Juni 15, 2021

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

NEGERI ARAB BUKAN LAGI KIBLAT DAN TELADAN PRAKTIK KEBERISLAMAN (2)

Perempuan Arab yang mulai akrab dengan kehidupan modern, kendati tetap dengan pakaian tradisionalnya

Mohammad Syihabuddin

Perbedaan yang tajam antara Sunni-Syi’ah

Masalah klasik yang tidak akan pernah bisa ditemukan titik temunya adalah perseteruan Sunni-Syi’ah. Kedua kelompok ini mempunyai riwayat panjang untuk saling mengklaim sebagai “penerus sejati” Rasulullah, yang kemudian dilanjutkan dengan peperangan dari generasi ke generasi.

Konflik ini muncul dan tumbuh di negeri Arab, dan sampai saat ini konflik ini menjadi sensitif dan menimbulkan beragam ancaman militer yang mengerihkan.

Di negeri-negeri Arab perseteruan Sunni-Syi’ah tak terelakkan. Keduanya seolah anjing dan kucing yang akan terus menerus melanjutkan konflik. Jika Sunni dipimpin oleh Mesir dan Arab Saudi maka Syi’ah dipimpin oleh Iran. Ketiga negara ini menjadi kiblat politik Sunni-Syi’ah yang dilembagakan dalam bentuk “negara” di dunia Arab dan tentunya pula masing-masing membentuk sayap militer dan koalisi politik dengan sesame negara Arab.

Konflik di negeri-negeri Arab tidak pernah lepas dari pengaruh Iran dan Arab Saudi, keduanya akan menjadi pendukung diantara dua kekuatan yang berkonflik di negeri Arab, seperti di Libya, Sudan, Yaman dan Suriah.

  • Pertumbuhan negeri-negeri Arab menuju Dunia Eropa

Negeri-negeri Arab, terutama negeri-negeri kaya telah mengubah bentuknya menjadi negara Eropa. Mereka menghadirkan kenikmatan, kenyamanan, kekayaan, dan keramaian seperti halnya yang dikembangkan di Eropa dan Amerika.

Dubai, Abu Dhabi, Kairo, Beirut, Abdullah City, Casablanca, dan kota-kota di negeri Arab lainnya merupakan kota-kota yang berpenampilan seperti Los Angeles, London, Paris, Hawai, Rio de Jenairo dan sebagainya. Di dalam kota-kota Arab yang maju saat ini sudah ada hotel yang bebas pasangan, diskotik, restoran mewah, pantai penuh bikini, mall dengan beragam produk barat, dan yang paling tragis pesta pora ala zaman fir’aun sudah menjadi kenyataan di dunia Arab yang tidak dinafikan.

Dengan kata lain, norma-norma Islam dan halal-haram sudah tidak lagi menjadi standart di kota-kota Arab yang maju karena mereka sudah mulai berfikir pragmatis untuk menarik wisatawan mancanegara dari seluruh dunia, agar bisa berkunjung ke negerinya.  

  • Dunia Arab disibukkan dengan perang dan konflik internal yang berdarah

Perang saat ini yang tidak (belum) berhenti, baik di Suriah, Libya, Yaman maupun Sudan juga Israel-Palestina masih menjadi duri dalam daging bagi negeri Arab. Konflik bersenjata di negeri-negeri itu cukup menguras tenaga dan pikiran yang menyebabkan kurangnya fokus dalam pembangunan.

Perang yang berkepanjangan ini menjadikan negeri Arab di Suriah, Yaman, dan Libya porak-poranda. Masyarakatnya banyak yang mengungsi dan kota-kotanya menjadi kosong. Orang-orang yang memiliki keahlian sipil (dosen, dokter, penulis, saintis) pergi meninggalkan negerinya dan pindah ke Australia atau ke Eropa.

Perang-perang di negera ini dengan sendirinya akan memberikan gambaran yang jelas bahwa masyarakat Arab masih belum selesai dengan dirinya sendiri dalam membentuk kesepakatan sistem bernegara. Banyak kepentingan yang masuk dan banyak pula kepentingan asing yang menengok sumberdaya alam yang diperebutkan.

Bahkan Somalia, sampai saat ini menjadi negara Arab yang paling miskin di dunia bersama Ethiopia. Padahal di zaman Rasulullah kedua negeri itu merupakan kerajaan besar.    

  • Para guru sufi tidak lagi berada di Arab

Guru sufi merupakan ahli waris keilmuan Rasulullah yang diajarkan melalui praktik dzikir dan suluk. Keberadaan Guru Sufi inilah inti dari ajaran Islam yang berperan sebagai pembimbing umat Islam untuk menemukan jalannya menuju ke Tuhan. Dan ternyata, sosok guru sufi ini sudah tidak lagi berada di negeri Arab.

Di Arab, pasca perang dunia I sudah tidak ada lagi guru sufi yang ada di negeri itu. Para intelektual muslim lainnya juga sudah pergi ke negeri lain, termasuk para keluarga keturunan Rasulullah, sudah banyak pergi meninggalkan negeri Arab. Mereka menuju ke kepulauan Hindia atau ke Afrika Selatan.

Tanah (orang) Arab saat ini bukanlah Arab di zaman Rasulullah dan sahabatnya, atau di zaman kekahlifahan Umayah-Abbasiyah-Utsmaniyah. Arab saat ini lebih dekat dengan Eropa, lebih dekat dengan Amerika karena kawasannya yang menjadi perseteruan yang tidak kunjung usai pasca runtuhnya kekhalifahan Utsmani.

Untuk menemukan para ahli waris keilmuan Rasulullah sudah tidak lagi bisa dicari di negeri Arab, karena negeri Arab sudah ditinggalkan dan sudah tidak lagi menjadi tempat singgah para ahli sufi. Di Arab sudah tidak ada lagi ahli dzikir atau ahli suluk, karena mereka sudah pindah ke negeri muslim lainnya.

  • Pengajaran keilmuan Islam di dunia Arab kurang dinamis dan kurang berkembang.

Belajar di negeri Arab tentang “Islam” sudah tidak lagi bisa menjamin sebagai sarjana muslim yang mumpuni. Sudah banyak kampus-kampus di dunia yang memiliki standart lebih baik dan lebih modern dalam mengembangkan keilmuan islam. Salah satunya adalah Indonesia.

Dibandingkan belajar keilmuan islam di negeri Arab yang sudah using dan ketinggalan zaman, belajar di kampus-kampus Indonesia atau di pesantren di Indonesia jauh lebih baik dan lebih bisa diandalkan.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat cepat dan sangat massif pada gilirannya membuka keran yang lebih luas bagi negera-negara muslim selain Arab untuk saling bersaing dan berlomba-lomba mengembangkan inovasinya. Tidak salah jika kemudian Turki, Indonesia atau Malaysia kemudian bisa mengembangkan lembaga pendidikan lebih keren dari pada negeri-negeri Arab.