Oktober 29, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

Perceraian Dini sebagai Solusi; Takdir atau Pilihan?

oleh :

Jamilatul Lailia

 

Pengantar

Fenomena yang marak terjadi pada pernikahan saat ini adalah pasangan yang usia perkawinannya sangat singkat. Jika berkunjung ke Pengadilan Agama, maka akan banyak ditemui para perempuan muda yang sedang mengurus perceraiannya.

Ketidakmampuan pasangan suami istri dalam menghadapi kenyataan hidup yang sesungguhnya, mengakibatkan mereka sering menemui kesulitan dalam melakukan penyesuaian atas berbagai permasalahan di usia mereka yang tergolong masih muda. Belum satu tahun menikah, sudah melakukan gugat cerai, seharusnya pada usia pernikahan yang masih muda tersebut perlu dipertimbangkan kembali tekadnya untuk bercerai.

Perkawinan dalam Islam mempunyai tujuan yang luhur untuk menjadikan suatu kehidupan keluarga yang aman, damai, tentram, sakinah, mawaddah, warohmah. Langgengnya suatu kehidupan perkawinan merupakan tujuan utama yang diinginkan oleh Islam. Dalam UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 1 bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Adapun dalam Kompilasi Hukum Islam pada pasal 2 menyebutkan bahwa pernikahan adalah akad yang sangat kuat (mitsaqan ghalidzan) untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Ikatan antara suami istri seharusnya begitu kokoh dan kuatnya, maka tidak patut jika dirusakkan atau disepelekan. Setiap usaha yang menyepelekan dan melemahkan ikatan perkawinan dibenci oleh Islam. Seperti hadits Rasul sebagai berikut: Dari Ibnu Umar r.a dari Nabi SAW. Bersabda: perbuatan halal yang dibenci oleh Allah adalah talak. (Asy’as, 1994, II: 254). Hadits tersebut menunjukkan bahwa  perceraian merupakan alternatif terakhir yang boleh ditempuh ketika keluarga sudah tidak bisa dipertahankan lagi.

Perceraian di Tuban

Angka perceraian di Tuban masih sangat tinggi, pada awal tahun 2019 diperkirakan setiap hari ada enam perempuan yang menjadi janda.dalam rentang waktu 2013- 2018, jumlah sekitar 2765 pasangan mengajukan cerai. Pada tahun 2018 jumlah pengajuan cerai sebanyak 2.526 kasus, dengan rincian cerai talak sebanyak 1.003 kasus dan cerai gugat sebanyak 1.523 kasus. Melihat angka ini, perempuan yang lebih banyak mengajukan permohonan gugatan daripada laki-laki. Pun perceraian dini, beberapa kasus yang ada di Tuban salah satunya adalah kasus perceraian dini.

Tingginya angka kasus perceraian ini jelas berpotensi menjadi masalah ekonomi. Korban pertama yang paling merasakan dampak adanya perceraian adalah anak dan istri yang seharusnya mendapatkan perlindungan dari perkawinan. Terlebih perkawinan yang hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat, tentunya apabila mempunyai keturunan, tentu keturunanya masih bayi. Hal yang disayangkan, bukannya mencari alternatif atau usaha menemukan solusi untuk memperkuat kebersamaan, malah justru sikap reaktif dan emosional yang membuat masalah menjadi semakin rumit dan berat.

Tiga Hal Penyebab Perceraian

Ada beberapa faktor penyebab perceraian dini jika disebutkan secara rinci dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Perselisihan terus menerus atau tidak harmonis

Hidup dalam rumah tangga tentu tidak selalu baik-baik saja, pasti ada masalah yang timbul. Masalah yang muncul sebaiknya dimusyawarahkan supaya menemui solusi dan tidak berlarut-larut yang kemudian hari akan menambah masalah yang terjadi. Perselisihan ini dapat berasal dari suami atau istri, maupun dari kedua belah pihak. Jika tidak segera diatasi, akibatnya makin buruk dan fatal untuk kelangsungan rumah tangga. Perselihan terus menerus dalam fikih disebut syiqaq. Jika terjadi syiqaq secara terus menerus dan keadaan rumah tangga diambang perceraian, maka harus memutus dua orang hakam (hakamain) yang berasal dari kedua belah pihak, baik itu dari pihak suami dan pihak istri. Namun, hakam ini tidak bersifat mutlak, karena bisa saja hakam berasal dari pihak luar yang memiliki kapasitas dan komitmen mendamaikan kedua suami dan istri tersebut. (Ghanim, 1998:38-39).

  1. Tidak Bertanggung Jawab atau Faktor Ekonomi

Selama membina mahligai rumah tangga, kedua belah pihak suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban yang harus dilakukan secara ikhlas dan setulus hati. Suami yang tidak bertanggungjawab kepada istri menurut Imam Malik, dapat menyebabkan kecenderungan istri meminta cerai kepada suami. Kesulitan yang dirasakan oleh seorang istri jika suami tidak memberikan nafkah sehari-hari, akan menjadikan istri sengsara dan tidak dapat memenuhi tanggungjawabnya sebagai ibu rumah tangga, sehingga membuat istri menggugat cerai suami, pembolehan dalam hal ini lebih mengedepankan bahaya yang akan terjadi dari pihak istri (Dally, 1988:99). Demikian pula Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambaljuga membolehkan terjadinya talak antara suami dan istri jika memang suami tidak memberikan nafkah, dengan syarat melalui keputusan hakim dan jika memang istri menghendaki demikian. (Uwaidah, 1988:447).

Kewajiban suami terhadap istri disebutkan dalam UU No. 1 tahun 1974 pasal 34 ayat (1):”Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya”. Tidak adanya tanggungjawab suami kepada istri ini juga termasuk dalam pelanggaran taklik talak yaitu tidak memperdulikan serta tidak menafkahi istri.

Shigat taklik talak disebutkan dalam KMA No. 99 tahun 2013, berisikan pernyataan suami kepada istrinya sebagai berikut:

  1. Apabila saya meninggalkan istri saya selama 2 (dua) tahun berturut-turut,
  2. Tidak memberi nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) bulan lamanya,
  3. Menyakiti badan atau jasmani istri saya, atau
  4. Membiarkan (tidak memperdulikan) istri saya selama 6 (enam) bulan atau lebih.

dan karena perbuatan saya tersebut istri saya tidak ridho dan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama, maka apabila gugatannya diterima oleh Pengadilan tersebut, kemudian istri saya membayar Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) sebagai iwadh (pengganti) kepada saya, maka jatuhlah talah saya satu kepadanya”.

  1. Gangguan Pihak Ketiga

Permasalahan dalam berumah tangga tidak hanya muncul dari intern kedua belah pihak, masalah juga dapat muncul dari adanya faktor eksternal, salah satunya adalah hadirnya pihak ketiga dalam perselisihan antara suami dan istri.

Perselingkuhan bukanlah solusi untuk menghindari masalah dalam rumah tangga, justru malah memperkeruh suasana. Suami yang berselingkuh dan pergi dengan selingkuhannya sehingga menelantarkan istri dan mengabaikan kewajibannya sebagai suami, akan membuat istri tidak tahan karena telah dikhianati dan disakiti batinnya, hal ini akan menimbulkan pertengkaran dan berujung pada perceraian.

Imam Malik berpendapat, istri berhak menuntut ke Pengadilan untuk menjatuhkan talak apabila suami telah berbuat membahayakan dirinya (berbuat dhoror) berupa kata-kata kotor atau pukulan yang menyakiti atau meninggalkan tanpa sebab termasuk juga perselingkuhan yang sangat menyakiti hati istrinya, jika suami melakukan itu dan istri tidak terima diperlakukan seperti itu, kemudian melapor kepada hakim dan mampu membuktikan dakwaannya, istri bisa menuntut cerai karena pada kenyataannya terjadi perselisihan secara terus menerus. (Sabiq, 1980- 91).

Penutup; Sebuah Solusi bagi Keluarga Muda

Adanya peningkatan angka perceraian yang masuk dalam register Pengadilan Agama seharusnya dapat ditekan dengan adanya usaha dari berbagai pihak. Tentu pasangan suami istri menjadi subyek utama yang harus lebih memahami tentang hakikat berumah tangga yang sebenarnya dalam Islam. Masing-masing pasangan harus bisa saling mengerti dan menghargai. Sebagai istri harus bisa mengerti suaminya, memahami dan menunaikan kewajibannya, serta memberikan hak-hak suaminya, begitupun suami juga harus memahami dan mengerti istrinya, suami seharusnya tidak boleh selalu merasa menang dan tidak mau kalah, bahkan ketika salah. Sedangkan dalam kasus perselingkuhan, alangkah lebih eloknya jika dicari dulu penyebab perselingkuhannya, terkadang istri juga perlu untuk introspeksi diri.

Selain itu, secara tidak langsung tingginya angka perceraian juga berdampak pada masa depan bangsa dan negara. Karena unit terkecil dari sebuah negara diawali dari keluarga, disitu akan lahir generasi penerus bangsa dan calon-calon pemimpin masa depan. Jika keluarganya porak-poranda karena perceraian maka masa depan anak juga akan terganggu. Maka perlu penanganan dari pihak terkait, supaya angka perceraian dini tidak makin marak terjadi: a) Hendaknya hakim berusaha bersungguh-sungguh untuk mendamaikan penggugat dan tergugat supaya perceraian dini dapat dihindari, b) Mengadakan Bimbingan Perkawinan (Binwin) secara serius kepada calon pengantin, c) Peran serta masyarakat juga penting, terlebih masyarakat di lingkungan sekitar; bahwasanya kehidupan dalam rumah tangga tidak selalu harmonis, jika ada masalah dalam suatu rumah tangga di sekitarnya, hendaknya dirukunkan bukan malah menambahi bumbu-bumbu yang justru akan memperkeruh keadaan.

 

Daftar Pustaka

‘Uwaidah, Syaikh Kamil Muhammad. 1988. Fiqih Wanita, penrj. M. Abdul Ghofur. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

Daly, Peunoh. 1988. Hukum Perkawinan Islam Suatu Studi Perbandingan dalam Kalam Ahli Sunnah dan Negara-Negara Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Ghanim, Sholeh. 1998. Jika Suami Istri Berselisih Bagaimana Mengatasinya?. Jakarta: Gema Insani Press.

Sabiq, as-Sayyid. 1996. Fikih Sunnah. Penrj. Moh Talib. Bandung: al-Ma’arif.

http://bloktuban.com/2019/01/08/di-tuban-setiap-hari-enam-perempuan-jadi-janda/