Oktober 1, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MUSUH KUAT DI LEMBAH AIR MATA (Janissary Jawah episode ke-21)

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Herlina dan Ngapudin memacu kudanya dengan cepat menuju ke daerah yang tepat untuk bersembunyi dan melakukan pertempuran secara jarak jauh. Tidak banyak waktu yang dibutuhkannya untuk bertenang-tenang karena tentunya musuh akan mengejarnya dengan kecepatan yang sama.

Dari kejauhan keempat pendekat tiongkok itu mulai menaikki kudanya dan mengejar Ngapudin dan Herlina melarikan diri.

Dengan insting pelarian yang sudah terlatih Ngapudin menemukan tempat yang tepat untuk bersembunyi, sebuah batu besar dan rimbunan pohon bambu yang berada di sebuah perbukitan batu kadas.

Tanpa berbincang-bincang Ngapudin dan Herlina mendekati tempat itu dan memilihnya sebagai tempat bersembunyi.

***

Herlina memilih bersembunyi dengan dua kudanya di semak-semak yang berada di balik batu besar. Kudanya ditenangkan dan diberi makan secukupnya, sehingga tidak mengeluarkan suara. Sedangkan Ngapudin menghadapi tiga pendekar Tiongkok yang mengejarnya dengan seminim mungkin memanfaatkan tenaganya dan lebih mengandalkan keuntungan medan tempurnya. Jika berhadapan secara langsung tentu akan mudah dikalahkan oleh kekuatan empat orang yang memiliki ilmu tinggi dalam bela diri.

Ia berlari meninggalkan Herlina dan menuju ke daerah yang lebih tinggi sekaligus jauh dari kuda-kudanya ditambatkan. Tempat yang paling tepat baginya adalah sebuah rimbunan bambu dan batu-batu yang bertonjolan disekitar pegunungan.

Ditempat itu ia segera mengambil beberapa ranting pohon yang agak runcing dan membuat beberapa tusuk anak panah. Dengan pedangnya dia berusaha untuk membuat busur dari bambu yang ada disekelilingnya. Tanganya sudah memperhitungkan waktu yang dibutuhkan untuk membuat panah dan busurnya, kurang lebih sepuluh menit, dan itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Tepat sepuluh menit kemudian panah dan busurnya sudah jadi, siap untuk digunakan menghadapi para pengejarnya. Dia juga melihat gerakan empat pendekar yang semakin mendekat, langkah kaki berderap keras dirasakannya ditelinganya. Hanya beberapa langkah lagi mereka akan sampai di tempat Ngapudin bersembunyi.

Ngapudin mempersiapkan dirinya, bersembunyi dibalik bebatuan yang berada dibelakang gerumbulan pohon bambu. Pedangnya disarungkan dan tangannya focus pada anak panah yang bari dibuatnya. Pertama yang datang adalah pendekar Kipas, lalu diikuti oleh pendekar golok emas, dan selanjutnya pendekar garu dan cakar panjang. Keempatnya merupakan pendekar dinasti Qing yang tidak bisa diremehkan. Kemampuannya setara dengan empat puluh prajurit biasa.

Mata Ngapudin fokus pada sasarannya, dadanya berdetak keras, keringatnya mulai mengalir dan nafasnya naik turun. Nyawanya tidak akan bisa terselamatkan jika dirinya ceroboh dalam melumpuhkan musuhnya ini.

Serangan yang direncanakan Ngapudin adalah melumpuhkan titik terlemah dan mengalihkan titik terkuat. Hati Ngapudin merasakan bahwa diantara keempat pendekar itu yang paling kuat adalah pendekar golok emas dan putri kipas-payung. Sedangkan dua lainnya sedikit lemah, karena Herlina sudah menitikkan sedikit luka dan kemampuannya sudah dijajal Ngapudin. Praktis target yang dilumpuhkan dengan anak panahnya adalah dua pendekar yang terlemah ini.

Pendekar kipas-payung berlaari melewati bebatuan tempat Ngapudin bersembunyi, begitu juga pendekar Golok emas. Lalu pendekar cakar panjang mengikuti langkah saudaranya agak jauh dibelakang. Saat itulah Ngapudin melihat peluang untuk melumpuhkan pendekar garu yang ada dibelakang pendekar cakar panjang.

Bidikkannya segera diarahkan ke kaki pendekar garu panjang. Ketika sasarannya sudah dirasa tepat, iapun siap melepaskan busurnya dan melesatkan anak panahnya. Kecepatan tarikan busurnya membuat panahnya bergerak seolah dibantu oleh dorongan sebuah aura ghaib, sangat cepat dan tepat. Taklama itu panah Ngapudin menusuk tumit pendekar garu panjang dan menyebabkannya jatuh ke depan serta berteriak kesakitan.

Mendengar saudaranya yang kesakitan dan meraung keras membuat pendekar cakar panjang segera bergerak balik ke belakang. Matanya melihat arah munculnya anak panah yang menusuk saudaranya. Dia tidak menolong saudaranya yang kesakitan, namun bersembunyi dan melihat setiap gerakan disekitarnya yang menunjukkan tanda-tanda kemunculan gerakan orang.

Pendekar cakar panjang tahu posisi Ngapudin dari angin yang dirasakannya. Ada sedikit angin yang arahnya terganggu dijalur yang seharusnya. Sebuah kemampuan dasar bagi seorang pendekar di zaman dinasti Qing. Iapun mendekatkan tubuhnya sedikit kebebatuan yang digunakan oleh Ngapudin bersembunyi, dan bidikannya tepat, ada gerakan kaki Ngapudin yang dirasakannya.

Iapun menyelinap berbalik memutar menaikki gunung dan memanggil dua saudaranya dengan tiga siulan. Namun naas bagi pendekar cakar panjang, sebuah panah melesat dengan cepat menusuk tangan kirinya, lalu diikuti dengan gerakan yang cepat sebuah anak panah yang menusuk tangan kanannya. Praktis kedua tangannya lumpuh takkuasa menahan rasa sakit.

Nampaknya Ngapudin menyadari gerakan yang digunakan oleh pendekar cakar panjang untuk menyelinap dari belakang dan membuat posisi pengepungan. Dan dia langsung meresponnya dengan bidikkan yang terfokus pada sasaran.

***

Mendengar siulan tiga kali dari saudaranya, pendekar golok emas dan putri kipas-payung segera berbalik arah. Serangan yang diterima saudaranya dirasakannya menimbulkan sedikit kerugian dikekuatan yang melengkapinya.  Apalagi jika disertai dengan suara teriakan yang muncul dari dua saudaranya beberapa saat kemudian membuat mereka berdua marah dan naik pitam. Mereka berdua langsung mengejar arah teriakan itu dan ingin segera membalas serangan musuhnya.

Mata putri kipas-payung sungguh tajam, dia seolah bisa melihat darah panas yang bergerak disekitarnya. Ia menyadari keberadaan Ngapudin yang bersembunyi dibalik bamboo dan bebatuan. Tanpa berfikir panjang ia langsung menggerakkan kipasnya ke kanan dan kekiri beberapa kali untuk membuat serangan angin yang memporak-porandakan pepohonan.

Taklama itu angin lebat seperti angin puyuh yang membentuk puting beliung muncul disekitar Ngapudin. Batu-batu kerikil berhamburan, ranting-ranting pohon berguguran, pohon-pohon yang sedikit keropos mulai patah dan beberapa ada yang roboh. Kipas pendekar tiongkok wanita ini sungguh sakti, bisa menghasilkan kekuatan angina yang memporak-porandakan alam sekitarnya.

Karena pengaruh angin puting beliung yang ada disekitarnya menyebabkan Ngapudin terlempar dan terpelanting kesamping, tubuhnya membentur bambu-bambu disekitarnya, menyebabkan pinggangnya tertusuk bamboo bekasnya membuat busur. Ia berteriak kesakitan.

Melihat musuhnya sudah terpojok dan sedikit mengalami luka membuat pendekar golok emas mendekatinya dan ingin melakukan serangan jarak dekat. Iapun bisa mendekati tubuh Ngapudin yang mulai kesulitan untuk menarik pedangnya.

Dengan goloknya yang panjang dan besar pendekar tertua dari empat bersaudara itu langsung mengayunkannya kearah Ngapudin. Ngapudin menangkisnya dengan pedangnya yang masih bersarung. Dan karena dorongannya sangat keras, tubuh Ngapudin terdorong lima dua meter kebelakang. Tubuhnya semakin terasa payah ketika punggungnya membentur sebuah bebatuan yang runcing dan sedikit melukai punggung atasnya.

Pendekar golok emas taktinggal diam melihat kelemahan musuhnya, ia terus menerus melakukan serangan yang membabibuta dan berusaha membuat musuhnya lumpuh total.

Kendati Ngapudin mampu menari pedangnya dari sarungnya, tetap saja serangan golok emas jauh lebih kuat dan lebih membuatnya kerepotan. Tubuhnya lelah bertarung jarak dekat dengan senjata yang lebih besar dan tenaga yang lebih kuat. Terus menerus menahan serangan lawannya mengakibatkan dirinya mulai terkuras tenaganya dan tidak bisa melanjutkan pertempuran.

Saat sampai pada titik kelemahan terrendahnya dan sudah mulai kelelahan yang paling lelah Ngapudin melepaskan pedangnya dan berlutut dihadapan musuhnya. “Mungkin lebih baik aku berakhir disini, tuan pendekar, bunuhlah aku.” Katanya pasrah.

“Permintaanmu kukabulkan,” Pendekar golok emas mengayunkan goloknya tepat diposisi leher Ngapudin.

Namun ketika ayunan golok itu belum sempat terdorong oleh tenaga pemiliknya yang besar, sebutir peluru melesat cepat menembus kakinya. Pendekar golok emas berteriak kesakitan.

***

Herlina datang tepat waktu memberikan pertolongan pada Ngapudin. Senapan pedang ditangan kanannya berhasil mengenahi kaki musuhnya. Lalu tangan kirinya dengan cepat membidik tangan yang memegang golok itu. Dengan dua serangan peluru itu praktis pendekar golok emas tersungkur dan terasa lemah melanjutkan perkelahian.

Melihat kemunculan musuh yang menjadi targetnya, karena sama-sama perempuan—si gadis jerman pengkhianat, membuat pendekar putri kipas-payung bergerak dengan penuh ambisi untuk mengalahkannya.

Putri kipas-payung melompat menggunakan payungnya sebagai senjata. Pertarungan dua ksatria wanita pun berlangsung dengan sengit. Herlina mengarahkan pedang dan kapaknya kearah penyerangnya dan menjadikan pertarungan semakin sengit penuh gairah. Pendekar putri kipas-payung mengarahkan ujung payungnya yang runcing, tajam, dan beracun kearah Herlina.

Ngapudin dan pendekar Golok emas tak mau tinggal diam, mereka saling melempar tatapan dan siap menarik senjatanya lagi. Taklama kemudian tenaga dan otot-otot keduanya menggerakkan tangan dan kakinya untuk meneruskan perkelahian yang belum ditentukan pemenangnya itu.

Herlina bertarung dengan pendekar putri kipas-payung dan Ngapudin menghadapi pendekar golok emas yang sudah terluka. Pertarungan sangat seimbang dan belum bisa ditentukan pemenangnya. Karena masing-masing mempunyai ilmu berkelahi jarak dekat yang sangat baik kurang lebih setengah jam perkelahian berjalan belum bisa ditentukan siapa yang akan kalah. Hingga pada akhirnya kelelahan dan terkurasnya tenaga sajalah yang menyebabkan pertarungan berhenti.

“Tuan dan nona dari tiongkok, kami tidak pernah membuat masalah dengan kalian. Apa tidak sebaiknya kita menghentikan perkelahian ini?” kata Ngapudin kepada dua musuhnya.

Herlina mendekat ke Ngapudin yang kelelahan, begitu juga putri kipas-payung mendekat kekakaknya yang sempoyongan.

“Jika yang kalian inginkan adalah emas maka sebaiknya kalian menghentikan pertarungan ini, karena diantara kita tidak ada yang diuntungkan dengan perintah Belanda.” Sahut Herlina.

“Mengapa kau memilih bajingan jawa ini daripada mengabdi kepada kerajaan yang memberikanmu pangkat dan jabatan, gadis Jerman?” Tanya pendekar putri kipas-payung kepada Herlina.

“Banyak alasan yang harus kauketahui nona cina. Belanda kerajaan yang rakus, tidak seharusnya pendekar seperti kalian mengabdi kepada bangsa yang rakus. Aku tahu, kalian hidup dengan memburu musuh, tapi kalian sangat tidak baik jika menghalangi prajurit Diponegoro berjuang untu negerinya.” Gertak Herlina.

“Penangkapan pangeran Diponegoro seharusnya sudah menjadi titik akhir dari pertempuran. Pasukan kecil seperti prajurit Turkiyo tidak akan mampu bangkit melawan kekuasaan Belanda di tanah ini. Seharusnya kalian tidak tergoda dengan uang yang mereka tawarkan. Hari ini mereka menggunakan kalian sebagai tenaga perang, besoknya mungkin kalian akan dimusnahkan dengan berbagai alasan. Itulah mereka, bangsa yang terbiasa menciptakan kebohongan.” Tegas herlina yang berupaya menyakinkan dua musuh didepannya.

Pendekar kipas-payung merenung, usianya yang masih muda belum banyak memahami arti dari sebuah pertempuran yang dijalaninya. Sebagai adik termuda dan usianya yang baru 17 tahun, seusia dengan Herlina membuatnya hanya bisa mengikuti ajakan saudara-saudaranya.

“Adik, jangan terganggu dengan ucapan budak Jerman itu. Dia lebih hina karena menolak pemimpinnya daripada sekedar sapi perah. Sebaiknya kaugunakan kipasnya dan hancurkan mereka berdua. Biar kita bisa membawa kepalanya.” Teriak Pendekar golok emas.

Putri kipas-payung hanya diam dan tak bisa menjalankan perintah kakaknya. Hatinya lebih memilih diam dan meresapi jalan hidupnya.

Dalam tradisi leluhurnya, kungfu dan pengobatan adalah dua hal yang bersamaan, digunakan untuk menolong orang dan membantu kaum yang lemah. Jika yang dikatakan oleh gadis Jerman itu benar maka langkahnya yang mengharapkan hadiah emas pada peemrintah kolonial adalah salah. “Kakak, jika mereka berdua tidak salah, maka langkah kita jadi salah memerangi mereka. Apakah tidak lebih baik kita lepaskan saja?”

Pendekar golok emas menatap adiknya yang mulai memunculkan sifat kelembutannya. “Apakah kamu sudah gila, kita di negeri ini membutuhkan banyak uang untuk bisa ke tiongkok, jika gagal menangkap mereka maka kita tidak akan mendapatkan hadiah yang akan membuat kita kaya.”

“Nona, tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi.” Ngapudin menatap mata pendekar putri kipas-payung. Otaknya berusaha mengenali lebih dekat wajahnya, “Kita tidak perlu saling membunuh dan meneruskan perkelahian ini. Nyawa diantara kita jauh lebih penting daripada emas.” Benarkah dia. Hatinya terbesit mengira-ngira.

Beberapa saat keempat pendekar itu saling diam. Saling memberikan pengaruh kepada putri kipas-payung, untuk menggerakkan kipasnya atau menahannya lalu menyudahi peperangan. Jika kipas itu digerakkan maka nasib Herlina dan Ngapudin tidak akan tertolong lagi, namun jika berhasil ditahan maka harapan untuk berlari semakin panjang.

“Jika tidak salah, nona sangat pandai ilmu pengobatan, apa tidak sebaiknya nona menggunakan ilmu nona untuk mengobati, bukan melukai antar sesama orang baik. Anda orang baik, kamipun orang baik,” matanya semakin melihat pipi pendekar kipas-payung yang merah merona, sisi manisnya terlihat dari bibirnya menungging membentuk sebuah bulan sabit. “tapi pemerintah kolonial Belanda tidak, mereka pemeras, rakus dan serakah.”

“Bagaimana kautahu jika aku mempunyai keahlian mengobati penyakit?” Tanya pendekar putri kipas-payung spontan, yang keheranan keahliannya diketahui oleh orang lain. “kecuali saudara-saudaraku, tidak ada orang yang tahu ilmu pengobatan yang kudalami. Karena ilmu ini hanya untuk kalangan keluarga kami.”

Ngapudin menyadarinya dan memahaminya. Tidak salah pikirannya menebak gadis yang dihadapinya itu. Dia tidak lain adalah dewi matahari yang ditemuinya di dunia lain. “Jika demikian, maka kami adalah keluargamu, benarkan!” Ngapudin mulai merayu dan mendekati hati gadis tiongkok yang mulai memikirkan tindakannya. “Bahkan kau sangat menguasai pengetahuan sejarah leluhurmu dan sekaligus pandai membuat ramuan kesehatan.” Ngapudin menambahi kata-katanya penuh spekulasi.

Hati gadis kipas-payung mulai melemah dan sisi kelembutannya mulai mendominasi. Bahkan pikirannya mulai menjelajah nasehat-nasehat yang telah disampaikan leluhurnya. Nampaknya kata-kata Ngapudin berpengaruh pada hatinya.

“Kakak, mereka memahamiku dan tahu kemampuanku. Maka dia adalah apa yang kauceritakan bukan? Sebagaimana yang telah diceritakan oleh kakek, sebelum ibu kita wafat?” kata pendekar kipas-payung dengan suara lirih.

“Masa bodoh dengan mitos keluarga. Kita hanya butuh uang dan uang kita sudah ada didepan kita, adikku. Kau tinggal mengibaskan kipasmu, karena mereka berdua tidak akan bisa menahannya.” Teriak pendekar golok emas dengan suara lantang.

“Kakak, kau tidak menghormati keluarga kita? Orang lain menghargai keluarga dan leluhur kita, kau malah menganggapnya sebuah mitos. Kau sudah gila.” Bantah putri kipas-payung. “kata-katamu tidak pantas didengar oleh seorang adik yang masih membutuhkan bimbingan.”

“Kurang ajar, Mei Xioling, aku mendidikmu untuk tetap patuh padaku, bukan percaya pada orang lain, apalagi orang jawa. Kau bukan adik yang pantas menjadi pewaris keluarga kita.” Bentak kakak tertuanya itu. “Justru kau yang tidak menghormati keluarga kita. Lebih memilih nasehat orang jawa daripada kakaknya.”

“Jika demikian maka lebih baik kau ayunkan kipasmu saja dan libas mereka berdua, agar …” belum sempat pendekar golok emas meneruskan pembicaraannya sebuah jarum kecil menusuk lehernya.