Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PERANG BERKECAMUK DI TENGAH PANDEMIK, ISLAM NUSANTARA JADI SOLUSI

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Kompas edisi 30 April 2020 menampilkan informasi tentang terus berkecamuknya peperangan di beberapa negara konflik, di negeri Arab, Asia Tengah, Afrika, hingga Amerika Latin. Peperangan ini terjadi di tengah-tengah dunia sedang “berperang” menghadapi pandemik.

Dunia kompak menghadapi covid-19 sebagai musuh bersama yang harus diperangi dengan segala cara. Dunia kesehatan bergerak tanpa lelah menciptakan inovasi pengobatan, memberikan pelayanan perawatan pada korban, dan juga memaksimalkan jam kerja untuk mengurangi jumlah penderita menjadi garda depan dalam pertempuran menghadapi “alien” yang kasat mata ini.

Sejak memasuki tahun awal 2020 dunia terus dihantui dengan “ganasnya” virus yang menyebar begitu cepat—baik oleh keberadaan virus itu sendiri atau oleh derasnya arus informasi media cetak dan media virtual. Seolah tak terbendung, semua negara langsung mendapatkan “serangan dadakan” dari “pasukan-pasukan” covid-19.

Pemerintahan di seluruh dunia cemas, mengambil berbagai kebijakan untuk memberikan kenyamanan kepada warganya agar aman dari serangan virus. Hampir semua belahan dunia, 156 negara telah positif menyatakan tertular dan dirasuki oleh virus korona.

Namun “musuh bersama” ini tidak menyelesaikan urusan untuk menyatukan barisan bagi semua lapisan masyarakat agar kompak, yaitu dalam rangka menghentikan kepentingan pribadi guna bersatu menghadapi kepentingan bersama melawan korona. Perang tetap saja menjadi adegan yang terus ditampilkan sebagai ajang untuk memperpanjang konflik yang terus membawa di negara-negara yang terlibat perang saudara.

Selain di Suriah yang terus membara oleh pertikaian antar kelompok pemerintah dan pemberontak, di Libya, Sudan Selatan, Yaman dan Irak malah semakin parah dan terus membara. Ledakan bom bunuh diri, serangan terhadap fasilitas pemerintah, peluncuran roket, dan baku tembak terus terjadi di daerah-daerah tersebut. Di Afghanistan, Mali, Kolombia dan Republik Afrika Tengah juga masih terus berlangsung konflik antar pihak yang “belum sepakat” tentang pembentukan negara.

Nampaknya sinar perdamaian masih belum bersinar di negara-negara itu. Korbannya lebih banyak warga sipil, manula, perempuan dan anak-anak yang tidak mengerti sama sekali tentang konflik militer, politik dan tata negara. Yang mereka inginkan hanya hidup damai, nyaman, dan bisa menikmati kehidupan bersama keluarga secara normal.

Dan perang tidak mewujudkan harapan itu, hanya sekedar mimpi bunga tidur yang tidak memberikan wujud nyata dalam kehidupan.

Upaya-upaya PBB untuk menghentikan konflik belum maksimal dijalankan, masih tarik ulur di forum resolusi yang terus direvisi dan menunggu rapat. Pasukan keamanan yang dibentuk oleh PBB sebagai polisi dunia belum juga mampu memberikan perlindungan dan meningkatkan keamanan bagi masyarakat di negara-negara konflik.

Di Suriah, pada selasa, 28 April 2018 tepatnya di kota Afrin yang dikuasai SDF-Turki terjadi ledakan bom kendaraan yang menewaskan 40 orang. Pihak Turki langsung menunduh YPG (Para Militer Kurdistan) sebagai pihak yang bertanggungjawab. Perseteruan pun terus dipupuk untuk terus mengobarkan peperangan. Pihak Turki langsung melakukan penyisiran pada titik-titik yang dikuasai oleh YPG.

Di Kolombia, pada 1 Mei 2020 kelompok Gerilyawan memulai oeprasinya lagi guna melakukan perlawanan bersenjata menghadapi pasukan pemerintah. Keadaan ini semakin memperparah warga Kolombia yang sudah lama lelah dengan keberadaan kontak senjata dan permasalahan kemiskinan yang mendera bangsanya.

Di Yaman, kelompok pemerintah dukungan koalisi Arab Saudi terbelah menjadi dua, sehingga menambah barisan kelompok bersenjata yang terlibat di Yaman menjadi tiga kelompok yang saling berperang dan melanjutkan konflik bersenjata di wilayah Jazirah Arab Selatan itu.

Di Libya, sejak lepas dari pengaruh kekuasaan Khadafi kondisi negara Arab Maghrib itu belum sepenuhnya terkendali. Dua kelompok yang berpengaruh dukungan Turki versus dukungan Arab Saudi masih belum sepakat untuk membentuk negara bersama. Upaya-upaya perdamaian yang digalang oleh Uni Eropa selalu menuai kegagalan dan tidak memuaskan kedua belah pihak. Sehingga pertempuran pun terus dilangsungkan. Pasukan bayaran dari Sudan semakin menambah ruwetnya konflik yang berakhirnya sulit untuk diprediksi. Mereka berdatangan dengan iming-iming gaji besar dari pihak yang menyewanya, baik pihak Barat maupun pihak Timur Libya.

Di Afghanistan, kesepakatan Amerika Serikat dengan Taliban tidak memuaskan kelompok lainnya. ISIS cabang Hudaibiya (Afghanistan) langsung merespon perdamaian itu dengan meledakkan bom di kawasan provinsi Baluchistan sehari setelah penandatangan perjanjian dilakukan. Peta pertempuran pun terus berlangsung melibatkan pihak-pihak yang berbeda kepentingan politiknya, baik pihak Pemerintah Afghanistan, Amerika Serikat, Taliban dan juga ISIS serta milisi-milisi lokal lainnya.

Keberadaan covid-19 tidak memberikan efek jerah sementara, berdamai sejenak, atau menghentikan baku tembak antar kelompok untuk bersama-sama memberikan solusi menghadapinya. Alih-alih perdamaian dan gencatan senjata bisa efektif dijalankan, perang terus menjadi jalan keluar untuk menunjukkan eksistensi masing-masing kelompok.

Bisakah konflik bersenjata ini dihentikan? Tentu saja bisa, asalkan pihak-pihak yang berkonflik mau melonggarkan sedikit nafsunya untuk saling memaafkan dan membuka komunikasi untuk bersama-sama membangun  negara. Bukankah sebuah pemberontak merupakan entitas politik yang terpinggirkan, dan membutuhkan ruang untuk menyampaikan aspirasi politiknya?

Jika komunikasi antar kelompok bisa dilakukan, suplai senjata oleh negara pendukung dihentikan, jaringan gelap pejualan senjata distop, dan konspirasi “penguasaan aset” negara-negara besar, serta upaya menancapkan kekuasaannya negara kuat di daerah konflik segera dikendurkan, tentu perdamaian akan tercapai dan masyarakat bisa membangun negaranya kembali secara berlahan-lahan.

Adanya penyebaran covid-19 hendaknya menjadi intropeksi diri antar pihak (internasional) untuk menghentikan pertempuran. Turki tidak perlu bersikap “tegas” dan keras terhadap Kurdi, pihak-pihak di Afghanistan hendaknya memahami kepentingan bersama dari pada kepentingan kelompoknya, pemerintah Kolombia hendaknya duduk bersama dengan pemberontak membicarakan negara yang makmur, Arab Saudi dan Iran hendaknya pula menahan diri di Yaman sehingga tidak membuat permasalahan semakin berat, dan negara-negara besar seperti Cina, Amerika Serikat, Rusia, Uni Eropa dan India hendaknya lebih mengarahkan kekayaannya untuk membantu negara-negara lainnya yang miskin agar bangkit dari keterpurukan ekonomi dan politik.

Langkah solutif dan upaya perdamaian dari Indonesia bersama para ulama-ulama pondok pesantren seharusnya dijadikan model global untuk menciptakan perdamaian. Pengalaman Indonesia kala menghadapi GAM, menyambung persahabatan dengan Timur Leste, merangkul gerilyawan di Papua dan beberapa nilai-nilai luhur bangsa Indonesia patut menjadi teladan terbaik bagi dunia untuk “mengobarkan” perdamaian.

Hal ini didukung dengan sikap baiknya Indonesia terhadap negara-negara konflik. Dengan Amerika dan Cina yang sedang berperang dagang—Indonesia berhubungan baik, dengan Iran, Rusia, Turki, Suriah, Afghanistan, Pakistan, India, dan negara-negara yang sedang berseteru—indonesia juga baik dan dikenal bersahabat. Sehingga tidak mengherankan jika peranan Indonesia dan budi luhur yang dirawat dalam tradisi pemikiran pesantren Nahdliyin paling layak untuk dieksport dan dijadikan teladan bagi negara-negara yang berkonflik.