Oktober 29, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PERGULATAN ISLAM NUSANTARA DITENGAH ARUS RADIKALISME DI INDONESIA

Oleh:

Imam Sarozi

Praktisi Pendidikan, Pendekar Nahdliyin, dan  Pemikir Muda Islam Nusantara

 

Ada apa dengan Islam Nusantara? Ini bisa dipahami dengan refleksi sebagai dibawah ini.

Konsekuensi segala keputusan jelas akan menimbulkan problem baru jika hal tersebut masih “Ngamblyar” atau belum jelas. Dari berbagai sudut pandang individu (tokoh) dan kelompok (organisasi) tertentu jelas akan ada spekulasi yang mulai pro dan kotra. Wacana demi wacana bergulir mengodok Islam Nusantara sebagai asumsi publik yang di rasa belum jelas.

Tanggal 1-5 Agustus 2015 pada Mukmatar NU ke-33 di Jombang dengan mengambil tema Islam Nusantara di deklarasikan. Mungkin kita bisa membayangkan seandainya kita di sana apa yang terjadi? Betapa panasnya bola perdebatan mengenai Islam Nusantara itu bergulir di antara peserta Muktamar. Pro kontra serta argumentasi tiada henti dari kalangan ulama NU mencoba mencari titik temu dari penafsiran Islam Nusantara tersebut.

Polemik “Islam Nusantara”

Semenjak dideklarasikannya Islam Nusantara hingga sekarang masih ada sebagai kelompok memandang Islam Nusantara sebagai suatu aliran Islam baru, faham baru, dan ada yang lebih ekstrem dari itu yang mengatakan bahwa Islam Nusantara merupakan “agama baru” yang mencoba mencari sensasi demi sebuah eksistensi publik agar para pengikutnya semakin fanatik.

Nampaknya, disinilah perlu pemahaman yang membedakan secara terperinci mengenai Islam Nusantara dan Islam yang berada di negara lain, agar kesalahfahaman tidak berlarut-larut serta tidak menjadi gunjingan untuk membenturkan kedalam berbagai aspek.

Tahun 2019 adalah tahun politik menurut sebagian kalangan. Sekecil apapun problematika yang terjadi diranah sosial akan menjadi pergulatan wacana yang tiada habisnya. Maka perlunya pembahasan yang lebih rinci dan mampu dipahami secara mudah agar kesatuan dan persatuan umat Islam dan bangsa (kawasan) tetap terjaga dengan baik.

Titik awal yang perlu kita sadari adalah bagaimana Islam Nusantara ini di deklarasikan oleh NU pada mukmatar ke-33 di Jombang. Apa yang menjadi alasan mendasarkan perlunya dideklarasikannya Islam Nusantara.  Jika selama ini kita lakukan baik dari cari fikir, gerak dan amalan sudah sesuai dengan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyyah sebagai Nahdliyin.

Aswaja dan Karakteristik Islam Lokal

Mengapa disini perlu penyifatan An-Nahdliyyah? Jawabnya adalah karena banyak kalangan lain diluar NU yang juga mengklaim sebagai Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja), tetapi memiliki cara berfikir, gerakan dan amalan yang berbeda dengan NU (harian kompas, edisi 19 agustus 2015). Nampak ada sedikit yang menarik yaitu penambahan kalimat An-Nadhliyah, yang diartikan pemberian ciri khusus atau pemberian identitas atas pemikiran, gerakan dan amalan yang di lakukan oleh warga NU yang meliputi amaliyah, aqliyah dan harakah.

Yang di maksud  NU tentang Islam Nusantara adalah pertama, Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diamalkan, didakwahkan dan dikembangkan sesuai karateristik masyarakat dan budaya di bumi Nusantara oleh para pendakwahnya, yang diantara tujuannya mengantisipasi dan membentengi umat dari paham  Radikalisme, Liberalisme, dan Syi’ah, serta Wahabi dan paham-paham lain yang tidak sejalan dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Kedua Islam Nusantara menurut NU juga di maksudkan sebagai metode (Manhaj) dakwah Islam di bumi nusantara ditengah penduduknya yang multi etnis, multi budaya, dan multi kepercayaan yang dilakukan secara santun dan damai (TIM PW LBM NU Jatim, 2018:5).

Menurut ketua PBNU KH. Aqil Siradj bahwa Islam Nusantara merupakan Islam yang hanya dimiliki Indonesia, yakni corak  Islam  Nusantara  yang heterogen. Dalam artian satu daerah dengan daerah lainnya memiliki ciri khas masing-masing, tetapi ruh keilmuan dan keagamaan yang sama. Kesamaan nafas keagamaan merupakan saripati dan hikmah dari perjalanan panjang Islam berabad-abad di Indonesia yang telah menghasilkan suatu karakteristik yang lebih mengedepankan aspek esotoris hakikat ketimbang eksoteris syariat.

Islam adalah agama yang bersifat universal. Artinya tujuan ajarannya tidak hanya di tunjukan kepada salah satu kelompok atau negara, namun di tunjukan kepada seluruh umat manusia, bahkan seluruh alam semesta. Adapun Islam adalah agama yang rahmatan lial-‘alamin sebenarnya kesimpulan firman Allah SWT :

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

yang konteksnya untuk seluruh umat manusia dan alam semesta lebih jelasnya rahmatnya bukan hanya untuk umat muslim pemeluk agama Islam saja namun untuk semua penghuni alam semesta.

Sedangkan Nusantara adalah gambaran wilayah kepulauan dari Sabang sampai Merauke. Kata ini berasal dari manuskrip jawa abad ke-12 sampai ke-16  sebagai konsep negara majapahit. Sementara dalam literatur berbahasa Inggris abad ke-19, Nusantara merujuk kepada kepulauan Melayu. Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantoro, memakai istilah ini pada abad ke-20 sebagai rekomendasi untuk nama suatu wilayah Hindia Belanda.  Karena kepulauan tersebut mayoritas berada di wilyah negara Indonesia, secara konstitusional juga dikukuhkan dengan keputusan Presiden(Kepres) MPR No.IV/MPR/1973, tentang garis beras haluan negara bab II sub E. Kata Nusantara ditambah dengan kata wawasan.

Perdebatan tentang “Islam Nusantara”

Perdebatan yang mencolok dari konsep Islam Nusantara adalah letak label kata “Nusantara” yang mengikuti kata “Islam”. Kata nusantara ini bisa mempengaruhi makna Islam. Bisa terjadi perubahan atau bahkan salah penafsiran. Sebenarnya kata Islam Nusantara sudah bukan hal baru namun menjadi baru dan booming(diperbincangkan khayalak umum) karena secara kajian pada saat di deklarasikan dianggap belum mempunyai konsep secara matang dalam keilmuan.

Islam Nusantara ialah Islam khas ala Indonesia. Pengabungan nilai-nilai keislaman secara teologis dengan tradisi, budaya, dan adat istiadat di nusantara. Mengakomodir nilai-nilai tersebut dalam bentuk kebudayaan yang terdapat didalamnya nilai-nilai ajaran Islam.

Dalam konteks keberagaman yang terjadi di Nusantara yang penduduknya yang multi etnis, multi budaya, suku, budaya, dan ras. Islam Nusantara mencoba menawarkan konsep bagimana cara hidup umat Islam di Nusantara yang lebih mengedepankan segala bentuk kearifan dan mendahulukan kebajikan bersama, yang menghormati perbedaan yang ada di masyarakat dan mentolerinya. Islam Nusantara bukan fokus melakukan aktualisasi formal ajaran Islam dan simbol-simbol ajaran Islam, tapi lebih pada menerapkan nilai-nilai keagamaan menjadi nilai universal.

Hal ini menunjukkan bukan berarti Islam Nusantara anti Arab. Justru Islam Nusantara ingin menjembatani atau menjadi penghubung Islam yang lahir dengan dan tumbuh bersama budaya Arab-tanah Arab mampu dipahami serta diamalkan oleh masyarakat Nusantara yang letaknya jauh dari wilayah Jazirah Arabia.

Secara natural suatu hal yang baru datang tidak serta merta mampu di pahami dan di terima dengan baik apalagi di aktualisasikan. Pasti akan ada pertentangan jika itu di paksakan. Disnilah perananan Islam Nusantara agar ajaran Islam mampu di terima dan dijalankan tanpa pertentangan dengan kondisi budaya dan segala keberagaman yang terjadi yang ada di Nusantara.

Islam Nusantara Pencegah Radikalisme di Indonesia

Gerakan radikalisme di Indonesia bergerak secara masif dan terstuktur melalui langkah-langkah formalisasi, ideologisasi, dan syari’tisasi ajaran Islam di Indonesia yang kian santer terdengar. Hampir semua media cetak atau elektronik silih berganti menampilkannya sebagai wujud gerakan yang sangat militan tanpa henti. Tak ada satupun momentum di Indonesia ini tanpa satu pun tendensi gerakan mereka. Bahkan tanpa kita sadari pelan-pelan sudah menyatu kedalam masyarakat awam.

Langkah-langkah formalitasisasi, ideologisasi, syari’atisasi Islam di Indonesia merupakan suatu hal pmbodohan yang tak mengerti latar belakang sejarah serta kultur yang melekat di masyarakat Indonesia. Indonesia sebagai simbol muslim moderat yang memiliki corak khas tersendiri. Kultur yang  menjadi pakaian identitas tanpa formalitas dan ideologis keislaman yang ingin ditonjolkan. Karena akan mnjadikan pengkotak-kotakan dalam kberagaman beragama.

Jika hal itu terjadi, maka muslim di indonesia menjadi mayoritas yang nantinya menggapkan non muslim menjadi golongan minoritas yang terkucilkan. Dan ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan kehidupan bernegara.

Kampanye identitas diserukan menjadi perang baru yang tanpa di sadari. Media sosial, media cetak dan mdia elektronik menjadi sasaran marketing yang amat empuk, efektif dan efisien untuk menjadi lahan “jihad”.

Mau mereka apa? Tentu saja hanya sebagai upaya  formalitasisasi untuk mewujudkan “Sistem Islam Palsu”  secara fundamental dengan mengidahkan kultur dan menafikan pluralitas masyarakat.

Apa ketika mereka mampu mewujudkan fomalitas dalam beragama sudah pantas menyandang gelar muslim yang taat? Menurut hemat penulis, jelas tidak.

Perkembangan Islam di Indonesia dari awal masuknya hingga di era milineal sekarang ini (abad 21 M.) sudah sangatlah jelas memberikan kita gambaran jika muslim Indonesia yang moderat. Islam Indonesia dapat dilihat dengan Penerapan ajaran Islam secara utuh dalam amaliyah, akulturasi dan kolaborasi budaya agama dengan tradisi lokal yang tidak tumpang tindih, serta pluralitas yang mengakar dari peradaban yang sudah berkembang yang tumbuh sebelum datangnya Islam memberikan dampak positif terhadap identitas Islam baru yang tumbuh di Indonesia.

Dengan menghadirkan ide-ide Islam Nusantara maka kehancuran Indonesia dari merebaknya ide-ide radikalisme (insya’allah) bisa dihadang didilumpuhkan. Satu-satunya cara untuk melumpuhkan gerakan radikalisme yang diwujudkan dengan upaya-upaya formalisasi, ideologisasi dan syari’atisasi Islam bisa diredam dengan kearifan beragama yang dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama.

Oleh karena itulah, dewasa ini di era milennial belajar Islam dan konteks Indonesia adalah menjadi orang Nahdliyin dan menjadi warga Nahdlatul Ulama yang patuh pada Ulamanya dan mengikuti ajaran-ajarannya.