Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

KARUNIA TUHAN DAN KONDISI JASMANI YANG MENERIMANYA

Oleh :

Moh. Syihabuddin

Diretur Kitasama Stiftung

Ibarat hujan yang turun dari langit, karunia Allah yang dicurahkan kepada hambanya itu sangat besar dan sangat melimpah. Dengan sifat kasih sayang dan cinta kasihnya Allah telah memberikan apa yang layak diberikan kepada hamba-hamba pilihannya yang telah menjalankan perintahnya dan selalu menyatukan dirinya dengan Dzat-nya Allah. Lebih-lebih pada bulan yang telah di sucikan dan waktu-waktu yang telah ditentukan, khususnya di bulan Ramadlan.

Pada bulan (Ramadlan) inilah Allah telah memberikan karunianya bak guyuran air terjun ke seluruh dunia. Semua nikmat telah di buka lebar-lebar hingga tidak ada satu pintu pun yang terkunci bagi para hamba yang ingin memasukinya. Dosa-dosa telah diampuni, kesalahan telah dimaafkan, dan kecerobohan telah dijadikan lurus, hingga setiap hamba Allah pasti akan merasakan bahwa Ramadlan merupakan berkah bagi mereka dan solusi bagi segala problematika kehidupan. Rizki telah dipermudah untuk memperolehnya dan kenikmatan menjadi gampang diraihnya.

Bumi manusia telah diguyur segala kenikmatan dan rahasia kebesaran Allah, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Namun kenyataan dan ketersembunyian karunia itu tetap akan menjadi tersembunyi bagi manusia yang bukan hamba Allah dan akan nyata bagi manusia yang berkomitmen menjadi hamba Allah. Dan manusia yang berkomitmen menjadi hamba Allah hanyalah manusia-manusia pilihan yang telah ditunjukkan adanya seorang Wali Mursyid sebagai pembimbing dalam ibadah sholatnya.

Begitu besarnya karunia yang diturunkan di bulan (Ramadlan) ini maka hal itu mengharuskan setiap hamba untuk siap menerimanya dan siap pula menyongkong limpahan karunia itu. Terutama kondisi Jasmaninya dan kondisi ruhaninya. Karena secara hakiki karunia Allah itu tidak berupa hal-hal material, seperti uang, pekerjaan, atau harta benda lainnya, tapi berupa energi supranatural dan spiritual (sebuah kondisi ruhani yang mampu mendekat ke dimensi Tuhan dan seluruh kebesarannya). Adapun kondisi materi itu (kehadiran dan kemunculannya) hanya sampingan dan hanya bayangan dari kebesaran karunia ruhani yang telah diberikan oleh Allah. Bukan karunia yang sesungguhnya.

Dengan demikian jika kondisi ruhani seorang hamba siap maka harus didukung oleh kondisi jasmani yang siap pula (tapi belum tentu sebuah kondisi jasmani yang kuat bisa menerima karunia melalui ruhaninya, tetap tergantung sejauh mana intensifitas ruhani itu dengan Allah). Artinya, keberadaan jasmani sangat mendukung adanya kondisi ruhani yang akan menerima karunia Allah.

Segala persiapan untuk menerima karunia Allah yang begitu besar harus dimatangkan secara berlapis, baik lapisan jasmaninya maupun lapisan ruhaninya. Karena karunia Allah itu diterima oleh manusia hanya melalui jalan ruhani dan akan berdampak pada keberadaan jasmani. Dari ruhaninya itu seorang hamba akan mendapatkan karunia Allah hingga akan ditunjukkan segala pintu kebesarannya.

Saat kondisi jasmani telah siap menerima karunia Allah melalui jalan ruhaninya itu maka keadaan jasmaninya pun akan semakin bugar, tubuhnya semakin prima, dan (maaf-maaf) kekuatan hubungan suami-istri-nya akan semakin besar. Wajahnya akan terlihat ceria, penuh senyum, dan merasa bahagia dalam setiap pandangan. Dan kondisi itu juga mendukung adanya semangat untuk ber-“ubudiyah” semakin tinggi. Cintanya pada sang Guru Pembimbing semakin tinggi dan kebugaran tubuhnya semakin mendukung untuk melakukan pengabdian itu.

Akan tetapi sebaliknya, jika saat menerima karunia yang masuk dalam ruhani itu dengan tidak adanya kondisi jasmani yang siap maka yang terjadi adalah ketiadaksiapan tubuh itu dalam menerima, atau menangkap limpahan besarnya karunia Allah. Sehingga tubuh akan merasakan sakit, mengalami kecapekan hingga tubuh roboh. Kondisi tubuh seolah kurang sehat dan keadaan wajahnya kelihatan lelah. Namun saat diperiksakan ke dokter atau ke perawat tubuh akan terlihat normal dan sehat-sehat saja, seolah tidak ada penyakit yang masuk dalam tubuh, padahal tubuh jelas-jelas mengalami rasa sakit.

Menjadi jelas bahwa karunia Allah yang diterima oleh hambanya melalui ruhani harus disertai pula dengan kondisi jasmani yang siap untuk menerimanya. Kondisi jasmani harus fit, terbiasa dengan dimensi-dimensi ketuhanan (dzikir yang rutin setiap hari secara mandiri dan berjama’ah di surau), rajin minum air tawajuh, terbiasa melaksanakan bakti Guru di Surau, dan membiasakan sedekah tiap hari. Jika semua dimensi-dimensi ketuhanan itu dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari maka secara otomatis akan menjadikan jasmaninya untuk siap menerima kebesaran karunia Allah melalui ruhani dalam kondisi dan waktu yang telah disiapkan, lebih-lebih di dalam bulan Ramadlan.

Dengan kata lain, karunia Allah yang diturunkan di bulan Ramadlan melalui proses ibadah Suluk I’tikaf harus diterima dengan kondisi tubuh jasmani yang normal, siap bersedia secara optimal dan sudah mengalami adaptasi ruhani terlebih dahulu di awal mengikuti I’tikaf. Artinya, suluk I’tikaf secara penuh di bulan Ramadlan itu lebih baik dari pada menjadi masbuk. Karena kondisi jasmani saat masbuk bisa dipastikan akan mengalami kelemahan saat menerima limpahan karunia Allah yang sangat besar di bulan Ramadlan ini.