Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

NASIONALIS-RELIGIUS “TETAP KALAH” MENGHADAPI NASIONALIS-SEKULER

Oleh :

Moh. Syihabuddin

pengamat politik, alumnus pascasarjana UINSA Surabaya

Pertarungan politik di panggung Pilpers 2019 usai sudah dan kemenangan sudah jelas menunjukkan pasangan nomor 1, Jokowi-Ma’ruf dan kekalahan pasangan nomor 2, Prabowo-Sandi. Kemenangan ini semakin dikuatkan dengan dilantiknya presiden dan wakil presiden terpilih beserta para menteri-menterinya yang akan membantu presiden menjalankan pemerintahan lima tahun ke depan pada bulan oktober tahun ini.

Dalam hemat penulis, sepanjang proses perjalanan pemilu 2019 kemarin Pilpers telah membentuk dua kutub besar yang memisahkan dua kekuatan besar ideologi politik di Indonesia, Nasionalis-Religius dan Nasionalis-Sekuler.

Dua kutub Kekuatan Politik

Nasionalis-Religius adalah kekuatan atau kelompok politik yang mengintegrasikan gagasan nasionalisme Indonesia dengan ide-ide religiusitas Islam dan nilai-nilai keagamaan. Mereka adalah representasi dari kelompok-kelompok Islam yang tetap mendukung eksistensi Indonesia dengan segala bentuknya, baik dalam bentuk Negara Kesatuan (NKRI) atau dalam bentuk lainnya (NII, atau sejenisnya).

Kelompok ini diwakili oleh PKB, PPP, PAN, PBB dan PKS. Termasuk dalam poros ini adalah organisasi keagamaan yang berkembang pesat di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Hidayatullah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) juga termasuk dalam barisan ini.

Adapun Nasionalisme-Sekuler adalah kekuatan atau kelompok politik yang mengintegrasikan gagasan nasionalisme Indonesia dengan ide-ide sekulerisme, memisahkan antara urusan keagamaan dengan kegiatan kenegaraan. Mereka adalah reperesentasi dari kelompok-kelompok politikus yang tidak menghiraukan identitas keagamaannya secara nyata pada seluruh praktik politiknya, kendati mereka merupakan individu yang taat beragama dalam kehidupan sehari-harinya. Kelompok ini secara mendukung gagasan nasionalisme Indonesia dalam bentuknya yang sudah final, NKRI.

Kelompok ini diwakili oleh Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PDI-P, Partai Nasdem, PKPI, Partai Hanura, Partai Berkarya, Partai Garuda, Partai Perindo dan PSI. Beberapa ormas yang tidak berafiliasi pada keagamaan tertentu masuk dalam kategori kelompok ini, misalnya Pemuda Pancasila.

Pilpers yang Membelah Dua Kekuatan

Pada ajang perhelatan pilpers 2019 ini kedua kekuatan politik diatas telah terbelah menjadi dua, keduanya memiliki kekuatan yang sama-sama mengandung ideologi politik yang sama. Pada poros Jokowi-Ma’ruf pasangan nomor 1 ada kelompok Nasionalisme-Religius, yakni  PKB dan PPP, dan ada juga kelompok Nasionalisme-Sekuleris, yakni PDI-P, Golkar, Nasdem, dan Hanura. Ditambah tiga kelompok non-parlemen, yaitu PKPI, Perindo dan PSI. Sedangkan pada poros Prabowo-Sandi pasangan nomor 2 ada kelompok Nasionalis-Religius, yakni PAN dan PKS dan juga ada kelompok Nasionalis-Sekuler, Demokrat dan Gerindra.

Kedua pasangan calon presiden-wakil presiden ini sama-sama memiliki basis kekuatan ideologi politik di Indonesia yang sama-sama bisa memberikan pengaruhnya yang cukup kuat. Keduanya memiliki jaringan yang cukup berpengaruh dalam menentukan jalannya pemilihan presiden. Ini dibuktikan dengan peraihan surau pada pemilu legislatif yang diselenggarakan secara bersamaan di tahun 2019.

Konstelasi perhelatan pilpers semakin menarik tatkalah kekuatan politik Muslim non-Partai di Indonesia juga terbelah menjadi dua pada dua kekuatan pilpers 2019 ini. Kelompok Islam-moderat yang diwakili oleh NU dan Muhammadiyah berdiri di depan Jokowi-Ma’ruf sedangkan kelompok Islam-Radikalis yang diwakili oleh FPI dan eks-HTI berada di barisan Prabowo-Sandi. Praktis perhelatan ini benar-benar telah membelah umat Islam menjadi dua bagian yang cukup besar, kelompok Islam-Moderat vis a vis kelompok Islam-Radikalis.

Mesin Perang Pilpres 2019

Terbelahnya dua kekuatan politik Muslim non-Partai ini jelas menjadikan pertempuran pilpers semakin sengit dan menarik, karena yang benar-benar terlibat dalam pertempuran adalah kelompok Nasionalis-Religius, bukan Nasionalis-Sekuleris. Padahal calon presiden merupakan kader utama dari kalangan Nasionalis-Sekuleris, PDI-P versus Gerindra.

Di tingkat gresroot pertempuran pilpres justru semakin mendekati kekerasan dan kekacauan tatkalah Nahdlatul Ulama semakin nyata menghadapi eks-HTI dan FPI. Dalam pertempuran ini Muhammadiyah cenderung kurang terlihat perannya dan kurang menjadi kekuatan arus utama yang terlibat secara nyata—mereka cenderung diam dan kurang menjadi sorotan media. Yang benar-benar terlibat secara nyata dalam pertempuran pilpers di kalangan masyarakat bawah adalah Nahdlatul Ulama menghadapi eks-HTI dan FPI.

Ibarat sebuah pertempuran di medan terbuka barisan kelompok Nasionalis-Sekuleris di kedua belah pihak “duduk manis” di belakang, sambil mengibarkan bendera, mengamati jalannya pertempuran dengan teropong, membaca peta pertempuran, dan yang “keren” mengatur pampasan perang jika perang usai.

Sedangkan kelompok Nasionalisme-Religius dikedua belah pihak telah dedel duel mempertaruhkan nyawa, saling menebas pedang, saling bacok, saling melukai, saling mengeluarkan peralatan perang terbaik guna melumpuhkan musuh, rame-rame menusukkan tombak, melempar granat, menusukkan bayonet, dan mencari target untuk dilumpuhkan. Terkait pampasan perang mereka berdua hanya “yakin-pasti-dapat” namun belum jelas juga hasilnya. Karena korban yang diderita cukup besar dan tenaganya terkuras lelah menjalani pertempuran.

Medan tempur terjadi di dua dimensi yang berbeda. Di kawasan dimensi nyata kedua kekuatan politik Islam, baik partai ataupun non-partai saling serang dan saling menunjukkan kekuatan massa-nya. Dan di kawasan dimensi maya juga, kedua kekuatan saling serang, membentuk opini dan saling menjatuhkan dengan wacana-wacana yang “menyakitkan”. Justru pada kawasan dimensi maya ini pertempuran lebih sengit dan lebih menyakitkan dari pada di dunia nyata.

Hasil Pertempuran; Siapa yang Menang?

Ketika hasil pertempuran pada perhelatan pilpres sudah nampak, dan pemenangnya sudah bisa diprediksi barisan pasukan pasangan Jokowi-Ma’ruf sudah siap-siap untuk membagi pampasan perang. Jatah wilayah jajahan sudah siap untuk dibagikan secara merata sesuai dengan tenaga dan kekuatan yang telah dicurahkan untuk kemenangan. Para relawan (ormas; NU-Muhammadiyah) dan pasukan reguler (Partai Pendukung) di barisan pemenang sudah merasa aman dengan posisinya, ada banyak harta dan kekayaan yang diperolehnya dari proses jalannya pertempuran yang sudah dimenangkan.

Namun tatklah proses pembagian itu sudah dilakukan dan pampasan perang sudah dipeta-petakan kejadian tak terduka terjadi tanpa bisa diprediksi oleh para barisan pasukan yang membantu memenangkan pertempuran di sisi pasangan Jokowi-Ma’ruf.

Kelompok ideologi gerakan politik Nasionalis-Sekuleris yang awalnya berseberangan dan berperang akhirnya duduk bersama dan menentukan masa depan bersama. Mereka membahas bersama-sama masa depan pasca-perang yang telah karut-marut.

Hasilnya, kaum dengan ideologi gerakan politik Nasionalis bersatu untuk menyatakan atau mendeklarasikan kemenangan, Jokowi-Parbowo menjadi pasangan ideal untuk membangun negeri. Adapun wakilnya, Ma’ruf-Sandi hanya berperan kurang penting dan kurang bisa menentukan kebijakan yang sangat berarti.

Kelompok Nasionalis-Religius pun disingkirkan dari panggung kemenangan, tidak diajak untuk membangun negeri dan menikmati kemenangan bersama-sama. Ini dibuktikan dengan tidak adanya menteri dari kalangan Nahdlatul Ulama, sebagai komponen pasukan (relawan) yang terdepan dalam perang pilpres 2019. PKB di akhir kepemimpinan dihabisi dengan dugaan korupsi, jatah menteri dikurangi, dan posisi penting kementrian gagal diberikan padanya. PKS sama sekali disingkirkan dari barisan koalisi dan satu-satunya partai oposisi pada pemerintahan baru.

Bagaimana pun juga, perhelatan politik di Indonesia belum bisa memihak pada gerakan politik Muslim kendati secara kuantitatif merupakan kelompok mayoritas. Baik golongan Islam-moderat maupun golongan Islam-radikal, tidak akan mendapatkan kekuasaan utama dalam memimpin negeri ini. Kemangan tetap ada pada kaum Nasionalis-Sekuleris, dan kekalahan tetap ada pada kaum Nasionalis-Religius.

Mungkinkah ini bagian dari sekenario kelompok Nasionalis-Sekuler untuk memecah belah kekuatan Nasionalis-Religius? Penulis tidak tahu. Silahkan pembaca melihat sendiri fakta yang terjadi dan bagaimana negeri ini di masa depan dijalankan.

Wallahu’alam bi showaf