dan tak terpikirkan.

“Tidak menjadi masalah kapan kita tidur dan kapan kita bangun, kita harus menghadapi ini.” Walangsukmo menunjukkan segerombolan orang berpakaian hitam-hitam, bertopeng hewan-hewan buas, dan membawa senjata lengkap golok-perisai.

Tidak lama para gerombolan ini mendekat dan membentuk barisan pengepungan. Dua puluh orang jumlahnya dengan kegirangan yang tidak ada bandingnya. Seolah menemukan mangsa berburu atau menemukan makanan yang lezat dalam hidangan sarapannya.

Seorang pemimpinnya dari gerombolan mendekat dan memberikan sebuah tantangan untuk mengadu keahlian berkelahi dan keilmuan bela diri. “Tuan, maafkan kami. Anda telah memasuki wilayah kami dan harus menyerahkan seluruh perbekalan anda kepada kami, jika tidak anda harus mati ditangan kami”.

“Siapa kalian?” tanya Ngapudin.

“Aku dikenal sebagai iblis sungai tengkorak. Banyak para pedagang dan saudagar yang tidak bisa melanjutkan perjalanannya jika melewati hutan ini. Akulah yang membunuhnya dan merampok harta bendanya”. Jawab pemimpin gerombolan itu.

“Lihatlah disekitar pohon sungai ini. lihatlah baik-baik, kalian akan melihat banyak tengkorak yang bergelantungan di rantingnya. Mereka adalah orang-orang yang kami bunuh dan merupakan barisan para korban yang menantang kami. Kebanyakan dari mereka tidak ada yang bisa selamat dari cengkraman senjata kami.” Iblis Sungai Tengkorak tertawa terbahak-bahak. “Tidak lama lagi nasib kalian akan sama dengan tengkorak-tengkorak itu.”

“Jadi, kalian perampok, pembunuh dan penyembah iblis, pengganggu kehidupan manusia yang tak bersalah. Sungguh hina kehidupan yang kalian jalani.” Ngapudin menggertaknya.

“Kalau itu merupakan pekerjaan dan kehidupanku, mau apa kalian? Apa yang bisa kalian lakukan, tidak lama lagi kalian akan mati ditanganku”. Iblis sungai Tengkorak menjawabi gertakan Ngapudin. “Asal kalian tahu, setiap ada tengkorak yang terpampang disetiap pohon disekitar sungai ini maka semakin kuatlah kekuatan beladiriku dan semakin sakti keilmuan yang kumiliki. Tidak herankan jika aku harus terus membunuh dan memenggal kepala orang-orang yang melawan untuk menyerahkan harta bendanya.”

“Lalu dari kami apa yang kalian inginkan. Kami hanya memiliki senjata yang kami bawa ini dan tidak ada yang lebih berharga dari pada itu.” Ngapudin merendahkan kata-katanya. “Kami bukan pedagang atau orang kaya. Tidak ada uang, emas atau perhiasan yang kami bawa.”

“Jangan membohongi kami. Kami bisa merasakan adanya benda yang berharga atau benda yang sia-sia. Yang berharga dari kalian tidak hanya senjata yang kalian bawa saja. Buntalan yang kamu bawa adalah lebih dari kata berharga. Aku merasakan adanya kekuatan besar dan nilai tinggi dari isi buntalan itu.” Kata Iblis Sungai Tengkorak sambil membuka rahasia yang tersimpan dari Ngapudin. “Kalian mungkin orang penting yang menyamar menjadi para pelarian tak bernilai.”

Ngapudin berusaha menjelaskan. “Tuan, kami tidak ingin berkelahian dan pertempuran ini berlangsung. Kami tidak ingin ada korban diantara kita,…”

“….Maka dari itulah, serahkan buntalan sarung yang kamu bawa itu. Aku hanya menginginkan itu. Jika tidak kamu serahkan kepalamu dan teman-temanmu juga mungkin akan melanjutkan hiasan di antara ranting-ranting pohon ini.” cegat Iblis Sungai Tengkorak yang diikuti tertawa berbahak-bahak anak buahnya.

“Benda ini merupakan sebuah amanah. Kami sendiri tidak tahu apa isinya. Ini harus kami serahkan benda ini kepada seorang kiai yang hidup diantar dua gunung di pesantren pantai utara Jawa. Kemungkinan dekat dengan pantai Tajung Kodok.” Jelas Ngapudin.

“Kami tidak peduli. Pokoknya serahkan benda itu dan senjata kalian, atau kalian harus menjadi mayat tanpa kepala di hulu sungai ini.” Bantah Iblis Sungai Tengkorak.

“Jika anda memaksa, maka kami tidak segan untuk menghadapi dengan sekuat tenaga.”

Kodok ijo membisiki Ngapudin, bermaksud melawan duel Iblis Sungai Tengkorak. “Kang Mas, biar aku saja yang menghadapinya, aku akan melawannya duel satu lawan satu. Biar anak buahnya tidak ada yang menjadi korban. Sudah banyak kita membunuh dan berperang. Alangkah bijaksananya jika kita harus mengurangi korban dalam masa-masa kegelapan ini.”

“Cobalah,”

“Baik Kang Mas. Sendiko Ingsung Marang Panutan.”

“Tuan Iblis Sungai Tengkorak. Aku belum mengenalmu secara jelas dan terperinci. Alangkah baiknya kita berkenalan terlebih dahulu dan membuktikan bahwa kita adalah seorang pendekar.” Kata Kodok Ijo kepada pemimpin Gerombolan.

“Oh, kamu mau menjadi lelaki sejati. Baik. Kuterima tantanganmu.” Iblis Sungai Tengkorak menggertak. “Teman-teman, mundur kalian, biarkan aku yang membuat mereka tidak bisa bicara”.

Para prajurit Iblis Sungai Tengkorak menjauh dan membentuk barisan dibelakang pemimpinnya. Begitu juga Ngapudin dan dua temannya. Hanya Kodok Ijo yang maju kedepan menjawab gerakan Iblis Sungai Tengkorak.

Iblis Sungai Tengkorak adalah pendekar bersenjatakan cakar besi yang terbuat dari logam terbaik dari gunung Kawi. Logam itu merupakan logam yang tidak mudah patah dan tidak pula mudah dihancurkan. Ketika logam itu berbentuk cakar empat mata maka sudah ratusan nyawa yang melayang dari keganasannya. Sepanjang pertempurannya Iblis Sungai Tengkorak belum pernah terkalahkan oleh siapapun yang lewat di kawasan hutan kekuasaannya.

“Anak muda seharusnya kau memikirkan baik-baik kehidupanmu untuk menantangku.” Gertak Iblis Sungai Tengkorak.

“Apa tidak sebaliknya Tuan harus berkata, kalau sebenarnya tuan sangat takut dengan kami.” Jawab Kodok Ijo.

Kodok Ijo langsung memutar-mutar kedua celuritnya dengan kecepatan yang lahir dari kekuatan kedua tangannya, mengarahkan serangannya kearah Iblis Sungai Tengkorak. Iblis Sungai Tengkorak melompat salto ke belakang, menghindari sabetan celurit yang begitu cepat.

Pertempuran pun berjalan dengan cepat. Kedua pendekar melakukan serangan dan membuat pertahanan diri. Mereka saling menghindari sabetan cakar, melayang menghindari sabetan celurit, dan membuat seluruh kawasan dipinggir sungai menjadi tanah-tanah yang penuh kerusakan.

Kemenangan sulit untuk ditentukan diantara keduanya. Tidak ada yang unggul untuk sementara waktu diantara kedua pendekar itu. Keahlian beladiri keduanya nampaknya sama-sama hebat dan memiliki tehnik yang masing-masing belum dipahaminya. Hanya pertempuran yang terus menerus berlangsung sajalah yang bisa disaksikan oleh para kawannya.

Kurang lebih satu jam pertempuran antara Kodok Ijo dan Iblis Sungai Tengkorak berlangsung dan keunggulan sementara belum bisa ditentukan. Hingga pada suatu gerakan tertentu Kodok Ijo menyaksikan kelemahan senjata dan jurus dari Iblis Sungai Tengkorak.

Kelemahan dari pada jurus Iblis Sungai Tengkorak terletak pada tanganya Iblis Sungai Tengkorak. Ketajaman cakar besinya hanya pendukung yang sejatinya hanya mengandalkan ketajaman saja, bukan pada kekerasan dan kekuatan dari penggunanya. Tangan yang menggerakkan senjata itu terbesit sedikit kelemahan yang membuat setiap gerakannya menjadi lambat.

Aku tahu, sikunya adalah kelemahan daripada senjata cakar ini. kodok Ijo menyadari adanya titik kelemahan di tanganya Iblis Sungai Tengkorak. Di kedua siku itu terdapat luka yang masih basah dan belum tersembuhkan yang diperban dengan kain yang kotor. Kemungkinan karena sebuah kecelakaan atau sebuah insiden perkelahian yang melibatkan senjata tajam.

“Kamu akan kelelahan menghadapi senjataku anak muda. Dan terimalah serangan pamungkasku ini”. Iblis Sungai Tengkorak mengarahkan cakarnya dengan mendorong seluruh tubuhnya ke arah Kodok Ijo.

Kodok Ijo menangkisnya kedua celuritnya secara menyilang. Tubuh Kodok Ijo terdorong dua meter tak mampu menahan dorongan keras dari Iblis Sungai Tengkorak. Namun dengan mengikuti kekuatan dorongan keras lawannya itulah Kodok Ijo melihat kelengahan di kedua tangan pendorong itu. Saat itulah kodok ijo memutar celuritnya, dan menggoreskan ujung senjatanya itu ke siku lawannya.

Dalam sekejap, seolah waktu berhenti, Iblis Sungai Tengkorak mengalami rasa sakit yang perihnya tak tertahankan. Kedua sikunya mengeluarkan darah dan menggores perban yang melindunginya. Tubuhnya terlempar ke depan, sedangkan Kodok Ijo menghindarinya sambil menjatuhkan tubuhnya sekaligus mendorong tubuh Iblis Sungai Tengkorak dengan kekuatan tangannya.

Iblis Sungai Tengkorak terdorong ke depan dan Kodok Ijo terjatuh.

Menyaksikan pemimpinnya kalah dan duel para gerombolan perambok itu terkejut dan tidak mempercayai pemandangan yang dilihatnya.

Seorang pemimpin yang dipuja-pujanya dan menjadi panutan dalam kehidupannya, untuk menunjukkan kekuatan dan kesaktian sebagai jawara telah dikalahkan oleh pendekar muda yang belum tentu lebih sakti.

“Tuan, kita telah dikalahkan. Ayo serang dan habisi mereka.” Teriak salah satu anak buah Iblis Sungai Tengkorak.

Melihat gelagat yang tidak baik, Ngapudin langsung mengarahkan senapannya kearah kaki kerumunan prajurit perampok itu. Menghentikan langkahnya agar tidak lebih ke depan.

Dor….

Kontan membuat para prajurit perampok itu berhenti dan terpaku kaku dalam langkahnya.

“Pemimpin kalian sudah kalah. Kami bisa saja menghabisi kalian dengan senjata ini. Tapi apa tidak lebih baik kalian membiarkan kami pergi dan kalian mengobati pemimpin kalian. Biar tidak ada korban diantara kita.” Gertak Ngapudin.

Para prajurit perampok itu saling pandang dan melampar ketakutannya. Mereka bimbang dan sulit menentukan pilihan. Mati konyol dalam perkelahian lanjutan atau menyelamatkan pemimpinnya.

“Ayo kita pergi. Kita tinggalkan tempat ini.” Ngapudin dan tiga temannya pun beranjak melangkahkan kaki mundur, meninggalkan Iblis Sungai Tengkorak yang tergeletak dan para prajuritnya yang diam tak mampu melanjutkan langkahnya.

Ketika langkah mundur itu sudah agak jauh dan jarak serangan pedang tidak memungkinkan dilakukan, keempat pendekar Turkiyo itu meninggalkan kerumunan gerombolan perampok itu. Namun belum jauh kaki melangkah, tiba-tiba ada teriakan keras yang muncul dari belakang mereka berempat. Teriakan itu tidak asing lagi merupakan rasa putus asa dari Iblis Sungai Tengkorak.

Pemimpin perampok itu dengan sisa-sisa tenaganya berusaha mengarahkan cakarnya kearah Kodok Ijo. Dalam jarak sepuluh sentimeter cakar hampir saja mengenahi kepala Kodok Ijo, seandainya saja tidak ada tombak yang menembus punggungnya Iblis Sungai tengkorak. Dan datangnya tombak itu berasal dari lemparan salah satu prajutir perampok itu.

Ngapudin dan teman-temannya pun menoleh ke belakang. Melihat tubuh musuhnya tak lagi mampu berdiri. Mayat itu kaku diterjang tombak dari punggungnya.

Pandangan pasukan Turkiyo itu lalu mengarah ke sosok prajurit pendekar yang melemparkan tombak tadi, yang diiikuti keheranan oleh teman-temannya.

“Tuan-tuan, pergilah. Terimakasih telah menyadarkan kami.” Kata prajurit perampok yang melempar tombaknya.

“Pergilah. Kami akan menempuh kehidupan baru yang lebih baik dan tidak melanjutkan perbuatan keji ini. Apa yang kalian lakukan telah menyadarkan kami bersama. Kami akhirnya tahu bahwa perbuatan ini merupakan langkah salah dalam kehidupan.”

Para prajurit perampok itu membuka topengnya. Menundukkan kepalanya dan memberikan hormat kepada keempat prajutir Turkiyo itu. Para prajurit Turkiyo itupun membalasnya dengan penghormatan dan saling menunjukkan rasa segan.

Namun pada saat penghormatan itu berlangsung dan perpisahan dua kelompok itu beranjak dijalankan, tiba-tiba peluru panas menembus para prajurit perampok itu. Tidak sedikit peluru yang mengarah ke arah mereka karena seketika para prajurit perampok itu terluka karena tembakan.

Nampaknya ada seratus prajurit Dragoner dan seratus pasukan Mangkunegara bersenjatakan bedil dan bayonet mengarahkan senjata kearah mereka. “Tembak,…” Pekik pemimpinnya.

“Tuan, larilah. Kalian tidak akan bisa selamat.” Teriak prajurit pelempar tombak itu. “Mereka tidak segan-segan membunuh kalian. Pergilah.”

Keempat prajurit Turkiyo itupun berlari sekuat tenaga melawati galangan jalan bibir sungai, sekaligus menyaksikan para prajurit perampok itu berguguran diterjang timah panas. Ngapudin menangis melihat kekejaman pasukan Belanda itu, sambil berlari kencang menuju kearah yang tidak jelas.