Oktober 29, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PENYEBAB MELETUSNYA PERANG DUNIA KEDUA (Bagian Kedua)

Salah satu sudut kota di Jerman yang hancur lebur akibat serngan bomber Sekutu

Oleh :

Moh. Syihabuddin

 

  1. TATANAN DUNIA BARU BAGI MASYARAKAT EROPA

Pasca Perang Dunia I Eropa terpecah belah dan rusak parah. Kediktatoran dan pemerintahan totalitarian dianggap sebagai biang kehancuran dan peperangan besar. Presiden Amerika W. Wilson berinisiatif menjadi “nabi” perdamaian dan pencerahan bagi masyarakat Eropa. Dibangunlah Eropa itu dengan konsep dia membangun Amerika. Negara Bangsa. Bukan sebuah kekaisaran, kesultanan, atau kerajaan serta keTsaran yang pernah ada di daratan Eropa, karena sistem negara seperti itu hanya melahirkan perang besar.

Presiden Wilson membagi Eropa menjadi negara yang dibangun atas dasar kebangsaan. Orang Kroasia maka harus membentuk negara Kroasia, orang Serbia harus membentuk negara Serbia, orang Polandia harus membentuk negara Polandia, dan lain sebagainya.

Sekilas nampak baik model yang diterapkan oleh Wilson ini, melihat konsep yang hampir sama dengan Amerika. Namun pada dasarnya menimbulkan banyak masalah. Misalnya, wilayah yang dianggap sebagai Cekoslovakia ternyata juga ada orang Jerman yang tetap ingin menjadi bagian dari Jerman Raya, orang Muslim di Bosnia dipaksa menjadi Serbia dalam persatuan Yugoslavia yang sangat merugikan kepentingan orang Bosnia dan Herzegovina. Akibatnya model ini menyebabkan beberapa wilayah menimbulkan konflik sektarian dan rasis.

Wilson pun membentuk Liga Bangsa-Bangsa sebagai wadah negara-negara baru di Eropa, dan tentunya dengan anggaran dan belanja dari perusahaan-perusahaan dari Amerika.

Pembentukan LBB ini menuai kritik dan lebih mementingkan kepentingan negara-negara pemenang perang. Akibatnya, Jerman sebagai negara yang sangat dirugikan mengundurkan diri dan menganggap LBB tidak efektif sebagai wadah bersama bangsa-bangsa Eropa.

Melihat tatanan baru yang dibentuk menuai kegagalan maka dibutuhkanlah sebuah peristiwa baru untuk memperbaiki keadaan agar sesuai dengan keinginan Amerika. Dibuatlah Perang Dunia II agar Eropa kembali porak-poranda dan bisa kembali diatur ulang menjadi sebuah komunitas yang menguntungkan Amerika dan sekelompok kalangan elit Globalis.

Dan Jerman dengan Nazi serta Adlof Hitler yang sedang naik daun di Eropa adalah senjata yang tepat sebagai sasaran untuk membuat alasan kepada dunia agar menyakini bahwa Perang Dunia II adalah benar adanya, sehingga kediktatoran Jermanlah dijadikan penyebab utama meletusnya perang.

  1. RENCANA KAUM ZIONIS MEMPEROLEH PEMBENARAN ATAS TANAH PALESTINA

Pasca kekalahan Ustmani di front Timur Tengah dalam Perang Dunia I menyebabkan beberapa provinsi Arab dibagi menjadi beberapa bagian oleh Inggris-Perancis beserta sekutu-sekutu Arabnya. Wilayah Hijaz dan Nejed sepenuhnya milik wangsa Sa’ud. Sedangkan kawasan Suriah Raya dibagi menjadi beberapa wilayah milik Inggris dan Perancis. Termasuk di wilayah Afrika Utara yang kaya.

Salah satu yang diuntungkan dengan kekalahan Ustmani dan pembagian tanah di provinsi Arabia tersebut adalah kaum Zionis, yang menginginkan negara khusus bangsa Yahudi yang bernama Israel.

Gagasan negara Israel tidak menarik bagi Yahudi Eropa atau Amerika. Banyak Yahudi Eropa yang ingin tetap di Eropa dan menikmati tanah Eropa. Akibatnya Israel miskin peminat dan menjadi negara yang memimliki penduduk sangat sedikit.

Disamping itu kehadiran bangsa Yahudi-Eropa ke tanah Arab menimbulkan masalah dan ketidakakuran dengan tetangga-tetangga Arabnya yang sama-sama baru menjadi sebuah negara, seperti Jordania, Mesir, Suriah, dan Lebanon. Bentrok sering terjadi dan menyebabkan Israel menjadi negara yang tidak memiliki kawan yang baik di kawasan.

Untuk menstabilkan eksistensi Israel sebagai negara inilah gerakan Zionis memerlukan Justifikasi untuk membenarkan tindakannya mengajak bangsa Yahudi ke Eropa dan menduduki tanah Arab Palestina.

Nazi-Jermanlah yang cocok sebagai alat untuk “membenci” Yahudi Eropa, yang dengan salah kapra mengidentifikasi ke-Jermannya sebagai ras Arya.

Saat Yahudi diberitakan oleh media dimusnahkan oleh Nazi maka dengan mudah Zionis bisa mengatur eksodus warga Eropa Yahudi menuju ke Palestina.

Selain itu, dengan menjadikan perang besar di Eropa maka pengusaha-pengusaha Yahudi diuntungkan dengan keterlibatan mereka dalam menyediakan pabrik-pabrik otomotif perang, makanan, rokok, senjata, amunisi, dan makanan bagi kepentingan perang. Lebih hebatnya, dengan memanfaatkan isu pembantaian Yahudi-Eropa oleh Nazi-Jerman maka Israel mendapatkan keuntungan yang besar dari Jerman dan Swiss untuk mengklaim sebagai bangsa yang paling menderita perang.

  1. RENCANA KOMUNISME-LIBERALISME MENGUASAI DUNIA

Ide dan gagasan Nasional-Sosialisme Jerman sangat berbeda dengan Komunisme dan Liberalisme. Jika Nasionalisme-Sosialisme menginginkan ketuhanan, persatuan bangsa, demokrasi kerakyatan, keadilan sosial, dan persamaan hak serta pemerataan ekonomi maka Liberalisme dan Komunisme mengingkan “kediktatoran” tersirat maupun tersurat.

Liberalisme mengingkan kekayaan hanya berpusat pada sekelompok kapitalis kaya, sedangkan komunisme mengingkan pemiskinan secara masif-terstruktur terhadap rakyat dan kekayaan milik segelintir penguasa negara.

Gagasan Liberalis dan kaum komunis inilah yang ditentang oleh pemikiran Nasional-Sosialisme. karena akan sangat merugikan kepentingan kelompoknya untuk menguasai kekayaan yang sudah lama mereka serap melalui sistem kapitalisme, imperialisme, dan merkatalisme.

Oleh karena Jerman berhasil membentuk negara dengan landasan Nasional-Sosialisme maka sudah sewajarnya jika Jerman harus dilumpuhkan dan dimusnahkan agar tidak menyebarkan gagasannya ke seluruh Eropa. Tidak salah jika Uni Soviet akan dibantu oleh anggaran dari Amerika melalui transaksi sewa-pinjam untuk membangun pabrik dan senjata demi memerangi Jerman.

  1. KETAKUTAN BANGSA-BANGSA IMPERIALIS AKAN KEBANGKITAN NASIONALISME

Ketakutan Inggris dan perancis, serta Amerika adalah munculnya kesadaran bangsa-bangsa koloninya untuk bergerak memerdekakan dirinya menjadi negara yang berdaulat. Jerman dengan kemenangan Nazi sangat berpotensi membantu bangsa-bangsa yang tertindas ini untuk memberontak melawan Inggris atau Perancis.

Sebagaimana diketahui tokoh-tokoh Hindia Belanda sangat intensif berkomunikasi dengan tokoh-tokoh Nazi, golongan nasionalisme Iraq, Suriah, Mesir, Palestina dan beberapa negara republik di Arab sangat dekat dengan Nazi (kecuali yang berbentuk kerajaan seperti Arab Saudi atau Maroko) dan para nasionalis Hindustan sudah akrab dengan tokoh-tokoh Nazi. Masih banyak lagi, termasuk negara-negara di Amerika Latin yang sangat membenci Amerika Serikat.

Kedekatan Nazi dengan kaum nasinalis ini cukup berbahaya dan mengancam imperialisme Inggris-Perancis di seluruh dunia. Sebuah rencana besar dan matang harus dilakukan untuk melumpuhkan Adlof Hitler dan Nazinya di Jerman.

Dengan bekerjasama bersama Uni Soviet dan Amerika maka cukup efisien cara yang ditempuh oleh Inggris-Perancis guna menghancurkan Jerman. Dijadikanlah Jerman negara pemicu untuk memulai perang dan hebatnya Sekutu jauh-jauh hari sudah menyiapkan perang untuk menang di tempat yang jauh dari jangkauan senjata Jerman, yaitu Amerika. Tujuannya jelas, agar gagasan Nasional-Sosialisme yang bertentangan dengan nilai-nilai kapitalisme Liberalisme dan Komunisme bisa digagalkan menyebar ke seluruh dunia.

Walaupun pada kenyataannya Jerman-Nazi kalah, pasca perang dunia II banyak negara-negara koloni yang memberontak melawan penjajahnya dengan mengikuti pola-pola yang dikembangkan oleh Adlof Hitler.

bersambung …