Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PENDUDUK LANGIT

oleh :

TUTIYANI TASMAN

Kau tak seharusnya bermimpi sebagai penduduk langit, sedangkan raga dan hatimu masih melekat di bumi. Tempatmu masih di bumi, meskipun katamu becek, katamu kotor katamu banyak sekali yang menyakitkan. tapi inilah tempatmu.

Bukan keluh kesah ataupun sumpah serapah yang seharusnya kau ucapkan. Kau seharusnya menyatu dengan apa-apa yang telah bumi sedikan. Aku tau, dari sini langit memang terlihat sangat anggun. Menggodamu untuk segera kesana. Tetapi lihatlah pada sekitarmu. Bumi juga menyiapkan pemandangan yang menajubkan. Hamparan padang rumput yang hijau. Luasnya samudra yang membelah pulau. Mereka tak kalah indah dengan apa yang kau impikan di langit.

Jika benar kau sangat memimpikan berada di langit, lalu sudah siapkah dirimu menjadi penduduk di sana. Kau pikir kau hanya akan menyaksikan ketenangan dan kedamaian di sana? Ah jika begitu harapanmu akan pupus. Kau salah. Tempat yang sangat kau impikan itu juga menawarkan banyak kesedihan. Apa-apa yang terjadi di sana tampak lebih kejam, dari pada apa yang bumi berikan.

Langit yang kau lihat saat ini hanyalah kumpulan awan yang mempesona. Kadang-kadang angin menyapu segala awan, menampakan wajah birunya yang perpancar bersih. Kau semakin tergoda bukan? Apalagi kalau senja tiba. Merah keemasan yang langit tampakan amat membuatmu terpikat. Dan ketika matahari perlahan pulang, tiba saatnya kau tersenyum pada bintang.

Hanya keindahan-keindahan itu yang kau mampu lihat dari Langit. Sayang, kurasa kau lupa. Ketika langit marah, tidak hanya penduduknya saja yang tersakit, namun juga penduduk seluruh alam semesta. Guntur, suara dari langit itu bahkan membuat seluruh penduduk bumi ketakutan. Apalagi jika terjadi saat matahari masih bersembunyi. Listrik padam, angin kencang. Bumi ikut goncang karena kemarahan langit.

Kau lupa saat langit sedang menangis, penduduk bumi dibuat kalap olehnya. Jemuran yang basah kembali, pendagang es yang mengeluhkan dagangannya, basah air di mana-mana. Bahkan ia kesedihannya amat dalam, bumi bisa saja dibuatnya tenggelam.

Lalu masihkan kau memimpikan menjadi penduduk langit untuk sekarang? Kau, berhentilah berangan-angan. Tidak tau apakah perjalanmu di bumi masih panjang atau sudah dekat perjalan menuju pulang. Tapi, ingatlah tempatmu sekarang di bumi. Jika banyak kesedihan dan kesakitan yang kau terima, maka terimalah dengan hati yang lapang. Memang berat dan sulit, tapi inilah bumi. Kau harus beradaptasi.

Tentang mimpimu berangkat ke langit, tidak salah memang. Tapi sebaiknya kau pelajari saja dulu apa-apa yang akan kau lakukan di sana. Apa yang harus kau lakukan jika ternyata kau ditolak untuk kesana. Apa yang akan terjadi jika langit bersungut sendu. Kau perlu mempelajari ini.

Kelak jika waktunya telah tiba, mereka para penduduk langit akan menjemputmu. Kau tak perlu repot mencari jalan untuk kesana. Mereka akan membiarkanmu terbnag dengan mudah menuju rumah barumu di langit.

Ingat, persiapkan saja. Jika kau mau, kau bisa menyiapkannya bersamaan. Beradaptasi menjadi penduduk bumi dan belajar menjadi penduduk langit. Rasa syukur, bersikap ramah, bersabar, mereka akan membuatmu nyaman di bumi dan membuatmu selamat di langit kelak.

Sekali lagi ingat, kau masih penduduk bumi. Sekarang nikmati saja dulu secangkir kopi yang ditumbuhkan bumi. Secangkir yang baru saja aku seduh unutkmu. Supaya kau tenang, supaya kau betah tinggal di bumi berada di sisiku. Dan supaya kita bisa bersama-sama memikirkan bangunan istana di antara daratan langit kelak.