Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

ORANG NELAYAN “PENGANGGURAN” MEMBICARAKAN “SEJARAH” VIRUS CORONA

oleh : Imam Aretatollah

 

Pagi itu, di warung yang menghadap ke arah laut banyak orang berkumpul jagongan. Hari ini mereka tidak pergi melaut, di samping arus air yang deras harga ikan pun mengalami penurunan. “Dari pada mencari ikan yang harganya tidak cucuk lebih baik ngopi”, begitulah kata mereka.

Dengan adanya Corona para nelayan memang banyak di rugikan. Hasil tangkapan tidak sesuai dengan harga yang di harapkan. Mereka tidak tahu harus melapor pada siapa dan harus bagaimana. Walaupun mereka tidak tahu menahu mengenai Corona tapi imbasnya sangat merugikan banyak pihak.

Warung mbah Darmi memang sudah menjadi tempat berkumpulnya para nelayan setelah bekerja. disini mereka bisa ngobrol tentang hasil tangkapan ataupun ngobrol berita-barita terkini. Tempatnya yang dekat laut memungkinkan orang-orang juga mampu melihat kondisi laut sehingga mereka bisa memastikan berangkat mencari ikan atau tidak.

“Sebenarnya Corona itu asalnya dari mana to?” Kata lek Mijan mengajukan pertanyaan di sela obrolan para pengunjung. Dengan cepat kak Asropi menjawab bahwa “Corona itu asalnya dari Jawa Barat” dengan santai dia nyeletuk. Dia sudah dikenal sebagai orang yang paling ngeyel dalam perdebatan. Walaupun salah dia akan siap memberikan alasan yang semasuk akal mungkin.

“Kok bisa kak” celetuk didik yang tidak bisa menerima jawabannya dan di dukung oleh mengunjung yang juga tidak puas dengan jawaban kak Asropi.

Dengan nada yang keras dan menggebu-nggebu dia mulai bercerita. Bahwa dulu di daerah Jawa Barat sana ada seorang bapak yang mau mengajak anaknya pergi ke kota. Karena perjalanan yang akan di tempu lumayan jauh dan banyak polusi kendaraan maka dia memakai masker, tetapi ketika melihat anaknya tidak memakai masker maka dia bilang padanya “corong na” mana? maksudnya maskernya mana.

Lha dari situlah asal mula Corona, dari Jawa barat, dari kata corongna yang artinya masker. Makanya sekarang orang-orang di anjurkan memakai masker sebab sekarang ini polusi kendaraan atau polusi mesin sangat membahayakan kesehatan. Makanya juga bagi kita orang nelayan juga harus memakai masker atau menutup wajah, karenan apa? Karena asap mesin juga membahayakan. Gitu….

Orang yang mendengar hanya tertawa-tawa sambil bilang “iso ae….  bisa saja pik pik” uwong kok pinter Gunem.

“Kayaknya tidak gitu de pik” kata Muzi yang sejak tadi sudah ingin bicara. Walaupun dia juga tidak tahu menahu mengenai Corona tetapi kalau mendengar Asropi bicara dia harus juga bicara yang berseberangan dengannya.

Maka walaupun tidak ada yang memintanya berbicara dia tetap mengutarakan pendapatnya. Corona itu berasal dari Pulau yang ada di selatannya pulau Jawa. Di pulau itu ada banyak pohon sawo dan juga sebagai pusat tahanan. Dari kata sawo dan tahanan itu Corona berasal, sehingga di singkat jadi wohan atau Wuhan, wo dari kata sawo dan Han dari kata tahanan.

Sedang di pulau itu para tahanan di perlakukan dengan cara yang kurang manusiawi. Mereka jarang di kasih makan, hanya memakan sawo dan binatang-binatang merayap. Dengan kondisi lingkungan penjara di malam hari yang lembab, sedang mereka pada waktu itu tidak dapat jatah makan, maka mau tidak mau mereka makan seadanya, yaitu makan coro atau kecoak untuk mengganjal perut.

Saking seringnya makan coro, maka perut mereka menjadi sakit dan tubuhnya meriang. Dari situlah orang-orang bilang, bahwa mereka terkena penyakit coronen. Penyakit yang di sebabkan sering makan coro.

Ketika penyakit itu menyebar maka penyakit ini di beri nama corona, yaitu panyakit yang di sebabkan sering makan coro. “Lah kita kan tidak pernah makan coro, maka kenapa kita harus takut dengan Corona” kata Muzi mengakhiri perkataanya sambil sok memberi nasehat.

Suasana warung Mbah Darmi semakin ramai oleh para pelanggan yang adu argumen mengenai Corona. Ada setuju dengan pendapatnya Asropi, ada juga yang setuju dengan pendapatnya Muzi. Sewaktu Lek Darjit mau menyampaikan ngomong mengenai Corona, tiba-tiba Mbah Puji datang sambil mengatakan “Ojo ngawur to cong-cong” katanya sambil memesan kopi

“Lha pripon Mbah” kata Mbah Darmi sambil meracik kopi.

Mbah Modin Puji memang sudah di anggap sebagai sesepuh oleh banyak orang. Walaupun beliau juga belom tahu persis mengenai Corona tetapi beliau sangat merasakan imbas yang di sebabkan virus ini. Sambil menerima kopi yang di suguhkan Mbah Darmi padanya, beliau berujar bahwa virus Corona itu perbuatan setan yang sengaja di buat untuk menjauhkan manusia dari Tuhannya.

“Virus Corona itu corone setan untuk menyesatkan orang dari jalan Allah, dari ibadah kepadaNya”,katanya dengan tegas.

Lihat saja, katanya melanjutkan, kita tidak boleh sholat berjamaah, tidak boleh tahlilan, tidak boleh jum’atan dan menjalankan tradisi-tradisi yang bisa membuat kita rukun guyup.

“Jadi Corona itu corone setan Mbah” sela Jumain. “Iyo Cong” jawab Mbah Puji.

Corona iku corone setan untuk memecah belah umat Islam supaya tidak bersatu. Kalau umat Islam sudah tidak bersatu, khususnya orang NU maka Indonesia ini akan mudah di pecah bela dan gampang di kuasai asing. Untuk itu Cong, kita harus menguatkan tradisi-tradisi yang sudah kita tinggalkan. Kita harus menjalankannya kembali dan jangan terpengaruh oleh bujuk rayu corone setan. Kalau tidak maka kita sendiri yang akan jadi korban bujuk rayunya.

Walaupun, terlepas dari benar tidaknya omongan Mbah Puji, tetapi di antara pendapat yang di anggap paling masuk akal adalah pendapatnya. Maka para pengunjung warung kopi Mbah Darmi pada manggut-manggut dan terus ngopi tanpa takut terkena virus Corona. Sebab mereka sudah terkadung percaya omongan Mbah Puji kalau virus Corona adalah corone setan untuk mengelabuhi hambah Tuhan.