Outdor Learning; Metode Pembelajaran “Paling Santai-Asyik” dalam Menerapakan Kurikulum Merdeka

Pembelajaran di luar ruang kelas, atau metode outdoor learning merupakan salah satu cara untuk meningkatkan semangat peserta didik dan mengurangi kejenuhan belajar di dalam kelas. Cara ini bisa dilakukan pada semua mata pelajaran, termasuk PAI.

kitasama.or.id – Dunia pengajaran di kelas merupakan dunia yang sangat menarik, khususnya bagi insan pendidik yang kegirangan belajar dan mengajar. Tidak sedikit metode pembelajaran yang akan digunakan dan dipakai untuk menghidupkan kelas dan membuat suasana menjadi nyaman.

Alhasil, jumlah metode pembelajaran untuk menyampaikan informasi pengetahuan dan menfasilitasi belajar anak didik cukup melimpah dan beraneka ragam. Kita bisa menghasilkan banyak metode dengan mencampurkan satu metode dengan metode yang lainnya.

Bacaan Lainnya

Salah satu metode yang cukup mengasyikkan dan menyenangkan dalam menerapkan pembelajaran di sekolah adalah outdor learning, yakni metode pembelajaran yang dilakukan diluar kelas yang bertujuan untuk memberikan “energi baru” dan “kekuatan baru” yang bisa menyegarkan pikiran anak serta menggairahkan semanat belajar anak.

Dengan menerapkan metode outdor learning tentunya upaya tersebut menjadi salah satu solusi untuk mengenalkan siswa kepada hal-hal baru yang tidak dapat di dalam kelas—atau dengan kata lain menggunakan dunia nyata sebagai “buku bacaan”.

Saya pernah mau membahas masalah ini pada tahun 2016 yang saya ajukan untuk menjadi judul skripsi saya tapi selalu di tolak karena waktu itu tidak ada teori analisis yang (bisa) saya temukan yang membahas tentang outdor learning atau belajar di luar kelas—mungkin waktu itu saya masih malas.

Memecahkan masalah ruang kelas

Outdor learning diterapkan untuk memberikan pemecahan baru terhadap “kelamaan” anak didik belajar di dalam ruang kelas. Kita tahu, ruang kelas merupakan tempat yang paling afektif untuk melakukan kegiatan belajar mengajar, tapi hal itu bisa menimbulkan ketidaknyamanan jika anak merasa “biasa” karena terlalu lama berada di dalam kelas.

Kejenuhan menjadi penyakit bagi yang “biasa” ditemui bagi anak didik yang “terlalu lama” berada di ruang kelas dan dihadapkan pada banyak soal-soal yang menekan pikiran dan membuat stress.

Maka tidak heran, berada di luar ruangan merupakan pilihan yang “mengasyikkan” yang selalu digemari oleh anak-anak. Olahraga misalnya, hampir semua anak-anak didik menyukai mata pelajaran Olahraga, walaupun terkadang anak tersebut tidak suka olahraga—alas an umum kesukaan itu adalah karena diajarkan di luar kelas.

Apakah hanya pelajaran olahraga yang diajarkan di luar kelas? Tidak juga, pelajaran yang lain juga bisa diajarkan di luar kelas, termasuk sejarah, keislaman, sains dan sosial, semuanya memungkinkan diajarkan di luar kelas.

Artinya, metode outdor learning bisa saja diterapkan pada semua mata pelajaran dan bisa dilaksanakan dengan “tidak meninggalkan” ruang kelas sebagai kegiatan utama. Metode pembelajaran outdor learning hanya bisa diterapkan jika lingkungan menunjang, dunia luar sangat mendukung pembelajaran dan ada dukungan penuh dari masyarakat di sekitarnya.

Dulu, saat saya mengajukan metode outdor learning sebagai bahan skripsi mungkin belum ada wacana merdeka belajar seperti sekarang ini (era industry 4.0)  sehingga judul skripsi saya selalu di tolak ketika mengangkat tema tersebut. Hehehhehe (Mau jadi Profesor kok buat teori sendiri) hanya kata-kata itu yang selalu saya ingat dan menjadi motivasi untuk mendapatkan pendidikan  yang tinggi.

Dan hari ini, setelah ada kurikulum merdeka belajar dengan mengajarkan anak untuk lebih memahami apa yang di inginkan untuk menumbuhkan potensi yang ada di dalam dirinya sendiri, serta guru sebagai fasilitator untuk membantu berkembang anak tentunya metode outdor learning sudah selayaknya menjadi hal yang wajar dan lumrah untuk bisa dijalankan oleh semua insan pendidik, dari pengurus madrasah sampai para guru dan wali muridnya.

Menerapkan metode outdor learning

Pada konteks penerapannya metode outdor learning bisa digunakan dengan banyak cara, dengan menggabungkan banyak metode pembelajaran yang lainnya agar terkesan variatif dan kreatif.

Dalam hal ini metode outdor learning menuntut para guru untuk semakin banyaka membaca buku, mencari jurnal-jurnal yang menunjang metode outdor learning, membaca koran kompas rubrik Pendidikan, dan sering-sering mencari informasi via google atau youtube yang berkaitan dengan metode outdor learning.

Dengan cara tersebut saya yakin, kurikulum merdeka yang ditunjang dengan metode outdor learning akan memberikan “rasa” yang berbeda bagi suasana pembelajaran di kelas, sekaligus bisa menunjang munculnya kreativitas belajar yang lebih beragam dalam dirinya anak didik.

Setidaknya semua insan pendidik dan guru perlu banyak belajar dan banyak menunjang dirinya untuk melengkapi keilmuan pengajarannya tentang metode outdor learning, karena tanpa ada upaya dari guru maka metode ini juga akan kesulitan diterapkan.

Ketiadaan kemampuan guru dalam mengelolah metode outdor learning justru akan berbalik menjadi un-manfaat bagi anak didik, karena ketidakmampuan itu justru akan menyulitkan anak didik dan anak cenderung bosan dan jenuh. Artinya, metode outdor learning diterapkan pada pembelajaran di luar ruang kelas tetap tergantung pada gurunya. (Ali Masrurin)

Pos terkait