Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

ORANG MUNAFIK; MENGAKU BERIMAN TAPI TIDAK MENGETAHUI TUHAN, BAHKAN MENOLAKNYA

Oleh :

Syeikh Ibnu Shiddiq Al-Falajistani

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ٨

  1. Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

Banyak orang yang mengakui dirinya telah beriman, percaya pada Allah dan percaya dengan datangnya hari kiamat, namun semua itu hanya bualan dan omong kosong. Tidak ada sedikit pun bukti pada mereka yang menunjukkan keberimananya kepada Allah dan hari kiamat. Buktinya, mereka tidak mengetahui dan tidak pernah tahu Tuhannya dan tidak tahu hakekat hari kiamat.

Orang-orang inilah yang disebut dengan seorang pembohong, pendusta, dan lebih kejamnya disebut munafik. Bagi Rasulullah, merekalah golongan terbesar yang akan memenuhi neraka kelak di hari kiamat.

Tuhan-Tuhan Palsu Orang Munafik

Orang munafik itu mudah sekali kelihatan cirinya. Mereka Mengaku beriman, namun tidak mengetahui Tuhannya yang diimani. Mereka merasa menjadi muslim, sudah beriman, dan sudah percaya kepada Allah, namun tidak pernah tahu Allah dan tidak pernah bisa mengetahui keberadaan Rabb-nya itu.

Allah-nya orang munafik merupakan sebuah angan-angan, sebuah imajinasi dan sebuah gambaran yang dibentuk oleh nafsunya sendiri. Tuhan yang disembah oleh orang munafik adalah tuhan-tuhan palsu yang merupakan  sebuah imitasi dari informasi tentang Tuhan. Yakni Tuhan tiruan, dari tiruan Tuhan yang salah. Menurut Jean Bauldilrad inilah yang disebut dengan Simulacra Hiper-Realita.

Orang munafik tidak mengetahui Tuhannya, namun dia merasa tahu bahwa Tuhan-nya telah benar dan mengetahui keimanannya. Padahal tidak sama sekali. Tuhan yang dipikirkan dalam pikiran orang munafik merupakan pikirannya sendiri yang dibentuk oleh fantasi, angan-angan, dan andai-andai yang tidak jelas kebenarannya.

Tapi uniknya, bahkan lucu sekali orang munafik tidak mengakui ketidaktahuannya, padahal dalam hati dia tahu kalau dirinya tidak tahu.

Ketika ditanya tentang “siapa Tuhan-mu?”

Maka dia menjawab, “Tuhan ku Allah Yang Maha Tinggi, Allah Yang Maha Besar, dan Allah Yang Maha Sempurna”.

Namun saat ditanya “Allah yang mana?”

Dia tidak bisa menjawab dan tidak mampu memberikan argumentasi yang jelas. Allah yang ada dalam pikirannya hanya menurut informasi dalam buku, Allah yang diketahuinya dari bacaan teks yang dia sendiri tidak memahaminya. Hanya “Allah” begitu saja. padahal jika demikian, maka tidak ada bedanya dengan “allah-allah”-nya golongan lain yang tidak mempercayai Muhammad sebagai Rasulullah.

Saat memahami “Tuhan” dari dalam sebuah teks, yang dibaca dan dipahami, lalu direnungkan melalui sebuah kemampuan berfikir (rasio) maka itu bukan Tuhan yang sesungguhnya. Karena Tuhan tidak akan bisa ditemukan di dalam buku atau tulisan, yang merupakan simbol-simbol dari sebuah bahasa.

Tuhan yang dipahami melalui buku ini akan menjadi “Buku Yang Dipertuhankan”. Artinya jelas bahwa yang disembah, yang diimani, atau yang dinyakini oleh orang yang demikian itu merupakan sebuah teks, sebuah buku, atau sebuah simbol-simbol huruf yang membentuk kalimat “A-L-L-A-H”, bukan Allah yang sejati, yang diimani oleh Rasulullah dan para nabi sebelumnya.

Orang Munafik Bicara Hari Akhir

Orang-orang munafik percaya bahwa hari kiamat kelak akan datang dan pasti datang dalam kehidupan manusia ini. Tapi mereka tidak mempercayai kehadirannya secara total, hanya sebagai informasi saja.

Buktinya jelas, banyak orang munafik yang diberi informasi tentang Allah, tentang Hakekat Tuhan, dan jalan lurus menuju Allah tidak mau menerimanya sebagai jalan hidup yang benar. Hanya diterima sekedar sebagai informasi saja.

Saat jalan menuju Allah sudah dijelaskan dan diterangkan dengan sejelas-jelasnya pada mereka maka mereka menerimanya dan mengakui kebenaran itu. Namun dia tidak mau menerima jalan tersebut sebagai jalan hidupnya.

Pengakuan mereka tentang hari kiamat sepertinya benar. Mereka menjadi Muslim, beragama Islam—sholat, puasa, zakat dan haji juga. Mereka juga bisa menulis dan menerangkan tentang kiamat. Saat berdiskusi mereka juga bisa menjelaskan pengertian dan tanda-tanda hari kiamat. Namun mereka tidak bisa dan tidak mau mengikuti jalan yang bisa menyelamatkan dirinya dari penghakiman di hari kiamat.

Sama dengan pemahaman tentang Tuhan, orang munafik memahami hari kiamat juga belum jelas. Hari kiamat yang ada dalam pikirannya hanya sebuah imajinasi, hanya sebuah khayalan, dan sebuah informasi yang tidak memberikan manfaat apa-apa bagi dirinya. Baginya kiamat adalah sebuah bencana, sebuah kehancuran total yang hanya melingkupi dataran saja, tidak kehancuran secara total.

Orang munafik mengaku beriman, dan menjadi muslim, padahal mereka sama sekali tidak mempunyai keimanan dan sama sekali tidak mempunyai Tuhan dalam hatinya. Alih-alih menyakini Tuhannya, pikirannya yang muncul hanya andai-andai yang tidak akan pernah jelas. Mereka tersebar secara meluas di dalam milyaran jumlah umat muslim sedunia akhir zaman ini.

Tipologi orang Munafik

Dengan demikian orang munafik tentunya sangat banyak sekali di kalangan umat muslim sendiri. Diantaranya :

  1. Muslim yang secara terang-terangan yang melanggar aturan Tuhan (ahli maksiat),
  2. Muslim yang tidak mau mencari Tuhan secara hakiki (tidak percaya dengan keberadaan Guru Mursyid).
  3. Orang munafik yang paling nampak , mereka yang menyatukan antara agama dengan kekuasaan. Mereka merebut kekuasaan, demi harta dan wanita dengan memanfaatkan agama. Mereka selalu berteriak-teriak tentang menegakkan hukum Allah, padahal itu merupakan hukum versinya sendiri.
  4. Mereka yang melakukan kekerasan atas nama Allah, termasuk pembunuhan (bom, senapan, senjata, dan kekerasan lainnya) atas nama Allah.

wallahu’alam bisshowaf