Oktober 29, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MITOS SRIKANDI DALAM GERAKAN PEREMPUAN, SEBUAH PENERAPAN YANG TIDAK RELEVAN

Oleh :

IMAM ARETATOLLAH

Peneliti Kebudayaan Islam-Jawa

Nama Srikandi sering digunakan sebagai gerakan perempuan untuk memerdekakan dirinya secara intelektual maupun merdeka secara sosial. Srikandi juga di anggap sebagai sumber kekuatan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam setiap aspek kehidupan, sehingga banyak sekali gerakan perempuan menggunakan namanya sebagai simbul “perlawanan” atas ketidakadilan yang menimpah kaum Hawa tersebut.

Benarkah Srikandi merupakan perempuan hebat dan kuat sehingga dirinya layak di jadikan panutan? Ataukah itu hanya sebagai gerakan pendiskriditan” perempuan atas nama? itulah pertanyaan yang sering muncul  terkait penamaan Srikandi.

Sosok Srikandi, Siapa?

Dalam kisah Mahabarata, Rajagopalachari menulis bahwa Srikandi adalah putri Raja Drupada dengan permaisuri Dewi Gandawati dari kerajaan Pancala. Walau demikian sebenarnya Srikandi merupakan titisan dari Dewi Amba putri Raja Kasi yang tersakiti oleh ulah Bhisma.

Ini berawal dari sebuah kisah, bahwa pada suatu waktu Raja Kasi mengadakan sayembara untuk calon suami putri-putrinya menurut adat kaum ksatria. Waktu itu Bisma juga sedang mencarikan istri untuk adiknya Wicitrawirya. Mendengar berita itu Bisma langsung datang menuju kerajaan Kasi untuk ikut atas nama adiknya. Kehebatan dan kesaktian Bisma sudah menjadi buah bibir di seantero kerajaan pada masa itu, kecakapannya dalam menggunakan senjata serta kedikdayaannya sudah tidak perluh diragukan. Siapapun yang melawannya pasti dapat dikalahkan.

Dan benar, dalam sayembara itu Bisma-lah yang menjadi pemenangnya dan Dia berhak membawa pulang tiga putri Raja Kasi, yaitu Ambika, Ambalika dan Amba.

Setelah sampai di Hastinapura, Bisma mempersiapkan pernikahan ketiga Putri itu dengan Wicitrawirya. Di tengah prosesi pernikahan Dewi Amba berkata kepada Bisma dengan nada mencemooh, dia bilang “secara kejiwaan dirinya telah memilih Salwa Raja Saubala menjadi suaminya, sedang Bisma telah membawa dirinya ke sini dengan paksa dan itu tidak sesuai dengan ajaran kitab suci”.

Mendengar keberatan Dewi Amba maka Bisma bisa memaklumi sebab memang seperti itulah yang di ajarkan dalam kitab suci. Kemudian ia diantarkan kepada Raja Salwa dengan hati suka cita.

Setelah menghadap Raja Salwa dan mencerikan “bahwa memang sejak awal secara mental dirinya telah menetapkan hati untuk menjadi istrinya, maka sudah sepantasnya dirinya dijadikan permaisuri”.

Tetapi Raja Salwa menjawab kalau Bisma sudah mengalahkannya sehingga tidak layak lagi menerima dirinya sebagai istri, dan dia menyarankan kepada Dewi Amba supaya kembali kepada Bisma.

Srikandi, Perwujudan Dua Kelamin Ganda?

Mendengar pernyataan itu Dewi Amba kembali ke Hastinapura. Sesampai di istana dia menceritakan apa yang terjadi kepada Bisma. Mendengar cerita itu dia lalu membujuk Wicitrawirya untuk menikahi Dewi Amba. Tetapi Sang Pangeran menolaknya dengan tegas sebab sang putri telah memberikan hatinya kepada orang lain. Walaupun sudah di bujuk beberapa kali tetap saja tak menggoyahkan hati Pangeran untuk menerima Dewi Amba sebagai permaisurinya.

Penolakan itu membuat Amba menoleh kepada Bisma dan mendesak supaya mau menikahi dirinya karena tidak ada jalan lain.

Walaupun merasa iba Bisma tidak mungkin melanggar sumpahnya untuk menikah. Untuk itu dia menasehati Amba supaya kembali kepada Raja Salwa.

Selama enam tahun Dewi Amba  berada di Hastinapura tanpa kepastian dan kejelasan. Akhirnya dalam keputusasaan yang dalam, dia kembali datang ke Raja Salwa, tetapi sekali lagi, dengan tegas Salwa menolaknya.

Itulah Dewi Amba yang cantik jelita menjalani enam tahun kehidupan penuh kemurungan dan tanpa harapan. Dia bagai buih di lautan tanpa tuan. Hatinya yang dulu tenang sekarang termakan duka penuh kebencian dan dendam kepada Bisma yang telah meluluhlantakkan hidupnya. Tidaklah mungkin dia mencari kesatria tangguh untuk bertarung dan membunuh Bisma, bahkan kesatria terhebat dan tersohor sekalipun tidak akan mampu mengalahkannya.

Dengan kondisi demikian Amba memutuskan untuk melakukan tapa brata paling berat untuk memohon berkah dari Dewa. Setelah sekian lama bertapa maka Dewa memberikan kalung bunga teratai dan siapapun yang memakai kalung itu akan menjadi musuh Bisma.

Amba menerima kalung itu dan bergegas mencari ksatria yang mau mengenakannya. Tapi dalam pencariannya tak seorangpun yang mau memakainya sebab mereka takut berhadapan dengan Bisma. Sampai akhirnya dia menghadap Raja Drupada supaya mau memakai kalung itu, tapi dirinya pun menolak permintaanya. Karena sudah tidak ada lagi yang menolongnya maka Dewi Amba pergi dan meninggalkan kalung bunga teratai di pintu gerbang istana.

Dengan membawa amarah dan duka api balas dendam, Amba kembali melakukan tapa brata yang lebih keras. Dengan khusuk dia memohon kepada Dewa supaya menolongnya, sebab sudah tidak ada manusia yang sanggup memberinya pertolongan. Dewa muncul dan memberinya restu, bahwa di kehidupan mendatang dirinya akan sanggup membunuh Bisma.

Tidak sabar menanti inkarnasi Amba membuat api unggun besar dan menceburkan diri ke dalamnya dengan menumpahkan api dendam yang bersemayam di hati ke dalam kobaran api.

Amba terlahir kembali menjadi putri Raja Drupada Berkat pertolongan Dewa. Beberapa tahun kemudian, ia menemukan kalung teratai yang tergantung di pintu gerbang istana lalu di pakai di lehernya. Kalung itu masih tergantung dan belum pernah di sentuh siapapun karena takut. Melihat kejadian itu Raja Drupada menjadi panik dan cemas. Karena takut akan membangkitkan amarah Bisma maka Raja Drupada mengasingkan putrinya ke hutan. Di hutan belantara itu sang putri melakukan tapa brata. Dan ajaib, lama kelamaan kelamin putri raja itu menjadi laki-laki. Di kemudian hari dia dikenal dengan nama Srikandi.

Dalam pertempuran Mahabarata Srikandi ikut berperang di pihak Pandawa. Dia bertugas sebagai kusir Arjuna untuk menyerang Bisma yang bertindak sebagai pemimpin Kurawa. Bisma tahu Srikandi terlahir sebagai perempuan. Dan sesuai dengan tata krama kesatria, Bisma tidak akan melawan perempuan, dalam keadaan apapun. Di hari ke sepuluh itulah Bisma bisa di kalahkan Arjuna dengan menghujani anak panah ke sekujur tubuhnya. Dengan trategi yang menggunakan Srikandi sebagai kusir Arjuna maka tamatlah riwayat kesatria hebat ini di medan kurusetra.

Srikandi dan Tiga Identitas yang Membentuknya

Dari cerita di atas kita bisa mengambil kesimpulan mengenai Srikandi.

Pertama, Srikandi sebagai simbul balas dendam sebab dia merupkan titisan (inkarnasi) dari Dewi Amba yang tersakiti oleh Bisma, sehingga dalam hidupnya hanya mempunyai satu tujuan, yaitu membalas perbuatan Bisma dengan membunuhnya.

Kedua, Srikandi adalah simbul pelanggaran norma. Dalam perang Mahabara kedua belah pihak Sudah menyepakati untuk tidak membunuh perempuan dan anak-anak serta tidak melibatkan perempuan di kanca  pertempuran. Dengan kehadiran Srikandi dalam peperangan maka dia sudah menyalai norma yang berlaku di Kurusetra, sebab menyerang perempuan merupakan tindakan yang tidak pantas dan aib bagi kaum kesatria.

Dan ketiga,  Srikandi merupakan simbul ambiguitas kodrat. Di mana seperti yang di ceritakan kalau Srikandi terlahir sebagai perempuan dan setelah menjalani tapa brata di hutan, kemaluannya berubah menjadi laki-laki. Dari sinilah dia menjalani dua karakter sekaligus, sebagai seorang perempuan sebab bentuk jasmanianya adalah perempuan dan sebagai laki-laki karena berjenis kelamin pria.

Srikandi memang tokoh yang hebat dalam epos Mahabara, di samping putri Raja dia juga Jendral perang yang hebat. Tapi dari kisah di atas masihkah kita menyandarkan namanya untuk membangkitkan gelora semangat para perempuan. Atau apakah Srikandi merupakan tokoh perlawanan hegemoni laki-laki terhadap perempuan? Ataukah sebaliknya, bahwa Srikandi adalah tokoh yang menjatuhkan martabat perempuan.

Ironi sekali jika ada komunitas perempuan atau seorang perempuan menyematkan simbol-silmbol atau nama Srikandi sebagai wujud identitas karakter keteguhan perempuan dan atau perjuangan perempuan yang gigih pada dirinya atau kelompoknya, karena justru dengan cara itu akan menunjukkan identitasnya semakin menjatuhkan derajad perempuan sebagai perempuan itu sendiri.

Waallahu a’lam bishowaf.