Mysterious Girl; Kisah Santri-Santri Putri Mencari Keajaiban (Part 2)

Lima santri yang dipimpin oleh Kirana, sedang keheranan melihat sebuah keajaiban di dalam tempatnya menuntut ilmu. Mereka melihat beberapa hal yang menajubkan dan mengherankan, hingga membuat mereka berlima penasaran

kitasama.or.id – Bu Arinal memasuki ruang kelas Ia menyadari ada yang beda di kelasnya, suasana begitu hening. Bu Arinal melangkah menuju mejanya. Mata Bu Arinal menatap ke meja barisan ke tiga, nampak ada tiga bangku kosong di sana, ya kelima gadis itu tidak ada di tempatnya. Entah dimana mereka atau sedang apa? Awalnya Bu Arinal menduga kalau kejadian itu hanya akan terjadi sekali, tapi tidak bahkan setiap pelajarannya mereka selalu menghilang walau awalnya tadi mereka masuk.

Suatu hari Bu Arinal melihat mereka ada dikelas saat pelajaran lain, terpaksa Bu Arinal pun memanggil mereka, kelima gadis itu saling pandang dan berjalan mengikuti kemana Bu Arinal melangkah, sampailah mereka di sebuah ruangan paling ujung dan dekat dengan taman sekolah, Bu Arinal membuka ruangan itu dan menyuruh mereka untuk masuk, di dalamnya ada  beberapa meja dan bangku yang tak terpakai di tumpuk disana, dua rak yang penuh dengan buku buku.

Bacaan Lainnya

“Kenapa Ibu mengajak kita kesini?” Tanya Kirana penasaran

“Ini adalah hukuman buat kalian.”

“Hukuman?”

“Kalian sudah lima kali berturut turut tidak mengikuti pelajaran Saya tanpa ijin, jadi Saya harus menghukum kalian.”

“Maksudnya Ibu akan mengurung Kita disini gitu?” Yuan mulai menebak. Bu Arinal hanya tersenyum mendengar pernyataan itu.

“Saya tidak hanya akan mengurung kalian disini, tapi Saya juga akan meminta kalian untuk membersihkan tempat ini.”

“Haaaahhhhhh!!!”

“Yang benar saja Bu.” Manisa mulai kesal, ingin sekali Ia menghilang dari hadapan gurunya itu biar terhindar dari hukuman.

“Kenapa? Kalian keberatan?”

“Ya jelas keberatan dong Bu…membersihkan kelas yang ramai ramai aja udah berat apalagi ini Cuma berlima, Ibu kalau kasih hukuman kira kira dong Bu..” Keluh Nella

“Ini sudah setimpal dengan kesalahan kalian, tapi kalau Kalian masih mengulanginya lagi, bukan hanya ruangan ini tapi seluruh ruangan yang akan Aku suruh bersihkan.”

Mereka saling menatap mendengar penjelasan Bu Arinal, mulut Manisa terlihat komat kamit ngoceh ngoceh tidak jelas.

“Terus ini kapan selesainya Bu..?” Syifa mulai angkat bicara.

“Untuk itu kalian jangan hanya mengeluh saja, Aku kasih waktu tiga puluh menit untuk membersihkan ruangan ini, jadi gunakan waktu sebaik mungkin..”

“Tapi Buu…!” Suara Yuan terpotong karena Bu Arinal sudah keluar dari ruangan dan mengunci mereka.

“Bu.. Bu Arinal buka Bu….” Teriak mereka tapi tak di hiraukan oleh Bu Arinal. Mereka melihat dari jendela kaca ruangan itu bagaimana bu Arinal pergi meninggalkan mereka.

“Siaalllll!!!” Lagi lagi kemarahan Manisa memuncak sambil menendang nendang pintu ruangan yang terkunci itu.

“Haaaahhhh… Benar, benar yaa Bu Arinal, sebel!”

Setelah beberapa menit mengeluh mereka pun akhirnya membersihkan tempat itu, saat Kirana mencoba merapikan buku buku di rak tiba tiba sesuatu terjatuh dari salah satu buku yang Ia rapikan, sebuah foto ukuran 3R. Kirana mengambil foto itu, foto seorang gadis yang seumuran dengannya sedang duduk sendiri membaca buku di sebuah ruang kelas. Kirana tidak mengenali siapa gadis dalam foto itu dan sepertinya foto itu diambil puluhan tahun yang lalu, itu terlihat dari seragam yang di pakai gadis itu tidak seperti seragam jaman sekarang dan bangunannya pun nampak kuno.

 Tiga puluh menit berlalu, tapi bu Arinal belum juga datang membukakan pintu untuk mereka.

“Duhh capeknya!” Keluh Yuan

“Duhhh laparrr!” Tambah Nella, yang membuat teman temannya hanya geleng geleng kepala.

“Kamu itu Ya, makanan melulu yang Kamu pikirkan.”

“Tapi beneran lapar Fa, emang kamu enggak lapar?”

“Enggak.”

“Ini udah lewat tiga puluh menit kan? Kenapa bu Arinal belum juga datang sih?” Manisa kembali kesal

“Apa jangan jangan bu Arinal sengaja mengurung Kita sampai jam terakhir?” Syifa mencoba menebak dengan ekspresi takut.

“Kalau tahu begini aku enggak bakalan masuk sekolah.”

Keempat gadis itu saling meluahkan kekesalannya sama bu Arinal, hanya Kirana yang terlihat tenang duduk di sebuah bangku sambil memandangi foto yang di temukannya tadi, Kirana tidak mengembalikan foto itu pada tempatnya justru Ia mengambilnya entah apa yang membuat Kirana tertarik dengan foto itu seperti ada yang mengusiknya.

★★★

 Bel pulang sekolah berbunyi semua murid keluar dari kelasnya masing masing, saat sampai di gerbang sekolah Kirana menghentikan langkahnya sambil membuka tasnya dan mencari sesuatu.

“Ada apa Kir?”

“Buku Matematika ku tertinggal di kelas, kalian berangkat aja dulu nanti Aku susul.” Kata Kirana menjelaskan, mereka memang sudah berjanji untuk makan seblak di warung langganannya usai pulang sekolah.

Setelah mengambil bukunya yang tertinggal dan hendak keluar kelas, Kirana melihat seorang gadis memasuki ruangan yang ada di ujung, sebuah ruangan dimana Ia dan teman temannya dapat hukuman dari Bu Arinal.

Karena penasaran Kirana pun menghampiri dan melangkah menuju ruangan itu, sampai di depan ruangan Ia melihat pintu tertutup tapi tak terkunci, jelas saja waktu itu Bu Arinal mengambil gembok dan kunci di kantor dan mengunci mereka dari luar supaya tidak melarikan diri, meski tak terkunci Kirana enggan untuk membuka ruangan itu, Ia pun mengintip dari jendela kaca ruangan itu tapi tidak ada siapa siapa di dalam.

Kirana berpikir mungkinkah itu hanya perasaannya saja, ataukah Ia salah lihat, tapi tetap saja kejadian itu mengganggu pikirannya.

“Kirana!” panggil Syifa yang menyadari kalau dari tadi temannya hanya melamun dan mengaduk aduk seblak di hadapannya.

“Kir!!” panggil Syifa lagi sambil memegang pundak sahabatnya karena panggilan pertamanya tak di hiraukan.

“Hheemmm!”

“Kamu kenapa sih?”

“Iya, dari tadi diam saja, lihat tuh seblak mu sudah mulai dingin.”

“Kamu lagi ada masalah?”

“Lagi mikirin siapa sih?”

“Kalian ini apa apaan sih, enggak ada pa pa!” Bantah Kirana saat teman temannya mengajukan beberapa pertanyaan.

“Beneran tidak ada apa apa?”

“Iya beneran!”

“Atau Kamu emang lagi enggak enak makan ya, biar Aku aja yang makan seblakmu.”

“Nelllaaaaa…” Kata mereka kompak mengaju pada Nella yang memang hobi makan.

“Lihat aja tuh, yang lain satu aja belum habis, kamu sudah mau habis tiga.” Yuan menambahkan pernyataannya, dan Nella hanya tersenyum menanggapi pernyataan itu.

★★★

Suatu hari saat mereka kumpul di taman sekolah tepatnya di bawah pohon yang sudah menjadi titik kumpul mereka, pandangan Kirana tertuju pada seseorang yang memasuki ruangan tak terpakai, karena jarak yang terlalu jauh hingga membuat Kirana sukar untuk melihat wajahnya yang jelas yang dilihatnya adalah seorang gadis. Kirana beranjak dari tempatnya dan berlari menuju ruangan itu, semua teman temannya saling pandang merasa heran dengan sikap Kirana.

Sanpai di tempat Kirana tidak melihat siapa siapa diruangan itu, hal itu semakin membuat Kirana penasaran ada apa sebenarnya di ruangan itu.

“Kirana!”

Merasa terkejut ada yang memanggil namanya Kirana membalikkan badan, Bu Arinal tepat berdiri di belakangnya.

“Apa yang sedang Kamu lakukan di sini?”

“Mmmm..aaa… Tidak ada apa apa bu”

Merasa gugup Kirana pun segera berlari dan meninggalkan gurunya, Bu Arinal hanya geleng geleng kepala dan memandangi Kirana kembali bergabung dengan teman temannya.

“Apa mungkin gadis yang Aku lihat di ruangan itu adalah gadis yang ada di dalam foto ini?” pikir Kirana sambil memandangi foto yang Ia temukan di ruangan tempat Ia dan teman temannya dapat hukuman dari Bu Arinal. Dari segi postur tubuh terlihat sama hanya saja wajah gadis yang sering Ia lihat tidak begitu jelas.

“Kir!!” Syifa mengagetkan Kirana dilanjut dengan hadirnya teman temannya yang lain, Kirana buru buru memasukkan kembali foto yang Ia temukan ke dalam tas.

“Aahh Syifa.. Kamu ngagetin aja.”

Syifa pun tertawa melihat wajah  Kirana yang terkejut.

“Kir, besok ada konsernya band favorit kita lho nonton yuk!” Ajak Yuan

“Besok..besok malam?”

“Kalau besok malam keburu selesai acaranya Kir…” Manisa menjelaskan, karena acaranya di mulai siang hari

“Besok pagi Kita kumpul di alun alun ya, untuk masalah kendaraan dan tiket Aku sama Nella yang ngatur.” Jelas Yuan yang mentang mentang anak orang kaya.

“Urusan makanan Aku juga siap.” Tambah Nella

“Tapi besok kan ada pelajarannya Bu Arinal.!” Kata Kirana mengingatkan karena Ia tak mau jika sang guru menghukumnya lagi.

“Ahhh iya benar juga gimana dong?” Syifa mulai was was dan memikirkan hukuman apa lagi yang akan guru itu berikan kalau mereka bolos  di jam pelajarannya.

“Halahh..sekali kali bolos gak pa pa kan, lagian Kamu kenapa sih Kir? Kayaknya Kamu takut sekali sama Bu Arinal?” Yuan mencoba menebak apa yang ada di pikiran Kirana terlihat sekali dengan tatapannya yang seolah olah menaruh curiga pada Kirana.

“Takut? Tidak ada kata takut dalam kamus  Aku ya! Asal kamu tahu itu.”

“Hhhmmm betul itu, lagi pula bukan kita kalau enggak dapat hukuman dari guru, mungkin guru guru udah pada lapar untuk menjadikan kita santapannya.”

“Hah?” Kata Syifa tidak mengerti dengan perkataan Manisa barusan.

“Yaa.. Kita kan sudah lama tidak dapat hukuman, jadi rasanya kayak gimana gitu..!”

Semuanya pun tertawa, dan mulai membicarakan tentang rencana mereka besok.

 Keesokan harinya merekapun berkumpul di tempat yang sudah mereka janjikan dan mengganti seragam mereka dengan pakaian sehari sehari, lalu menaiki sebuah mobil yang di hadangnya.

 Di ruang kelas, Bu Arinal menyadari kelima gadis itu tidak ada di tempat duduknya, nampaknya mereka bolos lagi saat pelajarannya.

Pos terkait