Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

NAWANG WULAN, IDENTITAS WANITA KELAS TINGGI RAS UNGGUL-JAWA DAN TELADAN IDEAL WANITA MODERN

oleh : Moh. Syihabuddin

 

Sosok wanita ideal dan identitas kelas tinggi jawa sepenuhnya telah melekat dan menempel pada sosok Nawang Wulan. Ia merupakan seorang wanita yang dikarunia kecerdasan, kecantikan dan sekaligus kesaktian yang sepenuhnya menyerahkan hidupnya pada lelaki yang telah meminangnya.

Sebagai sosok perempuan kelas tinggi yang turun dari kahyangan dan menikmati keindahan alam dunia Nawang Wulan bersama tujuh saudaranya. Dari proses mandi di sebuah sendang inilah Nawang Wulan kemudian dipertemukan dengan sosok Jaka Tarub dan akhirnya menikah dan menjalani hidup sebagai mana layaknya manusia biasa.

Siapakah Nawang Wulan? Apakah dia hanya sekedar mitos, cerita rakyat yang kebenarannya masih diperdebatkan, sosok siluman yang menjelma menjadi manusia, atau sosok jin yang masuk pada dimensi manusia atau sosok manusia biasa yang mempunyai kedudukan tinggi.

Terlepas dari perdebatan semua itu, yang jelas sosok Nawang Wulan diceritakan dari generasi ke generasi masyarakat Jawa dan keberadaannya dinyakini dan bahkan benarkan adanya. Beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur berebut sebagai lokasi tempat pemandiannya dan asal usulnya pertamanya menginjakkan kakinya. Desa Widodaren Ngawi, Desa Sumberagung Tuban, Desa Bumiayu Brebes dan juga di Tegal juga ada.

Sehingga menjadi jelas bahwa keberadaan Nawang Wulan merupakan sebuah kenyataan dan memang ada. Namun sejauhmana keberadaannya yang sebenarnya masih perlu penyelidikan yang lebih dalam. Pada sisi eksistensi masyarakat Indonesia sosok Nawang Wukan merupakan kebanggaan dan identitas lokal yang bisa digunakan untuk membendung arus globalisasi identitas karakter-karakter “Superhero “Amerika” dan tokoh-tokoh “Manga Jepang”.

Sebagai sosok bidadari dalam sebuah cerita rakyat pada konteks kekinian Nawang Wulang bisa diartikan sebagai wanita Jawa yang berkedudukan tinggi (derajad keluarga dan keturunannya), berilmu tinggi (mempunyai pengetahuan yang luas atau bahkan mencapai sarjana tertentu) dan bahkan memiliki kesaktian (mempunyai keahlian yang dimiliki oleh orang-orang ahli di zamannya, dukun vs dokter, tukang vs teknisi, penyihir vs fisikawan).

Dengan segala keistimewaan yang dimiliki itulah Nawang Wulan bisa dikatakan sebagai seorang wanita yang tidak bisa sembarang pria yang bisa mendekatinya dan mendapatkannya untuk dijadikan istri. Namun dalam kenyataannya dia terpesona (diterpesonai) oleh sosok pemuda (jejaka) yang dari kelas rendah dan berada di garis kemiskinan, Jaka Tarub.

Ketika menjadi istri jaka Tarub inilah Nawang Wulan benar-benar menjadi wanita sejati Jawa yang mencerminkan sosok istri ideal dalam tradisi kehidupan mulia orang Jawa. Ia melepaskan gelar keluarga-keturunannya, menanggalkan kedudukan tingginya, dan meninggalkan asal usulnya sebagai sosok wanita elit kelas tinggi (bidadari di kahyangan).

Menjadi sosok istri, dia menjalankan perannya secara maksimal, memasak, merawat anak, dan sekaligus merawat diri untuk tetap menarik dan bak keindahan alam semesta. Pada praktek memasak, wanita Jawa menempatkan keahlian dalam memadukan cita rasa hasil alam semesta untuk menjadi perihal hidangan yang menyegarkan dan melezatkan.

Keahlian memasak bukan sekedar mematangkan bahan mentah menjadi bahan matang, namun lebih daripada itu, ada sebuah energi spiritual, energi ketuhanan, energi yang turun dari langit, dari dzat Yang Maha Memberi Rizki, untuk bisa masuk ke dalam makanan yang diolahnya dan menyatu menjadi sebuah hidangan. Sehingga hidangan yang dimasaknya tidak hanya mengeyangkan perut (kepuasan badani) saja namun bisa memberikan kecenderungan kuat dalam ruhaninya untuk bisa membiasakan diri berdzikir dan menyebut Tuhan Yang Maha Esa. Artinya, kegiatan memasak merupakan kegiatan penting yang bisa memberikan pengaruh secara fisik, badani dan jasmani sekaligus bisa memberikan pengaruh secara ghaib, ruhani dan kasat mata.

Bahan makan yang dimakan oleh manusia sangat bergantung terhadap kualitas masakan dan orang yang memasaknya, baik secara kualitas maupun secara kuantitas. Perilaku, kecerdasan, dan kepekaan batin sangat dipengaruhi oleh pola makan yang telah masuk ke dalam tubuh. Bahkan kesehatan sangat dipengaruhi oleh keberadaan makanan yang telah dimasukkan ke dalam tubuhnya.

Oleh sebab itu tidak gampang memerankan diri menjadi seorang istri yang ahli masak. Keahlian itu membutuhkan kemampuan untuk bisa masuk ke dimensi batin dan sekaligus ke dimensi dzahir. Semakin tinggi kualitas si pemasak makanan maka semakin besar pula kualitas positif yang akan dihasilkan oleh si penikmatnya. Maka tidak salah jika kemudian Nawang Wulan menjalankan perannya sebagai istri secara totalitas untuk memasak sekaligus menerapkan seluruh ketinggian ilmunya pada peran tersebut.

Tidak mengherankan jika Jaka Tarub tidak mengetahui resep rahasia yang digunakan oleh Nawang Wulan untuk memasak. Karena sepanjang menikah dengan Nawang Wulan keluarganya tidak kekurangan makanan dan rizkinya senantiasa mengalir. Yang terjadi adalah suaminya sendiri tidak tahu atas keahlian istrinya, tidak mampu menembus apa yang menjadi keahlian istrinya.

Pada praktik melahirkan (manak) wanita Jawa telah memerankan sebagai sebuah ladang, tanah, sawah yang ditanami benih-benih untuk menghasilkan sebuah tanaman yang baik dan berbuah secara baik pula. Hal inilah yang telah diperankan secara maksimal oleh Nawang Wulan. Dia mempersiapkan diri untuk menjadi sosok wanita yang akan merawat benih yang telah ditanam didalam kandungannya. Benih itu sebuah “titip Tuhan” dan harus senantiasa “dikomunikasikan” dengan Tuhan.

Selama proses merawat kandungan, merawat benih dalam perutnya sosok istri harus selalu menjaga dan melakukan ritual khusus untuk terus menjalin komunikasi dengan “langit”. Tuhan yang menjadi dzat yang memberikan segala kebajikan disambung agar memberikan keistimewaan terhadap benih yang telah ditanam dalam buahinya. Dan peran berat inilah yang telah dilakukan oleh Nawang Wulan. Dengan segala keahlian dan keistimewaan yang dimilikinya dia menjalankan dirinya sebagai sosok istri yang baik dan bertanggungjawab. Benih yang ada dalam kandungannya senantiasa dijaga didirawat hingga kelak akan melahirkan sosok manusia yang berkualitas.

Sebagaimana diketahui bahwa kualitas manusia yang akan dilahirkan dari kandungan tergantung sejauhmana kandungan itu dirawat secara dua arah, baik dari yang menanam (bapak) maupun dari yang ditanami (ibu). Pada posisi Jaka Tarub dan Nawang Wulan inilah keduanya telah menjalankan peranan itu dengan sangat maksimal dan berkualitas tinggi. Nawang Wulan menerapkan semua keahliannya untuk merawat kandungannya dan Jaka Tarub pula melakukan hal yang sama, namun Nawang Wulan jauh lebih berkualitas karena ketinggian ilmunya.

Pada praktik berhias diri (macak) wanita Jawa menjalan dirinya sebagai representasi alam semesta yang sejuk, indah, meneduhkan, dan bahkan menumbuhkan apapun yang ditanam. Nawang Wulan telah menempatkan dirinya sebagai sosok yang indah seindah alam yang telah ditempatinya, alam Nusantara yang memiliki beranekaragam keindahan alam, dari laut hingga gunung dan hutan. Dengan menghias diri maka perempuan akan mewujudkan dirinya sebagai keberadaan keindahan alam yang sudah seharusnya terjadi dan diperindah secara maksimal.

Menghias diri merupakan sebuah keniscayaan bagi seorang istri, tidak hanya dalam rangka mewujudkan cintanya pada suaminya namun lebih dari pada itu, dia adalah perwujudan dari alam semesta. Sebagai mana yang diketahui (pada kosakata Arab, misalnya) bahwa semua alam semesta dihukumi mu’anas, atau wanita, yang menegaskan arti bahwa alam semesta yang luas, indah dan tak terbatas keluasan dan kedalamannya itu menempel pada sosok wanita. Maka dengan menjalankan peran sebagai istri yang ahli menghiasa diri sama halnya mewujudkan dirinya sebagai alam semesta yang indah dan penuh pesonan.

Dalam konteks kehidupan modern dewasa ini tentu menjadi sebuah keharusan bagi wanita-wanitya Jawa (Indonesia Muslim) untuk meneladani Nawang Wulan dalam kemaksimalannya menjalankan posisinya memasak, melahirkan dan menghias diri. Karena dengan menjalankan tiga peranan tersebut justru akan menunjukkan (bahkan menaikkan) derajad ketinggian posisi wanita Jawa. Yang artinya wanita Jawa bisa menyatukan dirinya dengan keindahan alam sekaligus menjadi penghubung secara langsung (objek komunikasi) antara dunia manusia dengan dimensi ketuhanan.