Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PARA ISTRI, “SENJATA RAHASIA” DAN MASKOT SEORANG SUAMI

oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Seorang istri adalah perempuan yang dimuliakan, sehingga harus (menjadi) dinikahi agar halal digauli dan dicampuri dengan segala cara yang baik oleh seorang lelaki. Ia menjadi sosok yang terhormat dan berhak untuk menerima apa yang dimiliki oleh suaminya, baik secara lahir maupun secara batin. Kepemilikan suami otomatis menjadi haknya istri dan menjadi bagian bersama yang sama-sama harus bertanggungjawab untuk melindunginya.

Seorang lelaki yang memberanikan diri untuk menikahi seorang perempuan (satu atau lebih) mempunyai tanggungjawab yang besar dan amanah yang harus dilaksanakan secara konsisten. Tidak hanya dihadapan (1) sesama manusia, namun juga dihadapan (2) sejarah masa depan peradabannya yang akan dijalaninya dan juga (3) Tuhan yang telah disembahnya. Memberanikan diri untuk menikah maka harus pula memberanikan diri untuk menjalankan tugas suci sebagai suami, mengisi jalannya sejarah menjadi kisah yang bermanfaat, dan menjadi hamba Tuhan yang taat lagi patuh.

Seorang lelaki yang gagal memberikan yang terbaik dalam perjalanan hidupnya, seperti tidak bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan, masyarakat dan agamanya tentu akan menjadi manusia “sampah” yang tidak ada bedanya dengan serangga yang hidupnya tanpa tujuan dan arah masa depannya. Pun begitu dengan sosok suami yang gagal menjadi hamba yang baik sepanjang kepatuhannya (ibadah) kepada Tuhannya maka dia juga tidak jauh beda dengan benda mati yang hanya diam dan tidak memberikan keuntungan bagi alam sekitarnya.

Menjadi seorang suami itu jelas sebuah tantangan dan petualangan yang berat. Sosok lelaki yang memberanikan diri untuk menikah tidak hanya berkewajiban membina (dengan ilmu yang bermanfaat dunia-akhirat) bagi istri dan anaknya saja, atau menafkahi dengan harta saja, tapi juga harus mampu membawa keluarganya melewati hidup yang baik hingga sukses menghadapi kematiannya (yang khusnul khatimah). Termasuk tantangannya adalah mampu mengantarkan “kebodohan anak-istrinya” agar menjadi manusia yang cerdas dalam memposisikan diri sebagai manusia.

Dengan kata lain, dalam menghadapai tantangannya sebagai pemimpin dunia atau dunia yang dihadapinya seorang suami ibarat pendekar yang memiliki jimat dan senjata.

“Jimat” Lelaki Menghadapi Tantangannya

Karena tantangan yang berat inilah seorang suami (pendekar) mengharuskan dirinya mempunyai “jimat” atau maskot dan senjata sebagai bentuk “pegangan” berkeluarga, pendamping perjalanan hidup berkeluarga dan “kekuatan” semu menjalani perjalanan usia yang terus bertambah. Maskot dan senjata itu tidak lain adalah apa yang dekat dan paling dekat secara jasmani dengan suami itu sendiri, yakni istrinya. Dari jimat dan senjata inilah kemenangan sang suami ditentukan dan begitu pula nasib kematiannya.

Sosok perempuan adalah jimat bagi suaminya sekaligus senjata. Ia merupakan senjata rahasia yang menjadikan suami kuat atau lemah menghadapi segala tantangan yang ada. Ia juga menjadi sebuah kekuatan bagi suaminya sekaligus menjadi kelemahan bagi suaminya.

Istri adalah ibarat dua mata pisau bagi suami, ia bisa “membunuh” orang yang menikahinya dan bisa pula memberikan kekuatan dasyat bagi lelakinya (suami). Tentunya fungsi ganda ini bisa digunakan oleh suaminya tergantung bagaimana menggunakannya dan memanfaatkan kekuatan yang ada pada istrinya. Jika suami bisa menggunakan dengan baik “kekuatan” istrinya maka suami akan menjadi orang yang paling percaya diri, bangga, merasa hebat, dan seolah hidup ini menjadi miliknya sendiri. Sebaliknya jika seorang suami malah gagal memanfaatkan “kekuatan” istrinya atau gagal menggunakannya sebagai sebuah “senjata” maka suami akan menjadi orang yang murung, tubuhnya kurus, wajahnya tidak semangat, terasa lemah, ingin bunuh diri adalah jalan keluarnya, apalagi jika dituntut cerai (khulu’), maka kiamat sering kali menjadi impiannya dari pada terus hidup menjalani hidup.

Istri bisa berfungsi sebagai senjata dan sekaligus menjadi jimat atau maskot. Ia bisa digunakan untuk “berjaga-jaga” bagi suami agar aman bahwa apa yang dibangunnya mampu memberikan yang terbaik bagi dunia. Dan ia juga bisa digunakan sebagai “senjata” yang membantu suaminya untuk menghadapi “musuh-musuh” yang menghalangi kesuksesannya. Artinya, semakin banyak istri maka akan semakin banyak pula kekuatan “senjata” yang dimiliki oleh seorang lelaki. Dan semakin banyak istri yang dimiliki oleh seorang suami maka semakin banyak pula maskot yang akan menambah kekuatannya dalam melewati tantangannya.

Jimat dan Senjata itu “Rahasia”

Jimat dan senjata merupakan sesuatu yang istimewa, bahkan juga sangat rahasia bagi pemiliknya. Tidak sembarang orang boleh tahu dan boleh menggunakannya. Hanya yang punya saja yang bisa menggunakannya atau menfungsikan kekuatan yang ada di dalamnya. Begitu pula istri, hanya suaminya sajalah yang bisa menggunakannya dan sifatnya sangat rahasia bagi orang lain.

Karena sifat kerahasiaannya inilah seorang istri, seperti halnya jimat dan senjata rahasia tidak boleh dipamerkan atau ditunjukkan kepada orang lain. Istri harus dirahasiakan dan tersimpan dengan baik. Keberadaannya harus tidak diketahui oleh orang lain, apalagi oleh musuh-musuhnya dan para saingannya. Jika kerahasiaan ini bisa terjaga dengan baik maka kekuatan seorang lelaki akan stabil dan semakin mendorong adanya kekuatan baru yang tak tertandingi. Diantranya adalah (1) pekerjaan akan lebih aman, (2) keuangan akan stabil, (3) visi masa depan secara gradual bisa terlaksana, (4) proses pembentukan peradaban bisa berjalan dengan baik, (5) jalan menuju keselamatan bersama bisa tercapai, dan sekaligus (7) keharmonisan rumah tangga bisa terus terpelihara.

Kondisi inilah yang dialami oleh Adlof Hitler, sang pemimpin besar negara Jerman-Nazi dan negarawan modern terbesar sepanjang abad 20 M. Siapa yang tahu dia menikah dan deretan istri yang dimilikinya? Tentu tidak ada yang tahu. Hanya Eva Braun saja yang diekspos, itu pun hanya sebagai propaganda saja diakhir perang. Siapa yang tahu istrinya para wali? Sangat jarang bisa diketahui kecuali jika menjelang ajalnya dan sudah mendekati usia tua. Siapa yang tahu istri-istrinya deretan sultan Kekhalifahan Ustmani? Tentu semua mengenalnya sebagai hareem saja atau selir, karena istrinya sangat dirahasiakan untuk menghindari penghancuran.

Sebaliknya, jika jimat dan senjata ini tidak lagi menjadi rahasia, semua orang tahu, teman-temannya tahu, dan bahkan musuh-musuhnya tahu maka akan menyebabkan kelemahan bagi diri suami. Kelemahannya diketahui dan segala kekurangannya menjadi titik kelemahan bagi suami. Keuangan akan terganggu, visi masa depan akan terhambat, jalan kemajuan akan terhalang, konstruk berfikir akan melemah, dan yang paling tragis tidak lagi mengalami peningkatan dalam keilmuan. Tidak heran bukan jika ada seorang suami yang langsung mengalami drop mental, atau jatuh dalam kegagalan tatkala istrinya mengalami kegocangan dan tidak lagi stabil. Bahkan terkadang dijadikan olok-olokan di era industri 4.0 ini.

Yang paling viral di media virtual saat ini (Oktober 2019), adalah anggota DPR F-NasDem Achmad Fadil Muzakki Syah (Lora Fadil) yang menginap bersama ketiga istrinya dalam satu kamar di sebuah hotel di kawasan Jakarta Pusat saat pelantikannya sebagai DPR. Fotonya langsung viral dimana-mana yang menjadikan beliau sosok yang sangat dikagumi. Namun tak lama itu fotonya yang tertidur lelap karena lelah dalam rapat paripurna di DPR langsung menjadi viral pula. Disatu sisi dia menunjukkan kekuatannya tapi disisi lain dia juga langsung disorot dan kelihatan titik kelemahannya. Netizen langsung mempertanyakan posisinya sebagai wakil rakyat.

Dirawat, Dijaga, Lebih Banyak Lebih Baik

Semakin banyak jimat dan senjata yang dimiliki oleh seorang suami maka akan semakin lebih baik dan lebih kuat dalam mendukung visi yang telah dibangunnya. Tidak salah, dan sangat dianjurkan di era industri 4.0 ini yang semakin tidak bisa diramal dan ditentukan masa depannya—tantangannya semakin besar ini—untuk memiliki istri lebih dari satu, yakni bisa menikahi dua perempuan cantik (sangat relatif), tiga gadis cerdas (juga sangat relevansif) atau empat wanita berwibawa (jika perlu yang produktif). Tergantung kebutuhan si “pendekar” suami, lebih banyak akan lebih baik.

Memiliki senjata rahasia yang banyak tidak cukup hanya dimiliki saja, tapi juga harus dirawat dan dijaga. Istri-istri yang dimilikinya harus dijaga dan dipelihara dengan baik sesuai dengan prosedur memiliki sebuah senjata rahasia. Hal ini untuk menjaga kekuatan dari senajata itu sendiri dan meningkatkan daya kesaktiannya.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga senjata dan jimat (para istri) itu antara lain :

  1. Berwudlu sebelum memakainya

Wajib bagi suami untuk berwudlu terlebih dahulu sebelum menggunakan senjata rahasianya, terutama pada saat ingin menggunakannya pada ritual suci membentuk generasi masa depan. Dengan berwudlu maka kemudahan untuk menyatu dengan Dzat Yang Maha Tinggi pemilik kekuatan abadi bisa (berpeluang) terjadi. Energi negatif juga sulit untuk masuk dalam ritual suci itu, dimana pada ritual suci itulah peran energi negatif untuk masuk sangat besar, terutama dalam mempengaruhi masuknya saripati ke dalam rahim suci.

  1. Rutin menyedakahi tubuhnya

Senjata harus dibersihkan dan disucikan dengan cara selalu menyedekahinya. Paling tidak 1.000 rupiah tiap hari sudah cukup agar istri menjadi wanita yang bersih, senjata yang sakti dan maskot yang bertajih.

  1. Memandikannya dengan bunga tawajuh dua kali setahun

Gunakanlah bunga yang diperoleh pada penutupan suluk untuk memandikan istri, paling tidak dua kali dalam setahun. Bunga dicampur dengan air yang akan digunakan untuk mandi, dan suami menggunakan air itu untuk memandikan istri yang hanya duduk dan menerima siramannya saja.

  1. Rutin mentawajuhkannya setiap selesai berdzikir

Selesai beramal dzikir rutin tiap hari tutuplah dzikir itu dengan mentawajuhkan wajah istri. Doakan dia menjadi apa yang terbaik dan menjadi apa yang sesuai dengan firman Allah dan sabda Rasulullah.

  1. Menghindari rasa marah padanya, walaupun dia salah

Pada saat istri mengalami kesalahan jangan menggunakan kemarahan untuk membenarkannya. Gunakan senyuman atau tertawa kecil untuk membenarkannya, bahwa yang dilakukan oleh istri itu lucu sekaligus konyol. Benarkanlah kesalahannya dengan cara yang penuh tertawa dan keriangan.

  1. Selalu memuji dengan pujian yang membahagiakan, walaupun hanya sebatas rayuan

Sekali-kali gunakanlah pujian yang baik untuk istri (senjata) itu. Karena tiap pujian yang baik akan membentuk sebuah energi positif yang memberikan kekuatan dalam segala aspek, terutama mental dan rasa percaya dirinya. Walau hanya sebuah ucapan yang penuh “gombalisme” itu sangat efektif untuk menyenangkan hatinya.

  1. Memijatnya ketika menjelang tidur saat dia kelelahan

Istri adalah seorang pejuang yang kuat, kekuatannya sering kali tanpa batas digunakan untuk menyelesaikan urusan rumah tangga. Jika pada malam hari dia kelihatan lelah dan capek maka langsung sentuh kakinya atau punggungnya dan pijat secara pelan. Lemaskanlah otot-ototnya, gunakan cara yang lembut dan jangan sampai dia kesakitan.

Penutup

(Menjadi) sebuah senjata atau jimat, istri harus dijaga dengan baik dan dirawat, sekaligus jumlahnya menjadi baik jika lebih dari satu. Ia merupakan sosok yang diikat dengan kesucian dan hubungan yang indah, maka apa yang berhubungan dengan dirinya harus suci dan bersih.

Kunci menjaga kekuatan dari istri (senjata) yang dimiliki ini adalah jangan gemar memamerkannya dihadapan umum, seperti selfi di media virtual, facebook, twitter, IG. Jagalah dia dari tatapan muka-muka selain anda, jangan biarkan dia bersama anda disaksikan oleh banyak orang. Semakin banyak orang melihat nada bersama istri-istri anda maka semakin berkurang kekuatan yang ada padanya.

Wallahu’alam bishowaf.