Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

NELAYAN (BURUH) SEBAGAI SOLUSI MENGHADAPI KE-“BUNTU”-AN HIDUP DAN KE-“MALAS”-AN BERFIKIR

oleh : Moh. Syihabuddin

 

Pekerjaan menjadi buruh nelayan yang mencari ikan di laut merupakan pekerjaan yang paling mudah dan paling sederhana untuk dilakukan. Ia tidak membutuhkan keahlian yang harus dilakukan dengan pelatihan “terlebih dahulu dan tidak pula membutuhkan keilmuan atau ke-profesi-an yang harus diawali dengan pembelajaran dengan berbagai buku.

Anak-anak masyarakat nelayan mulai dari remaja putus sekolah berpendidikan rendah, malas berfikir berwirausaha, tidak mempunyai modal finansial atau modal intelektual dan atau pula mereka yang tidak mampu mencari solusi “pemecahan pekerjaan” biasanya pilihan terbaik adalah menjadi buruh nelayan.

Ya, menjadi buruh nelayan cukup mudah. Caranya sangat gampang, ikut salah seorang juragan yang menjalankan sebuah perahu nelayan, lalu naik ke kapal nelayan, dan kemudian ikut menarik (tarik’an) pukat jika pukat sudah diturunkan dari kapal.

Tiap satu kali berangkat ke laut biasanya akan melakukan lima kali hingga enam kali penurunan pukat sekaligus menariknya, yang diistilahkan dengan tarik’an. Kegiatan tarik’an ini bisa tambah dan juga bisa lebih, tergantung cuaca, suasana, dan kondisi lautnya, ada ikannya atau kosong (tidak ada ikan).

Waktu berangkat ke laut tergantung jenis nelayannya atau target ikan yang akan ditangkapnya. Ada yang berangkat pada waktu shubuh, siang hari, atau bahkan tengah malam setelah jam 00.00

Perasaan (menjadi buruh/belah) akan merasa bangga dan bahagia jika memperoleh banyak ikan. Pertama, akan membawa pulang ikan sekaligus, kedua, akan mendapatkan gaji dari juragan dari jerih payahnya menarik pukat. Kalau dapatnya banyak, ya lumayan uang yang akan diperolehnya.

Namun menjadi buruh nelayan akan menjadi orang yang sangat menderita jika kondisi laut dan keadaan ikan “sepi” tidak ada yang ditangkap. Buruh nelayan akan menghabiskan waktunya dengan “bergerumbul” dan menghabiskannya tanpa tujuan, stress karena tidak memegang uang, merenungi dirinya yang “jauh dari uang”, merasa tubuhnya tidak lagi mampu melakukan upaya “rekayasa” menangkap ikan, dan yang paling parah merasa bahwa “pilihan menjadi buruh nelayan adalah salah”.

Pada alasan terakhir inilah seringkali menjadi “alasan kuat” untuk mengatakan bahwa kegiatan nelayan merupakan kegiatan yang cukup berat dan jangan sampai “menjadi pekerjaan warisan” kepada anak cucunya. Penyesalan pun muncul kalau seandainya waktu bisa diulang “dia tidak akan menjadi buruh nelayan”.

Belum lagi jika dibenturkan pada konteks alam dan lingkungan nelayan yang “kejam”, mulai dari kebiasaan untuk melakukan hal-hal yang diluar batas—berzina, selingkuh dengan tetangga, pacaran hingga ke ranah berhubungan intim, minuman keras, narkoba, dan pencurian—perilaku-perilaku yang menghilangkan penghormatan kepada yang tua, perilaku yang menghapus kasih sayang kepada yang mudah, dan tiadanya akhlak untuk saling menghormati dan menghargai, semua itu justru semakin menjadikan dunia kaum buruh nelayan semakin suram dan semakin gelap.

Jangankan bicara tentang akhlak dan moralitas untuk bisa menggunakan otaknya berfikir saja buruh nelayan kesulitan dan buta—membedakan mana yang bijak dan mana yang ceroboh adalah hal yang berat dan bahkan tidak terpikirkan.

Singkat cerita kehidupan menjadi buruh nelayan adalah sangat rendah dan sangat “berat” untuk dijalani sebagai profesi. Lebih banyak memberikan rasa sakit daripada rasa bahagia dalam kehidupan.

Belum lagi jika musim penghujan datang, yang menyebabkan angin bertiup kencang, hujan turun dengan lebat dan ombak besar menghantui seluruh lautan justru semakin membuat “peluang” bahagia bagi buruh nelayan sangat jauh dari impian. Pada kondisi musim-musin penghujan ini biasanya mereka menyesal dan merasa getun menjadi buruh nelayan. Lebih baik aku dulu bekerja di darat! Begitu kebanyakan kalimat yang diucapkannya.

Kendati demikian, faktanya masih banyak anak-anak masyarakat nelayan yang masih kuat secara tenaga, cerdas secara berfikir, dan memiliki kesempatan belajar yang masih panjang justru “diarahkan” untuk mendapatkan ikan dengan cara menjadi buruh nelayan, bukan belajar terlebih dahulu di sebuah sekolah atau madrasah. Banyak anak-anak masyarakat nelayan, yang sudah lulus Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar maka solusi masa depannya adalah menjadi “buruh nelayan” atau mbelah.

Pada satu sisi memang pekerjaan buruh nelayan memiliki banyak sisi gelap dan mlarat, namun pada sisi lain justru pekerjaan buruh nelayan ini menjadi solusi dan menjadi jalan keluar terbaik untuk mencari nafkah.

Bagi orang-orang yang malas berfikir dan malas melakukan kegiatan produktif di bidang wirausaha maka menjadi buruh nelayan adalah solusi terbaik. Karena untuk menjadi buruh nelayan tidak butuh modal, tidak butuh berfikir, tidak butuh berinovasi, tidak butuh berkomunikasi dengan orang lain, dan tidak pula membutuhkan keahlian tertentu dilaut (berenang, menyelam, atau berselancar). Cukup dengan bermodalkan sedikit tenaga untuk naik kapal dan ikut menarik pukat saat pukat akan dinaikkan dari laut. Hanya itu.

Maka tidak mengherankan jika menjadi buruh nelayan adalah sebuah pelarian yang paling sederhana dan mudah. Saat tidak ada pekerjaan di darat, saat tidak ada kegiatan yang produktif, dan saat tidak ada pemikiran yang bisa diwujudkan (sebagai langkah mencari uang) maka jalan keluarnya adalah ikut menjadi buruh nelayan.

Menjadi buruh nelayan ini semakin nikmat dan semakin nyaman tatkalah pekerjaan itu dilakukan dengan cara ngamen, amen, atau melancong (pamenan). Yaitu menangkap ikan diluar daerah dan menjualnya sekaligus di daerah yang ditempati. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh nelayan dari Tuban yang amen ke Batang, Pekalongan, Demak, Semarang, dan daerah lain-lainnya.

Pada saat Ngamen ini seluruh kehidupan buruh nelayan setiap harinya ditanggung oleh juragan, makan tiga kali, rokok satu kotak, uang ceperan dan tentunya gaji pokok. Bahkan bagi yang suka “nakal” sudah disediakan uang untuk “nakal”, mencari perempuan penghibur dan minum-minuman keras.

Oleh karena itulah saat ngamen buruh nelayan hanya membutuhkan pakaian pokok, pakaian penghangat (jaket plastik) dan tenaganya yang sehat saja. Karena uang transport keberangkatan ke daerah yang dituju sudah ditanggung oleh juragannya.

Praktis ketika pulang dari ngamen buruh nelayan akan membawa pulang banyak uang dan bahkan bisa membelikan oleh-oleh keluarganya yang di rumah.

Bagi nelayan yang baik uang hasil ngamen pasti akan berupa uang yang utuh untuk diberikan keluarganya atau dibelikan barang-barang yang bermanfaat. Namun bagi buruh nelayan yang nakal, uang hasil bekerjanya akan digunakan untuk “bermain-main dengan perempuan nakal” menikmati minuman keras. Sehingga saat pulang hanya membawa uang tersisanya, kurang lebih seperempat uang yang seharusnya diterima.

Terlepas dari semua itu, antara sisi gelap dan sisi lainnya menjadi buruh nelayan merupakan sebuah solusi yang paling tepat untuk “kesulitan” mencari kerja dan menikmati cara hidup yang paling “santai” dan bermalas-malasan.