Januari 26, 2021

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

“PANGGILAN-II” PIHAK TERGUGAT KASUS DI KARANGAGUNG TIDAK (BERANI) DATANG (LAGI)

Pengurus Yamasyhar bersama dua pengacaranya yang siap menghadapi pihak tergugat pada panggilan sidang ke-II. Tragisnya, pihak tergugat tidak hadir lagi, seperti pada panggilan pertama.

Mohammad Syihabuddin

Selasa, 15 Desember 2020 persidangan untuk panggilan yang kedua kalinya dilaksanakan, yaitu antara Yamasyhar (para pendiri dan penerusnya) dengan oknum yang menyerobot aset-aset NU Palang yang dipimpin oleh Imam, S.H. Yamasyhar, selaku pihak penggugat telah datang kurang lebih dua puluh orang dengan dua mobil colt disertai dengan dua pengacaranya. Sedangkan pihak tergugat tidak datang sendiri, hanya diwakili dua pengacaranya dari Ketambul Palang dan Latsari Tuban.

Persidangan dimulai pada pukul 11.00 yang menghasilkan sebuah keputusan “untuk melakukan negosiasi” atau lobbying diantara pihak yang berseteru dengan didampingi oleh masing-masing pengacaranya. Hal itu disebabkan karena kasus yang dihadapi oleh Yamasyhar dengan “lawan-nya” adalah kasus perdata.

Strategi atau …

Pihak tergugat sudah dua kali tidak hadir dan hanya mewakilkan pada kuasanya saja (Nasikhin dan tim-nya), tanpa ada keberanian untuk hadir secara langsung dan bertatap muka untuk menyelesaikan perkaranya secara baik-baik. Pada persidangan selasa lalu juga demikian, pihak tergugat tidak hadir dan tidak pula mewakilkan kepada kuasanya.

Ada apa gerangan dengan ketidakhadiran mereka itu, apakah itu merupakan strategi mereka untuk mengacaukan jalannya sidangdi PN, ataukah strategi mereka untuk “tetap diam” dan membiarkan masalahnya menguap tidak terselesaikan—“paling-paling tidak ada tindak lanjutnya”, ataukah justru ini merupakan sebuah bentuk “penghinaan” pihak tergugat kepada penggugat yang dianggapnya “orang-orang tua” yang tidak mampu berurusan secara hukum?

Wallahu’alam, yang jelas ketidakhadiran pihak tergugat pada panggilan yang kedua kalinya ini semakin memperjelas bahwa mereka enggan untuk bertemu dengan pihak penggugat dan tidak mau menyelesaikan secara baik-baik dan secara legal-formal di mata hukum.

Masyarakat Nahdliyin di seluruh Tuban dan seluruh Jawa Timur seharusnya memahami kasus ini dan mengetahui dengan sejelas-jelasnya, siapa pihak yang bersalah dan siapa pihak yang benar. Karena pada kasus di Yamasyhar Karangagung ini “kepentingan yang benar” bagi masyarakat dan warga Nahdliyin lainnya adalah keberadaan aset-aset tersebut, milik dan dikelola siapa?. Bukan kalah dan menang diantara dua bela pihak yang berseteru.   

Akan tetapi, dengan ketidakhadirannya pihak tergugat ini sudah semakin membuktikan jika pihak tergugat memang “tidak mau hadir” dan seolah lebih memilih jalan lain yang lebih “terjal”, yakni kekerasan dan intimidasi mental-pikiran terhadap pihak penggugat dan para sesepuh di Yamasyhar.

Intimidasi dari Pihak Tergugat

Pada malam hari sebelum sidang dimulai, pihak tergugat telah mengumpulkan beberapa orang di kawasan madrasah yang telah direbutnya. Pada siang itu hingga sore telah banyak berkumpulan beberapa orang yang kurang jelas posisinya di masyarakat. Mereka terdiri dari orang-orang awam dan pemuda yang telah berstatus sebagai orang biasa pada umumnya.

Dari perkumpulan di madrasah itulah, pada malam harinya mereka semua—atas intruksi dari pihak tergugat—telah melakukan penyerbuan ke rumah pihak penggugat, yakni Kiai Zainul Munji. Dan direncanakan pula malam itu juga akan menyerbu ke rumahnya Kaji Kasuwan dan Pak Sidik Kareo.

Tapi kenyataannya mereka hanya “mampu” menyerbu ke rumahnya kiai Zainul Munji dengan kekuatan sekitar lima puluh orang, dikarenakan letaknya yang berdekatan dengan lokasi aset-aset Yamasyhar yang telah diserobot pihak tergugat—atau titik kumpul mereka sebelum menyerbu. Dan di rumah kiai Zainul Munji itulah para penyerbu melakukan intimidasi berupa tekanan mental, penghinaan, umpatan-umpatan, teriakan, dan juga sikap yang tidak santun sebagai seorang tamu yang minta izin masuk ke rumah pemiliknya—apalagi pemiliknya seorang kiai, subhanallah.

Ketika diserbu pada jam-jam istirahat setelah lelah beraktivitas tentu saja keluarga Kiai Zainul Munji merasa tertekan dan mengalami traumatik. Kiai Zainul Munji sendiri langsung kambuh penyakit jantungnya dan tubuhnya terasa lemas. Beruntung istrinya yang mental-emosinya lebih tatak menghadapi para penyerbu itu langsung mengajak berdiskusi para penyerbu dan memintanya untuk menyelesaikan perkara ini di persidangan secara legal-formal, secara baik-baik, bukan secara serampangan dan awur-awuran.

Hasil dari pada diskusi tersebut justru sebaliknya, pihak penyerbu telah siap untuk melakukan penyerbuan ke Pengadilan Negeri Tuban untuk menghentikan proses persidangan sekaligus membuat jerah kepada pihak penggugat. Rencananya mereka akan membawa orang satu truck penuh dan dua mobil yang berisi para guru yang “takut” pada tergugat. Kartaji, selaku tetua gerombolan para penyerbu ke rumah kiai Zainul Munji itu menegaskan rencana tersebut dan seolah siap “berperang” dengan para pendiri Yamasyhar dan unit pendidikannya.

Akan tetapi hasilnya, pada saat persidangan keesokan harinya rencana tersebut tenyata zonk, pihak tergugat dan pendukungnya tidak jadi hadir dan hanya menyerahkan persidangan kepada Nasikhin dari Ketambul-Palang dan partnernya yang dari Latsari-Tuban.

Menurut Kaji Muslick, salah satu pendiri Yamasyhar dan pengurus yang menggugat pihak tergugat mengatakan bahwa pihak tergugat dan para gerombolan orang-orang yang tidak jelas tidak akan berani untuk datang ke proses pengadilan. Hal itu dikarenakan mereka sudah merasa malu, sangat malu, bahkan wajahnya sudah sangat tercoreng dengan berbagai tindakannya yang jelas-jelas salah. “Mereka sudah mengakui secara tidak langsung dan tahu dengan jelas bahwa langkah mereka itu salah. Namun dikarenakan sebuah gengsi dan emosi yang mengedepankan hawa nafsunya mereka tetap saja ngotot untuk melawan dan tidak menghiraukan akhlak yang mulia.  

Boroknya sudah terungkap

Apa yang terjadi dengan persidangan yang tidak dihadiri oleh pihak tergugat tentu saja sudah membuktikan bahwa borok yang sesungguhnya menjangkiti aset-aset NU Palang di Karangagung adalah disebabkan oleh pihak tergugat, yakni Imam, Muchibbin, Sumardi dan Kartono. Dengan tidak berani untuk hadir secara langsung ke persidangan tentu sudah menjadi bukti yang jelas bahwa mereka telah menciptakan kekacauan di Yamasyhar dengan dasar-dasar yang menyesatkan masyarakat.

Adanya yang borok yang sudah Nampak ini seharusnya menjadi pelajaran bagi PCNU Tuban dan seluruh kepengurusannya serta bupati Fathul Huda bahwa kasus di Karangagung seharusnya bisa lebih cepat diselesaikan dengan cara menyingkirkan secara langsung pihak-pihak tergugat atau oknum yang membuat kekacauan tersebut.    

Borok itu harus segera diobati (dengan hukum yang berlaku), karena jika tidak segera diobati akan menjadi penyakit kronis yang bisa menyesatkan “sejarah masa depan” dan merusak tatanan NU di desa Karangagung. Masalah di Karangagung ini juga harus menjadi masalah warga Nahdliyin secara umum di Tuban dan seharusnya bisa diselesaikan juga dengan cara intitusional organisatoris, dimana pihak PCNU Tuban secara tegas mengusir pihak tergugat dari kawasan Yamasyhar—lalu mengembalikan lagi kepada Yamasyhar untuk ditata ulang.

Tetapi langkah-langkah perdamaian tersebut belum terjadi, sehingga sampai sejauh ini kekacauan di Karangagung tetap akan berjalan dan kemungkinan terburuk akan terjadi serangan secara fisik. Karena pihak-pihak penggugat sudah siap berperang secara fisik jika saja penyerbuan terhadap kiai Zainul Munji, atau kepada Kaji Kasuwan dan Pak Sidik Kareo terjadi lagi.  

Kemungkinan Terburuk

Salah seorang pengurus masjid al-Asyhar, yang pengabdian totalnya kepada masjid sudah tidak diragukan lagi diperingatkan oleh istrinya untuk tidak hadir pada persidangan ke-II bersama para sesepuh Yamasyhar. Karena perkara itu tidak ada hubungannya dengan posisinya sendiri di masjid al-Asyhar.

Bukannya menuruti istrinya, dia langsung menjawab, “Jika saja ini merupakan peperangan terhadap perkara yang dzalim maka aku minta izin untuk syahid di jalan Allah. Aku yakin jika yang aku hadapi ini merupakan kelompok pencuri yang tidak layak untuk mengelola lembaga pendidikan al-Asyhar atau mengelola masjid-nya.”

Dia juga menambahkan dengan keras, “Aku menyakini bahwa mereka adalah bukan manusia yang berakhklak dan tidak layak untuk dibiarkan membangun kedzalimannya di tengah-tengah masyarakat.”

Pagi itu, dia berangkat dengan dua colt bersama para pengurus Yamasyhar lainnya dengan perasaan yang siap pada kemungkinan terburuk yang harus dihadapinya.

Penegasan yang dikatakan oleh pengurus Yamasyhar ini semakin menunjukkan bahwa kasus di karangagung bisa jadi akan berujung pada kemungkinan yang paling buruk, yakni kekerasan fisik yang tentunya akan dimulai oleh percikan yang ditimbulkan oleh pihak tergugat—yang sudah dibuktikan dengan penyerbuan terhadap rumah Kiai Zainul Munji.

Percikan menuju ke kekerasan fisik ini juga sudah dimulai dengan langkah-langkah irrasional (cara-cara ghaib) pihak tergugat yang mengundang sosok dukun abal-abal (amatiran) dari Brengkok-Brondong-Lamongan yang bersama murid-murid membaca surat al-Hasr dalam rangka menghantam secara emosional pihak penggugat.

Fatekul Hasan, yang dianggap sebagai otak intelektual pihak penggugat atau pendukung pengurus sepuh Yamasyhar sudah mendapatkan hantaman secara spiritual berupa santet dan “kiriman” barang-barang aneh di rumahnya. Begitu juga dengan kaji Kasuwan, Kaji Idris, Kiai Hasyim dan Kiai Zainul Munji sendiri.

Berbagai cara nampaknya sudah dilakukan oleh pihak tergugat untuk memenangkan perkaranya dengan cara “tidak secara hukum yang sah”, tapi lebih pada tekanan-tekanan ghaib, intimidasi emosional dan mental, serta tekanan pikiran.

Jika hal ini tidak segera diselesaikan maka yang paling bertanggungjawab dengan “kemungkinan terburuk” adalah PCNU Tuban dan MWC NU Palang, karena merekalah kepengurusan yang seharusnya menanungi masalah yang terjadi di aset-aset NU yang dikelola oleh Yamasyhar.

Lalu …

Sidang tetap akan berjalan pada waktu yang belum ditentukan, menunggu panggilan watshapp dari Pengadilan Negeri. Sidang tetap akan berjalan sebagaimana mestinya ada akan memberikan dampak yang terbaik bagi keberlangsungan aset-aset NU di Palang, baik aset yang bersifat material maupun yang bersifat intelektual (sumberdaya manusia).

Sidang lanjutan akan mempertemukan pihak tergugat dan penggugat dengan cara lobbying. Dan jika dalam lobbying tidak ditemukan kesepakatan maka sidang pun dimulai dan kebenaran akan terungkap secara sah menurut hukum yang berlaku di Indonesia. Bukan menang dan kalah yang diperjuangkan, tapi benar dan salah yang harus ditentukan. Itulah target yang harus dicapai dalam menyelesaikan perkara di Karangagung.