Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PEMERKOSAAN ISTILAH HIJRAH, DARI PERJALANAN SUCI MENJADI BUDAYA POP HIPER-REALITA

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Hijrah merupakan perjalanan suci yang dilakukan oleh Rasulullah shallahu’alaihi wassalam dan sahabatnya menuju ke sebuah lokasi yang lebih aman dan nyaman untuk mengamalkan ajaran Allah. Hijrah merupakan perjalanan nyata, perjalanan yang melibatkan gerakan dan upaya keras menuju ke sebuah tempat tertentu. Di tempat yang dituju inilah harapan untuk menjalankan Agama secara nyaman, aman, dan membahagiakan bisa tercapai.

Sepanjang sejarah Hijrah di masa Rasulullah shallahu’alaihi wassalam pernah dilakukan dari Mekkah menuju ke Habasyah, Thaif, dan Yasrib. Selain itu tidak ada lagi istilah hijrah digunakan oleh sejarawan muslim untuk mengidentifikasikan sebuah perjalanan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah atau para sahabatnya, maupun tabi’in.

Misalnya, perjalanan Husen bin Ali bin Abu Tholib bersama rombongannya menuju ke Karbala (Iraq) tidak disebut hijrah. Perjalanan Khalifah Ali bin Abu Tholib yang memindah ibukotanya dari Madinah ke Kuffah tidak disebut hijrah. Dan perjalanan Abdurrohman dari Baghdad menuju ke Andalusia, untuk menghindari kejaran para inteljen Abbasiyah juga tidak disebut dengan hijrah.

Gerakan kaum Islamis, kelompok sempalan Radikalisme-Fundamentalisme dewasa ini telah menggunakan istilah hijrah bukan sebuah perjalanan fisik yang pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tapi sebuah perubahan diri, sebuah pertaubatan dari kemaksitan menuju kesholehan dalam menjalankan ajaran Islam. Perjalanan pertaubatan ini dilakukan tidak dalam upaya memaksimal menjalan ibadah dan amaliyah Islam, tapi perubahan bentuk penampilan luar, life style yang diwujudkan dalam berpakaian. Hijrah menjadi jalan pertaubatan dengan cara berpakaian ala Arab, bercadar, dan menggunakan pakaian tanpa ada motif dan hiasan. Lebih-lebih dengan bentuk kerudung besar, celanan cingkrang, topi Afghanistan, serta wajah berjanggut (tipis yang dipaksa tebal).

Dari sinilah kemudian ada perubahan makna Hijrah yang sesungguhnya, dari sebuah perjalanan fisik menuju ke tempat lain menjadi perubahan penampilan ala Arab untuk menjadi muslim sejati. Ini merupakan bentuk sebuah pemerkosaan kalimat, yang dirusak dengan istilah dan pengertian yang berbeda nan jauh dari makna-istilah yang sesungguhnya. Pemerkosaan istilah ini menjadi senjata yang cukup ampuh untuk mempengaruhi masyarakat awam agar mengikuti langkah-langkah politisnya.

Pemaknaan hijrah yang disalahgunakan menjadi penampilan fisik, cara berpakaian (cadar dan celana cingkrang), dan gaya penampilan (berjenggot) menjadikan Islam sebagai agama tak ubahnya sebuah pasar yang bebas melakukan promosi dan menampilkan iklan. Agama menjadi pasar yang menjijikkan, penuh dengan bujuk rayu, dan menjadi lahan untuk mencari keuntungan serta sarana yang bebas untuk melahirkan penipuan, manipulasi dan rekayasa.

Ketika hijrah diartikan dengan berpenampilan bercadar maka Islam sudah mulai rusak dan jatuh seperti halnya sebuah lahan-lahan kapitalis lainnya. Islam tidak lagi agama yang suci, agama yang tinggi meninggikan dan agama yang mulia dimuliakan, namun sebuah pasar yang mempunyai tujuan untuk mencari keuntungan finansial yang sebanyak-banyaknya. Islam semakin jatuh dan setara dengan pasar yang bisa menjual apa saja, baik yang halal maupun yang haram. Agama pun tidak lagi tinggi, tidak lagi mulia dan tidak lagi suci.

Dengan menampilkan cadar sebagai sebuah “Hijrah” menuju jalan kebenaran, alih-alih jalan yang benar untuk menjadi Muslim yang sempurna menjadikan Islam semakin rusak dan terjerumus dalam pusaran kepentingan ekonomi dan politik budaya populer. Orang yang bercadar atau bercelanan cingkrak, dan berjubah tidak beda dengan penampilan para K-pop, genk Punk, dan anak-anak Neo-Nazi yang mengkampanyekan ide-ide radikalisme-fundamentalisme ala atheisme-kapitalisme.

Tragisnya, generasi muda minoritas muslim radikalisme ini, yang menonjolkan penampilan cadar—mereka bebas berpenampilan di media virtual (facebook, instagram, atau twitter) merupakan perilaku yang tanpa dasar dan tanpa landasan historis. Mereka menonjolkan penampilan dan menonjolkan sisi-sisi yang tidak sama sekali penting dalam keshalehan dan peningkatan ibadah. Dalam pandangan Jean Bauldilard inilah yang disebut dengan Hiper-Realita, sebuah kondisi kepalsuan yang dibentuk dari sebuah kepalsuan lainnya.

Penampilan bercadar bukan ajaran Islam dan bukan pula berakar dari tradisi ajaran agama-agama sebelumnya. Bercadar hanya bentuk penampilan luar dan bentuk lifestyle yang sama dengan berpenampilan bikini, atau telanjang di pantai. Artinya bercadar merupakan sebuah kepalsuan Islam yang dibentuk dari sebuah kepentingan yang tidak ada hubungannya dalam beribadah.

Dengan kata lain, bercadar adalah sebuah kepalsuan yang diciptakan dari sebuah kepalsuan lain yang didalamnya diciptakan untuk membentuk identitas Islam yang palsu, bukan Islam yang sesungguhnya. Melihat wanita bercadar di media virtual sama dengan melihat wanita berbikini di media yang sama. Melihat penyanyi berjenggot panjang atau wanita berhijab di mall sama dengan melihat para SPG penjual mobil atau rokok. Hal ini dikarenakan derajad wanita pemakai cadar sama dengan para SPG yang menjual produknya.

Oleh karena itulah perubahan makna hijrah, yang diartikan sebagai perubahan bentuk penampilan bercadar, atau berhijab merupakan bentuk pemerkosaan terhadap arti suci hijrah yang sesungguhnya menjadi arti lain yang lebih hina. Hijrah berubah menjadi kalimat yang tidak lagi identik dengan nilai-nilai sejarah peradaban Islam, tapi nilai-nilai yang sama dengan kapitaslime, komunisme, dan radikalisme yang mengarahkan pada kerusakan Islam sebagai agama.