Oktober 29, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PENDEMIK, ANCAMAN MASA DEPAN ANAK-ANAK

oleh : Imam Sarozi

 

Hari ini Edward Husserl menyadarkan tentang fenomena harus dibaca sebagai realita yang kita lihat dengan batasan indra mata. Yang artinya prasangka jangan ada di dalamnya. Karena akan merusak ke-asli-annya. Berangkat dari prasangka semua huru-hara menjadi adanya. Dengki, iri, negative thingking menjadi angin yang aktif meniupkan desas-desus membakar pransangka lebih berkobar menjalar ke seluruh raga. Seperti nyala api yang membakar kering ranting pepohonan.

Covid-19 sudah bukan menjadi bahan candaan renyah di tongkrongan warung kopi atau di bilik-bilik suram masyarakat awam. Bahkan di kalangan elit pemerintahan pun pembahasan pandemik ini sudah seperti laga serial drama bergenre romantic action. Kadang-kadang muka sedih meratapi, pasang wajah garang karena di anggap tak serius, dan kadang juga bersikap slow-slow aja penting sudah usaha. Namun Terlepas dari semua itu memang ini benar-benar virus ataukah hanya retorika konspirasi perekonomian, kekuasaan, bisa jadi juga gerakan “Pencucian” Kultur budaya keislaman yang ada Indonesia. Masyarakat membutuhkan rasa aman, nyaman, dan kesejahteraan pangan tetaplah terjamin.

Fatih Undru seorang komika (Sebutan bagi profesi STAND UP Comedy) pernah mengatakan:

“Kalau ada anak kecil dipisahkan sama coklat itu seperti Indonesia tanpa burung garuda” yang artinya ketika identitas sudah terpisahkan dari individu tersebut, maka ibarat sebuah emas pertama yang tak ada nilai jualnya.

Menyikapi kondisi Negara yang masih galau gegana penuh cabik-cabikan yang meneteskan darah, di tambah dengan serangkaian kebijakan di berbagai sektor masih seperti gasing yang tak menemui titik konsentrasi. Berputar-putar. Pusing. Lalu berhenti. kita perlu menelaah secara perlahan dan menyikapi secara bersama jika ini bukan hanya tentang solusi keluar dari pandemi ini tapi juga perihal mengembalikan suka cita kehidupan  anak-anak secara psikologis.

Mungkin banyak yang beranggapan jika sekarang anak-anak sedang menikmati masa liburan panjang. Tapi cobak kita perhatikan secara seksama dan dalam tempo yang agak lama anak-anak kita, tetangga kita, sanak saudara kita. Di balik sorot mata lugunya ada rindu untuk saling sapa dengan temannya di sekolah, masjid, mushola, dan TPA. Ada kejenuhan yang hingga ke dalam benak mereka, tentang tugas-tugas sekolah yang tak kunjung selesai.

Ki Hajar Dewantoro pernah mengatakan; “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat Itu”