Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PENYEBARAN FITNAH-WABAH DI KECAMATAN PALANG

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Keberadaan Corona di kecamatan Palang Kabupaten Tuban Jawa Timur benar-benar dinyakini oleh kalangan komunitas santri kritis di kitasama sebagai sebuah fitnah, bukan wabah. Ia hadir dan dipaksa hadir oleh oknum-oknum media internet, media cetak dan netizen. Terbukti dengan adanya dua kasus kematian warga kecamatan Palang yang secara “serampangan” dinyakini sebagai positif terjangkiti virus corona.

Warga desa Tasikmadu dan Karangagung, yang meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya komplikasi, ada jantung, paru-paru, darah tinggi dan stroke ringan tanpa melewati prosedur pemeriksaan yang berstandart tiba-tiba dinyakini dan diviralkan sebagai terjangkit corona. Kebetulan mereka berdua meninggal dunia dari Rumah Sakit di Tuban dan baru pada posisi tahap ODP.

Kecepatan media virtual yang secara membabi-buta memberikan berita tentang penyebab kematian dua warga Palang tersebut menjadikan netizen sok tahu dan sok menyebarkan berita ke beberapa media lainnya sebagai bentuk “peringatan”. Hal ini mendorong dugaan-dugaan yang menyakitkan dan perasangka yang tidak berdasar terhadap masyarakat di dua desa tersebut untuk dipaksa melakukan PSBB atau Kekarantinaan Kesehatan.

Kepala Desa Tasikmadu merespon dengan cepat menerapkan tindakan PSBB dan menutup seluruh jalur yang masuk ke desanya. Pasca kematian warganya itu desa tersebut menjadi salah satu desa yang “berwarna merah” dan menjadi zona “terlarang” bagi masyarakat lainnya.

Berbeda dengan kepala Desa Karangagung yang lebih cerdas dan bijaksana. Beliau langsung memberikan keterangan dan penjelasan secara tegas bahwa warganya yang meninggal disebabkan oleh kematian penyakitnya yang sudah diderita (jantung) dan sudah menjangkitinya sejak lama. Setelah menjalani tes dari RSNU Tuban warganya negatif Corona dan mati secara alami. Akhirnya desa Karangagung tetap aman dan kebal dengan fitnah yang tidak ada ujungnya ini.

Melihat kasus kematian warga dua desa di kecamatan Palang ini tentunya dapat ditarik pelajaran penting ditengah maraknya kabar cepat online, kabar hoax, kabar-kabar tanpa dasar ilmiah melalui internet, dimana masyarakat semakin terbodohkan dan dibuat panik dengan adanya informasi yang tidak menyehatkan pikiran.

Berita-berita yang belum jelas diproduksi, diciptakan, dan dimodifikasi secara “bahasa tulisan” yang menggiring otak oleh para “penulis-penulis” online, kemudian disebarkan dan dibaca oleh masyarakat yang tiap hari sudah memanfaatkan android di tangan. Dengan semakin dekatnya media-media virtual ditangan (dalam genggaman) masyarakat tentunya semakin mempermudah bagi mereka untuk membacanya dan mengkonsumsinya. Akibatnya, yang tersusun pada otak bawah sadar masyarakat adalah pemahaman yang salah dan upaya-upaya sok “pintar” dan sok “memberi kabar” menjadi trend bagi masyarakat awam.

Kebanyakan yang men-copy-paste kabar-kabar tersebut, atau mengirim ulang kabar-kabar tersebut melalui media watshapp adalah masyarakat awam yang tidak melek literasi, tidak rajin membaca buku, tidak rajin diskusi ilmiah, tidak pernah menggunakan nalarnya untuk berfikir. Mereka adalah orang-orang yang menghabiskan waktunya untuk nonton hiburan video youtube, sibuk dengan status tidak jelas di facebook,  nonton televisi, “ngerumpi”, dan cangkruk’an di warung-warung kopi yang berbicara “materi tanpa ujung”.

Pada diri mereka informasi diterima—tanpa diolah—yang dengan cepat langsung disebarkannya. Di tangan mereka informasi tanpa disaring dan tanpa didiskusikan. Rata-rata langsung dikabarkan dan “sok diberikan” kepada nomor lainnya.

Sebuah informasi, yang benar dan baik sekalipun (apalagi yang salah), jika diterima oleh otak yang tumpul dan hati yang tertutup pengetahuan (karena tidak pernah membaca buku, diskusi, dan berdzikir) akan berubah menjadi informasi yang menyesatkan dan merusak keberadaan masyarakat. Bisa menimbulkan kepanikan, kegalauan, kebimbangan, dan perasaan takut terhadap hal-hal yang tidak nampak.

Akibatnya, informasi yang benar yang dipahami secara salah dan disampaikan dengan salah-kaprah pula tidak akan mampu memberikan wawasan yang menyehatkan kepada masyarakat, justru menjadi sebuah fitnah yang “lebih kejam dari pada kematian” itu sendiri terhadap ketenangan batin masyarakat.

Seandainya memang korona itu virus, dan dia memang benar-benar bisa menjangkiti manusia, itu masih biasa dan wajar. Perlu dipahami bersama, bahwa keberadaan corona sebagai virus itu jauh lebih kejam keberadaan informasi-fitnah yang ditimbulkan oleh corona. Virus corona hanya menjangkiti dan masih membutuh banyak tahapan untuk bisa dikatakan positif (menderita), namun fitnah-fitnah yang menyebarkan kematian akibat corona jauh lebih menyakitkan, memberikan rasa cepat, traumatik, dan tertekan terhadap ketenangan hidup masyarakat.

Oleh karena itulah, kasus kematian warga di kecamatan Palang hendaknya menjadi pelajaran bersama bahwa sering kali kematian akibat virus corona itu lebih banyak dibuat-dibuat dari pada kenyataannya yang sebenaranya. Karena pada kenyataannya banyak warga yang meninggal secara wajar akibat penyakitnya, namun karena meninggal di Rumah Sakit dan dalam masa-masa galau Corona sehingga kematiannya itu pun disalahinformasikan sebagai “Akibat Corona”.

Terkait hal ini yang paling berperang memberikan pemahaman dan rasa nyaman pada masyarakat adalah kepala desa setempat, yaitu tidak sembarangan memberikan informasi yang salah dan tidak pula menyebabkan kepanikan pada masyarakatnya.