Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PERNIKAHAN MENUJU JALAN KEMATIAN (Janissary Jawah Episode ke-9)

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Tidak ada waktu untuk berlama-lama di pesantren ini. Jika terus berada di pesantren ini bisa jadi serdadu kompeni legiun Mangkunegara mengetahuinya dan akan berakibat fatal bagi keberadaan kiai Wono dan pondoknya.

Keempat prajurit Turkiyo itupun berkemas dengan pakaian baru yang diperolehnya dari kiai Wono. Untuk terus melakukan pelariannya kini mereka memperoleh satu beban lagi, seorang wanita yang harus dibawanya bersama dengan misi yang membahayakan itu. Salah satu istri dari anggotanya.

Tak lupa buntalan sarung yang di dalamnya tersimpan sebuah kotak wasiat menjadi perhatian utama untuk melanjutkan pelariannya.

“Kamu harus mengajak istrimu dalam pelarian ini. Dia bisa jadi beban bagi dirimu dan juga bisa jadi hal yang meringankan. Tergantung dari sudut pandang mana kamu harus meletakkannya.” Nasehat kiai Wono pada Ngapudin.

“Tapi apakah hal ini tidak membahayakan keselamatannya kiai?” tanya Ngapudin.

“Dia akan lebih nyaman dan lebih terjaga jika bersamamu. Disini baginya akan membuatnya lebih menderita saja. Ketahuilah, dia akan rela mati bersamamu, anakku.” Tegas kiai Wono. “Dia akan sangat bermanfaat bagi perjalananmu.”

Sendiko kiai. Saya akan menjaganya sebaik mungkin dan sekuat tenaga saya. Keselamatannya adalah keselamatanku dan nyawaku adalah nyawanya. Aku akan membuatnya selamat hingga kami akan menjalani kehidupan berkeluarga ini menjadi baik.”

Kiai Wono menyerahkan sebuah keris kepada Ngapudin. Sebuah keris yang memiliki kepala sosok naga dan ukirannya sangat indah. “Bawalah ini. Simpanlah. Kau berhak untuk memilikinya.”

Dan Ngapudin menerimnya dengan dua tangan sambil berlutut dihadapan Kiai Wono.

***

Belum sempat Matahari naik satu tongkat alam pandangan mata keempat prajurit Turkiyo dan satu perempuan yang mengikutinya bergegas meninggalkan pesantren itu dan segera mencari jalur yang tidak mudah diketahui oleh khayalak.

Mereka berjalan menempuh jalur pintas di luar jalur utama desa yang dimulai dari area persawahan dan menuju ke area pegunungan. Pertama-tama mereka menuju ke area persawahan, lalu ke semak-semak belukar, dan masuk hingga ke kawasan pepohonan jati yang memenuhi keindahan pegunungan bentangan alami bumi Jawa. Mereka hanya membawa perbekalan secukupnya untuk dua hari.

Sebagai pencari jalan untuk melanjutkan perjalanan Ngalimin berada di depan. Keahliannya sebagai ahli memanah membuat dirinya memiliki ketajaman pandangan pada jarak yang sangat jauh. Suatu objek sejauh lima belas kilometer lebih bisa dilihatnya dengan matanya secara jelas. Layaknya melihat dengan teropong. Kemampuan melihat jarak jauh ini sudah diperolehnya sejak kecil.

Lalu diikuti oleh Walangsukmo, Kodok Ijo dan terakhir Ngapudin bersama Nimas Ayu Syarifah.

Melintasi area persawahan yang luas, membentang bak permadani alami yang terhampar dan udara pagi yang berhembus menyejukkan, menyertai perjalanan mereka berlima yang tentunya akan menjadi semakin berat dan melelahkan.

Sinar matahari yang berlahan-lahan mulai menyiratkan goresan-goresan cahaya memenuhi langit membuat perjalanan mereka semakin memberikan arti penting tentang waktu pagi yang harus dimanfaatkan dan digunakan untuk memulai aktivitas harian. Tidak bermalas-malasan dan tidak pula menunggu naiknya sinar matahari semakin panas dan membakar diri. Dan aktivitas harian mereka tentunya adalah lari dari kejaran kematian.

Ngapudin memulai perbincangan dengan istrinya yang masih perawan dan mahkota kewanitaannya yang belum disentuhnya itu, untuk menikmati suasana pelarian yang diselimuti dengan ketakutan, yang suatu saat bisa mendatanginya.

“Nyai, apa yang mendorongmu untuk mengikutiku, perjalananku ini berbahaya dan bisa-bisa mengancam nyawamu?”

Nimas Ayu tersenyum. “Kang mas, aku hanya menuruti kakek saja. Sejak orang tuaku tiada seluruh kehidupanku telah ditata oleh kakek. Beliau mendidikku, mengajariku mengaji, mengajariku arti kehidupan, mengajariku tentang pengetahuan, dan membekaliku dengan keahlian beladiri. Beliau adalah orang tua sekaligus guruku. Hanya itu. Siapa tahu dengan hanya patuh pada beliau aku bisa menjadi salah manusia terbaik yang telah diimpikan oleh banyak wanita. Sekaligus menjadikan aku sebagai anak gadis yang sholehah.”

“Sesederhana itu?”

“Iya, mau apalagi. Sebagai seorang perempuan Jawa yang menjunjung tinggi martabat keluhuran agama, langkah terbaik adalah patuh dan taat kepada pelindungnya dan orang yang bertanggungjawab padanya. Kepatuhan dan ketaatan secara totalitas merupakan kekuatan tersembunyi yang harus dimiliki oleh seorang perempuan. Jika seorang perempuan berhasil mendapatkan kepatuhannya dan bisa menjalani ketaatannya maka dunia pun dalam genggamannya. Apapun yang diimpikannya bisa saja terwujudkan dan bisa saja memberikan limpahan karunia Allah yang tiada batas.

“Kakek adalah orang yang melindungiku, maka aku harus patuh dengan semua perintahnya dan semua langkahnya terhadapku. Aku menyerahkan seluruhnya pada kakek terhadap seluruh keputusannya tentang masa depanku. Aku tahu bahwa yang dilakukan oleh kakek adalah yang terbaik untukku. Termasuk menikahkannya denganmu.

“Harapan untuk menjadi seorang perempuan yang memiliki wawasan agama yang luas dan wawasan kehidupan yang tinggi pasti akan memahami hakekat perempuan yang sesungguhnya, yakni patuh kepada orangtuanya atau dengan suaminya. Semakin seorang perempuan itu patuh maka semakin tinggi peluangnya untuk mendapatkan harta keilmuan dan harta kehidupan.

“Aku tidak ambil pusing tentang lelaki pilihan kakek, karena wawasan agama beliaulah yang pastinya akan membimbingnya untuk menentukan pilihan terbaik untuk cucunya. Dan aku menyakini bahwa pilihannya padamu adalah terbaik untukku.”

Nimas Ayu membenarkan posisi senapannya yang diberi Ngapudin agar bisa kembali lurus dengan punggungnya.

“Menjelang shubuh tadi, sebelum aku menunaikan sholat tahajud dan sholat sunnah malam lainnya beliau mendekatiku dan memberitahu aku tentang perjodohanku denganmu. Beliau mengatakan bahwa kamu adalah pilihan terbaik untukku. Maka pagi itu juga beliau akan menikahkan aku denganmu. Dan tanpa berfikir panjang aku langsung mengatakan setuju.

Nimas Ayu menatap suaminya dengan senyuman yang menyejukkan mata suaminya. “Dan kini aku sudah menjadi istrimu, maka kamulah yang akan melindungiku dan akan menjadi orang yang berada dalam kekuasaanmu. Aku harus patuh dan taat kepadamu, karena kepadamulah aku bisa membangun surga dan bisa menciptakan keindahan kehidupan yang telah digariskan oleh Allah.”

Ngapudin membalas tatapan istrinya dengan pandangan yang berkaca-kaca. Pancaran kebahagiaan dari sorot matanya menembus kemasalalu kehidupannya. Tak disangkahnya kalau istrinya itu adalah sosok yang sangat sempurna dalam perbandingan dirinya.

“Sungguh beruntung aku mendapatkanmu. Aku tidak tahu apa yang telah menimpahku saat ini.” katanya pada istrinya, “Karena disaat dunia sedang nyaman, damai, dan tentram aku tidak mendapatkan apa-apa. Hidup sebagai anak seorang buruh tanpa tuan yang bekerja apa adanya, yang tentunya sangat kekurangan untuk menikmati kebutuhan hidup keluarga. Tidak jarang ibuku dan ayahku bersusah payah mencari sisa-sisa beras untuk dimakan dan kugunakan untuk menyambung hidup.

“Namun kini, saat dunia sedang berperang dan aku harus terlibat di dalamnya, taruhan kehidupan dan kematian menjadi tipis untuk dibedakan justru telah mengantarkan aku mendapatkan mutiara dunia sepertimu. Tidak ada mendung dan tidak ada hujan dalam hatiku, tiba-tiba aku memperoleh seorang istri yang sangat berwawasan luas, berpikiran jauh ke depan, dan berakhlak mulia.”

Hembusan panjang Ngapudin membuat jedah beberapa detik pembicaraannya.

“Dan ini akan menjadi ketakutan bagiku.”

“Kenapa harus takut kang mas, bukankah aku justru akan mendampingi dalam perjuanganmu dan dalam menjalankan misi sucimu?” sergah istrinya.

“Itu memang benar. Tapi ancaman kehidupan dan ancaman keselamatanmu justru membuat aku takut akan menjalani kehidupan pernikahan ini. Pernikahan ini akan menjadi jalan menuju kematian jika aku sedikit saja lengah menjagamu.

“Ketahuilah Nyai, aku bahagia menikah denganmu, bahkan kebahagian itu tidak akan pernah bisa kukatakan. Tapi kondisi perang saat ini yang kuhadapi membuat aku takut akan kehilangan dirimu.”

“Para prajurit Mangkunegara dan tentara bayaran lokal yang mengejar kita pasti tidak segan-segan untuk melukaimu atau memperlakukanmu secara tidak terhormat. Itulah yang membayangiku dan membentuk pikiran yang menghantui langkahku saat ini.

“Nyai, seluruh sisa-sisa terakhir prajurit Turkiyo yang bersama kami telah terbantai dan hanya menyisahkan kami berempat. Aku tidak ingin lagi kehilangan temanku dan orang yang kusayangi. Kau istriku, dan kau adalah bagian dari diriku. Aku akan sangat tergunjang jika kehilangan dirimu.”

Mendengar keluhan suaminya dan ketakutan yang dihadapi sosok pelindungnya itu Nimas Ayu Syarifah tersenyum dan justru membangun sebuah pagar penguat untuk mendorong tembok-tembok semangat dalam hati suaminya.

“Bagiku perasaanmu itu wajar saja terjadi pada dirimu suamiku, karena seorang suami yang bertanggungjawab pasti akan mengkhawatirkan istrinya yang dicintainya. Aku tahu bahwa cintamu adalah sepenuhnya untukku, karena tatapan matamu telah menyiratkan tanggungjawab itu.

“Namun jangan takut, pilihan untuk mengikutimu adalah pilihan kakek. Kelak kamu akan memahaminya, mengapa aku harus mengikutimu dalam perjalanan ini. Jika pada saatnya nanti kamu akan tahu kalau aku telah menempuh jalan yang benar dengan mengikuti perjalanan yang mematikan ini. khusnudzon pada Allah saja kalau aku tidak akan mudah tertangkap atau mati ditangan para prajurit Belanda itu, sayangku.”

Ngapudin menggapai tangan istrinya dan meremasnya penuh kasih. Tangan istrinya yang lembut dan semerbak wewangian khas ramuan alami tumbuhan Jawa membuatnya tak bisa berkata-kata untuk mensyukurinya. Mereka berdua saling melempar pandang, menikmati kenyamanan bicara yang melupakan ancaman perjalanan itu.

***

Sampailah perjalanan mereka melewati pegunungan yang tidak lain merupakan pegunungan tempatnya tiga makam wali yang dimanfaatkan oleh Ki Ageng Sambernyowo untuk mengembangkan ilmu hitamnya. Dan itu tidak diketahui oleh para prajurit Turkiyo itu.

“Ada apa,” Walangsukmo berteriak, melihat Ngalimin yang berhenti melangkahkan kakinya, lalu duduk jongkok penuh waspada. Teriakan itu kontan mengagetkan teman-temannya yang mengikutinya di belakangnya.

“Patroli Mangkunegara,” katanya.

“Berapa orang?” tanya Walangsukmo.

“Belum jelas. Kemungkinan duapuluh orang. Lima diantaranya serdadu Eropa. Nampaknya ada bantuan yang datang untuk menangkap kita.”

Kodok Ijo menatap Ngapudin yang ada dibelakangnya. “Apa langkah kita?”

“Jangan dilawan, kita kalah jumlah dan tenaga kita belum sepenuhnya pulih untuk menghadapinya. Masih banyak luka yang harus kita pulihkan.” Kata Ngapudin. “Sebaiknya kita memutar dan menghindarinya.”

Mereka berlima pun memutar langkahnya dan berusaha mencari jalur lain untuk berlari atau bersembunyi. Arah yang belum dikenalinya pun diterjang saja untuk mencari jalan berbeda yang tidak bisa ditemukan oleh musuhnya.

Naas bagi mereka, jalur lain yang ditempuhnya itu justru mengarah ke patroli lain Legiun Mangkunegara yang disertai dengan beberapa jawara lokal. Merekapun memutar langkahnya lagi, mencari jalan lain yang lebih aman. Namun ketika langkah mereka semakin jauh justru masuk ke sebuah pos yang telah dibangun oleh para serdadu Belanda. Bantuan benar-benar telah datang menguatkan pengejaran untuk menangkap mereka. Terdiri atas dua puluh prajurit Mangkunegara, lima prajurit Eropa, lima prajurit berkulit hitam, dan sepuluh jawara lokal.

Derap langkah mereka pun diketahui oleh seorang penjaga Mangkunagara yang sedang merokok dan menikmati obrolan dengan kawannya.

“Turkiyo, mereka mengarah kesini,” teriaknya.

Para prajurit Mangkunegara lainnya dan kawan-kawannya pun mengetahuinya. Kontan saja mereka semua langsung berderap menyiapkan senjatanya dan bersiaga untuk mengejar prajurit Turkiyo itu.

“Mundur,” teriak Ngapudin. “Cari tempat berlindung.”

Mereka berlima pun membalikan arahnya lagi dan berusaha mencari sebuah tempat yang lebih aman untuk bertahan. Namun sebelum melangkahkan kakinya untuk balik arah, tiba-tiba Nimas ayu Syarifah membidikkan senapannya ke arah prajurit Mangkunegara yang berteriak itu. Bidikannya difokuskan pada pundak prajurit itu. Dan ketika pelatuknya ditariknya, timah panas disertai bubuk mesiu meluncur lurus dan mengenahi tepat sasarannya.

Prajurit Mangkunegara itupun roboh, tergelak lemas.

Melihat kawannya yang tertembak semakin membuat kemarahan para prajurit Mangkunagara lainnya. Lima diantaranya pun langsung menembakkan senapannya. Dan pertempuran pun berkobar.