Perang Dunia, Runtuhnya Kekhalifahan Utsmani dan Mulai Masuknya Nasionalisme Sekulerisme di Wilayah Muslim

Sebelum kekhalifahan Utsmani runtuh, gagasan-gagasan nasionalisme dan sekulerisme marak dipelajari oleh para sarjana muslim di kedai-kedai kopi, dip kampus, di masjid dan tentunya di kafe-kafe tempat berkumpulnya para pemikir muda Utsmani, yang terdiri dari orang-orang Afrika, Arab, Eropa, dan Kaukasia

kitasama.or.id – Peristiwa Perang Dunia I dan Perang Dunia II telah memberikan babak baru dalam sejarah perjalanan suatu negara. Jika pada akhir perang Dunia I menghasilkan pembubaran sistem kerajaan lama sebagai model kepemimpinan, maka pada Perang Dunia II menghasilkan eksistensi ide sekulerisme melalui demokrasi liberal dan Sosial Komunisme di beberapa negara-bangsa.

Bagi masyarakat Muslim, Dampak yang paling nyata dari peristiwa tersebut adalah runtuhnya simbol-simbol Islam pada konteks kehidupan bernegara dan hilangnya pengaruh sistem pemerintahan Islam di perpolitikan Internasional.

Bacaan Lainnya

Pasca Perang Dunia I Kesultanan Turki Utsmani sebagai benteng sistem kekhilafahan Islam telah runtuh pada tahun 1923 yang mengakhiri untuk selamanya sistem pemerintahan Khilafah dalam bentuk negara di seluruh dunia—tidak lagi ada kekhalifahan.

Sedangkan, pasca Perang Dunia II melahirkan Perang Dingin yang melibatkan blok Barat di satu sisi dan blok Timur di sisi lain, dimana keduanya merupakan penerapan dari nilai-nilai sekulerisme yang mengesampingkan sejauh mungkin nilai-nilai agama (baca: Islam) dalam konteks kepemimpinan dan kehidupan bernegara.

Pada masa perang dingin itulah pengaruh sistem kepemimpinan Islam benar-benar runtuh dan tidak menemukan bentuk idealnya, sehingga menyebabkan hampir di semua Negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, dari ujung Afrika Utara di Barat hingga Asia Tenggara di Timur harus mengadopsi nilai-nilai sekulerisme sebagai pondasi kepemimpinan Negara (Voll, 1997: 390).    

Penerapan nilai-nilai sekulerisme dan kepemimpinan demokrasi di dunia Islam mengalami dinamika yang beragam.

Disatu sisi mendapatkan dukungan sehingga mampu menjadi suatu bentuk negara dan disisi lain mengalami kontradiksi dan mengakibatkan gagalnya sistem tersebut menjadi sebuah nilai kepemimpinan.

Di satu kawasan Muslim tertentu faham sekulerisme mengalami benturan yang cukup keras sehingga membutuhkan cara-cara kekerasan dalam menerapkannya dan disisi lain justru mampu bermetamorfosis menjadi nilai-nilai yang menyatu dengan masyarakat muslim sehingga menggunakan cara-cara yang cukup lunak dalam menyerapnya.

Namun cara-cara keras dan lunak ini selamanya juga tidak bisa konsisten dalam satu waktu, pada waktu tertentu terkadang bisa lunak tapi di waktu lainnya juga bisa menggunakan kekerasan (An-Na’im, 2007: 257). (Siti Fatkhiyatul Jannah)    

Pos terkait