Mysterious Girl; Kisah Santri-Santri Putri Mencari Keajaiban (Part 1)

Lima gadis santri sedang berada di sebuah ruangan kelas yang biasa digunakan untuk belajar, mereka melihat kenyataan yang berbeda dengan sehari-hari selama mengaji

kitasama.or.id – Suara berisik terdengar di salah satu ruang kelas, sebagian murid saling lempar kertas ada yang memukul mukul meja membuat nada nada yang tak beraturan, ada juga yang bertengkar tanpa ada yang melerai tapi justru malah saling dukung satu sama lain. Suara sorakan sorakan tak jelas membuat kelas ini benar benar berantakan.

Suara langkah kaki menuju kelas itu pun tak terdengar oleh telinga mereka, hingga sebuah lemparan kepalan kertas dari seorang gadis yang duduk di bangku barisan ke tiga tepat mengenai seorang guru perempuan yang berdiri di depan pintu hendak masuk, spontan suara berisik itu pun berubah jadi hening, sang guru memandangi setiap wajah penghuni kelas, ada yang sudah duduk rapi di bangku masing masing, ada yang masih berdiri mematung ada juga yang tanpa sadar duduk di atas meja.

Bacaan Lainnya

Guru itu melangkah menuju mejanya, setelah meletakkan tas dan beberapa buku yang dibawanya tadi, pandangannya pun kembali ke arah murid muridnya yang masih dalam posisi sama, matanya melirik ke seluruh ruang kelas kertas kertas berserakan disana atau mungkin lebih tepatnya sampah kertas.

“Saya ingin kalian membersihkan kelas ini kembali.”

“Apa? Maksudnya kita semua?” Suara seorang gadis berkacamata yang masih berdiri di samping bangkunya setidaknya ada lima gadis yang berdiri disana.

“Kenapa?”

“Tapi Kita kan enggak lagi piket,  kenapa tidak menyuruh yang piket hari ini aja.”

Kali ini suara keluar dari mulut gadis yang berdiri di belakang gadis berkacamata.

Sang guru melangkah kedepan menghampiri kelima gadis tersebut.

“Kebersihan kelas adalah tanggung jawab penghuni kelas, jadi semua harus membersihkannya tanpa terkecuali.”

“Anda berani menyuruh kita, Anda tidak tahu siapa kita?”

Kata gadis berkaca mata yang semakin berani saja.

“Apa kalian pikir aku tidak tahu siapa kalian?”

Ditatapinya kelima gadis itu satu persatu, mata mereka memang terlihat tak ada takutnya sama sekali. Sang guru menarik nafas dalam dalam kini matanya kembali menatap gadis yang memakai kacamata.

“Yuan Oktafia Rizky, anak dari AIPTU Rizky Harmoko dan cucu dari Bapak Tanjung Harmoko orang terkaya di kampung ini.”

Si gadis berkacama itu pun tercengang mendengar pernyataan perempuan di hadapannya itu. Mata guru itu beralih ke gadis yang berdiri di samping gadis berkacamata.

“Nella Putri Zupriyanto, anak dari Bapak Riyanto juragan terpopuler di kampung ini, dan juga anak Ibu Zubaidah pemilik salah satu toko butik terkenal di kampung ini.”

Gadis bernama Nella itupun tercengang tak percaya.

“Dan..jangan berpikir Aku juga tidak tahu tentang keluarga Kamu.” Kata sang guru sambil menatap gadis yang berdiri di samping Nella.

“Icha Kirana Sari, anak dari..”

“Stop.” Selah Kirana sebelum guru itu menyebutkan nama orang tuanya.

“Jangan di teruskan, Saya paling tidak suka jika ada orang menyebut nyebut nama orang tua saya.”

Sang guru itu pun tersenyum, menatapi kembali wajah lima gadis itu.

“Bagus, jadi tidak masalah kan jika kalian harus membersihkan kelas ini tak peduli siapa kalian dan orang tua kalian.”

“Dan untuk kamu…”

Guru itu maju satu langkah tepat menghadap gadis yang berdiri di belakang Yuan, gadis yang sudah melempar kertas kearahnya walau dia tahu kejadian itu tak di sengaja.

“Apriliya Manisa Fauziah, saya tidak suka jika masih ada yang makan saat pelajaran saya, jadi..tolong buang permen karet yang ada di mulut kamu itu.”

“Upsss!!” desah Manisa sambil menutup mulutnya yang dari tadi mengunyah dan entah sudah berapa lama permen karet itu ada di mulutnya.

Mata guru itu melirik ke arah gadis yang berdiri di samping Manisa, yang di ketahui punya nama lengkap Syifa Nurmala Al Faizah, tapi Ia tak menyebutkan nama gadis ke lima yang Ia hadapi, karena hanya gadis itu yang terlihat menunduk saat menatapnya di banding yang lain. Guru itu pun mengalihkan pandangan ke seluruh penghuni kelas.

“Mulai hari ini  saya yang akan mengajar pelajaran  bahasa indonesia, Sekaligus wali kelas kelas ini.”

Semua saling pandang, memang apa yang terjadi dengan guru bahasa indonesia yang lama sekaligus wali kelas yang lama, sebenarnya tidak terjadi apa apa hanya pertukaraan wali kelas aja, mungkin karena kekurangan guru, jadi guru yang baru masuk itu langsung ditunjuk untuk jadi wali kelas.

“Saya akan kembali saat kelas ini sudah bersih, jadi bersihkan kelas ini sebelum jam pelajaran selesai.”

Guru itu melangkah menuju mejanya mengambil tas ponselnya sebelum keluar meninggalkan kelas, dan hanya meninggalkan beberapa buku yang di bawanya tadi di atas meja.

“Sial!” gerutu Manisa kesal sambil menendang bangku di sampingnya.

“Huhh, baru juga ngajar sudah main suruh suruh saja.” Lanjutnya lagi

“Eh, tadi dia bilang akan kembali kalau kelas ini sudah bersih kan, kita buat aja kelas ini makin kotor biar sekalian aja gak ada pelajaran.” Kata Nella menambahkan, yang lain senyum dan geleng geleng gak jelas.

★★★

“Haaahhh…akhirnyaaaa…” kata Manisa seolah merasa lega dengan sebuah beban yang di pikulnya sambil merebahkan tubuhnya di batang pohon yang ada di taman sekolah saat jam istirahat tiba dilanjut teman temannya.

“Aku masih sakit hati banget ya sama guru baru itu, siapa sih namanya?” kata Kirana penasaran

“Bu Arinal!” jawab Syifa yang baru gabung dengan membawa beberapa makanan untuk teman temannya.

“Darimana kamu tahu?”

“Saat beli makanan ini tadi tak sengaja Aku mendengar seseorang menyapanya.”

“Emang dasar ya itu guru, baru juga ngajar udah main sebut sebut nama orang tua segala.” Kata Manisa yang masih menyimpan emosi

“Tapi ngomong ngomong dia tahu nama kita dan orang tua kita dari mana ya?” Nella mulai mikir, Kirana hanya menatapi wajah temannya yang hobi makan itu.

“Benar juga ya, biasanya guru baru itu kenalan dulu atau setidaknya basa basi lah, tapi ini enggak!” Yuan masih tidak menerima.

“Apa jangan jangan semua guru di sekolah ini sudah ngasih tau sama guru baru itu sama Kita?” kata Syifa mencoba menebak, dan bisa di katakan kalau tebakannya itu benar.

“Kamu sih enak Syif, kamu tidak di sebut tadi.”

“Walau pun begitu, tetap aja Aku juga kena kan,!”

“Kamu kenapa Kir?” Tanya Manisa yang melihat Kirana tenga memijat mijat keningnya seolah ada yang di pikirkan. Kirana pun berdiri dari tempatnya.

“Mulai besok, Aku tidak akan ikut pelajaran Bahasa Indonesia.”

“Maksudnya…Kamu mau bolos?” Tanya Syifa dengan tatapan mata tak percaya.

“Ya, tapi kalau kalian mau masuk gak apa apa lah, Aku bisa bolos sendiri.”

“Ehhh..tak bisa begitu dong!” Manisa berdiri dan melangkah menghadap Kirana.

“Kita kan teman, bolos satu bolos semua.” Lanjut Manisa lagi, semua mengangguk anggukan kepala. Kirana tersenyum, nampaknya teman temannya begitu setia terhadapnya.

“Lalu…besok kita bolos kemana?” Tanya Yuan, semua mata kompak melirik ke arah Nella, menyadari itu Nella pun menggeleng gelengkan kepala.

“Tidak, tidak, tidak, apa kata orang tua ku nanti kalau kalian datang di jam sekolah, bisa bisa kena marah aku, ke rumah Yuan aja!”

“Haa!! Walau pun rumah rumah ku besar, bukan berarti kalian di ijinkan main di jam sekolah ya, gimana kalau rumah Manisa saja?”

“Heehhhhh…” Manisa melirik ke arah Yuan, kemungkinan dia juga tidak akan setuju.

“Sudah..sudah besok kerumah ku aja.” Kirana menengahi semuanya pun setuju.

Pos terkait