April 10, 2021

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

NEGERI ARAB BUKAN LAGI KIBLAT DAN TELADAN PRAKTIK KEBERISLAMAN (1)

Salah satu penguasa negeri Arab bersama Istrinya dalam sebuah kunjungan ke negeri lain

Mohammad Syihabuddin

Islam telah lahir dan tumbuh di tanah Jazirah Arab. Dari tanah gersang itulah Rasulullah Muhammad shallahu’alaihi wassalam telah memulai dakwahnya dan meneruskan risalah para nabi sebelumnya. Rasulullah mendapatkan tugas untuk memberikan “kabar gembiran, janji keselamatan, dan jaminan masa depan” kepada seluruh umat manusia dengan Islam sebagai agama dan memulainya dari negeri yang jauh dari peradaban dunia ini.

Seiring dengan berkembangnya zaman dan ekspansi politik-muslim awal (diabad 7-10 M) yang mampu menggeser kekuatan politik dunia lama (Persia dan Romawi) sehingga dengan sendirinya Bahasa Arab telah menjadi Bahasa dunia dan menjadi Bahasa intelektual masyarakat muslim. Alhasil, Bahasa Arab telah membentuki tradisi intelektual dan budaya pemikiran Islam yang sangat mengglobal.

Perkembangan Bahasa Arab ini kemudian melekatkan stereotip bahwa “masyarakat Arab” adalah teladan ideal dan kiblat bagi praktik keberislaman dan menjalankan syariat Islam secara totalitas. Semua keilmuan islam, baik fiqih, tasawuf, politik, sains, dan sebagainya telah bersumber dari negeri Arab dan huruf nya menggunakan huruf Arab serta bahasa Arab.

Kenyataan itu memang benar adanya. Akan tetapi itu dulu, sebelum runtuhnya kesultanan Utsmani dalam Perang Dunia I. Negeri-negeri Arab merupakan kiblat bagi dunia muslim, baik dalam keilmuan, pelaksanaan ibadah, dan penggalian sumber hukum Islam—terjadi sebelum adanya perang dunia I.

Ketika berakhirnya Perang Dunia I inilah maka Arab sudah mulai luntur dan sudah kehilangan posisi sebagai pusat peradaban Islam dan keilmuan yang dikembangkannya. Kendati keilmuan Islam masih didominasi dengan Bahasa Arab, karena al-Qur’an dan Hadits memang berbahasa Arab—akan tetapi negeri Arab sudah tidak bisa lagi digunakan sebagai standart utama dunia muslim dalam praktik beragama dan kiblat dalam pemikiran islam.

Dewasa ini, di negeri Arab yang bisa dijadikan kiblat hanya tiga, yakni kota suci Mekkah dan Madinah berada di Arab, al-Qur’an dan Hadits menggunakan Bahasa Arab, dan bekas-bekas sejarah peradaban Islam masih banyak di negeri Arab. Hanya itu. Selebihnya, terutama dalam konteks pengembangan keilmuan dan praktik beragama sudah tidak lagi menggunakan standart masyarakat Arab sebagai kiblatnya.

Beberapa fakta yang menunjukkan bahwa negeri-negeri Arab tidak lagi bisa digunakan sebagai standart keberislaman masyarakat muslim dunia adalah sebagai berikut, yaitu :

  1. Islam sudah menyebar ke seluruh dunia dengan beragam tradisi masyarakat yang berbeda.

Islam saat ini sudah berada di hampir semua kawasan di dunia. Islam tidak lagi berada di negeri-negeri Arab, Turki, India atau Nusantara (sebagai negeri dengan mayoritas penduduk muslim). Orang yang beragama islam sudah menyebar di seluruh dunia dan menjadi masyarakat yang paling beragam dengan tradisi yang berkembang di lingkungannya. Mereka ada di Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, Australia, Asia Timur, dan bahkan Afrika Selatan.

Penyebaran masyarakat muslim di seluruh dunia ini menuntut adanya perkembangan budaya dan tradisi yang lebih akrab dan dekat dengan lingkungan hidupnya. Sehingga, tanpa menghilangkan akar keimanan agamanya, masyarakat muslim di seluruh dunia ini bisa mengembangkan islam yang bersumber dari lingkungannya masing-masing.

Karena hal itulah muncul istilah “islam kawasan” yang merupakan sebuah inovasi pengembangan dakwah Islam, pengembangan masyarakat islam, pertumbuhan budaya islam yang diselarasakan dengan tradisi dan budaya masyarakat setempat, dimana orang-orang islam ini telah hidup.

Lahirlah istilah-istilah keilmuan islam yang bersumber dari kawasannya tumbuh, seperti islam Asutralia, Islam Eropa, Islam Cina dan Islam Indonesia yang tentunya akan berbeda dengan budaya dan tradisi yang berkembang di negeri-negeri Arab.

Inilah sejantinya kekuatan islam yang utama dan kelak akan menjadi pondasi bagi eksistensi masyarakat dunia yang paling kokoh, karena sifatnya yang senantiasa relevan dan responsive terhadap perubahan masyarakat.  

  • Masyarakat Arab gagal membentuk teladan dalam praktik bernegara.

Negara-negara Arab saat ini menjadi salah satu contoh negara yang gagal dalam menerapkan konsep bernegara. Masyarakat Arab yang disatukan dengan tradisi dan Bahasa yang sama (Bahasa Arab) telah terpecah belah menjadi 27 negara dengan mengesampingkan Iran sebagai “bukan orang Arab”.

Ke-27 negara ini juga memiliki sistem bernegara sendiri-sendiri yang tidak mempunyai satu kesamaan yang sama dan menjalankan agenda kerjasama yang ideal. Satu diantaranya menaruh curiga dan menyimpan agenda tersembunyi dengan menjalin kerjasama dengan pihak “musuh”.

Negara-negara Arab membentuk Liga Arab sebagai wadah untuk menyatukan ide negara-negara Arab agar bisa memecahkan masalah secara bersama-sama. Akan tetapi pada kenyataannya Liga Arab gagal melaksanakan tugasnya dan tidak efektif sebagai wadah bersama masyarakat Arab.

Ketidakefektifan Liga Arab melahirkan beragam kerjasama Regional antar negara Arab di luar Liga Arab. Misalnya, ada kuartet Arab Saudi, Mesir, Bahrain dan UEA. Lalu ada pula kelompok Turki, Iran dan Qatar. Kedua kelompok ini saling bermusuhan dan saling menaruh curiga.

Selain itu juga ada kelompok lain di dalam Liga Arab, yaitu kelompok negara demokrasi parlementer-presidensial dan negara monarki (kerajaan). Kedua kelompok ini selalu berbeda gagasan dalam kebijakan yang dianggap merugikan sistem negaranya masing-masing. Misalnya, negara-negara monarki Arab akan sangat takut dengan revolusi “Musim Semi Arab” terjadi di negerinya dan secara otomatis menutup secara total pintu demokrasi.

Disamping itu, demokrasi di negeri Arab juga belum banyak menampilkan hasil yang maksimal. Demokrasi di negeri Arab lebih banyak dikuasai oleh junta militer dan menutup suara-suara rakyat sipil, sehingga kekuasaan di negeri Arab dengan system presidensial lebih banyak dipimpin oleh militer.

bersambung ….