Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

NEGERI KEKHILAFAHAN MUSLIM DI ZAMAN KERAJAAN MONGOL

Oleh : Moh. Syihabuddin

Judul buku : Dari Puncak Barbar, Penaklukan Mongol ke Dunia Islam hingga Menjadi Muslim
Judul asli : The Mongols & The Islamic World, from Conquest to Convension
Penulis : Peter Jackson, Profesor emiretus sejarah abad pertengahan di Keely University, UK.
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta
Terbit edisi I : Maret 2019
Jumlah halaman : 854
Harga eceran : Rp. 220.000
Tempat beli : Toko Gunung Agung Tamini Squer Jakarta

 

Pada 1258 M. Bahgdad, kota metropolitan dan ibukota kekhalifahan Abbasiyyah, telah di serang oleh gerombolan pasukan Mongol pimpinan Hulagu putra Jengis Khan (Temuji). Pada tahun inilah periode kekuasaan Khalifah Arab-Muslim telah diakhiri dan untuk sementara waktu telah hilang dalam catatan sejarah. Untuk seterusnya, bangsa Mongol dianggap sebagai sebagai penghancur dan penakluk.

Sebagaimana para sejarawan Muslim-Arab-Persia menyebutkan bahwa periode ini merupakan bencana yang melanda umat Islam di sisi lain yang datang dari arah Timur, dimana sisi lainnya merupakan bencana yang di timbulkan oleh pasukan Salib Eropa (Frank) dari arah Barat. Terlepas dari anggapan demikian, invansi pasukan Mongol ke Barat (di Dunia Islam) mereupakan sebuah fakta sejarah yang menarik dan sangat berkontribusi bagi perkembangan Islam itu sendiri.

Banyak sejarahwan Muslim yang melihat serangan Mongol ke wilayah kekhalifahan Abbasiyah sebagai sebuah kekejaman, keganasan dan “kiamat yang datangnya lebih cepat”. Pasukan Mongol dilihat sebagai sosok yang “lebih kejam dari pada Dajjal” karena metode pertempurannya dan tehnik serta peralatan perangnya yang digunakan selama penaklukkan, menunjukkan sosok yang seolah datang dari negeri lain—alien. Pembantaian adalah hal yang seringkali dilakukan oleh pasukan Mongol setiap kali menaklukkan kota-kota Muslim dan melakukan penganiayaan yang kejam terhadap penduduknya.

Pembacaan ini seringkali menimbulkan persepsi satu arah (dari pihak Arab-Persia, yang teraniaya) yang justru tidak bisa menghadirkan netralitas dalam membaca sejarah dan realitas yang sesungguhnya. Banyak sejarahwan yang melihat sosok pasukan Mongol pimpinan Jengis Khan sebagai sang penakluk yang anti peradaban, anti ilmu pengetahuan, dan melupakan pembangunan kota-kota yang beradab. Bangsa ini identik dengan sebutan “Barbar” karena kekejamannya dan keganasannya dalam melakukan penyiksaaan dan penaklukkan.

Tapi tidak demikian dengan peter Jackson, profesor emiritus sejarah abad pertengahan di Keely University, Staffordshire, UK yang menulis buku setebal 666 halaman yang membaca penyerangan dan penaklukkan Mongol sebagai sebuah entitas yang berbeda dengan sudut pandang yang berbeda. Ia melihat Mongol yang menyerang ke Barat, mulai dari penaklukkan kerajaan Khawarizmiyah, menghancurkan Baghdad, memerintah kerajaan emirat Muslim, hingga menjadi Muslim sebagai identitasnya, adalah fakta menarik yang hanya bersifat “mengganggu” komunitas Muslim, tidak penghancur atau perusak. Hanya sebagai sebuah peristiwa yang tidak terlalu ganas dan menyakitkan.

Berdasarkan sumber-sumber yang beragam, dari Tiongkok, wilayah Muslim, hingga catatan para pelancong Kristen-Eropa dianalisis dengan menggabungkan para penulis antar zaman, penulis yang menulis saat penyerangan Mongol terjadi, penulis yang menulis saat di dalam kekuasaan Kafir-Mongol, penulis yang menyaksikan Muslim-nya penguasa Mongol hingga penulis pasca-kekuasaan Mongol.

Kekejaman bangsa Mongol hingga kini masih terngiang dan terawat dengan baik di dalam pikiran bawah sadar orang-orang Arab-Persia, namun di Barat pemikiran itu sudah mulai bergeser dan melihat lebih jernih ke arah fakta sejarah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Peter Jackson,

Walaupun faktanya adalah penaklukkan dunia Islam di Asia Tengah oleh kaum kafir Kra-Khitan dapat—pada satu waktu memang—dipandang sebagai awal penaklukkan yang dilakukan oleh bangsa Mongol pada abad berikutnya, kemiripannya sangat terbatas. Bangsa Kara-Khitan berasal dari Tiongkok Utara, wilayah yang sudah dikenal dalam sastra Muslim dan memerlukan peradaban yang membutuhkan bentuk pemerintahan; mereka hanya mampu menaklukkan sebagian kecil saja wilayah muslim; dan penindasan yang terjadi, paling tidak selama periode dominasinya, cukup ringan (hal, 667)

Kaum Kra-Khitan ada sebutan bangsa Mongol dalam tradisi sastra Islam, yang sudah berkembang jauh sebelum Jengis Khan menaklukkan wilayah-wilayah Abbasiyah. Karakorum, ibukota kekaisaran-kesatuan Mongol merupakan kota yang mempunyai komunitas Muslim yang hidup secara berdampingan dengan para penyembah berhala.

Kerajaan pertama yang di serang oleh bangsa Mongol, Khawarizmi merupukan sebuah kerajaan besar yang independent, tidak terikat dengan administrasi kekhalifahan Abbasiyah, dimana pemimpinnya yang terakhir, Muhammad shah Khawarizmiyah merupakan raja yang kejam dan sudah menghabisi, membunuh secara kejam para pangeran penguasa di sekitarnya—sehingga hanya dia saja yang bisa berkuasa.

Saat Khawarizmi ditaklukkan, beberapa penguasa Muslim di emirat Abbasiyah merasa diuntungkan dan khalifah sendiri merasa terbantu karena “menyingkirkan” pesaingnya yang tidak tunduk dan patuh kepada Khalifah di Baghdad. Tersingkirnya raja Muhammad dalam kerajaannya menyebabkan para penguasa lokal dan para ilmuwan-cendikiawan Muslim bergabung bersama pasukan Mongol untuk hidup bersatu bersama kekaisaran Mongol.

Kedatangan bangsa Mongol juga menguntungkan kaum Sunni, lebih tegasnya emirat kesultanan Ayyubiyah di Mesir dan Syam dan kesultanan Seljuk di Anatolia, karena musuhnya, sekte syiah Isma’iliyah dengan Ninja-Hassasin-nya telah berhasil diberhangus oleh pasukan Mongol di bentengnya yang terakhir di Alamut, Iran. Dimana sepanjang keberlangsungan pemerintahan emirat Muslim, para Ninja-Hassasin, pembunuh bayaran banyak melakukan pembunuhan terhadap para gubenur, ulama’ dan juga para pejabat lainnya.

Pasca menaklukkan Baghdad dan menguasai seluruh wilayah Iran (Jackson lebih memilih Iran dari pada Persia) yang membentang dari Azerbeijan di Utara, Afghanistan di Timur hingga Mosul di Barat—bangsa Mongol hidup berdampingan dengan memanfaatkan para administrator Muslim bekas kerajaan Khawarizmi dan kekhalifahan Abbasiyah untuk kembali membangun kota-kota yang ditaklukkannya. Para cendekiawan, syiah maupun sunni di dorong untuk hidup bersama guna menyelaraskan kehidupan kota baru yang telah dikembangkannya, dengan mengandalkan keilmuan dan sains yang sudah lama dikembangkan dalam peradaban Islam.

Penaklukkan bangsa Mongol tidak menyeluruh—sebagaimana dimitoskan, hanya terbatas di Mesir sebagai titik terjauh, tepatnya di Ain Jalut. Selebihnya bangsa Mongol tidak mampu lagi ke Barat dan memusnahkan komunitas Islam di Ifrikiyah atau seluruh Mesir, apalagi ke Andalusia—sangat tidak mungkin.

Selama menduduki wilayah kaum beragama Islam bangsa Mongol menciptakan sebuah pemerintahan yang melibatkan orang-orang Islam. Banyak cendikiawan yang dilibatkan untuk menata administrasi negara kesatuan Mongol dengan ibukotanya di Karakorum. Sejarahwan yang mencatat pembangunan kota-kota Mongol banyak lahir di era ini, sehingga tidak mengherankan kalau karya yang menceritakan Mongol di zaman ini bisa diketahui–ditelusuri.

Runtuhnya kekhalifahan Abbasiyah tidak serta merta menggantikan kehidupan normal masyarakat kekhalifahan Muslim. Alih-alih melahirkan zaman kegelapan, Bangsa Mongol telah menggantikannya dengan perbaikan yang juga tidak kalah baiknya dari pada era Abbasiyah. Sepeninggalan Jengis Khan kerajaan Mongol terpecah menjadi penguasa yang independent di wilayah-wilayah yang luas masyarakat beragama Islam, klan Jochi, klan Chagatai, klan Ogadai, dan Klan Tolui menjadi penguasa yang melahirkan kerajaan-kerajaan secara kuat di wilayahnya.

Seiring berjalannya waktu pemerintahan bangsa Mongol menyerap peradaban Islam dan pada gilirannya memeluk agama Islam. Keturunannya pun berkembang dan meluas hingga mampu melahirkan kerajaan-kerajaan besar yang membentang hingga ke seluruh asia tengah, anak benua India dan hingga ke Asia tenggara. Apa yang diketahui sebagai bangsa Tartar (bagian dari bangsa Mongol) yang menyerang Majapahit-Jawa adalah kerajaan Muslim yang datang dari daratan Tiongkok, dan lebih jelas berinteraksi dengan Muslim-Majapahit.

Dengan membaca pemikiran dan hasil penelitian Pater Jackson ini paling tidak kita bisa memberikan sudut pandang yang berbeda dalam melihat bangsa Mongol yang melakukan serangan ke Barat (wilayah kekhalifahan Abbasiyah). Di Indonesia, pandangan terhadap bangsa Mongol seringkali dipengaruhi oleh sudut pandang cendekiawan Arab-Persia, sebagai pihak yang merasa dirugikan dengan kehancuran Baghdad, bukan sudut pandang yang lebih objetif melihat realitas peradaban. Cara pandang yang Arab-Persiasentris inilah yang menyebabkan ketidakseimbangan penelitian dan menghasilkan sebuah kesimpulan yang bersifat menghakimi dan menyudutkan.

Sebagamaina diketahui, kehancuran kekhalifahan Abbasiyah, kerajaan Khawarizmi, dan emirat-emirat lainnya oleh bangsa Mongol hanyalah sebuah sebab yang mengawali kehancuran meraka itu sendiri. Seandainya, tanpa ada serangan bangsa Mongol pun kekhalifahan Abbasiyah akan menghadapi kehancuran yang sama dengan penyebab yang berbeda, begitu juga dengan kerajaan Khawarizmi.

Secara moral dan spiritual, kekhalifahan Abbasiyah dan Khawarizmi sudah mengalami kerusakan dan kehancuran. Mereka islam secara identitas kekuasaan, namun sudah bukan Islam lagi secara moralitas-indivisu. Dalam kronik-kronik sufi yang hidup di zaman menjelang penyerangan bangsa Mongol banyak diceritakan bahwa khalifah dan kehidupan istananya merupakan lambang kemewahan, pemborosan, keserakahan, penindasan rakyat, dan kebobrokan sistem pemerintahan yang tidak lagi berpihak pada umat Islam. Kehidupan penuh selir, mabuk-mabukkan, minuman dengan gelas emas yang diharamkan adalah hal yang biasa.

Sehingga, tidak salah juga jika mereka (kekhalifahan Abbasiyah dan emirat-nya) pada akhirnya juga musnah dan runtuh, bak kiamat menelan kekuasaannya. Penyerangan bangsa Mongol hanya penyebab awal saja. Selebihnya rakyat sudah lama bosan dan siap melakukan pemberontakan secara terorganisir. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pasukan Muslim yang ada disisi bangsa Mongol, dan kehidupan setelah dalam kekuasaan bangsa Mongol.