Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

Akhirnya Rakyat Inggris memilih BREXIT 

Sebuah kartun yang menggambarkan lepasnya Inggris dari komunitas Eropa. Saat proses Brexit berlangsung banyak kalangan yang telah menciptakan kartun-kartun sejenis sebagai respon yang menghasilkan pemikiran beragama

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Peneliti Sejarah Eropa-Arab, peminat Hubungan Internasional, alumnus Filsafat UINSA Surabaya

 

Jum’at (24 Juni 2016) rakyat Inggris telah menentukan pilihannya untuk keluar dari komunitas Eropa dan istilah Brexit benar-benar telah terjadi. Mereka ternyata lebih memilih membangun negaranya secara mandiri dari pada harus bekerja sama dengan Negara-negara Eropa lainnya. Peristiwa tersebut telah disiarkan oleh semua televisi dan menjadi berita yang cukup menarik di seluruh dunia. Berita di media online pun gencar menampilkan peristiwa yang bersejarah itu.

Keluarnya Inggris dari uni Eropa merupakan sebuah fenomena yang cukup menarik dan memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap perkembangan dan pertumbuhan bagi ekonomi dan kondisi politik di Eropa. Apa yang dialami orang Eropa dengan serentak akan berubah dengan cepat pada semua bidang, bahkan termasuk sistem yang dipakai dalam sepakbola.

Sebenarnya, semua Negara anggota inti Uni Eropa sangat menyayangkan keluarnya Inggris dan mereka ingin Inggris tetap berada dalam barisan Eropa. Jerman adalah Negara yang paling gencar merayu dan berharap sangat kepada hal itu, sehingga semua media Jerman mendukung melalui berbagai penyataan dan sindiran yang membangun.

Bagi Jerman dan Negara Uni Eropa lainnya keinginan untuk mempertahankan Inggris dalam Uni Eropa memiliki banyak alasan, diantaranya;

  1. Inggris merupakan Negara “maju” yang menjadi tujuan banyak pekerja dari Negara Uni Eropa lainnya. Banyak orang Polandia, Austria dan Rumania yang bekerja di Inggris dan mendapatkan kesejahteraan secara finansial.
  2. Posisi Inggris yang makmur dan “kuat” menjadi menompang bagi keberadaan Uni Eropa untuk membangun keamanan bersama dan kebersamaan dalam membangun Eropa yang lebih baik.
  3. Dalam segala bidang Inggris adalah salah satu Negara yang paling stabil dan kondusif di Uni Eropa (dan Dunia) sehingga cukup layak untuk menjadi pondasi bagi suatu persekutuan yang kuat.
  4. Bagi orang Inggris sendiri, yang tetap ingin bersama Uni Eropa menjadi masyarakat Eropa merupakan jalan terbaik untuk menjalani kehidupan. Mereka bisa bebas masuk-keluar Negara Eropa dan membangun Ekonomi jauh lebih leluasa. Jual beli bisa dilakukan antar Negara secara bebas.

Akan tetapi bagi orang Inggris yang pro Brexit dan ingin keluar dari Uni Eropa memiliki banyak alasan,

  1. Gagasan penyatuan Negara-Negara Eropa dalam satu kekuatan merupakan gagasan “gila” warisan Hitler dan Napoleon, namun dengan cara yang lebih santun dan berbeda.
  2. Adanya Uni Eropa lebih menguntungkan Negara-negara anggota lainnya dari pada Inggris sendiri. Orang Inggris lebih suka dan lebih makmur bekerja di Inggris sendiri dari pada bekerja di luar Inggris. Tapi sebaliknya orang luar Inggris sangat nyaman bekerja di Inggris dan mendapatkan kemakmuran yang sama dengan warga Inggris.

Bagi penulis, keluarnya Inggris dari uni Eropa cukup menarik dari sisi tatanan politik dunia baru yang terus berubah. Posisinya sebagai “Negara Tua” dan Negara yang memiliki bahasa paling berpengaruh di dunia membuat Inggris menjadi Negara penting dan cukup diperhitungkan, terutama hubungannya dengan Negara Uni Eropa, Tiongkok dan Amerika Serikat.

Ada beberapa hal yang cukup menarik disimak dari peristiwa ini melalui kaca mata teori konspirasi.

Mengulang Hitler dan Napoleon?

Pertama, apa yang dilakukan oleh orang Inggris (pro-Brexit) merupakan langkah yang sama dengan yang dilakukan pada masa Perang Dunia II awal. Waktu itu Nazi-Jerman adalah Negara kuat yang ingin menyatukan Eropa dalam satu kepemimpinan Jerman dan ideologi Nasional-Sosialis. Hitler sangat berkeinginan untuk menggandeng Inggris sebagai sekutu utama dalam rangka membangun Eropa bersama. Awalnya memang Inggris ingin menerima tawaran Jerman dan berdamai dalam membangun Eropa bersama-sama. Namun beberapa golongan Yahudi garis keras menolaknya dan berhasil memprovokasi warga Inggris melalui media untuk menolak tawaran perdamaian Jerman. Maka terjadilah operasi Singa Laut yang dilancarkan Jerman untuk menyerang Inggris (Battle of Britain).

Penolakan Inggris ini pun menjadikan Inggris sebagai Negara yang kuat, lalu menggandeng Amerika Serikat yang netral, menyatukan para pemimpin yang terpinggirkan dari Negara Eropa lainnya dan akhirnya bisa membubarkan ambisi Jerman untuk menyatukan Eropa. Melalui Inggris pula operasi Overlord dilancarkan dan Perang Dunia II nasibnya bisa ditentukan.

Pada masa Napoleon, Inggris juga Negara yang berhasil melumpuhkan ambisi kaisar Perancis untuk menyatukan Eropa dalam satu kekuasaan Kekaisaran Perancis dalam perang Waterloo. Inggris akhirnya Berjaya bersama sekutu-sekutunya dan membubarkan Perancis sebagai sebuah kekaisaran yang besar.

Dengan demikian sepanjang sejarah peradaban modern bisa dikatakan bahwa Inggris dengan langkah-langkah politisnya tetap bisa menstabilkan Eropa dan mengendalikan Eropa melalui dirinya tanpa harus bersekutu dengan komunitas bersama yang dibangun oleh Jerman maupun oleh Perancis.

Ulah kaum Globalist?

Kedua, Inggris adalah pusat tatanan Dunia baru yang dibangun oleh kaum globalist. Di Inggris-lah semua peristiwa penting yang akan terjadi di Amerika Utara maupun di Eropa telah dirancang dan disusun rinciannya untuk dijalankan. Semua hal yang mempunyai hubungan dengan tatanan dunia Baru telah disiapkan dan didisain secara matang di Inggris, baru kemudian di realisasikan sesuai dengan target yang telah ditentukan di Negara tujuan. Komunitas Globalist, Bilderberg Group yang mempunyai anggota orang-orang penting dunia telah menyiapkan hal itu di Inggris dan menjadikan tanah Raja Arthur tersebut sebagai pusat pengendalian Dunia.

Sehingga sangat wajar, bagi penulis, jika Inggris telah memberikan keputusan untuk keluar dari Uni Eropa yang sudah nyaman dan stabil, lalu memutuskan nasibnya sendiri. Bisa jadi hal itu merupakan langkah kaum Globalist untuk memporak-parandakan tatanan yang mapan agar kacau, lalu mereka tampil kembali sebagai penyelamatnya dengan kekuatan finansial-nya.

Kerajaan Global terakhir?

Ketiga, Inggris bisa dikatakan satu-satunya Negara Kerajaan terakhir di dunia ini yang paling perkasa dan komunitas yang bisa berdiri sendiri secara mandiri tanpa mendapatkan dukungan dari komunitas lainnya. Inggris dengan memiliki Skotlandia, Wales, Irlandia Utara, Ciprus, Gilbaltar dan Negara kepulauan lainnya bisa menyebutnya sebagai “Great Britain” atau Inggris Raya (United Kingdom) dimana legitimasi tersebut menjadikan dirinya menjadi Negara Besar dan “Kerajaan terakhir” yang paling kokoh di dunia. Itupun belum Negara anggota persemakmuran lainnya yang masih patuh terhadap perintah Ratu Inggris yang menjadikan Inggris semakin kuat dan besar. Sehingga sangat wajar jika Inggris bisa mandiri tanpa adanya Negara-negara lain yang bergabung dengannya, dan memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa. Hal ini pula yang kemungkinan mendorong Inggris untuk menolak bersahabat dengan Great Germany pada tahun 1940, karena bisa jadi “Negara Raya” tentu tidak akan tunduk dengan “Negara Raya” lainnya.

Harapan pasca Brexit

Jujur, penulis sangat tidak memperdulikan peristiwa yang dialami oleh orang Eropa, terutama Inggris. Dari dulu mereka memang suka ramai dan membuat tatanan yang rapi menjadi porak poranda. Sejak zaman pasca runtuhnya Romawi Barat hingga datangnya Zaman modern saat ini mereka selalu ramai dan mengalami peperangan yang berkepanjangan. Dari perang seratus tahun, perang tiga puluh tahun, perang Napoleon, hingga dua perang Dunia adalah ulah keramaian mereka yang sangat sulit untuk disatukan dan didudukan secara baik-baik.

Orang Eropa cenderung terbiasa ramai dan akrab dengan adanya sifat-sifat heroisme. Datangnya Perang Dunia I adalah kejenuhan dan stagnasi kehidupan modern yang dialami oleh orang Eropa (lalu disambung dengan Perang Dunia II). Sehingga saat genderang perang di tabuh, terompet ditiup, dan bayonet dipasang mereka menyabut dengan antusias dan diteriaki secara histeris. Para pemuda bergerak menuju medan tempur dengan restu dan doa orang tua untuk menyambut kemenangan.

Melihat fenomena sejarah Eropa dan peristiwa Brexit itulah, menurut hemat penulis, jangan sampai peristiwa yang mengawali perang dunia terulang. Artinya, jangan sampai Inggris dengan kekuatannya kemudian merorong eksistensi Uni Eropa atau bahkan membubarkan Uni Eropa dengan mengajak Negara-negara anggota lainnya untuk keluar dengan berbagai alasan rasional.

Biarlah Inggris keluar dari Uni Eropa dan membangun Britania Raya bersama dengan anggota Negara Persemakmuran lainnya. Uni Eropa juga demikian, tidak perlu berpengaruh dengan keluarnya Inggris dari komunitas. Adanya Jerman, Perancis, Belgia, Belanda dan Italia di Uni Eropa kiranya cukup bisa menjaga agar Uni Eropa tetap eksis dan memainkan perannya. Apalagi Negara-negara Balkan dan Turki juga mulai mengajukan keanggotaan justru (bisa jadi) akan semakin memperkuat komunitas Eropa.

Akhirnya, paling tidak Brexit merupakan pilihan logis orang Inggris dan tidak merupakan kepentingan segelintir pemilik modal (MNC) yang berkeinginan merusak tatanan Eropa untuk digiring menuju chaos dan atau membentuk perang Eropa yang lebih ngerih. Wallahu’alam bisshowaf.