Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

ORANG KAFIR; TIDAK AKAN MENERIMA KEBENARAN, APAPUN BENTUKNYA  

Oleh :

Syech Ibnu Shiddiq Al-Falanjistani

 

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ٦

  1. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.

  2. (Al-Baqarah: 6)

 

Orang kafir bagaimana pun tetap kafir. Menolak kebenaran dan menyakini apa yang sesuai dengan nafsunya. Dia tidak menerima kebenaran yang datang dari Allah, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Hatinya tertutup dan tidak mau menerima kebenaran yang sesungguhnya.

Kafir tidak sekedar tidak menerima Islam sebagai agama yang benar atau yang harus dipeluknya, tapi juga mereka yang—walaupun sudah mengaku muslim—tidak mau menerima kebenaran hakekat beragama, yakni ber-Guru, ber-Tuhan dan ber-Agama adalah satu kesatuan.

Ber-Guru adalah mencari petunjuk dan pembimbing untuk ber-Tuhan. Artinya dengan Berguru mencari sosok petunjuk yang akan memberikan arahan hidup dalam segala bidang, terutama dalam menemukan hakekat kehidupan ini sendiri.

Sedangkan dengan mempunyai Tuhan maka secara otomatis dia sudah ber-Agama. Karena yang hanya mempunyai Agama adalah Tuhan, dan yang berhak untuk menjadikan manusia beragama hanya Tuhan. Karena agama hanya milik Tuhan. Tanpa ber-Tuhan maka jelas tidak mungkin bisa beragama.

Artinya, beragama tidak bisa hanya setengah-setengah, atau hanya pasrah dan tidak mengetahui eksistensi Tuhan-nya. Beragama tidak bisa hanya ikut-ikutan, lalu menyakini apa yang dinyakini itu benar, padahal dia sendiri tidak mengetahui kebenarannya itu sendiri.

Beragama harus mengetahui eksistensi Tuhan dan tahu bagaimana menghadap kepada Tuhan. Beragama harus mampu mengetahui keberadaan Tuhan yang Dzat-Nya sangat tinggi dan di tinggikan itu, yang tidak bisa ditembus oleh jasadnya manusia yang kotor dan rendah ini. Dan dalam beragama itu hanya bisa dilakukan dengan ber-Guru, yakni mempunyai Guru yang merupakan sosok suci yang bisa langsung berkomunikasi dengan Tuhan.

Jika keterangan ini disampaikan kepada seseorang, dan dia menolaknya, maka jelas dia kafir, karena menolak kebenaran dalam konsep ber-Guru dan ber-Tuhan itu sama halnya dengan menolak keberadaan Tuhan yang hakiki. Dia tidak akan menerima kebenaran ini dan akan tetap memegang kenyakinannya yang semu dan tidak jelas.

Orang Kafir Harus Didoakan

Orang kafir itu jelas ketersesatannya, dia bimbang dalam menentukan arah ibadahnya. Dia tidak tahu harus ingat siapa saat sedang sembayang. Dia juga tidak tahu harus kemana menentukan seluruh kegiatan ibadahnya. Alih-alih mengingat Tuhan, pikirannya melayang menuju hal-hal yang tidak ada manfaat dan gunanya—makanan, pekerjaan, keluarga, aktivitas harian, dan lain-lain.

Sekuat apapun nasehat kita, sebaik apapun nasehat kita dan sekeras apapun perjuangan kita, terhadap orang yang memang masih kafir tentu tidak akan bisa menerima kebenaran itu. Sehingga sia-sia saja apa yang telah kita sampaikan. Sehingga yang terbaik untuk menghadapi mereka cukup dengan mendoakannya saja, semoga dosa-dosanya diampuni dan segera mendapatkan hidayah dari Allah sehingga tidak lagi kafir.

Masih banyak orang masih kafir, karena untuk mendapatkan hidayah itu sendiri hanya bagi mereka yang dikehendaki oleh Allah. Mereka belum mendapatkan petunjuk dan belum bisa memperoleh apa yang sejatinya kebenaran (Islam sebagai agama) itu sendiri.

Merekalah yang perlu kita kasihani dan perlu kita doakan. Kendati, misalnya saja mereka membenci kita, mereka memusuhi kita dan mereka sangat ingin membunuh kita, kita tetap harus mendoakannya dan memberinya perasaan kasihan. Mereka adalah orang yang tidak tahu, dan ketidaktahuan itu yang mengharuskan kita dengan sabar memberikan kebaikan dan rasa kasih sayang.

Memang, orang kafir itu perlu dikasihani karena mereka tidak mendapatkan apa yang menjadi kebenaran dirinya. Jangan diperangi dan jangan dimusuhi. Keculai jika secara fisik mereka menyerang kita baru kita diperbolehkan untuk bertahan dan melakukan perlindungan, tapi jangan melakukan balas dendam.

Haram Balas Dendam

Di sebuah surau Palu dulu pernah terjadi sebuah insiden, di zaman ayahan Guru.

Beberapa oknum, yang menggunakan pakaian serba putih, mengklaim diri sebagai pemeluk Islam paling “benar” dan sangat fanatik membenci kaum Beragama (kaum tarekat). Tiba-tiba dengan sangat brutal dan ganas mereka merusak surau, melemparinya dengan batu dan membakarnya pula. Alhasil, surau pun rusak dan tidak bisa lagi ditempati.

Saat itu kontan para jama’ah surau ingin membalasnya dan ingin melakukan hal yang sama terhadap para pengrusak itu. Namun apa fatwa Ayahanda Guru, “Haram kalian membalasnya”. Sehingga para jama’ah langsung tertundu malu, merasa bersalah dan mengakui sikapnya yang tidak mencerminkan orang beragama.

Hanya dengan ingin balas dendam saja itu sudah termasuk perbuatan yang tidak layak dilakukan oleh orang muslim. Apalagi melakukan balas dendam itu sendiri, akan menyebabkan sangat hina posisi sebagai muslim itu sendiri.

Balas dendam saja tidak diperboleh bagi kaum yang beragama, apalagi ingin memusuhi dan memberikan kebencian kepada orang kafir. Lalu ditambah dengan menunduhnya kafir, menghinanya, dan memberi stereotip negatif justru malah sangat tidak diperbolehkan.

Wallahu’alam bisshowaf